Asuhan Keperawatan pada Luka Bakar

Luka bakar merupakan cedera paling berat yang mengakibatkan permasalahan yang kompleks, tidak hanya menyebabkan kerusakan kulit namun juga seluruh sistem tubuh (Nina,2008)...

Materi Intepretasi EKG Normal

Elektrokardiografi adalah ilmu yg mempelajari aktivitas listrik jantung sedangkan Elektrokardigram ( EKG ) adalah suatu grafik yg menggambarkan rekaman listrik jantung...

Liburan Murah Bersama Alam di Hutan Pinus Pandaan

Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki puluhan destinasi wisata yang menarik. Banyak para pelancong yang akhirnya melabuhkan hatinya di Pasuruan...

Mahasiswa FKp Satu-Satunya Delegasi Keperawatan pada Kompetisi Riset Dunia

Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga mengirimkan satu tim delegasi untuk mengikuti Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting-14 (HISAS-14) di Hokkaido...

Kisah Inspiratif Dua Pedagang Keren

assalamualaikum wr.wb para pembaca yang budiman. Sudah lama ane gak posting-posting lagi. Hari ini izinkan ane berbagi pengalaman kepada pembaca semua...

Apa yang Membuat Saya Rindu Kampung Halaman?

Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi...

السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØ­ْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ ...... Selamat datang di BLOG RIO CRISTIANTO. Dukung Blog ini dengan like fanspage "Rio Cristianto". Thank you, Happy Learning... ^_^

Tuesday, 27 December 2016

Meme dan Distorsi Kepribadian

Menurut  Susan  Blacmore  dalam  buku  The  Power  Of  Memes,  Meme (biasa  dibaca  mim)  adalah  karakter  dari  budaya,  yang  termasuk  di dalamnya  yaitu  gagasan,  perasaan,  ataupun  perilaku  (tindakan).    Meme dapat  bereplikasi  dengan  sendirinya  (dalam  bentuk  peniruan)  dan membentuk suatu budaya, cara seperti ini mirip dengan penyebaran virus (tetapi  dalam  hal  ini  terjadi  di  ranah  budaya).    Richard  Dawkins,  dalam bukunya  The  Selfish  Gene  menceritakan  apa  dan  bagaimana  dia menggunakan  istilah  meme  untuk  menceritakan  bagaimana  prinsip darwinian untuk menjelaskan penyebaran ide ataupun fenomena budaya.  Dawkins  juga  memberi  contoh  meme  yaitu  nada,  kaitan  dari  susunan kata, kepercayaan, gaya berpakaian dan perkembangan teknologi.

Clinton Richard Dawkins,si pencipta komik meme ini lahir pada tanggal 26 Maret 1941. Dia  adalah seorang penulis, ahli etologi, biologi revolusioner & ilmu pengetahuan umum. Awal terciptanya komik meme yang  populer saat  ini  adalah dari buku ciptaannya yang berjudul  The Selfish  Gene. Meme kependekan dari  Mimeme  (bahasa  Yunani)  yang artinya "Meniru  Sesuatu".    Meme  dimaksudkan  sebagai  sebuah  ide, kelakuan, atau gaya yang unik. Karyanya yang terkenal sejak dua tahun terakhir dan banyak dikembangkan, seperti : Forever Alone, If You Know What  I  Mean, Mother of  God, Not Bad, Challenge Accepted, Close Enough, OMG, You Don't Say,  Aw Yeah, Nothing To Do, Fap Guy, Cereal Guy,Troll. Komik  meme  biasanya  terdiri  dari  4  panel  dan biasanya meme komik berujung pada candaan, tetapi kadang-kadang ada berujung pada kata kata yang kasar, menghina dan SARA.

Semua orang pada awalnya meniru, selanjutnya mereplika dengan bebas, dari  sini  manusia  bisa  merubah  dunia. Penjelasan tersebut  memberi  sebuah  gambaran  bahwa  pada  awalnya  masyarkat meniru  dari  sebuah  penciptaan  yang  lainya  dan  selanjutnya  akan dikembangkan.

Meme kemudian datang ke Indonesia sebagai konsekuensi perkembangan teknologi. Tidak hanya di luar negeri yang memiliki web semacam 9GAG yang memiliki reputasi dikunjumgi hampir 500.000 pengunjung tiap bulannya, di Indonesia kini juga memiliki web serupa seperti 1cak.com yang juga memiliki ribuan pengunjung tiap bulannya. Tidak hanya melalui website, kini meme juga merambah media sosial seperti instagram, facebook, twiter dan lainnya yang juga memiliki banyak dalam tanda kutip pelanggan setia. Sehingga tidak heran bila akun-akun kreator meme memiliki banyak follower. Sehingga lewat akun ini, seseorang sampai bisa menghasilkan uang dan menggerakkan roda ekonomi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meme telah menjadi gelombang media yang sedang populer di masyarakat. Penerimaan masyarakat yang positif membuat meme berkembang begitu cepat dan menjadi bagian tersendiri dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam dunia media komunikasi.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menjelaskan bahwa jumlah pengguna internet pada tahun 2013 mencapai 71,19 juta dan diprediksi akan terus meningkat. Hal ini mnunjukkan bahwa masyarakat Indonesia akan semakin banyak yang akan tersentuh oleh Internet berikut perintilan fasilitas yang dibawanya yang tentu saja masing-masing membawa pengaruh yang berbeda bagi kehidupan. Tidak terkecuali meme. Meme yang menjadi bagian dari perkembangan tersebut juga membawa dampak bagi masyarakat.

Didalam meme sering didapati informasi-informasi atau pesan yang ingin disampaikan oleh kreatornya. Dalam dunia internet, meme diciptakan melalui proses-proses replikasi dan modivikasi. Selanjutnya pencipta gambar-gambar akan menambahkan sesuatu sesuai apa yang ingin disampaikan, biasanya kreator menambahkan teks-teks. Setelah itu meme yang telah jadi, dibagikan melalui sosial media.

Seperti yang dikatakan McLuhan bahwa teknologi berpengaruh sangat besar dalam masyarakat. Dia mengemukakan bahwa manusia membentuk peralatan dan peralatan tersebut pada gilirannya membentuk manusia. Tak beda dengan yang terjadi saat ini, manusia membuat teknologi dan mengembangkannya dan kemudian apa yang telah manusia buat mempengaruhi manusia itu sendiri dan membuat manusia bergantung terhadap teknologi. Tatanan masyarakat terbentuk berdasarkan pada kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi. Menurut McLuhan media berperan menciptakan dan mengelola budaya. Sama halnya dengan meme yang telah hadir dan menjadi budaya di kehidupan.

Keberadaan jejaring sosial menjadi lahan yang subur bagi proses pengembangan meme. Kebanyakan meme berisi candaan atau humor yang dibuat dari kehidupan sehari-hari, kejadian masa lalu dan topik yang sedang dibicarakan masyarakat saat ini. Para kreator terkadang sengaja membuat bahan tertawaan dengan parodi-parodi. Meme menjadi media hiburan yang bisa melepaskan penat dan jenuh. Selain itu, meme juga menjadi sumber informasi dan berita terhadap suatu fenomena dan peristiwa yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan pmebacanya. Namun, tentu saja apa yang disampaikan melalui meme bukan selalu berisi sesuatu yang positif, melainkan juga tak luput dari sesuatu yang berisi negatif dan malah banyak yang menggunakan meme dengan tujuan negatif. Kembali mengingat bahwa internet dan jejaring sosial tidak hanya digunakan oleh orang dewasa namun juga digunakan oleh anak-anak dan remaja. Dari bermacam-macam meme yang beredar, ada meme yang kemudian terkesan mengejek dan bahkan berbau porno. Anak-anak dan remaja dapat membuat segala sesuatu menjadi candaan dan mengerti tentang seks dan berpacaran melalui gambar-gambar yang ada dalam meme. Dan secara kondisi psikis mereka belum siap dan belum saatnya mengerti akan hal itu.

Lebih berbahaya lagi ketika kini meme yang sedang digandrungi oleh anak-anak muda negeri ini dibuat oleh para kreator yang tidak bertanggung jawab. Menyajikan meme yang tidak sesuai dengan syariat agama, bahkan norma di masyarakat. Meme-meme penghinaan terhadap satu golongan dengan sudut pandang skeptis, tanpa ada kajian yang dapat dipertanggung jawabkan. Membuat citra buruk seseorang di mata masyarakat tanpa didasari fakta.

Bagi orang yang belum siap menyaring konten-konten meme yang notabene bisa dibuat oleh siapapun, tidak memandang status dan latar belakang pendidikan, maka hal-hal negatif ini akan dianggap hal yang biasa. Sebagaimana sabda rasaulullah SAW, kalau seseorang berkawan dengan penjual minyak wangi, maka akan ketularan wangi. Tetapi kalau seseorang berteman dengan pandai besi maka akan terkena percikan panasnya panasnya.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Berkawan disini tidak berarti menjalin hubungan dengan seseorang (dalam wujud nyata) dalam status pertemanan saja, tetapi juga mengandung makna dengan siapa berinteraksi dan memilih teman di dunia maya. Bila tidak berhati-hati terlebih tidak memiliki filter yang cukup untuk memilih yang baik dan buruk, maka ini akan sangat berbahaya.

Konten-konten meme yang sebenarnya mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai agama dianggap sebagai sebuah hal yang umum, sedang trend, topic yang menarik, hiburan dan gurauan semata. Kemudian nilai itu tumbuh menjadi nilai umum yang baru dan kemudian diterima seutuhnya. Inilah nantinya yang akan membuat akidah dan benteng agama menjadi ruptur dan luntur. Paparan arus yang bertubi-tubi membelokkan nilai kebaikan agama menggiring hati lemah untuk mempertahankan ideologi kesilaman dan kebaikan. 

Fenomena meme dengan sederet dampak buruk yang dibawanya merupakan hal yang tidak dapat dipandang enteng. Ini merupakan problematika yang akan menambah pelik permasalahan negeri ini. pemuda yang merupakan iron stock negeri ini ternacam terpapar hal yang dapat membuatnya lapuk dan berkarat. Nila-nilai norma dan agama ditinggalkan. Bagaimana bisa bangsa ini dijunjung oleh besi-besi yang rapuh.

Melihat peristiwa ini, kini banyak bermunculan meme-meme islami sebagai perlawan terhadap derasnya meme-meme yang tidak tersaring. Meme-meme islami ini paling tidak menjadi penegasan kembali terhadap nilai-nilai kebenaran yang ditinggalkan. Menjadi media pencerdasan terhadap nilai-nilai islam yang sesungguhnya.

Namun yang terlebih penting dari itu adalah membangun keislaman dan intelektualitas diri.  Keislaman dengan intelektualitas yang mumpuni akan menjadi filter dan pelindung dari pengaruh buruk segala produk globalisasi. Membuat seseorang dapat memilah mana yang baik untuk kemudia diambil pelajar, dan mana yang buruk untuk kemudian ditinggalkan. Semoga kita semua semakin bijak dalam menghadapi segala bentuk produk globalisasi, bukan hanya meme tetapi semua turunan dan macam-macamnya. Jangan biarkan mereka merusak pribadi kita sebagai seorang muslim, karakter kita sebagai bangsa Indonesia yang santun dan bermartabat.  Jangan biarkan mereka menenggelamkan kita.

*Rio Cristianto

Syukur dan Ketentraman Hidup

Zaman semakin maju, dan semakin modern. Setiap detik setiap waktu perkembangan zaman terus berjalan tanpa dapat dibendung seperti arus sungai di musim penghujan. Ada sisi positif yang kemudian arus ini bawa untuk memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia, tetapi juga tidak sedikit dampak negatif yang timbul. Zaman semakin berkembang, indikator kesejahteraan seseorang juga semakin tinggi. Dulu orang dikatakan sejahtera bila sudah punya rumah sendiri, bisa makan berkecukupan setiap hari, dapat berkumpul dengan anak dan istri, punya hiburan TV atau radio di rumah, punya sawah dan lahan sebagai sumber penghasilan, punya kendaraan pribadi sekelas motor bebek atau hanya sekedar sepeda gunung. Saya jadi teringat kisah paman saya yang menceritakan orang terkaya di kampung saya dulu adalah satu-satunya orang yang memiliki TV di kampung, dan satu-satunya orang yang rumahnya beralaskan ubin. Tetapi sekarang siapa yang tidak punya TV, hampir semua orang punya benda ini. Rumah-rumah modern sekarang hampir tidak ada yang menggunakan ubin, semua beralih ke keramik, marmer bahkan batu alam granit, besok mungkin rumah-rumah akan beralaskan emas atau permata, entahlah. Kesimpulannya setiap perkembangan zaman akan membawa peningkatan standard kesejahteraan seseorang.

Perkembangan tingkat kesejahteraan ini seringkali membuat orang khawatir, apalagi dengan tingkat penghasilannya yang di bawah rata-rata. Jangankan orang yang berpenghasilan rendah, para elite ekonomi saja khawatir. Tapi kekhawatiran mereka berbeda, ketakutan elite ekonomi bukan takut tidak bisa makan, tapi mungkin takut tidak bisa jalan-jalan keluar negeri, tidak bisa menyekolahkan anaknya di universitas ternama di dunia, tidak bisa menambah aset propertinya, dan ketakutan-ketakutan berkelas lainnya. Atau mungkin hanya takut progresifitas pendapatan tidak sesignifikan hari ini, saya hanya menerka. Tetapi bagaimanapun, ketakutan-ketakutan itu membuat hati dan pikiran diperbudak oleh dunia. Membuat isi pikiran hanya tentang dunia, setiap hari mengejar dunia. Lupa bersyukur, dan mengkufuri segala nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Ketika dunianya diambil oleh Allah, maka yang datang hanya keputusasaan, menyalahkan takdir, bahkan tidak bisa menemukan jalan hidupnya lagi sebagai manusia. Ini semua karena hatinya hampa, kurang syukur, dan dikendalikan nafsu dunia, seolah segala yang dia miliki sekarang adalah hidup dan matinya.

Realitanya sekarang, banyak orang menjadi lupa diri, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang disebut kesejahteraan menurut persepsi masing-masing. Mencuri, merampok, korupsi, cuci uang, penggelapan harta, perdagangan orang dan sederet kejahatan lainnya demi memenuhi kebutuhan hidup, demi memperkaya diri  Ketika dunianya diambil oleh Allah, mereka tidak kuat bangkit, akhirnya gila dan bunuh diri. Kenapa menempuh jalan yang haram padahal Allah memberkahi manusia dengan tangan, kaki, akal pikiran, tenaga, seperangkat panca indera, jantung yang berdetak, darah yang mengalir, saraf-saraf yang saling sinergi dan lain-lain untuk mendukung manusia menjadi insan yang terpuji, makhluk yang terbaik. Kenapa harus berputus asa padahal nikmat dan kasih sayang Allah begitu banyak dan terus mengalir untuk hamba Nya. Hilangnya rasa syukur membuat dunia membutakan manusia sehingga tidak menyadari betapa banyak potensi, berkah, dan nikmat yang Allah anugerahkan.

Andai hati penuh syukur, walau di dompet uang tinggal dua ribu perak juga masih cari-cari alasan buat bersyukur walau hati ketir-ketir hari ini gak bisa makan. “Alhamdulillah tinggal 2000, yang penting badan sehat wal afiat untuk cari rizki”. Andai hati penuh syukur, walau kena PHK juga masih cari-cari alasan untuk bangkit walau listrik dan kontrakan masih nunggak. “Alhamdulillah, kena PHK, padahal kontrakan sama listrik masih nunggak 2 bulan, tidak apa-apa Allah masih ngasih aku mata untuk mencari sumber rizki yang lain” Masya Allah, kalau hati sudah bersyukur seperti ini, hidup jadi tentram. Jadi timbul semangat untuk cari rizki yang halal. Jadi timbul kesabaran menjalani hidup.

Saya jadi teringat salah satu pasien saya di rumah sakit. dia adalah seorang anak kecil, 5-6 tahunan kira-kira. Dia dirawat karena mengalami kebutaan akibat suatu hal. Selama dia dirawat masya Allah, dia tidak pernah murung atau bersedih seperti kebanyakan pasien yang kehilangan penglihatannya. Bahkan setiap hari dia menyanyi lagu anak-anak yang kesukaannya dengan riang. Suaranya yang nyaring dan merdu membuat tetangganya sesama pasien ikut gembira mendengarnya, membuat saya dan tenaga kesehatan lain yang merawatnya juga ikut senang, barangkali semangat anak ini sampai pada hati saya dan mereka. Anak ini tidak bersedih walau tidak bisa melihat lagi, karena baginya yang terpenting adalah dia masih punya ibu dan ayah. Ibu dan ayah yang selalu sayang dan cinta. Mungkin bagi saya pribadi atau mungkin sebagian orang, pasti akan sangat sulit untuk menjalani hidup tanpa penglihatan, bahkan membayangkannya saja sudah sangat sulit. Tidak bisa melihat wajah orang-orang yang kita sayangi, tidak bisa melihat awan, tidak bisa melihat gunung, semuanya hitam pekat, sangat menakutkan. Tapi anak ini seolah mengajarkan bahwa, penglihatan adalah nikmat Allah yang sewaktu-waktu bisa diambil, nikmat yang tidak untuk dibanggakan dan diperjuangkan mati-matian karena dia hanya titipan. Masih ada nikmat-nikmat lain yang Allah berikan dan harus senantiasa kita syukuri. Anak ini seolah berkata “Alhamdulillah, tidak apa-apa aku tidak bisa melihat, aku bersyukur Allah masih memberiku ayah dan ibu yang selalu mencintaiku”.  Anak kecil yang masih polos dan lugu ini telah menunjukkan sebuah kesabaran dalam menetapi rasa syukur atas segala hal yang Allah berikan kepadanya.

Dari sini semoga saya dan kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran, agar kita senantiasa bersemangat menumbuhkan rasa bersyukur di dalam hati atas segala yang kita peroleh dan apapun yang Allah takdirkan kepada kita. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada hati-hati yang lemah ini agar bisa menjaga hati ini tetap istiqomah untuk bersyukur, kapanpun dan dimanapun dalam menjalani kehidupan ini.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

“Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).


*Rio Cristianto
          

Sunday, 4 December 2016

Miliariasis

Definisi
Miliariasis atau biang keringat adalah kelainan kulit yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat, yaitu di dahi, leher, bagian-bagian badan yang tertutup pakaian (dada dan punggung), serta tempat yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian dan dapat juga dikepala. Keadaan ini biasanya di dahului oleh produksi keringat yang berlebihan, dapat diikuti rasa gatal seperti ditusuk, kulit menjadi kemerahan dan disertai banyak gelembung kecil berair. (Arjatmo Tjoktronegoro dan Hendra Utama, 2000).

Miliaria atau biang keringat adalah kelainan kulit yang sering muncul pada bayi dan balita akibat tersumbatnya kelenjer keringat, sehinga keringat yang keluar berkumpul di bawah kulit dan mengakibatkan timbulnya bintik-bintik merah (Desiana, 2009)

Milliariasis adalah dermatosis yang disebabkan oleh retens keringat akibat tersumbatnya pori kelenjar keringat. (Vivian, 2010)

Miliariasis adalah kelainan kulit akibat retensi keringat, di tandai adanya vesikel milier, berukuran 1-2 mm pada bagian badan yang banyak berkeringat. Pada keadaan yang lebih berat, dapat timbul papul merah atau papul putih. (Sudoyo, 2009).

Etiologi
Menurut Vivian (2010), penyebab terjadinya miliariasis ini adalah udara yang panas dan lembab.

Beberapa  faktor  yang  menyebabkan miliaria  antara  lain  adalah:  Terbatasnya pengetahuan  mengenai  kurang  tepatnya perawatan  kulit  bayi.  Dengan  informasi  yang kurang  tentang  perawatan  kulit  pada  bayi, dapat  menyebabkan  ibu  salah  dalam  merawat kulit (Eva, 2011)

Udara  yang  panas  dan  lembab,  dalam cuaca  panas  tubuh  bayi  lebih  sering berkeringat  sehingga  pada  saat  cuaca  panas lebih  baik  bayi  diberikan  pakaian  sedikit mungkin  dan  pilihlah  bahan  yang  mudah menyerap  keringat  dan  nyaman  digunakan. Sehingga tubuh bayi tetap kering tidak lembab. Setelah menderita sakit panas, tubuh bayi akan mengeluarkan keringat yang berlebih, dan saat bayi  terkena  demam  keringat  keluar  terus menerus  namun  keringat  tidak  bisa  keluar sehingga  terjadi  penyumbatan  pada  kelenjar keringat.  Ventilasi  udara  yang  kurang  baik, ventilasi  yang  kurang  bisa  menyebabkan sirkulasi  udara  yang  tidak  sehat  sehingga terjadi  ganguan  udara  yang  panas  didalam rumah,  dan  bisa  mempengaruhi  suhu  badan bayi  menjadi  panas  serta  mudah  sekali berkeringat.  Jadi  usahakan  didalam  rumah udara  bisa  mengalir  dengan  bebas.(FKUI, 2001),

Menurut Assyari Abdullah (2008), Penyebab biang keringat yaitu :
  1. Ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas atau lembab.
  2. Pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, pakaian yang tebal dan ketat menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat.
  3. Bayi mengalami panas atau demam.
  4. Bayi terlalu banyak beraktivitas sehingga banyak mengeluarkan keringat.

Faktor penyebab timbulnya keringat berlebihan yaitu :
  1. Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang baik
  2. Pakaian yang terlalu lembab dan ketat
  3. Pakaian banyak memberikan pengaruh pada kulit, misalnya menimbulkan pergeseran, tekanan yang berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan suhu tubuh.
  4. Aktivitas yang berlebihan, misalnya berolahraga
  5. Setelah menderita sakit panas
  6. Penyebab lain berupa penyumbatan pori-pori yang berasal dari kelenjar keringat. Sumbatan ini dapat diakibatkan debu atau radang pada kulit anak. Butiran-butiran keringat yang terperangkap dibawah kulit akan mendesak ke permukaan kulit dan menimbulkan bintik-bintik kecil yang terasa gata.

Klasifikasi
Berdasarkan lokasi tersumbatnya, biang keringat dalam bebera tipe, yaitu:
  1. Miliaria kristalina
Biang keringat yang terjadi pada bayi baru lahir (neonatus) sumbatan terjadi pada permukaan atau lapisan kulit sehingga terlihat gelembung-gelembung kecil berukuran 1-2 mm berisi cairan jernih, namun tidak terdapat kemerahan pada kulit,biang keringat ini yang paling umum yang sering terjadi. Gejalanya, pada kulit tubuh bayi yang sering keringatan akan tampak mengelupas, kering, dan kasat, gejala ini biasanya dipicu oleh panasnya udara. Biang keringat bayi seperti ini ditandai bintik-bintik kecil berisi air dan akan dan akan mudah pecah sendiri karena lokasinya masih teramat dangkal.
  1. Miliaria rubra
Biang keringat ini terjadi pada anak yang biasa tinggal di daerah atau lingkungan panas dan lembab. Terdapat bintik-bintik kecil (1-2 mm) berwarna merah, biasanya disertai keluhan gatal dan perih. Bayi yang mengalami biyang keringat jenis ini akan menjadi rewel karena rasa gatal dan perih,orang tua biasanya akan cemas karena pola tidurnya akan terganggu hingga gelisah atau tidak nyenyak. Ini bisa dijadikan indicator rasa gatal pada bayinya yang belum bisa bicara.tidak bisa menyebabkan panas karena biang keringat bukan penyakit infeksi. Orang tua hanya bisa melihat reaksi tubuh bayinya yang kegatalan. Apabila anda merawat bayi itu sendiri, maka biang keringat akan segera diketahui karena naluri seorang ibu barparan basar.

  1. Miliaria profunda
Pada biang keringat jenis ini terdapat bintik-bintik putih, keras dan berukuran (1-3 mm). Kulit tidak berwarna merah, namun kasus ini jarang terjadi,dan biasanya terjadi di daerah-daerah bersuhu sangat panas.walaupun indonesia termasuk negara tropis, namun biang keringat separti ini jarang terjadi. Mungkin faktor angin sangat mempengaruhi sehingga suhu di indonesia tidak terlalu panas. Lain halnya dengan negara lain yang bersuhu 40 derajat celsius. Biang keringat seperti ini ditandai bintil-bintil pada kulit dan bila diraba akan terasa agak keras. Bintil-bintil ini sekilas mirip jerawat batu.


Manifestasi Klinis
Miliaria rubra ditandai dengan rasa gatal dan eritem dan kadang rasa panas seperti terbakar, lesi terjadi karena beberapa hari terpapar pada lingkungan yang panas tapi lesi baru muncul setelah beberapa bulan terpapar atau dapat muncul setelah beberapa hari pasien berpindah dari lingkungan yang panas tersebut. Lesi berupa papula dengan puncak dan pusatnya berupa vesikula yang dikekelingi oleh lingkaran merah atau eritema yang tidak berbatas tegas yang terjadi karena respon inflamasi . Lesinya extrafolikuler, ini membedakan dengan folikulitis, papulanya steril atau terinfeksi sekunder karena Miliaria yang luas dan kronik. Pada bayi lesi terdapat pada leher, lipat paha dan ketiak sedangkan pada anak-anak atau orang dewasa lesi terdapat pada badan dan tempat-tempat yang terkena gesekan pakaian yaitu bagian tubuh dibawah pakaian atau bagian tubuh yang mudah berkeringat setelah beraktivitas atau kepanasan seperti leher, kulit kepala bagian atas atau badan dan tidak mengenai wajah atau bagian volar kulit.

Rasa gatal dan kadang rasa panas seperti terbakar, biasanya bersamaaan dengan rangsang yang menimbulkan keringat, penderita cepat merasa lelah dan mengalami intoleransi terhadap panas dan dapat terjadi penurunan jumlah keringat atau tidak berkeringat sama sekali pada daerah panas ataupun beraktivitas. Miliaria rubra yang luas dan berat dapat menyebabkan hiperpireksia dan lelah karena panas serta pingsan

Patofisiologi
Terjadinya milliariasis diawali dengan tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat, sehingga pengeluaran keringat tertahan. Tertahannya pengeluaran keringat ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat lalu disusul dengan timbulnya radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar kemudian diabsorpsi oleh stratum korneum.

Milliariasis sering terjadi pada bayi prematur karena proses diferensiasi sel epidermal dan apendiks yang belum sempurna. Kasus milliariasis terjadi pada 40-50% bayi baru lahir. Muncul pada usia 2-3 bulan pertama dan akan menghilang dengan sendirinya pada 3-4 minggu kemudian. Terkadang kasus ini menetap untuk beberapa lama dan dapat menyebar ke daerah sekitarnya. (Vivian, 2010)

Faktor utama yang berperan bagi perkembangan miliaria adalah kondisi panas tinggi dan kelembaban yang menyebabkan berkeringat berlebihan. Occlusion kulit karena pakaian, perban, atau lembaran plastik (dalam pengaturan percobaan) selanjutnya dapat berkontribusi untuk pengumpulan keringat pada permukaan kulit dan pengeluaran cairan atau keringat berlebih (overhydration) dari lapisan corneum. Pada orang yang rentan, termasuk bayi, yang relatif belum matang kelenjar ekrinnya, pengeluaran cairan atau keringat (overhydration) dari stratum corneum dianggap cukup untuk menyebabkan penyumbatan sementara dari acrosyringium.

Jika kondisi lembab dan panas bertahan, individu terus memproduksi keringat berlebihan, tetapi dia tidak dapat mengeluarkan keringat ke permukaan kulit karena penyumbatan duktus. Sumbatan ini menyebabkan kebocoran keringat dalam perjalanannya ke permukaan kulit, baik di dalam dermis atau epidermis, dengan anhidrosis relatif.

Ketika titik kebocoran di lapisan corneum atau hanya di bawahnya, seperti dalam Miliaria crystallina, akan ada sedikit peradangan yang menyertai, dan lesi tidak menunjukkan gejala. Sebaliknya, pada Miliaria rubra, kebocoran keringat ke lapisan subcorneal menghasilkan vesikula spongiotic dan sel inflamasi kronis periductal yang menginfiltrasi di papiler dermis dan epidermis bawah. Pada Miliaria profunda, keluarnya keringat ke dermis papiler menghasilkan suatu substansial, menginfiltrasi limfositik periductal dan spongiosis dari duktus intra-epidermis.

Bakteri seperti Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus, diperkirakan memainkan peran dalam patogenesis miliaria. Pasien dengan Miliaria memiliki 3 kali lebih banyak bakteri per satuan luas kulit dibandingkan subyek kontrol sehat. Agen antimikroba efektif dalam menekan Miliaria akibat eksperimental. Periodic Acid-Schiff positif bahan tahan diastase telah ditemukan di sumbatan intraductal yang konsisten dengan substansi polisakarida ekstraselular stafilokokal (EPS). Dalam pengaturan percobaan, hanya Staphylococcus epidermidis yang menghasilkan EPS yang dapat menginduksi miliaria.

Pada akhir tahap Miliaria, hyperkeratosis dan parakeratosis dari acrosyringium (bagian paling atas dari saluran/duktus kelenjar keringat) dapat diamati. Sebuah sumbatan hyperkeratotic mungkin muncul untuk menghalangi saluran ekrin, tetapi sekarang ini diyakini menjadi perubahan akhir dan bukan penyebab yang mempercepat terjadinya penyumbatan keringat.

Penatalaksaan
Umum
  1. Kunci pengobatan Miliaria adalah menempatkan penderita didalam lingkungan yang dingin, sehingga keringat bisa berkurang.
  2. Karena aktifitas yang berlebihan bisa menyebabkan keringat yang dapat menimbulkan kembali Miliaria, maka pasien dianjurkan untuk mengurangi aktivitasnya.
  3. Memakai pakaian yang menyerap keringat.

Khusus
  1. Topikal
Lanolin anhidros diberikan untuk mencegah atau menghilangkan sumbatan sehingga keringat dapat keluar kepermukaan kulit. Selain itu juga diberikan salep hidrofilik, talk untuk bayi dan losio yang berisi 1 % mentol dan gliserin dan 4% asam salisilat dalam alkohol 95 %. Pemberian colamin lotion dapat memberikan rasa sejuk juga dapat diberikan anti biotic topikal seperti krim kloramfenikol 2 %.

  1. Sistemik
Dapat diberikan antibiotik bila terjadi infeksi sekunder dan anti histamin sebagai anti pruritus, pemberian vitamin C dosis tinggi dapat diberikan untuk mencegah atau mengurangi timbulnya Miliaria

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2014) bila bayi sudah mengalami biang keringat, lakukan langkah-langkah ini:
  1. Setiap kali anak berkeringat, segera ganti bajunya. Sebelumnya, siapkanlah alat-alat yang dibutuhkan, seperti waslap, baskom berisi air hangat, baju yang bersih, dan perlak.
  2. Keringkan kulit yang ada biang keringatnya dengan waslap bersih yang telah dibasahi air hangat. Bisa juga dengan mandikan Si kecil menggunakan air hangat (usahakan agar jangan terlalu panas karena akan merangsang timbulnya keringat).
  3. Biarkan tubuh Si kecil tanpa baju untuk beberapa saat sampai kulit dan lipatan-lipatan kulitnya menjadi kering dengan sendirinya. Tujuannya, mencegah agar kulit yang terkena biang keringat tidak bertambah parah karena bergesekan dengan handuk pada waktu dikeringkan.
  4. Boleh diusapkan sedikit bedak, terutama di bagian punggung dan dada anak.
  5. Kenakan baju yang kering dan bersih. Baju tersebut sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat, seperti bahan katun dan bahan kaos sehingga nyaman dan tidak membuat anak mudah merasa kepanasan.
  6. Bila peradangan yang terjadi cukup banyak, Anda bisa mengoleskan salep atau bedak khusus sesuai anjuran dokter.

Komplikasi
Komplikasi yang tersering dari Miliaria adalah infeksi sekunder dan intoleransi terhadap suhu lingkungan yang panas. Infeksi sekunder dapat terjadi berupa impetigo atau multiple diskret abses yang dikenal sebagai periporitis staphylogenes. Intoleransi terhadap suhu lingkungan yang panas terjadi ditandai dengan tidak keluarnya keringat bila terpapar suhu panas, lemah, fatique, pusing bahkan pingsan.

Pencegahan
Penyakit  miliaria  dapat  dicegah  dan disembuhkan,  oleh  karena  itu  Konseling Informasi  Edukasi  (KIE)  yang  cukup  harus  di berikan  pada  ibu-ibu  yang  memiliki  anak  atau bayi  yang  menderita  miliaria  melalui  kegiatan posyandu,  agar  tidak  menyepelekan  penyakit ini (Dewi, 2010). 

Keadaan  kulit  merupakan  cermin kesehatan  tubuh  seseorang.  Untuk  menjaga kesehatan kulit ini, diperlukan perawatan rutin sejak  usia  dini.  Telah  dibuktikan  bahwa sentuhan  ibu  akan  sangat  berpengaruh  pada perkembangan  fisik  dan  mental  seorang  anak. Sebenarnya  pengobatan  khusus  tidak diperlukan  pada  bayi  yang  terkena  biang keringat,  cukup  dengan  pencegahan  dan perawatan  kulit  yang  benar.  Bila  biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan  ,  kering  dan  tanpa  keluhan  dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah  tidak  boleh  ditaburi  bedak,  karena akan  membentuk  gumpalan  yang memperparah  sumbatan  kelenjar  sehingga menjadi    tempat  pertumbuhan  kuman.  Bila keluhan  sangat  gatal  dapat  diatasi  dengan pemberian antibiotik (Paulette, 2007)

Perawatan  kulit  bayi  dan  balita dimulai  dari  kegiatan  sehari-hari.  Misalnya dengan  memandikan  secara  teratur, membersihkan  rambut  dan  mengganti  baju apabila  baju  anak  tersebut  basah.  Dari penanganan  diatas  kita  ambil  contoh  mandi misalkan  diwajibkan  dua  kali  sehari,  pagi  dan sore,  kemudiann  mengeringkan  badan  anak dengan handuk sendiri sampai lipatan kulit dan berikan  bedak  dengan  sapuan  tipis  (Wong, 2008).  Apabila  bayi  sering  berkeringat, sesering  mungkin  dibasuh  dengan menggunakan  handuk  (lap)  basah,  kemudian dikeringkan  dengan  handuk  atau  kain  yang lembut.  Setelah  itu  dapat  diberikan  bedak tabor.

Menurut Maharani, Desiana (2009),cara pencegahan Biang Keringat terbagi atas 5 bagian, antara lain:
  1. Bayi atau anak tetap dianjurkan mandi secara teratur paling sedikit 2 kali sehari menggunakan air dingin dan sabun.
  2. Bila berkeringat, sesering mungkin dibasuh dengan menggunakan handuk (lap) basah, kemudian dikeringkan dengan handuk atau kain yang lembut. Setelah itu dapat diberikan bedak tabur.
  3. Jangan sekali-kali memberikan bedak tanpa membasuh keringat terlebih dahulu, karena akan memperparah penyumbatan sehingga mempermudah terjadinya infeksi baik oleh jamur maupun bakteri.
  4. Hindari penggunaan pakaian tebal, bahan nilon, atau wol yang tidak menyerap
  5. Biang keringat bisa tidak dialami bayi asalkan orang tua rajin menghindari penghalang penguapan keringat yang menutup pori-pori bayi dengan cara:.
    1. Jaga tubuh bayi agar tetap kering.
    2. Bayi harus dimandikan secara teratur pada pagi dan sore hari
    3. Jika bayi berkeringat jangan keringkan dengan menggunakan bedak. Sebaiknya dengan waslap basah, lalu dikeringkan, dan diolesi dengan bedak tipis.
    4. Gunakan pakaian bayi dari bahan katun yang menyerap keringat bayi.
    5. Biasanya 70% biang keringat timbul pada bayi karena sirkulasi udara kamar yang tidak baik. Untuk itu usahakan udara di dalam kamar bayi mengalir dengan baik sehingga kamar selalu sejuk.
    6. Pada saat memandikan bayi yang menderita biang keringat, sebaiknya gunakan sabun bayi yang cair, sebab sabun cair tidak meninggalkan partikel. Jika menggunakan sabun padat bisa meninggalkan partikel yang dapat menghambat penyembuhan.
    7. Pengobatan
      Sebenarnya pengobatan khusus tidak diperlukan, cukup pencegahan dan perawatan kulit yang benar. Bila biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan, kering dan tanpa keluhan dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah tidak boleh ditaburkan bedak, karena akan terbentuk gumpalan yang memperparah sumbatan kelenjar sehingga menjadi tempat pertumbuhan kuman. Bila keluhan sangat gatal, luka dan lecet dapat diatasi dengan pemberian antibiotik (Karel, 2008).

Pemeriksaan Diagnosis
  1. Anamnesis
    Dari anamnesis dapat ditemukan keluhan yang bersifat subjektif, biasanya penderita mengeluh gatal dan kadang rasa panas seperti terbakar

  1. Pemeriksaan Klinis
Pada pemeriksaan klinis dapat ditemukan lesi berupa papula dengan puncak dan pusatnya berupa vesikel yang dikelilingi oleh eritem.

  1. Pemeriksaan Histopatologis
Pada pemeriksaan histopatologi tampak infiltrat limfosit verivaskuler dan vasodilatasi di permukaan dermis.


WOC


Sumber :
Sudarti, dan Fauziah, Afroh. (2012). Asuahan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Balita. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sudarti. (2012). Kelainan dan Penyakit Pada Bayi dan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika.
FKUI. (2001). Perawatan Kulit Pada Bayi Dan Balita,. Jakarta: FKUI
Djuanda, A. (2000). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketiga. Jakarta: FKUI
Harahap, M. (2000). Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates
Siregar, RS. (1996). Atlas Berwarna Saripati penyakit Kulit. Jakarta: EGC

Multidisciplinary Colaboration During Emergency Condition


Multidisciplinary Colaboration During Emergency Condition
 
At this time, the Indonesian government is trying to create a condition of Indonesian society that is healthy both physically and mentally. The government realizes the importance of a healthy community in supporting the country's development. Development will be difficult to run smoothly if people are less healthy. Therefore, the government is required to create a system of quality health services and quality so reliable in times of need without any obstacles, both economic and non-economic. This means that the government needs to build health services that can be relied upon so that all layers of society both from the bottom up to the upper classes can use it. The government's efforts have been delivered in a circular issued by the Health’s Department of Indonesia which states that one of the goals to be achieved in the development of the health sector in Indonesia is reaching the community, the nation and the state where the population has the ability to reach high quality health services in a fair and evenly (Djojo, 2001).

However, it must be recognized that efforts to provide quality health services still need attention. One indicator of the need for attention to health services can be seen from the level of utilization of hospital health facilities . the hospital utilization rate in Indonesia still not optimal . Based on the statistical data outpatient population only 7.1 % . This amount is far below the PHC and PHC helper reached 33.4 % and general practice physicians who reached 27.5 % . In addition, other categories such as BOR ( Bed Occupanci Rate ) or percentage that shows the average bed used every day that there is so far below the standard . BOR level achieved general hospitals in Indonesia today still is around 50 % ( MOH RI 2004) . Whereas the standard value / ideal number that should be achieved is 70-80 % ( Djojo , 2001)

In this conditions like a hospital as a health care unit must to improved by serving the community wellness, able to give satisfaction to the patient, the health centers or doctors practice around it.

Improved quality of service, especially in the inpatient services that must be considered is the management of patient care, which is managed by specialist doctors, nurses, pharmacists, nutritionists, dentists and midwives. In the implementation of the duty of care, health care must collaborate, cooperate with each other to provide information, coordination and have a common goal of healing the patient.

The quality of health care certainly by the quality of medical care services and nursing care. Quality medical care can be provided by professional medical personnel in the field and the quality of nursing care can be provided by the nursing staff who have been equipped with the knowledge and skills appropriate clinic and have the ability to build professional relationships with patients, in collaboration with other health team, conducting ensure quality, the ability to meet the needs of patients and show caring attitude.

If observed from medical team, then to produce good quality service requires commitment and optimal performance. Therefore,in condition limit of medical team is nedeed collaboration of nurses, so that the quality of patient care is maintained. Collaboration won’t occur if the provider doesn’t know the meaning of collaboration itself. Definistion by ANA (1980) is a true partner relationship by knowing and accepting the scope of activities and responsibilities the others or together, to protect the interests of each and their common goal in mind both sides.

In the implementation of nurse collaboration with the doctor, need knowledge about indicators of collaboration that power control nurse doctor, nurse physician practice environment, shared interests and common goals.

Communications definition from etymology, communication comes from the word communicate which means "make the same". Contemporary definition explain that the communication means "send message". According to (Effendy. 2003: 9) the term communication (communication) is derived from the Latin word communication, and comes from the word “communis” that means the same.

The concept of communication according to John R. Wenburg, William W. Wilmoth and Kenneth K Sereno and Edward M Bodaken formed into 3 types:

  1. Unidirectional
This understanding stems from the understanding of resource-oriented communication is all the activities that intentionally do to deliver stimuli to evoke response of the receiver.

  1. Interaction:
This view considers communication as a process of cause and effect, action-reaction alternating direction.

  1. Transactions
This concept is not only limiting element intentionally or unintentionally, any response is observed or not observed, but also all transactions during the communication behavior are more likely to receiver-oriented communication.

Paradigm Lasswell (1972) indicates that the communication includes five elements as an answer to the question posed, that is:
1. Communicators (communicator, source, sender)
2. Message (message)
3. Media (channel, media)
4. Communicant (communicant, Communicate, receiver, recipient)
5. Effect (effect, impact, influence)

So based on the paradigm Lasswell communication is the process of delivering a message by the communicator to communicant through media that cause certain effects.

Collaboration can not be defined or explained easily. Most definitions using the principles of planning and decision-making together, share advice, togetherness, accountability, expertise, and goals as well as a shared responsibility. American Nurses Association (ANA): Baggs & Schmitt, 1988; Evans & Carlson, 1992; Shortridge, McLain, and Gillis1986, (cit. Siegler & Whitney, 1994). et al., (cit. Siegler & Whitney, 1994) mentions collaboration as a reciprocal relationship in which patient care within the framework of their respective fields. Collaborative practice emphasizes shared responsibility in the management of patient care, with a bilateral decision-making process based on the respective education and the ability of the practitioner.

Although this definition includes the best, but not yet able to convey so wide variation and complexity of collaboration in health care National Joint Practice Commission (NJPC), (cit. Siegler & Whitney, 1994). The following images are three models / patterns collaborative practice:



  
The first design is a hierarchical model (picture1), emphasizing the one-way communication, limited contact between the patient and the doctor, and the doctor is the dominant figure. The second pattern is a collaborative practice model (picture 2) emphasizes two-way communication, but still puts doctors in primary position and limiting the relationship between doctor and patient. The third model in picture 3 is little change the design. This design is more focus in patient, and all service providers must work together, also with the patient. This model remains circular, stressing continuity, the condition of reciprocity with each other and no one dominates the service provider continuously

The nature of the interaction between nurses - doctor determines the quality of collaboration practices. ANA (1980) describes the collaboration as "a true partner relationship, where each side to appreciate the power of others, by knowing and accepting the scope of activities and responsibilities of each of which separately or together, to protect the interests of each and their common goal known to both sides collaboration can be analyzed through four indicators:

  1. Control – power
Share power or together control the power can exist if both doctors and nurses are equal opportunity to discuss a particular patient. Several researchers have developed a research instrument for measuring the control-power on nurse-doctor interaction. Feiger and Schmitt, (1979) developed a model to measure the communication nurse – doctor  to determine the level of power control through the 12 categories of the following processes:
  1. asking for information,
  2. Provide Information,
  3. Asking for opinions,
  4. give opinions,
  5. put forward proposals,
  6. provide guidance / instruction,
  7. making dicision
  8. provide education
  9. give support / approval
  10. ask not agree / disagree,
  11. orientation,
  12. joke

  1. Environmental Practice
Environmental practice show the activities and responsibilities of each side. Although nurses and doctors have a separate practice areas in accordance with the regulatory practices of nurses and doctors, but there are any assignment fostered together. Weis and Davis (1993) has developed an instrument called Health Role Expectation Index, measuring the perception of the relationship of collaboration between nurses, doctors, patients. Means that consists of 16 principal is form by Likert scale:
  1. responsibility of doctors
  2. responsibilities of nurses,
  3. responsibility of the user,
  4. Egalitarianism (by topic: equal access, equal power and / or the same award).
The higher the total score of the greater possibility of implementing a shared responsibility among members of the health care. Weiss and David suggested that the instruments used for, assess a person's tendency to collaborate, determine the fit between the expectations of the health care providers and the patients served and evaluate changes of habit.

  1. Interest Joint
Researchers who analyzed the common interest as an indicator of collaboration between nurses and doctors often respond from the standpoint of organizational behavior. This theorists describe importance operationally use the term firmness levels respectively (attempt to satisfy itself) and cooperation factor (work for satisfy the interests of the other side) .Thomas and Kilmann (1974) has designed of management models to measure patterns of conflict resolution: (1) compete, (2) collaborate, 3) compromise, (4) avoidance, (5) to accommodate.

  1. Purpose Joint
Management goal of healing is more oriented to the patient and can help determine areas of responsibility are related to patient prognosis. There is a goal that is entirely the responsibility of nurses, there were regarded as the sole responsibility of the doctor, there is also a goal that is shared responsibility between doctors and nurses.
 
Literature:
Effendy, Onong Uchjana. (2003). Communication Studies; Theory and Practice. New York: Rosda.
Lasswell, Harold D. (1972). The structure and function of communication in society in Wilbur Schramm, ed. Mass communication. Urbana - Chicago: University of Illinois Press

Sunday, 13 November 2016

Delirium pada Lansia

Delirium pada Lansia
Oleh: Supardi Hasanuddin, Rn

Pendahuluan
Diperkirakan populasi dari penduduk lanjut usia (lansia), berusia 65 tahun ke atas, menunjukkan kecenderungan akan terus meningkat. Peningkatan paling besar populasi lansia di dunia dipikirkan akan terjadi pada tahun 2020, yaitu sebesar 400%. Di Indonesia sendiri, jumlah populasi lansia diperkirakan akan meningkat 4 kali lipat pada tahun 2025, dibandingkan tahun 1990. Saat ini terdapat sekitar kurang lebih 15 juta orang lansia di Indonesia. Secara keseluruhan, peningkatan populasi berusia 65 tahun ke atas di dunia diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 3 kali lipat.


Proses pertambahan usia pada pasien geriatri juga diikuti dengan penurunan fungsi organ dan kemampuan kompensasi. Beberapa teori penuaan, menyatakan hal tersebut dapat terjadi karena dalam proses penuaan secara biologis terdapat berkurangnya kemampuan memperbaiki diri (tissue-repair) sehingga terjadi kerusakan perlahan dan progresif pada sistem organ yang berdampak terjadi penurunan kapasitas faal.

Selain itu, penurunan fungsi satu organ dapat mempengaruhi fungsi organ lain ataupun terjadi penurunan fungsi secara serentak. Sehingga pasien lansia seringkali memiliki lebih dari satu permasalahan kesehatan (multipatologi). Sekitar lima puluh persen dari pasien berusia di atas 65 tahun, memiliki lebih dari satu penyakit kronis dan keduanya bisa saling mempengaruhi penatalaksanaannya. Selain itu, pasien lanjut usia juga rentan risiko polifarmasi karena banyaknya morbiditas yang dapat meningkatkan efek samping obat.

Selain itu, berbagai gejala atau kumpulan gejala juga sering dijumpai pada pasien geriatri bersamaan dengan penyakit dasarnya. Gejala-gejala atau kondisi medis tersebut tidak dapat diabaikan karena dapat menimbulkan komplikasi yang akan memperburuk keadaan pasien. Kumpulan gejala tersebut disebut sindrom geriatri. Dari sindrom geriatri tersebut terdapat empat masalah yang sering terjadi pada pasien geriatri dan menyebabkan seorang lansia harus dirawat di rumah sakit. Empat masalah tersebut adalah inkontinensia, imobilisasi, instabilitas, penurunan intelektual (delirium dan demensia). Kondisi medis tersebut sering disebut sebagai geriatric giants karena dapat meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian seorang lansia bila tidak ditangani dengan baik.

Dalam modul ini, kita akan memfokuskan pembahasan pada salah satu Geriatric Giant pada lansia, yakni delirium. Delirium pada lansia sampai sekarang masih menjadi salah satu permasalahan yang masih sulit untuk dikenali oleh para tenaga kesehatan karena manifestasi klinisnya terkadang menyerupai penyakit atau gangguan-gangguan kognitif lainnya, seperti demensia atau depresi.

Lewat modul ini kita mencoba untuk mengkaji bagaimana cara mengidentifikasi atau mengenal secara dini gejala-gejala awal dari delirium pada lansia dan faktor-faktor apas saja yang bisa mempengaruhi dan memicu terjadinya delirium. Dengan begitu sebagai perawat bisa melakukan tindakan pencegahan dan juga penatalaksanaan dengan baik dan terencana.

Delirium, sebuah masalah yang sering diremehkan
Menurut data  dari badan inspeksi kementerian kesehatan di Belanda menyebutkan bahwa delirium muncul/ terjadi pada :
  • 10 sampai 40% pada pasien-pasien lansia
  • 50 sampai 80% pada pasien yg dirawat  ICU

Dan berdasarkan data dari berbagai penelitian yg dilakukan, terlihat bahwa setengah dari jumlah kasus, ternyata delirium ini belum atau tidak dikenali, dan bahkan kadang didiagnosa salah. Tidak dikenalinya delirium pada pasien-pasien tersebut, bisa memberikan dampak yang sangat  negatif terhadap pasien, diantaranya:
  • Tingginya angka kematian 
  • Relokasi atau transfer pasien yang salah dari rumahsakit ke unit/ instansi psykiatri sebagai akibat dari diagnosa yang salah

Pasien yang delirium memiliki tingkat risiko tinggi untuk mendapatkan komplikasi , seperti inkontinensia, dekubitus , malnutrisi , dehidrasi , infeksi dan jatuh . Selama periode delirium, perilaku pasien yang muncul sebagai akbiat dari delirium biasanya menghambat proses pengobatan, perawatan dan rehabilitasi . Pasien yang delirium, juga bisa mendapatkan delusi dan halusinasi yang  mana menyebatkan pasien tersebut sering gelisah dan hiperaktif, terutama pada malam hari, sehingga siklus tidur-bangunnya juga terganggu. Hal ini membutuhkan perawatan  medis dan keperawatan  intensif.

Selain itu delirium bisa menyebabkan:
  • Hilangnya/ berkurangnya fungsi ADL
  • Waktu opname lebih lama
  • Angka kematian lebih tinggi

Pasien-pasien yang telah mengalami episode delirium sering merasakan kecemasan dan perasaan malu dan takut . Namun begitu dengan adanya perawatan yang adekuat, ini bisa mengurangi dan mencegah timbulnya delirium, dan juga meminimalisir akibar-akibat buruk yang ditimbulkan oleh delirium !

Definisi Delirium
Delirium berasal dari bahasa Latin, yakni:  delirare ~ “de” berarti dari & “lira”berarti garis atau alur. Artinya bahwa delirium adalah pergeseran dari garis atau keluar jalur.

Delirium adalah gangguan mental sementara, yang disebabkan oleh satu atau lebih gangguan somatik, atau sebagai akibat dari putus obat atau penggunaan obat-obat tertentu, yang bersifat akut dan fluktuatif.

Jadi Delirium adalah gangguan serebral akut dan bersifat sementara dengan perjalanan yang fluktuatif , seperti ada semacam “kortsluiting di otak”' yang disebabkan oleh  satu atau lebih penyakit fisik atau gangguan somatik,  atau penggunaan obat-obatan  atau alcohol dan putus obat

Atau dalam definisi lainnya bahwa delirium adalah keadaan yg bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih.


Patofisiologi
Gambaran klinis delirium bervariasi karena keterlibatan yang luas antara kortikal dan subkortikal. Patofisiologinya secara pasti belum/ tidak diketahui sampai sekarang, tetapi diperkirakan karena terdapat penurunan metabolisme oksidatif otak yang menyebabkan perubahan neurotransmiter di daerah prefrontal dan subkortikal. Dan pada sisi lain adanya kejadian penurunan kolinergik dan peningkatan aktifitas dopaminergik. Pada umumnya delirium tidak timbul karena satu sebab saja, tetapi karena kombinasi antara:
  • Faktor etiologi (gangguan somatik),
  • Faktor predisposisi (risk factor), dan
  • Faktor presipitasi (faktor pencetus)

Etiologi
  • Pada umumnya karena gangguan atau penyakit somatik, seperti;
    • Gangguan serebral
    • Dehydratie/ gangguan metabolik/ elektrolit
    • Gangguan cardio-pulmonal
    • Infeksi
  • Intoksikasi/ keracunan obat atau putus obat
  • Multifaktoral; kombinasi beberapa penyebab

Faktor predisposisi
Faktor presdisposisi adalah faktor-faktor yg sudah ada saat opname yang mana berhubungan dgn pasien, diantaranya:

  • Faktor usia
Pada pasien usia lanjut memiliki kemungkinan mendapatkan delirium saat opname lebih besar. 
  • Kerusakan otak, seperti CVA
  • Riwayat delirium saat opname sebelumnya
  • Immobility/ ketidakmampuan fungsional ; ketidakmampuan untuk bisa berpindah tempat sendiri atau memiliki hambatan dalam pergerakan atau ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas ADL-nya secara mandiri
  • Memiliki gangguan kognitif; seperti demensia
  • Ketergantungan alkohol
  • Komorbiditas; memiliki 2 atau lebih penyakit yang berkaitan satu sama lain dan menggangu sistem organ tubuh lebih dari dua.
  • Gangguan panca indera ; seperti visus/ penglihatan dan pendengaran

Faktor pencetus (presipitasi)
Faktor-faktor yg terjadi/ muncul selama pasien tersebut di opname (yg berkaitan dengan opname pasien), seperti:
  • Operasi/ bedah dan anestesi
  • Opname di ICU
  • Stres karena opname
  • Kurang atau justru over-stimulasi pancaindra
  • Obstipasi atau retensi urin
  • Pain
  • Kateter, infus, drain
  • Kurangnya kemungkinan orientasi
  • Kurang tidur
  • Penyakit akut berat , seperti hipoglikemia, hHipoksia atau hiperkapnia
  • Polifarmasi
Kerentanan/ vulnerability   =   Faktor-faktor risiko

Faktor-faktor pencetus/ pemicu  =   Precipitating factors



Delirium dapat disebabkan oleh kombinasi dari kerentanan/ vulnerability dan faktor pencetus selama opname. Pada pasien yang sangat rentan , misalnya dengan demensia berat , hanya dengan setelah asupan sekali  obat tidur pasien tersebut dapat mendapatkan delirium. Dan bahkan pada lansia yang sehat dan fit sekalipun, operasi besar bisa jadi merupakan stress yang sangat besar buat dia sehingga terjadi delirium.

Manifestasi klinis dan perjalanan delirium
Gejala delirium datang dan pergi dan bahkan mungkin tidak ada selama beberapa jam ! atau sebaliknya, Delirium dapat berkembang/ muncul dengan cepat , dalam hitungan jam atau hari. Biasanya delirium terjadi dalam beberapa hari dan  kita bisa melihat perubahan-perubahan klinis yang muncul seiring perjalanan hari . Gejala datang dan pergi , dan kadang-kadang pasien dalam beberapa jam tidak menunjukkan gejala-gejala klinis . Hal ini membuat identifikasi delirium terkadang sulit.

Tingkat kejadian dikaitkan dengan penyebabnya : pada gangguan fisik yang tiba-tiba dan serius, seperti operasi besar akan memicu  lebih cepat munculnya delirium daripada penyebab yang muncul secara diam-diam, seperti dehidrasi. Oleh karena itu, penting buat kita untuk mengetahui gejala-gejala awal yang muncul atau yang pasien perlihatkan sebelum gejala pasti delirium terjadi.

Gejala awal (prodromal symptoms) adalah gejala-gejala yang muncul diawal sebelum delirium yang sebenarnya terjadi, seperti:
  • Perubahan perilaku
  • Sulit tidur/ insomnia
  • Kecemasan, gelisah/ restlessness
  • Mimpi buruk
  • Disorientasi ringan dan gangguan konsentrasi
  • Kesulitan dalam memahami apa yg terjadi dan dikatakan
  • Kehilangan struktur keseharian

Gangguan-gangguan penting yang sering muncul pada delirium adalah :
  • Gangguan kesadaran
  • Gangguan atensi/ fokus
  • Gangguan berpikir dan persepsi;  paranoid/ delusi, halusinasi
  • Gangguan memori/ ingatan
  • Gangguan orientasi/ disorientasi
  • Gangguan pola tidur
  • Gangguan psykomotorik
  • Gangguan lainnya: inkontinensi, tremor, takikardi, hypertensi dan berkeringat

Tipe/ Jenis delirium
Ada 3 tipe, yakni:
  1. Bentuk aktif atau hiperaktif
  2. Bentuk pasif atau hipoaktif
  3. Campuran

Kita membedakan tiga jenis delirium : yang pertama adalah delirium hiperaktif-hyperalerte dengan agitasi dan kewaspadaan yg tinggi . Yang kedua adalah bentuk delirium hypoalerte- hipoactif , juga dikenal sebagai " delirium diam/ apatis" . Hal ini ditandai dengan apatis dan perilaku menarik diri dan penurunan tingkat kewaspadaan . Bentuk ketiga adalah bentuk campuran, dimana manifestasi klinisnya bergantian antara bentuk hiperaktif dan hipoaktif satu sama lain dengan cara yang tak terduga . Bentuk ketiga ini yang paling umum dan sering terjadi.

Contoh kasus pasien delirium jenis hiperaktif: Mr. K. Saat malam hari sangat gelisah dan terus menerus membangunkan istrinya dari tidurnya. Bahkan anak-anaknya sering datang ke rumah mereka untuk menjaga ayahnya supaya ibu mereka bisa istirahat.  Jika siang harinya, Mr. K tidak tahu lagi apa yg terjadi malam itu, meskipun dijelaskan berkali-kali. Mr. K mulai berteriak dan menggunakan bahasa kotor, dimana hal ini tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Istrinya disarankan supaya urin Mr. K diperiksakan ke dokter keluarga (huisarts). Pada awalnya tidak ada yg ditemukan. Namun beberapa hari kemudian mereka mengkonsultasikannya lagi ke dokter, dan dokter memeriksa kembali urin Mr. K. Dan ternyata dari pemeriksaan itu, kelihatan bahwa ada infeksi saluran kemih. Dari dokter keluarga mereka, Mr. K mendapatkan antibiotik. Setelah seminggu, Mr. K sembuh dari infeksi kandung kemihnya dan kejadian2 yg terjadi dimalam2 sebelumnya tidak terjadi lagi.

Contoh kasus pasien delirium jenis hipoaktif/ delirium diam: Ibu M. sangat pasif.  Jika pagi hari dia tidak keluar dari tempat tidurnya. Tetap saja berada ditempat tidurnya, sampai perawat dari instansi homecare datang untuk memberikan suntikan insulinnya. Menurut dia itu semuanya sebenarnya tidak perlu, dan dia terus "menggerutu" dan tidak ingin apa-apa dan tdk mau dibantu, kecuali hanya ingin tidur/ berbaring di tempat tidur. Menurut riwayat medisnya di masa lalu ibu M sering mendapatkan infeksi kandung kemih. Ibu M kemudian disarankan untuk memeriksakan urin-nya ke dokter dan ternyata dari hasil pemeriksaan urin tersebut, ditemukan bahwa dia mendapatkan infeksi kandung kemih.  Setelah beberapa hari mendapatkan antibiotik ibu M terlihat energik kembali.

Diagnosis
Dalam men-diagnosa apakah pasien itu mengalami delirium, kriteria yang sering digunakan adalah  kriteria Diagnostic and Statictical Manual Version IV (DSM-IV) oleh American Psychiatric Association. Dalam DSM-IV, disebutkan ada 4  kriteria untuk melakukan diagnosis delirium, yakni:
  • Gangguan kesadaran disertai dengan menurunnya kemampuan untuk memusatkan, mempertahankan, dan merubah perhatian
  • Perubahan kognitif seperti defisit memori, disorientasi, gangguan berbahasa) atau perkembangan gangguan persepsi yang tidak berkaitan dengan demensia sebelumnya, yang sedang berjalan atau memberat
  • Perkembangan dari gangguan selama periode waktu yang singkat (umumnya jam sampai hari) dan kecenderungan untuk berfluktuasi dalam perjalanan hariannya
  • Bukti dari riwayat, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium, bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh: kondisi medis umum, intoksikasi, efek samping, putus obat dari suatu substansi

CAM (Confusion Assessment Method)
Selain kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV, dapat juga menggunakan algoritma The Confusion Assessment Method (CAM) dan Delirium Observation Screening (DOS). CAM merupakan metode standarisasi sehingga memungkinkan  identifikasi delirium dengan lebih cepat dan akurat. Berikut kriteria diagnostik delirium berdasarkan CAM, yakni:
Kriteria 1. Onset akut dan adanya fluktuasi
Kriteria ini dapat didapatkan dengan anamnesis dari pihak keluarga dengan pertanyaan: adakah perubahan status mental/perilaku yang akut? Apakah ada perubahan (fluktuasi) perilaku yang terjadi sepanjang hari? Bila terdapat fluktuasi, apakah hilang timbul atau gradasi perbaikan dan perburukan?

Kriteria 2. Inatensi
Kriteria ini dapat didapatkan dengan pertanyaan: Apakah pasien terdapat kesulitan berkosentrasi?

Kriteria 3. Gangguan pikir
Kriteria ini dapat didapatkan dengan pertanyaan: Apakah pasien terdapat inkoherensi dalam percakapan? Apakah terdapat  pemikiran/ide yang tidak masuk akal?

Kriteria 4. Gangguan tingkat kesadaran
Kriteria ini dapat didapatkan bila pasien tersebut sering tertidur tiba-tiba saat percakapan.

Diagnosis delirium ditegakkan dengan adanya kriteria 1 dan 2 ditambah kriteria 3 atau 4.

DOS (Delirium Observation Screening)
DOS adalah skrining instrumen yang dipakai untuk melakukan observasi kepada pasien selama 3 hari berturut-turut, guna mendeteksi apakah pasien tersebut menunjukkan gejala-gejala atau kriteria-kriteria klinis delirium. DOS ini biasanya dipakai oleh para perawat untuk meng-observasi pasien selama 24 jam untuk 3 hari berturut-turut. DOS ini terdiri dari 13 pertanyaan yang harus diisi oleh perawat yang melakukan observasi kepada pasien selama jadwal tugasnya (jadwal dinasnya). Jika pasien  memilki skor lebih dari 3, berarti kemungkinan besar pasien tersebut mendapatkan delirium. Sebagai perawat, kita tidak memiliki wewenang untuk menentukan diagnose, tetapi hasil dari observasi kita ini, menjadi acuan buat dokter dalam menentukan apakah pasien tersebut delirium atau tidak.

DOS ((Delirium Observation Screening )
Skala ini terdiri dari 13 pertanyaan, yang di skor dengan “YA” ( 1 poin ) atau  “TIDAK “ ( 0 poin )
  1. Tertidur sebentar selama percakapan atau aktivitas
  2. Mudah terganggu oleh rangsangan/ stimulus dari lingkungan sekitarnya
  3. Memperhatikan/ fokus pada percakapan atau tindakan yg dilakukan
  4. Bertanya atau memberikan jawaban yang tidak lengkap (belum selesai)
  5. Memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan
  6. Lambat dalam merespon perintah
  7. Berpikir kalau dia berada ditempat lain (orientasi tempat)
  8. Menyadari bahwa dia berada di bagian hari yg mana
  9. Mengingat peristiwa-peristiwa yang baru terjadi
  10. Gelisah, restless, tidak bisa diam, dll
  11. Menarik atau berusaha mencabut infus, kateter, dll
  12. Cepat atau tiba-tiba ada perubahan emosi
  13. Mendengar atau melihat hal-hal yang tidak ada

Preventif/ Pencegahan
Pencegahan primer, sebelum terjadinya delirium, merupakan strategi paling efektif mencegah terjadinya delirium dan komplikasinya. Oleh karena itu, identifikasi dan intervensi faktor-faktor risiko terjadinya delirium harus dilakukan secara cermat dan secepatnya.

Tindakan-tindakan pencegahan antara lain:
  • Melakukan indentifikasi terhadap grup-grup yang berisiko
  • Menghilangkan faktor-faktor risiko dan pencetus/ pemicu

Tindakan pencegahan ini bertujuan untuk:
  • Mencegah terjadinya delirium
  • Jika delirium sudah terjadi; meminimalisir efek negatifnya dan supaya tidak berlangsung terlalu lama
  • Mengurangi dampak keparahan/ komplikasi dari delirium

Melalui langkah-langkah pencegahan, yaitu mengenali risiko dan jika mungkin menghilangkan faktor risiko, delirium dapat dicegah atau mungkin mengurangi durasi dan tingkat keparahan dari delirium tersebut. Jadi, penting bahwa kita mengidentifikasi sejak awal mana pasien yg berpotensi mendapatkan delirium .

Catatan!
Delirium adalah gangguan yang bersifat SEMENTARA, akan tetapi bisa memberikan akibat/ gangguan yang TETAP.

Efek negatief jangka panjang dari delirium:
  1. Kelupaan
  2. Gangguan konsentrasi
  3. Cepat emosi/marah/ agitasi
  4. Mengurangi kecerdasan
  5. (jika demensia) tingkat keparahannya bertambah
  6. Gangguan fungsi eksekutif
Semua ini menyebabkan berkurangnya tingkat kemampuan kemandirian  atau hilangnya fungsi kemandirian. Bagi sebagian orang, ini berarti bahwa mereka tidak bisa lagi melakukan aktivitas keseharian mereka yang biasa mereka lakukan sebelum  mereka sakit . Untuk pasien yang lebih tua (lansia) , ini berarti bahwa mereka tidak bisa lagi hidup secara mandiri . Kadang-kadang mereka sepenuhnya harus tergantung pada perawatan  dari orang lain, atau dipindahkan ke instansi keperawatan intensif khusus lansia .
Pencegahan delirium di rumahsakit
 Pertanyaan Skrining saat opname di rumah sakit
Di Belanda semua pasien yang berusia 70 tahun keatas yang dirawat di unit perawatan harus diskrining pada saat masuk opname. Komite  inspeksi kementerian kesehatan Belanda bersama program kesehatan VMS (Veiligheidmanagement systeem/ sistem manajemen keselamatan) menyusun 3 buah pertanyaan skrining yang didasarkan atas penelitian ilmiah. Ketiga pertanyaan itu adalah:
  • Apakah Anda mengalami masalah/ gangguan dengan memori atau ingatan anda?
  • Apakah Anda selama 24 jam terkahir mendapatkan bantuan dari orang lain yang menyangkut aktifitas ADL ?
  • Apakah dalam riwayat opname anda sebelumnya, Anda  pernah mengalami periode delirium ?

Jika jawabannya “YA” dari satu atau lebih dari pertanyaan diatas, berarti pasien tersebut berisiko tinggi mendapatkan delirium selama opname. Jika seperti itu, Anda sebagai perawat harus mengisi formulir DOS (Delirium Observation Screening) selama 3 hari berturut-turut disetiap shift/ jadwal jaga/dinas. Dan melakukan upaya antisipasi dengan menerapkan intervensi-intervensi keperawatan yg bertujuan untuk mereduksi factor-faktor pencetus terjadinya delirium.

Tindakan Pencegahan
Tindakan-tindakan pencegahan yg bisa dilakukan adalah:
  • Mengurangi/ menghilangkan faktor-faktor pencetus/ pemicu
  • Mengoptimalkan iklim terapi
  • Orientasi dan struktur hari; siang-malam
  • Partisipasi keluarga
  • Usahakan keamanan
  • Observasi dan pelaporan
  • Melibatkan displin ilmu lainnya

Sumber :
Protokol dan panduan penanganan pasien Delirium di Rumahsakit, UMC Utrecht Netherland. Multidisciplines richtlijn Delier.
Nederlandse Vereniging voor Klinische Geriatrie (NVKG) 2013.  Richtlijn Delier Volwassenen. http://www.nvkg.nl/uploads/bB/zw/bBzw0YCHaGtVRSwyW-epTw/Richtlijn-Delier-Volwassenen-voor-autorisatie.pdf
Sharon K. Inouye, M.D., M.P.H 2006. Delirium in Older Persons.
Schuurmans, Marieke J, Shortridge-Baggett, Lillie M, Duursma, Sijmen A 2003. The Delirium Observation Screening Scale: A Screening Instrument for Delirium.

Menurut Mark (2006), hal yang harus dilakukan oleh tenaga medis khususnya perawat dan dokter pada pasien dengan Delirium adalah dengan memperbaiki kondisi penyakitnya dan menghilangkan faktor yang memberatkan.

Hal yang bisa dilakukan yaitu dengan menghilangkan penyebab bila memungkinkan. Misalnya jika delirium timbul karena efek obat, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan meminimalkan setiap obat yang memperburuk keadaan delirium pasien.

Selain itu bila terjadi infeksi maka harus diberikan treatment untuk mengobati infeksi tersebut. Menjaga dan mengoptimalkan nutrisi dan hidrasi pasien juga merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Memberikan support pada pasien dan keluarga juga sangat penting untuk memberikan ketenangan psikologis.

Menciptakan lingkungan yang mendukung dan nyaman juga dapat memberikan efek positif bagi keadaan pasien. Misal, Anggota keluarga memberikan penenangan dan hal-hal lazim dari rumah untuk mengingatkan pasien kembali, mendorong kerabat atau teman untuk datang berkunjung, menghindari gangguan tidur dengan menciptakan lingkungan yang tenang dan meyakinkan, pencahayaan yang baik, serta menempatkan pasien di dekat tempat perawatan agar mudah dipantau.

Tindakan kolaboratif lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan terapi farmakologis guna mengobati agitasi yang menyertai, lebih baik dengan haloperidol (Haldol), dosis awal 0,5 sampai 2 mg IM atau IV. Jika Haldol tidak efektif, pikirkan tambahan lorazepam (Ativan) 0,5 sampai 1 mg IM atau IV. Sebagai usaha terakhir, pasien dapat dikurung demi keamanan. Perlu diingat obat benzodiazepin bisa memperburuk delirium karena efek sedasinya.

Menurut Dewanto (2009), penatalaksanaan pada pasien delirium dibedakan menjadi 2, yaitu:

Intervensi Nonfarmakologis
Target utama adalah meminimalkan faktor lingkungan yang menyebabkan delirium, kebingungan, dan kesalahan persepsi serta mengoptimalkan stimulasi Iingkungan.

Intervensi Farmakologis
  1. Antipsikotik Tipikal.
Haloperidol masih merupakan pilihan utama. Untuk lansia atau delirium hipoaktif dimulai dengan dosis 0,5-1 mg/12 jam, sementara untuk usia muda dan keadaan agitasi yang berat serta delirium hiperaktif digunakan dosis 10 mg/2 jam IV. Jika dosis awal tidak efektif, maka dapat digandakan 30 menit kemudian selama tidak ditemukan efek samping. Pengaruh terhadap jantung memberikan gambaran interval QT memanjang pada EKGI sehingga pemberian haloperidol disertai dengan monitor EKG.

  1. Antipsikotik Atipikal.
Dosis risperidon untuk orang tua 0,25-0,5 mg/12 jam, olanzapin 2,5-5 mg malam hari, quetiapin 12,5 mg malam hari (peningkatan dosis bertahap sesuai indikasi). Risperidon dan ziprasidon mempunyai efek interval QT memanjang pada EKG. Olanzapin dan quetiapin alternatif pengganti haloperidol. Olanzapin berisiko meningkatkan kadar glukosa serum, selain itu olanzapin mempunyai efek antikolinergik potensial yang merupakan kontraindikasi pada delirium. Olanzapin dan risperidon tersedia dalam sediaan oral.

  1. Benzodiazepin.
Pada pasien yang mengalami agitasi dan tidak responsif terhadap monoterapi antipsikotik, dapat digunakan diazepam 5-10 mg IV; dapat diulang sesuai kebutuhan. Benzodiazepin dapat digunakan sebagai monoterapi pada gejala putus alkohol, benzodiazepin, barbiturat, atau delirium pascakejang. Pasien delirium dengan gejala putus alkohol diberi tiamin 100 mg/hari dan asam folat 1 mg/hari. Pemberian tiamin mendahului pemberian glukosa IV. Ben zodiazepin memberikan efek sedasi berlebih, depresi pernapasan, ataksia, dan amnesia.

  1. Preparat Anestetik.
Propofol dapat digunakan pada pasien yang tidak responsif terhadap psikotropik tipikal. Efek sampingnya berupa depresi pernapasan. Propofol bekerja cepat dan waktu paruhnya singkat. Dosis maksimum 75 pg/kg/menit. Efek samping lain berupa hipertrigliseridemia, bradikardi, peningkatan enzim pankreas, dan asam laktat.

Sumber :
Dewanto, George. (2009). Panduan Praktis Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC