Asuhan Keperawatan pada Luka Bakar

Luka bakar merupakan cedera paling berat yang mengakibatkan permasalahan yang kompleks, tidak hanya menyebabkan kerusakan kulit namun juga seluruh sistem tubuh (Nina,2008)...

Materi Intepretasi EKG Normal

Elektrokardiografi adalah ilmu yg mempelajari aktivitas listrik jantung sedangkan Elektrokardigram ( EKG ) adalah suatu grafik yg menggambarkan rekaman listrik jantung...

Liburan Murah Bersama Alam di Hutan Pinus Pandaan

Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki puluhan destinasi wisata yang menarik. Banyak para pelancong yang akhirnya melabuhkan hatinya di Pasuruan...

Mahasiswa FKp Satu-Satunya Delegasi Keperawatan pada Kompetisi Riset Dunia

Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga mengirimkan satu tim delegasi untuk mengikuti Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting-14 (HISAS-14) di Hokkaido...

Kisah Inspiratif Dua Pedagang Keren

assalamualaikum wr.wb para pembaca yang budiman. Sudah lama ane gak posting-posting lagi. Hari ini izinkan ane berbagi pengalaman kepada pembaca semua...

Apa yang Membuat Saya Rindu Kampung Halaman?

Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi...

السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØ­ْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ ...... Selamat datang di BLOG RIO CRISTIANTO. Dukung Blog ini dengan like fanspage "Rio Cristianto". Thank you, Happy Learning... ^_^
Showing posts with label Penyuluhan. Show all posts
Showing posts with label Penyuluhan. Show all posts

Sunday, 15 September 2019

SAP Kejang Demam pada Anak

SATUAN ACARA PENYULUHAN
KEJANG DEMAM PADA ANAK


Topik   :  Kejang Demam
Sasaran : Orangtua dan Keluarga Klien
Tempat :  IGD RSUD Bangil
Hari/Tanggal  :          
Waktu :   1 x  20 menit

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah diberikan pendidikan kesehatan/ health education (HE) diharapkan keluarga klien mengetahui tentang pengetahuan penyakit Kejang Demam dan mengetahui penyebab, gejala, faktor yang mempengaruhi, pencegahan dan penanganan yang bisa dilakukan.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah diberikan HE diharapkan klien mampu :
  1. Memahami dan menjelaskan pengertian Kejang Demam
  2. Memahami dan menjelaskan penyebab, gejala, faktor yang mempengaruhi dan pencegahan Kejang Demam
  3. Memahami dan mampu menjelaskan pentingnya penatalaksanaan atau penanganan kejang demam

III. SASARAN
Orangtua dan Keluarga Klien

IV. MATERI
Terlampir

V. METODE
  1. Ceramah
  2. Tanya jawab

VI. KRITERIA EVALUASI
  1. Evaluasi Struktur
  • Klien ada di tempat penyuluhan.
  • Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Anggrek, RSUD Bangil.
  • Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.

  1. Evaluasi Proses
  • Mahasiswa mampu memberikan informasi dengan jelas sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
  • Klien aktif mendengarkan.
  • Klien aktif bertanya terhadap hal yang belum diketahui.
  • Tanya jawab berlangsung dengan lancar.
  • Media dapat digunakan secara efektif.

  1. Evaluasi Hasil
  • Klien menerima kedatangan mahasiswa.
  • Klien dapat menjelaskan tentang  tanda dan gejala, klasifikasi, komplikasi dan penanganan Kejang Demam.
  • Klien mengungkapkan setuju untuk melakukan upaya pengendalian dan pencegahan Kejang Demam.

VII. KEGIATAN PENYULUHAN
TAHAP/ WAKTU
KEGIATAN
PENYULUH
PESERTA
Pembukaan
3 menit
  • Mengucapkan salam
  • Memperkenalkan diri
  • Menjelaskan judul materi dan tujuan yang ingin dicapai oleh peserta.
  • Menjawab salam
  • Memperhatikan
  • Memperhatikan

Isi
(Penyampaian materi)
10 menit
  •  Menjelaskan tentang pengertian Kejang Demam
  • Menjelaskan penyebab, faktor yang mempengaruhi, tanda gejala dan pencegahan Kejang Demam
  • Menjelaskan penatalaksanaan atau penanganan penyakit Kejang Demam
  • Mendengarkan dan memperhatikan

-

Penutup
7 menit
  • Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya.
  • Memberikan kesimpulan materi yang sudah diberikan
  • Evaluasi
  • Penutup dengan mengucapkan salam
  • Bertanya
  • Mendengarkan
  • Menjawab pertanyaan yang diberikan
  • Menjawab salam.



MATERI PENYULUHAN
KEJANG DEMAM

  1. Pengertian Kejang Demam
Kejang demam merupakan kejang yang cukup sering dijumpai pada anak–anak yang berusia dibawah 5 tahun, gejala–gejala yang timbul dapat bermacam–macam tergantung dibagian otak mana yang terpengaruh, tetapi kejang demam yang terjadi pada anak adalah kejang umum (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).

Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan (Betz & Sowden,2009).


Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Jadi kejang demam adalah kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan perubahan fungsi otak akibat perubahan potensial listrik serebral yang berlebihan sehingga mengakibatkan renjatan berupa kejang (Mansjoer, A.dkk. 2000)

  1. Penyebab Kejang Demam
Menurut Mansjoer, dkk (2000) penyebab kejang demam diantaranya:
  1. Demam itu sendiri, demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi.
  2. Efek produk toksik daripada mikroorganisme
  3. Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
  4. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
  5. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan, yang tidak diketahui atau enselofati toksik sepintas.

  1. Faktor yang Mempengaruhi Kejang Demam
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:
  1. Usia < 15 bulan saat kejang demam pertama
  2. Riwayat kejang demam dalam keluarga
  3. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
  4. Riwayat demam yang sering
  5. Infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis akut, exantema  subitum, bronchitis, dan infeksi saluran kemih. Selain itu juga infeksi diluar susunan syaraf pusat seperti tonsillitis, faringitis, forunkulosis serta pasca imunisasi DPT (pertusis) dan campak (morbili) dapat menyebabkan kejang demam.
  6. Produk toksik mikroorganisme terhadap otak (shigellosis, salmonellosis)
  7. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal oleh karena infeksi.
  8. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit
  9. Gabungan dari faktor-faktor diatas

  1. Tanda Gejala Kejang Demam
  1. Gerakan tangan, kaki dan muka yang menyentak-nyentak atau kaku
  2. Bola mata berputar ke arah belakang kepala
  3. Pernafasan bermasalah
  4. Hilang kesadaran
  5. Mengompol
  6. Muntah
  7. Suhu badan meningkat - biasanya lebih dari 38.5ºC

  1. Pencegahan Kejang Demam
Kebanyakan, kejang demam terjadi dihari pertama anak sakit. Seringkali kejang demam muncul sebelum orangtua menyadari bahwa anaknya sedang sakit.

Namun, jika anda melihat akan adanya gejala kejang demam pada anak, sebaiknya berikan parasetamol begitu anak anda demam sehingga resiko kejang akan berkurang. Demam juga dapat dikurangi dengan cara memperbanyak asupan cairan dan tidak memakai pakaian yang terlalu tebal dimalam hari. Jangan memberikan aspirin yang dapat menyebabkan Reye’s Syndrome

Obat-obatan (dengan resep dokter) yang dapat mengurangi resiko kejang, yaitu Phenobarbital, valproic acid (depakene) dan divalproex sodium (depekote), rectal diazepam (valium, diastat). Tetapi obat-obatan ini memiliki kelemahan karena adanya resiko efek samping yang serius pada anak. Untuk itu, obat-obatan tersebut jarang diberikan kepeda pasien karena sebagian besar kejang demam tidak berbahaya dan banyak anak yang tetap tumbuh sehat walau mengalami kejang demam ini.

  1. Penatalaksanaan Kejang Demam
  1. Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka.
  2. Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam
  3. Lepaskan pakaian / ikatan pada tubuh supaya anak bisa bernafas dengan leluasa, Longgarkan pakaian disekitar kepala dan leher
  4. Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar darimulut
  5. Hubungi dokter anak anda
  6. Tenang, ini merupakan prisip utama dalam menangani kasus kasus kegawatan.
  7. Jangan memegang anak untuk melawan kejang


Daftar Rujukan

Arief, Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Medica Aesculpalus.
Betz, Cecily L., Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 5. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 1997. Perawatan anak sakit. Jakarta : EGC.
Sylvia A. Price dan Lorraine M. Wilson.1995. Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta: EGC



SAP Demam Berdarah Dengue (DBD)

SATUAN ACARA PENYULUHAN
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)


Topik     :   Demam Berdarah Dengue
Sasaran :    Orangtua dan Keluarga Klien
Tempat  :    IGD RSUD Bangil
Hari/Tanggal :          
Waktu   :    1 x 20 menit

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah diberikan pendidikan kesehatan/ health education (HE) diharapkan keluarga klien mengetahui tentang pengetahuan penyakit Demam Berdarah Dengue dan mengetahui penyebab, gejala, pencegahan dan penanganan yang bisa dilakukan.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah diberikan HE diharapkan klien mampu :
  1. Memahami dan menjelaskan pengertian Demam Berdarah Dengue
  2. Memahami dan menjelaskan penyebab, gejala, pencegahan  dan penanganan Demam Berdarah Dengue
  3. Memahami dan mampu menjelaskan pentingnya penatalaksanaan atau penanganan Demam Berdarah Dengue

III. SASARAN
Orangtua dan Keluarga Klien

IV. MATERI
Terlampir

V. METODE
  1. Ceramah
  2. Tanya jawab

VI. KRITERIA EVALUASI
  1. Evaluasi Struktur
  • Klien ada di tempat penyuluhan.
  • Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Anggrek, RSUD Bangil.
  • Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.

  1. Evaluasi Proses
  • Mahasiswa mampu memberikan informasi dengan jelas sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
  • Klien aktif mendengarkan.
  • Klien aktif bertanya terhadap hal yang belum diketahui.
  • Tanya jawab berlangsung dengan lancar.
  • Media dapat digunakan secara efektif.

  1. Evaluasi Hasil
  • Klien menerima kedatangan mahasiswa.
  • Klien dapat menjelaskan tentang  penyebab, tanda dan gejala,  pencegahan dan penanganan Demam Berdarah Dengue.
  • Klien mengungkapkan setuju untuk melakukan upaya pengendalian dan pencegahan Demam Berdarah Dengue.

VII. KEGIATAN PENYULUHAN
TAHAP/ WAKTU
KEGIATAN
PENYULUH
PESERTA
Pembukaan
3 menit
  • Mengucapkan salam
  • Memperkenalkan diri
  • Menjelaskan judul materi dan tujuan yang ingin dicapai oleh peserta.
  • Menjawab salam
  • Memperhatikan
  • Memperhatikan

Isi
(Penyampaian materi)
10 menit
  • Menjelaskan tentang pengertian DBD
  • Menjelaskan penyebab,, tanda gejala, penanganan dan pencegahan Demam Berdarah Dengue
  • Menjelaskan penatalaksanaan atau penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Mendengarkan dan memperhatikan



Penutup
7 menit
  • Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya.
  • Memberikan kesimpulan materi yang sudah diberikan
  • Evaluasi
  • Penutup dengan mengucapkan salam
  • Bertanya
  • Mendengarkan
  • Menjawab pertanyaan yang diberikan
  • Menjawab salam.



MATERI PENYULUHAN
DEMAM BERDARAH DENGUE

  1. Pengertian Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan nyamuk Aedes Aegypty yang dapat menyerang pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam,nyeri otot,tulang dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama dan dapat menyebabkan perdarahan,


  1. Penyebab Demam Berdarah Dengue
Penyebab Demam Berdarah Dengue adalah karena adanya virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypty. Meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes Albopictus yang biasanya hidup di kebun-kebun. DBD ini banyak di temukan di daerah tropis yang curah hujannya cukup tinggi. Sebab nyamuk akan mudah berkembang biak di daerah yang tergenang air. Umumnya sering terjadi di daerah Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang saat ini menjadi masalah utama di negeri kita ini.

  1. Ciri – ciri Nyamuk Aedes Aegypty
  • Warna hitam dengan belang-belang putih di seluruh badannya
  • Berbadan kecil
  • Biasanya menggigit pada siang hari dan sore hari
  • Hidup dan berkembang biak di dalam rumah (bak mandi, kaleng bekas, kolam ikan, ban bekas, pot tanaman air, tempat minuman burung)
  • Senang hinggap pada pakaian yang bergantung,kelambu dan ditempat yang gelap dan lembab.
  • Jentik nyamuk berperan aktif di dalam bak air
  • Posisi jentik nyamuk tegak lurus dengan permukaan air
  • Gerakan jentik nyamuk naik turun ke atas pemukaan air untuk bernafas
  • Kemampuan terbang kira-kira 100 meter

  1. Tanda Gejala Demam Berdarah Dengue
  1. Demam tinggi 2 – 7 hari disertai menggigil. kurang nafsu makan, nyeri pada persendiaan,serta sakit kepala.
  2. Pendarahan dibawah kulit berupa : Bintik-bintik merah pada kulit dan mimisan (epistaksis).
  3. Nyeri perut ( ulu hati ) tapi tidak ada  gejala kuning,ada mual dan muntah.
  4.  Terjadi syok atau pingsan pada hari ke 3-7 secara berulang-ulang. Dengan tanda syok yaitu lemah, kulit dingin , basah dan tidak sadar.

TANDA BAHAYA DBD :
  1. Perdarahan gusi
  2. Muntah darah
  3.  Penderita tidak sadar
  4.  Denyut nadi tidak teraba
Segara periksakan diri ke RS atau sarana pelayanan kesehatan terdekat.

  1. Pencegahan Kejang Demam
Kebanyakan, kejang demam terjadi dihari pertama anak sakit. Seringkali kejang demam muncul sebelum orangtua menyadari bahwa anaknya sedang sakit.

Namun, jika anda melihat akan adanya gejala kejang demam pada anak, sebaiknya berikan parasetamol begitu anak anda demam sehingga resiko kejang akan berkurang. Demam juga dapat dikurangi dengan cara memperbanyak asupan cairan dan tidak memakai pakaian yang terlalu tebal dimalam hari. Jangan memberikan aspirin yang dapat menyebabkan Reye’s Syndrome

Obat-obatan (dengan resep dokter) yang dapat mengurangi resiko kejang, yaitu Phenobarbital, valproic acid (depakene) dan divalproex sodium (depekote), rectal diazepam (valium, diastat). Tetapi obat-obatan ini memiliki kelemahan karena adanya resiko efek samping yang serius pada anak. Untuk itu, obat-obatan tersebut jarang diberikan kepeda pasien karena sebagian besar kejang demam tidak berbahaya dan banyak anak yang tetap tumbuh sehat walau mengalami kejang demam ini.

  1. Cara Penularan Demam Berdarah Dengue
  • Demam berdarah dengue hanya dapat ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypty betina,yang tersebar luas di rumah-rumah dan tempat-tempat umum (Sekolah,Pasar,Terminal,Warung dsb)
  • Nyamuk ini mendapatkan virus dengue waktu menggigit/ menghisap darah orang yang sakit DBD atau orang yang tidak sakit tetapi dalam darahnya terdapat Virus Dengue.
  • Orang yang darahnya mengandung Virus Dengue tetapi tidak sakit dapat pergi kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes Aegyptynya.
  • Virus dengue yang terhisap nyamuk Aedes Aegypty akan berkembang biak dalam tubuh nyamuk.
  • Bila nyamuk tersebut menggigit/ menghisap darah orang lain,virus tersebut akan dipindahkan bersama air liur nyamuk ke orang tersebut.
  • Orang yang digigit nyamuk Aedes Aegypty yang mengandung virus dengue gejala sakit/ demam setelah 4-7 hari (masa inkubasi)
  • Bila orang yang ditularkan tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik, ia akan segera menderita DBD (demam berdarah dengue)

  1. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue
  • Tirah baring atau istirahat baring
  • Diet makan lunak
  • Minum banyak (2-2,5 liter / 24 jam ) dapat berupa susu, teh manis, sirop dan beri penderita oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita Demam Berdarah Dengue.
  • Pemberian cairan intravena (biasanya Ringer laktat atau NaCl)
  • Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam
  • Periksaan Hb, Ht dan trombosit setiap hari
  • Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan acetaminofen, eukinin atau dipiron (kolaborasi dengan dokter).
  • Berikan kompres dingin
  • Monitor tanda-tanda perdarahan
  • Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder
  • Monitor tanda-tanda renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk
  • Bila timbul kejang dapat diberikan diazepam (kolaborasi dengan dokter)

  1. Cara Pencegahan DBD
Untuk mencegah penyakit DBD, nyamuk penularnya (Aedes aegypti) harus diberantas sebab vaksin untuk mencegahnya belum  ada. Cara yang tepat dalam pencegahan penyakit DBD adalah dengan pengendalian vektornya, yaitu nyamuk  Aedes aegypti.

Cara yang tepat untuk memberantas nyamuk  Aedes aegypti adalah memberantas jentikjentiknya di tempat berkembang biaknya. Cara ini dikenal dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN-DBD). Oleh karena tempat-tempat berkembang biaknya terdapat di rumah-rumah dan tempat-tempat umum maka setiap keluarga harus melaksanakan PSN-DBD secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali.

PSN-DBD tersebut dapat digambarkan pada bagan berikut :
Gambar 2.1.


                                                                                         
Bagan cara pemberantasan nyamuk (PSN DBD)

Cara Pencegahan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
  1. Kimia: Dengan cara pemberian abatisasi (abate), pengasapan dan fogging.
  2. Fisika: Dalam sekurang-kurangya seminggu sekali, maka cegahlah dengan cara 3 M plus :
  • Menguras bak mandi
  • Menutup tempat penampungan air
  • Mengubur atau menyingkirkan benda- benda yang dapat digenangi air seperti ban bekas,kaleng bekas,vas bunga,penampungan air dsb.
  • Menggunakan obat nyamuk sebelum tidur dan sebelum bepergian
  • Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali.
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar / rusak.
  • Menutup lubang pada potongan bambu / pohon dengan tanah.
  • Menaburkan bubuk Larvasida.
  • Memelihara ikan pemakan jentik di kolam / bak penampung air.
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar.
  • Menggunakan kelambu.
  • Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk.

  1. Biologi: Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14) yaitu agen yang aktif mengendalikan




DAFTAR PUSTAKA

Arief, Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Medica Aesculpalus.
Betz, Cecily L., Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 5. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan anak sakit. Jakarta : EGC.
Suwarsono H. 1997. Berbagai cara pemberantasan jentik Ae. Aegypti. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran
Sylvia A. Price dan Lorraine M. Wilson.1995. Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta: EGC

Friday, 29 September 2017

Materi Penyuluhan : Imunisasi DPT

MATERI PENYULUHAN

A. Imunisasi
1. Pengertian imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit. (Ranuh, 2008)

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh. Agar tubuh membuat zat anti untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT dan campak) dan melalui mulut (misalnya vaksin polio). (Hidayat, 2008)

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, resisten. Imunisasi berarti anak di berikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal terhadap suatu penyakit tapi belum kebal terhadap penyakit yang lain. (Notoatmodjo, 2003)

Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. (Atikah, 2010)

2. Tujuan imunisasi
Tujuan imunisasi yaitu untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan suatu penyakit tertentu dari dunia. (Ranuh, 2008)

Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Pada saat ini, penyakit-penyakit tersebut adalah difteri, tetanus, batuk rejan (pertusis), campak (measles), polio dan tuberkulosis. (Notoatmodjo, 2003)

Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan pada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit.

Secara umun tujuan imunisasi antara lain: (Atikah, 2010)
  • Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah terserang penyakit menular
  • Imunisasi sangat efektif mencegah penyakit menular
  • Imunisasi menurunkan angka mordibitas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) pada balita

3. Manfaat imunisasi
  • Untuk anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian.
  • Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman. 
  • Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.

4. Jenis-jenis imunisasi
Imunisasi telah dipersiapkan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan efek-efek yang merugikan. Imunisasi ada dua macam, yaitu:
a. Imunisai aktif
Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahakan (vaksin) agar nantinya sistem imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini, sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan meresponnya. Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi polio dan campak. Dalam imunisasi aktif, terdapat beberapa unsur-unsur vaksin, yaitu:
  1. Vaksin dapat berupa organisme yang secara keseluruhan dimatikan, eksotoksin yang didetoksifikasi saja, atau endotoksin yang terikat pada protein pembawa seperti polisakarida, dan vaksin dapat juga berasal dari ekstrak komponen-komponen organisme dari suatu antigen. Dasarnya adalah antigen harus merupakan bagian dari organisme yang dijadikan vaksin.
  2. Pengawet, stabilisator atau antibiotik. Merupakan zat yang digunakan agar vaksin tetap dalam keadaan lemah atau menstabilkan antigen dan mencegah tumbuhnya mikroba. Bahan-bahan yang digunakan seperti air raksa dan antibiotik yang biasa digunakan.
  3. Cairan pelarut dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur jaringan yang digunakan sebagai media tumbuh antigen, misalnya antigen telur, protein serum, dan bahan kultur sel.
  4. Adjuvan, terdiri dari garam alumunium yang berfungsi meningkatkan sistem imun dari antigen. Ketika antigen terpapar dengan antibodi tubuh, antigen dapat melakukan perlawanan juga, dalam hal ini semakin tinggi perlawanan maka semakin tinggi peningkatan antibodi tubuh.

b. Imunisasi pasif
Merupakan suatu proses meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara pemberian zat imunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui plasenta) atau binatang (bisa ular) yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi. Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.

B. Difteri

  1. Definisi
Sebuah penyakit pada saluran pernapasan bagian atasyang ditandai dengan radang tenggorokan atau faringitis atau tonsilitis.

  1. Etilogi
Penyakit ini disebabkan oleh Coryne bacterium diphteriae. Infeksi biasanya terjadi ditenggorokan dan disebarkan melalui percikan ludah dari orang-orang yang terinfeksi maupun karier yang sehat (David & Derek). Masa inkubasi difteri adalah 2 – 7 hari.

  1. Manifestasi
Gejala nonspesifik yang mungkin muncul adalah demam dan menggigil, malaise, sakit tenggorokan, suara serak atau disfagia, edema serviks dan limfa denopati, rhinorrea (mukopurulen atau darah), batuk, stridor, mengi, mual, muntah, sakit kepala. Difteri pernapasan dapat berkembang dengan cepat sehingga menyebabkan obstruksi jalan napas, Takikardia, pucat, dan napas busuk mungkin ada.

Infeksi mungkin terjadi pada palatum, faring, epiglotis, laring, trakea atau, kadang – kadang memperluas ketrakeo bronkial. Daerah dapat berdarah jika terganggu. Ditandai edema amandel, uvula, wilayah submandibular dan leher anteriot (bull neck) dapat diamati dan mungkin terkait dengan suara serak, stridor, limfa denopati servikal anterior, dan perdarahan petekie.

  1. Komplikasi
Komplikasi jantung: tanda kardiovaskular muncul 1 sampai 2 minggu setelah penyakit awal.
  • Miokarditis terjadi pada sebanyak dua pertiga dari pasien, dan sekitar 20% mengalami disfungsi jantung
  • Sistem peredaran, gagal jantung, blok atrioventrikular dan aritmia dapat terjadi
  • Endokarditis dan mikotikaneurisma juga telah dilaporkan.

Komplikasi neurologi: sekitar 70% pasien dengan infeksi berat berkembang menjadi neuropati, neuritis atau kelumpuhan motor setelah 2 sampai 8 minggu.
  • Kelumpuhan fatal yang berpotensi terjadi pada diafragma
  • Kelumpuhan biasanya sembuh sepenuhnya setelah pengobatan.

Manifestasi neurologis dari difteri meliputi:
  • Hypesthesia dan kelumpuhan palatum lunak 
  • Kelemahan faring posterior, laring, dan saraf wajah, kesulitan menelan, dan kadang-kadanga spirasi 
  • Neuropati kranial, biasanya selama minggu kelima, yang menyebabkan gangguan pada okulomotor dan kelumpuhan silia (strabismus, penglihatan kabur, dan kehilangan akomodasi)
  • Polineuropati simetris dimulai dalam waktu 10 hari sampai 3 bulan setelah infeksi, dan bermanifestasi sebagai defisitmotor dengan berkurangnya refleks tendon
  • Kelemahan otot proksimal ekstremitas distal.

  1. Bentuk lain dari difteri
Manifestasi umum lainnya termasuk infeksi saluran genitourinari, saluran pencernaan, vagina, telinga luar, dan konjungtiva, Perdarahan konjungtivitis, Nekrosis fokal pada ginjal, hati, dan kelenjar adrenal, Kasus septic arthritis, osteomyeliyis, abseslimpa, dan bakteremia telah dilaporkan.

C. Pertusis
  1. Definisi

(Gambar penyakit DPT pada anak)

Pertusis (whooping cough atau batuk rejan) adalah penyakit pernafasan yang bersifat akut dan menular mempengaruhi orang yang rentan dari segala usia, dan sangat serius pada bayi. (Crocettiet all. 2004)

  1. Etiologi
Pertusis disebabkan oleh Bordetella pertussis dan jarang disebabkan Bordetella parapertussis. Kedua bakteri ini termasuk jenis gram negatif coccobacilliaerobic yang memerlukan media khusus untuk pertumbuhan. (Crocettiet all.2004)

Bordetella pertussis merupakan satu-satunya penyebab pertussis epidemic dan merupakan penyebab biasa pertussis sporadic. B. bronchiseptica merupakan pathogen binatang yang lazim. Batuk yang tidak sembuh-sembuh dapat disebabkan oleh Mycoplasma, virus parainfluenza atau influenza, enterovirus, virus sinsitial respiratori atau adenovirus. (Arvin.2000)

Manusia adalah hosthanya dikenal dari B.pertussis. Penularan terjadi dari orang ke orang melalui droplet dan rentan menular pada populasi non diimunisasi. Orang dewasa dengan penyakit batuk berkepanjangan (yaitu pertusisatipikal) merupakan sumber pentinginfeksi B.pertussisantara anak-anak non diimunisasi atau sebagian diimunisasi. (Crocettiet all. 2004)

  1. Manifestasi Klinis
Menurut Crocettiet all (2004) Pertusis dapat berlangsung selama 6 sampai 8 minggu dan ditandai dengan tiga tahap yaitu:
  1. Tahap Kataral
Tahap Kataral memiliki onset sakit halus dan menyerupai infeksi saluran pernapasan atas ringan dengan coryza, injeksi conjuctival ringan dan batuk ringan.

Secara klasik, pasca-masainkubasi yang berkisar 3 sampai 12 hari, gejala kataral tidak khas, terjadi kongesti dan rhinorrhea, secara berbeda disertai dengan demam, bersin, lakrimasi dan penurunan konjungtiva. Katika gejala semakin berkurang, batuk mulai mula-mula sebagai batuk pendek iritatif, kering, intermitten dan berkembang menjadi paroksismal yang tidak berhenti-henti yang merupakan tanda khas pertussis. (Arvin. 2000)

  1. Tahap paroksismal
Tahap paroksismal dimanifestasikan dengan batuk yang semakin kuat dalam bentuk paroxysm sepisodik, yang sangat sering di malam hari. Dalam pertusis klasik, episodics batuk parah berulang diikuti oleh inspirasi besar tunggal tiba-tiba. Hasil suara teriakan karakteristik dari inhalasi kuat dan glotis menyempit. Setiap serangan tiba-tiba batuk terdiri dari sepuluh sampai 30 batuk kuat dalam serangkaian staccato. Wajah pasien menjadi semakin sianotik, paramen jorok lidah secara maksimal dan lendir, air liur dan air mata mengalir dari hidung, mulut dan mata, masing-masing. Episode paroksismal batuk mungkin tunggal atau beberapa mungkin terjadi dalam suksesi cepat. Dua puluh atau lebih sesi dari paroksismal batuk dapat terjadi setiap hari. Episode paroksismal yang melelahkan dan anak-anak tampa kapatis dan bingung setelah serangan. Di antara serangan, pasien biasanya menunjukkan beberapa tanda-tanda penyakit dan demam tidak karakteristik kasus tanpa komplikasi. Pada bayi muda, teriakan yang kurang mungkin terjadi setelah serangan tiba-tiba.















Gambar Paroxysmal Cough

  1. Tahap Konvaselen
Setelah tahap paroksismal, yang berlangsung dari 1 sampai 4 minggu atau lebih, tahap penyembuhan akan didahului dengan berkurangnya dalam berat dan frekuensi paroxysms. Durasi tahap penyembuhan bervariasi. Paroxysmal - jenis batuk sering terjadi selama 6 bulan atau lebih setelah terjadinya pertussis dalam hubungan dengan infeksi saluran pernapasan. Berat badan atau kegagalan untuk menambah berat badan adalah fitur mencolok dari pertusis parah, terutama pada bayi. Studi menunjukkan bahwa hanya 50% sampai 60% dari kasus pertusis pada anak-anak memiliki gambaran klasik dan bahwa kasus-kasus lain yang ringan dengan jangka waktu batuk kurang dari 4 minggu.

  1. Komplikasi
Komplikasi pertusis yang umum dan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori: pernapasan, sistem saraf pusat dan efek tekanan sekunder (Crocetti et all. 2004). Komplikasi pertussis utama adalah apnea, infeksi sekunder (seperti otitis media dan pneumonia), dan sekuele fisik batuk kuat. Kebutuhan untuk perawatan intensif dan ventilasi atifisial biasanya terbatas pada bayi sebelum umur 36 bulan. Apnea, sianosisdan pneumonia bakteri sekunder merupakan kejadian-kejadian yang mempercepat intubasi dan ventilasi. Pneumonia bakteri dan/atau sindrom distress pernapasan dewasa merupakan penyebab kematian yang lazim pada setiap umur; perdarahan paru terjadi pada neonates. Demam, takipnea atau distress pernapasan antara paroksismal dan neutrofilia absolute merupakan tanda dan gejala dari pneumonia. Bronkietaksis jarang terjadi pada paska pertussis. Kelainan fungsi paru mungkin menetap selama 12 bulan pasca pertusis tidak berkomplikasi pada anak sebelum umur 2 tahun. (Arvin. 2000)

Komplikasi sistem saraf pusat relatif umum selama tahap paroksismal pertusis. Data menunjukkan bahwa 1,9% bayi mengalami kejang dengan pertusis, dan sekitar 0,2% menderita ensefalopati. Setelah penyakit encephalitis seperti, gejala sisa permanen yang umum. Sekitar sepertiga dari pasien meninggal, sepertiga bertahan hidup dengan sisa dan sepertiga bertahan dan tampak normal. Gejala sisa termasuk keterbelakangan mental, gangguan kejang, dan perubahan kepribadian dan perilaku. Efek tekanan sekunder selama tahap paroksismal pertusis berat dapat menyebabkan epistaksis, melena, petechiae, hematomasubdural, pusar atau inguinal hernia dan prolaps rektum. (Crocettiet all. 2004)

Kenaikan tekanan intrathoraks dan intra-abdomen selama batuk dapat menyebabkan perdarahan konjungtiva dan sclera, ptekie pada tubuh bagian atas, epistaksis, perdarahan pada system saraf sentral dan retina, pneumothoraks dan emfisema subcutan dan hernia umbilikalis serta inguinalis. (Arvin. 2000)

D. Tetanus
  1. Definisi
Tetanus berasal dari bahasa Yunani yaitu Teinein yang artinya menegang, disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani (Cahyono, 2010). Tetanus adalah penyakit yang diakibatkan oleh toksin kuman Clostridium tetani dimanifestasikan dengan kejang otot secara paroksismal dan diikuti kekakuan otot seluruh tubuh. Kekakuan tonus otot ini tampak pada otot maseter dan otot-otot rangka (Hendrawan cit Soeparman, 1987)

  1. Penyebab
Infeksi tetanus ini disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani, berbentuk batang panjang, tipis (2-5 µm x 3-8 µm), dan merupakan bakteri gram positif, bakteri berspora yang sifatnya anaerob murni. Kuman ini akan tersebar luas di tanah, debu jalanan, kotoran hewan (kuda, ayam, babi, anjing), dan juga tinja manusia dalam bentuk spora.

  1. Tanda dan gejala
Gejala kliniknya dalam waktu 3 hari sampai 4 minggu setelah kuman masuk melalui luka, racun Clontridium tetani akan merusak system saraf dan segera memunculkan gejala serta tanda-tanda tetanus, seperti kejang dan kekakuan otot rahang (lockjaw), postur badan kaku dan tidak dapat ditekuk karena kekakuan otot leher dan punggung (opistotonus), dinding perut mengeras, gangguan menelan, dan muka seperti tertawa (risus sardonicus). Pasien tetanus mudah sekali mengalami kejang, terutama apabila mendapatkan rangsangan seperti suara berbisik, terkejut, sinar, dll. Sehingga pasien tersebut perlu diisolasi dalam ruang tersendiri. Tetanus pada bayi baru lahir disebut tetanus neonatorum, yang penularannya terjadi padasaat pemotongan tali pusat yang dilakukan secara tidak steril. Tetanus neonatorum ini akan lebih mudah terjadi apabila bayi tidak mendapat imunisasi pasif atau bila pada saat ibunya hamil tidak pernah mendapat imunisasi.

  1. Komplikasi
Komplikasi yang disebabkan oleh tetanus, antara lain:
  • Hipoksia yang disebabkan oleh gangguan pernapasan, pneumonia sebagai akibat atelektasis, aspirasi dan/atau ventilasi mekanis
  • Trombosis vena dan emboli paru
  • Aritmia jantung, hipertensi dan hipotensiyang disebabkan oleh ketidakstabilan autonom, miokarditis, dan/atau kekurangan volume intravaskuler
  • Fraktur tulang punggung
  • Infeksi yng berkaitan dengan luka awal (Muliawan, 2008)

  1. Pencegahan
Pencegahan tetanus dilakukan melalui sterilisasi alat, misalnya saat pemotongan tali pusat, pembersihan dan perawatan luka dan segera mengobati luka infeksi. Upaya pencegahan tetanus yang paling efektif adalah melalui imunisai pasif dan imunisasi aktif. Pada penyakit tetanus berat, resiko terjadinya kematian sangat tinggi. Obat antibiotik dan imunisasi pasif atau antitetanus belum tentu mampu memperbaiki keadaan penyakit. Cara yang paling efektif adalah mencegah sebelum terkena tetanus melalui vaksinasi.

E. Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus
  1. Fungsi
Imunisasi DPT bertujuan untuk mencegah 3 penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis, tetanus. Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Difteri bersifat ganas, mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas. Penularannya bisa karena kontak langsung dengan penderita melalui bersin atau batuk atau kontak tidak langsung karena adanya makanan yang terkontaminasi bakteri difteri. Penderita akan mengalami beberapa gejala seperti demam lebih kurang 38°C, mual, muntah, sakit waktu menelan dan terdapat pseudomembran putih keabu-abuan di faring, laring dan tonsil, tidak mudah lepas dan mudah berdarah, leher membengkak seperti leher sapi disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher dan sesak napas disertai bunyi (stridor). Pada pemeriksaan apusan tenggorok atau hidung terdapat kuman difteri. Pada proses infeksi selanjutnya, bakteri difteri akan menyebarkan racun kedalam tubuh, sehingga penderita dapat menglami tekanan darah rendah, sehingga efek jangka panjangnya akan terjadi kardiomiopati dan miopati perifer. Cutaneus dari bakteri difteri menimbulkan infeksi sekunder pada kulit penderita.

Difteri disebabkan oleh bakteri yang ditemukan di mulut, tenggorokan dan hidung. Difteri menyebabkan selaput tumbuh disekitar bagian dalam tenggorokan. Selaput tersebut dapat menyebabkan kesusahan menelan, bernapas, dan bahkan bisa mengakibatkan mati lemas. Bakteri menghasilkan racun yang dapat menyebar keseluruh tubuh dan menyebabkan berbagai komplikasi berat seperti kelumpuhan dan gagal jantung. Sekitar 10 persen penderita difteri akan meninggal akibat penyakit ini. Difteri dapat ditularkan melalui batuk dan bersin orang yang terkena penyakit ini.

Pertusis, merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh kuman Bordetella Perussis. Kuman ini mengeluarkan toksin yang menyebabkan ambang rangsang batuk menjadi rendah sehingga bila terjadi sedikit saja rangsangan akan terjadi batuk yang hebat dan lama, batuk terjadi beruntun dan pada akhir batuk menarik napas panjang terdengar suara “hup” (whoop) yang khas, biasanya disertai muntah. Batuk bisa mencapai 1-3 bulan, oleh karena itu pertusis disebut juga “batuk seratus hari”. Penularan penyakit ini dapat melalui droplet penderita. Pada stadium permulaan yang disebut stadium kataralis yang berlangsung 1-2 minggu, gejala belum jelas. Penderita menunjukkan gejala demam, pilek, batuk yang makin lama makin keras. Pada stadium selanjutnya disebut stadium paroksismal, baru timbul gejala khas berupa batuk lama atau hebat, didahului dengan menarik napas panjang disertai bunyi “whoops”. Stadium paroksismal ini berlangsung 4-8 minggu. Pada bayi batuk tidak khas, “whoops” tidak ada tetapi sering disertai penghentian napas sehingga bayi menjadi biru (Muamalah, 2006). Akibat batuk yang berat dapat terjadi perdarahan selaput lendir mata (conjunctiva) atau pembengkakan disekitar mata (oedema periorbital). Pada pemeriksaan laboratorium asupan lendir tenggorokan dapat ditemukan kuman pertusis (Bordetella pertussis).

Batuk rejan adalah penyakit yang menyerang saluran udara dan pernapasan dan sangat mudah menular. Penyakit ini menyebabkan serangan batuk parah yang berkepanjangan. Diantara serangan batuk ini, anak akan megap-megap untuk bernapas. Serangan batuk seringkali diikuti oleh muntah-muntah dan serangan batuk dapat berlangsung sampai berbulan-bulan. Dampak batuk rejan paling berat bagi bayi berusia 12 bulan ke bawah dan seringkali memerlukan rawat inap dirumah sakit. Batuk rejan dapat mengakibatkan komplikasi seperti pendarahan, kejang-kejang, radang paru-paru, koma, pembengkakan otak, kerusakan otak permanen, dan kerusakan paru-paru jangka panjang. Sekitar satu diantara 200 anak di bawah usia enam bulan yang terkena batuk rejan akan meninggal. Batuk rejan dapat ditularkan melalui batuk dan bersin orang yang berkena penyakit ini.

Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman Clostridium tetani. Kuman ini bersifat anaerob, sehingga dapat hidup pada lingkungan yang tidak terdapat zat asam (oksigen). Tetanus dapat menyerang bayi, anak-anak bahkan orang dewasa. Pada bayi penularan disebabkan karena pemotongan tali puat tanpa alat yang steril atau dengan cara tradisional dimana alat pemotong dibubuhi ramuan tradisional yang terkontaminasi spora kuman tetanus. Pada anak-anak atau orang dewasa bisa terinfeksi karena luka yang kotor atau luka terkontaminasi spora kuman tetanus, kuman ini paling banyak terdapat pada usus kuda berbentuk spora yang tersebar luas di tanah.

Penderita akan mengalami kejang-kejang baik pada tubuh maupun otot mulut sehingga mulut tidak bisa dibuka, pada bayi air susu ibu tidak bisa masuk, selanjutnya penderita mengalami kesulitan menelan dan kekakuan pada leher dan tubuh. Kejang terjadi karena spora kuman Clostridium tetani berada pada lingkungan anaerob, kuman akan aktif dan mengeluarkan toksin yang akan menghancurkan sel darah merah, toksin yang merusak sel darah putih dari suatu toksin yang akan terikat pada syaraf menyebabkan penurunan ambang rangsang sehingga terjadi kejang otot dan kejang-kejang, biasanya terjadi pada hari ke 3 atau ke 4 dan berlangsung 7 - 10 hari. Tetanus dengan gejala riwayat luka, demam, kejang rangsang, risus sardonicus (muka setan), kadang-kadang disertai perut papan dan opistotonus (badan lengkung) pada umur diatas 1 bulan.

Tetanus disebabkan oleh bakteri yang berada di tanah, debu dan kotoran hewan. Bakteri ini dapat dimasuki tubuh melalui luka sekecil tusukan jarum. Tetanus tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain. Tetanus adalah penyakit yang menyerang sistem syaraf dan seringkali menyebabkan kematian. Tetanus menyebabkan kekejangan otot yang mula-mula terasa pada otot leher dan rahang. Tetanus dapat mengakibatkan kesusahan bernafas, kejang-kejang yang terasa sakit, dan detak jantung yang tidak normal. Karena imunisasi yang efektif, penyakit tetanus kini jarang ditemukan di Australia, namun penyakit ini masih terjadi pada orang dewasa yang belum diimunisasi terhadap penyakit ini atau belum pernah disuntik ulang (disuntik vaksin dosis booster).

  1. Cara pemberian dan dosis
Cara pemberian imunisasi DPT adalah melalui injeksi intramuskular. Suntikan diberika pada paha tengah luar atau subkutan dalam dengan dosis 0,5 cc.
Cara memberiakn vaksin ini, sebagai berikut:
1.      Letakkan bayi dengan posisi miring diatas pangkuan ibu dengan seluruh kaki telanjang
2.      Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi
3.      Pegang paha dengan ibu jari dan jari telunjuk
4.      Masukkan jarum dengan sudut 90 derajat
5.      Tekan seluruh jarum langsung ke bawah melalui kulit sehingga masuk ke dalam otot. Untuk mengurangi rasa sakit, suntikkan secara pelan-pelan.
Pemberian vaksin DPT dilakukan tiga kali mulai bayi umur 2 bulan sampai 11 bulan dengan interval 4 minggu. Imunisasi ini diberikan 3 kali karena pemberian pertama antibodi dalam tubuh masih sangat rendah, pemberian kedua mulai meningkat dan pemberian ketiga diperoleh cukupan antibodi. Daya proteksi vaksin difteri cukup baik yiatu sebesar 80-90%, daya proteksi vaksin tetanus 90-95% akan tetapi daya proteksi vaksin pertusis masih rendah yaitu 50-60%, oleh karena itu, anak-anak masih berkemungkinan untuk terinfeksi batuk seratus hari atau pertusis, tetapi lebih ringan.

  1. Efek samping
Pemberian imunisasi DPT memberikan efek samping ringan dan berat, efek ringan seperti terjadi pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan dan demam, sedangkan efek berat bayi menangis hebat kerana kesakitan selama kurang lebih empat jam, kesadaran menurun, terjadi kejang, ensefalopati, dan syok.


Daftar Pustaka

Cahyono, J.B. Suharjo B. 2010. Vaksinasi: Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Muliawan, Sylvia Y. 2008. Bakteri Anaerob yang Erat Kaitannya dengan Problem di Klinik. Jakarta: EGC
Arvin, Behrman Kliegman. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol. 2. Jakarta: EGC
Crocetti, Michael, Michael A. Barone. 2004. Oski’s essential pediatrics 2nded. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins
Beger, Stephen A. 2010.  Infectious Diseases of Haiti - 2010 Edition. Los Angeles: GIDEON E-book series
Hull, David and Derek I. Johnston. 2008. Dasar-Dasar Pediatri Edisi 3. Jakarta: EGC

Sunday, 4 June 2017

Materi Penyuluhan : Pencegahan dan Pengendalian Infeksi + Flip chart

  1. Pengertian Infeksi Nosokomial atau HAIs
Health-care Associated Infections (HAIs) adalah penyakit infeksi yang pertama muncul (penyakit infeksi yang tidak berasal dari pasien itu sendiri) dalam waktu antara dua sampai empat hari setelah pasien masuk rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kesehatan baik melalui pasien, petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber lainnya dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat.


Infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran disumber pelayanan kesehatan, baik melalui :
  1. Pasien
Pasien merupakan unsur pertama yang dapat menyebarkan infeksi kepada pasien lainnya, petugas kesehatan, pengunjung, atau benda dan alat kesehatan yang lainnya.

  1. Petugas kesehatan
Petugas kesehatan dapat menyebarkan infeksi melalui kontak langsung yang dapat menularkan berbagai kuman ke tempat lain.

  1. Pengunjung
Pengunjung dapat menyebarkan infeksi yang didapat dari luar ke dalam lingkungan rumah sakit, atau sebaliknya yang dapat dari dalam rumah sakit keluar rumah sakit.

  1. Sumber lainnya
Sumber lain  yang dimaksud disini adalah lingkungan rumah sakit yang meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan rumah sakit atau alat yang ada dirumah sakit yang dibawa oleh pengunjung atau petugas kesehatan kepada pasien dan sebaliknya.

  1. Rantai Penularan Infeksi
Menurut Potter & Perry (2005) proses terjadinya infeksi seperti rantai yang saling terkait antar berbagai faktor yang mempengaruhi, Proses tersebut melibatkan beberapa unsur diantaranya:
  1. Agen infeksi  (infectious agent) adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi.  Pada manusia dapat berupa bakteri, virus, ricketsia, jamur dan parasit.
  2. Reservoir atau tempat dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang biak dan siap ditularkan kepada orang. Reservoir yang paling umum adalah manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah, air dan bahan-bahan organik lainnya. Pada manusia: permukaan kulit, selaput lendir saluran nafas atas, usus dan vagina
  3. Port of exit (pintu keluar) adalah jalan darimana agen infeksi meninggalkan reservoir. Pintu keluar meliputi : saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit dan membran mukosa, transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain.
  4. Transmisi (cara penularan) adalah mekanisme bagaimana transport agen infeksi  dari reservoir ke penderita (yang suseptibel). Ada beberapa cara penularan yaitu :
    1. Kontak (contact transmission):
    2. Langsung/direct:   kontak badan ke badan pada saat pemeriksaan fisik, memandikan pasien.
    3. Tidak langsung/indirect: kontak melalui objek (benda/alat) perantara: melalui instrumen, jarum, kasa, tangan yang tidak dicuci.
    4. Droplet: partikel droplet > 5 μm melalui batuk, bersin, bicara, jarak penyebaran pendek, tidak bertahan lama di udara, “deposit” pada mukosa konjungtiva, hidung, mulut contoh: Difteria, Pertussis, Mycoplasma, Haemophillus influenza type b (Hib),  virus Influenza, mumps, rubella.               
    5. Airborne: partikel kecil ukuran <  5 μm, bertahan lama di udara, jarak penyebaran jauh, dapat terinhalasi, contoh: Mycobacterium tuberculosis, virus campak, Varisela (cacar air), spora jamur.
    6. Vehikulum : Bahan yang dapat berperan dalam mempertahankan kehidupan kuman penyebab sampai masuk (tertelan) pada pejamu yang rentan. Contoh: air, darah, serum, plasma, tinja, makanan.
    7. Vektor : Artropoda (umumnya serangga) atau binatang lain yang dapat menularkan kuman penyebab  cara menggigit pejamu yang rentan atau menimbun kuman penyebab pada kulit pejamu atau makanan. Contoh: nyamuk, lalat, pinjal/kutu, binatang pengerat.
  1. Port of entry (Pintu masuk) adalah tempat dimana agen infeksi memasuki pejamu (yang suseptibel). Pintu masuk bisa melalui:  saluran pernafasan, saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin, selaput lendir, serta kulit yang tidak utuh (luka).
  2. Pejamu rentan (suseptibel) adalah  orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi serta mencegah infeksi atau penyakit. Faktor yang mempengaruhi: umur, status gizi, status imunisasi, penyakit kronis, luka bakar yang luas, trauma atau pembedahan, pengobatan  imunosupresan. Sedangkan faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin, ras atau etnis tertentu, status ekonomi, gaya hidup, pekerjaan dan herediter.

  1. Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas pejamu, agen infeksi (patogenesis, virulesi dan dosis) serta cara penularan. Identifikasi faktor resiko pada penjamu dan pengendalian terhadap infeksi tertentu dapat mengurangi insiden terjadinya infeksi (HAIs), baik pada pasien ataupun pada petugas kesehatan. (Depertemen Kesehatan, 2009).

  1. Elemen yang Berperan Dalan PPI
    1. Petugas kesehatan
    2. Pasien
    3. Keluarga pasien
    4. Pengunjung Rumah Sakit
    5. Setiap orang yang datang ke rumah sakit

  1. Hal Penting tentang PPI yang Harus Diketahui Oleh Pasien dan Keluarga Pasien:
    1. Cuci tangan dengan cara yang benar di saat yang tepat
Tangan merupakan media transmisi patogen tersering di RS. Menjaga kebersihan tangan dengan cuci tangan dengan baik dan benar dapat mencegah penularan mikroorganisme dan menurunkan frekuensi infeksi nosokomial. Teknik yang digunakan adalah teknik cuci tangan 6 langkah. Dapat memakai sabun dan air mengalir atau handrub berbasis alkohol.

Kapan Mencuci Tangan?
  1. Sebelum kontak dengan pasien
  2. Sebelum melakukan tindakan aseptik dan bersih
  3. Setelah terpapar cairan tubuh pasien
  4. Setelah kontak dengan pasien
  5. Setelah terpapar dengan benda-benda disekitar pasien

Alternatif Kebersihan Tangan
Handrub berbasis alkohol 70%:
  1. Pada tempat dimana akses wastafel dan air bersih terbatas
  2. Tidak mahal, mudah didapat dan mudah dijangkau
  3. Dapat dibuat sendiri (gliserin 2 ml  dan 100 ml alkohol 70 %)
  4. Jika tangan terlihat kotor, mencuci tangan  air bersih mengalir dan sabun harus dilakukan
  5. Handrub antiseptik tidak menghilangkan kotoran atau zat organik, sehingga jika tangan kotor harus mencuci tangan  sabun dan air mengalir
  6. Setiap 5 kali aplikasi Handrub harus mencuci tangan  sabun dan air mengalir
  7. Mencuci tangan sabun biasa dan air bersih mengalir sama efektifnya  mencuci tangan  sabun antimikroba
  8. Sabun biasa mengurangi terjadinya iritasi kulit

Enam langkah kebersihan tangan:
Langkah 1    : Gosokkan kedua telapak tangan
Langkah 2    : Gosok punggung tangan kiri dengan telapak tangan kanan, dan lakukan sebaliknya
Langkah 3    : Gosokkan kedua telapak tangan dengan jari-jari tangan saling menyilang
Langkah 4    : Gosok ruas-ruas jari tangan kiri dengan ibu jari tangan kanan dan lakukan sebaliknya
Langkah 5    : Gosok Ibu jari tangan kiri dengan telapak tangan kanan secara memutar, dan lakukan sebaliknya
Langkah 6    : Gosokkan semua ujung-ujung jari tangan kanan di atas telapak tangan kiri, dan lakukan sebaliknya

Untuk mencuci tangan :
  1. Lepaskan perhiasan ditangan dan pergelangan.
  2. Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir.
  3. Gosok kedua tangan dengan kuat menggunakan sabun biasa atau yang mengandung anti septik selama 10-15 detik (pastikan sela-sela jari digosok menyeluruh). Tangan yang terlihat kotor harus dicuci lebih lama.
  4. Bilas tangan dengan air bersih dan mengalir.
  5. Biarkan tangan kering dengan cara diangin-anginkan atau dikeringkan dengan kertas tissue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

  1. Menerapkan etika batuk yang benar

  1. Penggunaan masker
Masker harus dikenakan bila diperkirakan ada percikan atau semprotan dari darah atau cairan tubuh ke wajah. Selain itu, masker mencegah penularan kuman patogen melalui mulut dan hidung.

Masker harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian bawah dagu, dan rambut pada wajah (jenggot). Masker yang dipakai dengan tepat terpasang pas nyaman di atas mulut dan hidung sehingga kuman patogen dan cairan tubuh tidak dapat memasuki atau keluar dari sela-selanya.

Langkah-langkah penggunaan masker:
  1. Ambil bagian atas masker (biasanya sepanjang tepi tersebut ada stip motal yang tipis).
  2. Pegang masker pada 2 tali atau ikatan bagian atas belakang kepala dengan tali melewati atas telinga.
  3. Ikatkan dua tali bagian bawah masker sampai ke bawah dagu.
  4. Dengan lembut jepitkan pita motal bagian atas pada batang hidung.

  1. Membuang sampah pada tempat sampah yang tersedia
Sampah Rumah Sakit atau disebut juga limbah padat Rumah Sakit adalah sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang harus dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia, dan umumnya bersifat padat (Azwar, 1990).

Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non medis.
  1. Limbah non medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di luar medis seperti botol bekas, plastik bekas, kertas, bungkus makan. Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik hitam.
  2. Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari :
  1. limbah infeksius dan limbah patologi, penyimpanannya pada tempat sampah berplastik kuning.
  2. limbah farmasi (obat kadaluarsa), penyimpanannya pada tempat sampah berplastik coklat.
  3. limbah sitotoksis adalah limbah berasal dari sisa obat pelayanan kemoterapi. Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik ungu.
  4. Limbah medis padat tajam seperti pecahan gelas, jarum suntik, pipet dan alat medis lainnya. Penyimpanannya pada safety box/container.
  5. Limbah radioaktif adalah limbah berasal dari penggunaan medis ataupun riset di laboratorium yang berkaitan dengan zat-zat radioaktif. Penyimpanannya pada tempat sampah berplastik merah.

  1. Mematuhi aturan Rmah Sakit
  2. Tidak merokok di lingkungan Rumah Sakit
Rokok diketahui menyebabkan kanker paru-paru, penyakit pernapasan. Perokok cenderung memiliki masalah kesehatan lainnya yang terkait dengan risiko jantung, termasuk kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi dan diabetes. Selain itu para peneliti juga menemukan seorang perokok memungkinkan untuk meninggal dalam 6 bulan setelah serangan jantung dibandingkan dengan seseorang yang tidak merokok.

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau. Fasilitas pelayanan kesehatan termasuk dalam Kawasan Tanpa Rokok.

            Sasaran Kawasan Tanpa Rokok di Rumah Sakit
  1. Pimpinan/penanggung jawab/pengelola fasilitas pelayanan kesehatan.
  2. Pasien.
  3. Pengunjung.
  4. Tenaga medis dan non medis.

  1. Berkunjung sesuai waktu yang ditentukan
Tidak mungkin seseorang yang hanya sakit ringan diharuskan di inapkan di RS. Bila seseorang sampai diharuskan di inapkan di RS berarti orang tersebut menderita suatu penyakit yang cukup serius. Dan seperti anda tahu, hal yang menunjang penyembuhan bukanlah obat semata, istrahat yang cukup juga menunjang penyembuhan. Dengan berkunjung hanya jam besuk, anda memberikan waktu istrahat yang cukup bagi pasien untuk memulihkan kesehatannya.

  1. Lebih baik tidak berkunjung ke Rumah Sakit bila dalam keadaan sakit
  2. Tidak membawa anak <12 tahun untuk berkunjung/ menginap di Rumah Sakit
Anak-anak memiliki kekebalan tubuh yang belum sempurna, sehingga perlindungan tubuh terhadap paparan bakteri, virus dan kuman-kuman lain yang ada dirumah sakit tidak sebaik pada mereka para orang tua yang memiliki imunitas tubuh lebih baik. Itulah sebabnya anak kecil biasanya mudah sakit karena lebih rentan untuk tertular penyakit.

Membawa anak, selain risiko tertular penyakit, kerugian lain yang mungkin didapat adalah timbulnya trauma pada anak sehingga jika suatu saat anak sakit akan sulit/takut di bawa ke dokter atau rumah sakit. Trauma itu timbul karena kesan menyeramkan dan menakutkan kadang-kadang masih terdapat dibeberapa rumah sakit khusunya rumah sakit daerah dengan bangunan-bangunan tua peninggalan belanda. Penyebab ketakutan/trauma lainnya bisa juga akibat anak melihat pasien yang berdarah-darah pada kasus kecelakaan lalu lintas, atau melihat pasien yang sedang merintih kesakitan, hingga mereka yang sedang mengalami sakaratul maut. Bagi anak hal-hal semacam itu dapat selalu terngiang didalam pikiran mereka, sehingga membuat mereka menjadi antipati/ phobia terhadap rumah sakit. Selain menyebabkan dampak kerugian pada anak, membawa anak ke rumah sakit dikhawatirkan akan mengganggu istirahat pasien. Seperti kita tahu anak sering mudah rewel/ menangis, lari ke sana kemari, teriak-teriak sambil bermain. Hal semacam itu kelihatan sepele, namun dapat mempengaruhi kondisi penyembuhan pasien.

  1. Pengunjung tidak boleh makan minum di ruangan pasien
  2. Pengunjung tidak diperbolehkan meludah sembarangan di area Pelayanan Kesehatan
Air liur atau ludah adalah cairan tubuh yang terdapat di mulut. Sebenarnya cairan ini sangat bermanfaat bagi metabolisme tubuh karena membantu mulut tetap lembap dan membantu pencernaan. Selain itu, air liur juga berfungsi untuk membersihkan makanan dari lapisan mulut dan membantu menumbuhkan lapisan gigi yang rusak.

Meski demikian, dalam kondisi tertentu air liur atau ludah juga ternyata bisa menularkan penyakit. Ada beberapa bakteri atau virus penyakit yang betah hidup di air liur misalnya influenza, batuk, tuberculosis (TBC), herpes, hingga hepatitis B. 

Anda perlu berhati-hati jika menemukan orang yang meludah sembarangan. Jangan sampai ludah orang lain mengenai kita atau sebaliknya, karena bisa saja bakteri atau virus penyebab jenis jenis penyakit ada di dalamnya.


DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A, 1990, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Jakarta, Yayasan. Mutiara. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta
Brooker, C. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC.
Depkes RI. 2010. Pusat Promosi Kesehatan Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok: Jakarta: Kemenkes RI
Depkes RI. 2009. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasiltas Pelayanan Kesehatan Lainnya. SK Menkes No 382/Menkes/2007. Jakarta: Kemenkes RI
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses &. Praktek. Edisi 4. Vol 1. Jakarta : EGC
http://web.rshs.or.id/limbah-rumah-sakit/
http://www.kompasiana.com/dr_wahyutriasmara/jangan-ajak-anak-anak-ke-rumah-sakit_5520423aa333112745b65a6b



--- Flip chart ---