Asuhan Keperawatan pada Luka Bakar

Luka bakar merupakan cedera paling berat yang mengakibatkan permasalahan yang kompleks, tidak hanya menyebabkan kerusakan kulit namun juga seluruh sistem tubuh (Nina,2008)...

Materi Intepretasi EKG Normal

Elektrokardiografi adalah ilmu yg mempelajari aktivitas listrik jantung sedangkan Elektrokardigram ( EKG ) adalah suatu grafik yg menggambarkan rekaman listrik jantung...

Liburan Murah Bersama Alam di Hutan Pinus Pandaan

Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki puluhan destinasi wisata yang menarik. Banyak para pelancong yang akhirnya melabuhkan hatinya di Pasuruan...

Mahasiswa FKp Satu-Satunya Delegasi Keperawatan pada Kompetisi Riset Dunia

Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga mengirimkan satu tim delegasi untuk mengikuti Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting-14 (HISAS-14) di Hokkaido...

Kisah Inspiratif Dua Pedagang Keren

assalamualaikum wr.wb para pembaca yang budiman. Sudah lama ane gak posting-posting lagi. Hari ini izinkan ane berbagi pengalaman kepada pembaca semua...

Apa yang Membuat Saya Rindu Kampung Halaman?

Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi...

السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØ­ْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ ...... Selamat datang di BLOG RIO CRISTIANTO. Dukung Blog ini dengan like fanspage "Rio Cristianto". Thank you, Happy Learning... ^_^

Tuesday, 28 May 2019

ROM dan Mobilisasi Pada Pasien Post-Operasi Laparotomy

ROM dan Mobilisasi  
Pada Pasien Post-Operasi Laparotomy

  1. Tujuan
  1. Tujuan Umum
Setelah membaca modul berikut ini diharapkan perawat mampu menerapkan latihan ROM dan mobilisasi dengan tepat pada pasien post operasi Laparotomy.

  1. Tujuan Khusus
 Setelah membaca modul ini diharapkan perawat mampu :
  1. Menjelaskan pengertian latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative Laparotomy.
  2. Menjelaskan tujuan latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative Laparotomy.
  3. Menjelaskan prinsip yang perlu diperhatikan sebelum latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative Laparotomy.
  4. Menjelaskan langkah-langkah ROM dan mobilasasi pada pasien post operative Laparotomy.
  5. Mensimulasikan latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative Laparotomy.

  1. Teori dan Prosedur Kerja
  1. Pengertian
Laparatomi merupakan suatu potongan pada dinding abdomen dan yang telah didiagnosa oleh dokter dan dinyatakan dalam status atau catatan medik pasien. Laparatomi adalah suatu potongan pada dinding abdomen seperti caesarean section sampai membuka selaput perut (Jitowiyono, 2010). Bedah laparatomi merupakan tindakan operasi pada daerah abdomen, bedah laparatomi merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan kandungan (Smeltzer & Bare, 2006).


Tindakan bedah digestif yang sering dilakukan dengan teknik sayatan arah laparatomi yaitu : Herniotorni, gasterektomi, kolesistoduo denostomi, hepateroktomi, spleenrafi/ splenotomi, apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dan fistulotomi atau fistulektomi. Tindakan bedah kandungan yang sering dilakukan dengan teknik sayatan arah laparatomi adalah berbagai jenis operasi uterus, operasi pada tuba fallopi dan operasi ovarium, yaitu: histerektomi baik itu histerektomi total, histerektomi sub total, histerektomi radikal, eksenterasi pelvic dan salingo-coforektomi bilateral. Selain tindakan bedah dengan teknik sayatan laparatomi pada bedah digestif dan kandungan, teknik ini juga sering dilakukan pada pembedahan organ lain antara lain ginjal dan kandung kemih (Syamsuhidayat & Wim De Jong, 2008).

  1. Tujuan
Latihan ROM dan mobilisasi pada pasien post operative Laparotomy bertujuan untuk :
  • Pencegahan disfungsi dengan pengembangan, peningkatan, perbaikan atau pemeliharaan dari kekuatan dan daya tahan otot, kemampuan cardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas jaringan lunak, stabilitas, rileksasi, koordinasi keseimbangan dan kemampuan fungsional

  1. Jenis-jenis latihan
  • Breathing Exercise
  • Clapping
  • Vibrasi
  • Latihan ROM pasif anggota gerak atas
  • Latihan aktif anggota gerak atas dan bawah

  1. Kriteria klien sebelum tindakan
Pastikan status klien sebelum melakukan setiap tindakan
  1. Kaji kondisi umum dan status kesadaran klien
  2. Kaji status pernapasan pasien
  3. Kaji jumlah, warna, dan kemampuan klien dalam mengelurkan dahak
  4. Kaji kondisi luka dan status drainage termasuk arah irisan atau luka insisi
  5. Kaji tingkat nyeri
  6. Kaji kekuatan otot

  1. Langkah – langkah tindakan
a.  Pada 6-24 jam post pembedahan:
  • Ajarkan pasien teknik nafas dalam dan batuk efektif
  • Ajarkan Teknik ROM pada 4 anggota ekstermitas
  • Ajarakan perubahan posisi di tempat tidur yaitu miring kiri dan miring kanan
  • Tinggikan posisi kepala mulai dari 150, 300, 450,600 dan 900
b.  Pada 24 jam kedua post pembedahan:
  • Ajarkan pasien duduk tanpa sandaran dengan mengobservasi rasp using
  • Ajarkan pasien duduk ditepi tempat tidur

c.  Pada 24 jam ketiga post pembedahan:
  • Anjurkan pasien untuk berdiri disamping tempat tidur
  • Ajarkan untuk berjalan disamping tempet tidur.

d.  Lakukan evaluasi bertahap setiap pergantian tindakan





Referensi

Arianti.(2017) Efektifitas edukasi video animasi mobilisasi dini pada pemulihan kemampuan  berjalan pasien post pembedahan. http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/13545.  Diakses pada tanggal 15 April 2018

Gracia-Ibáñez, V. et al. (2017) ‘Functional range of motion of the hand joints in activities of the International Classification of Functioning, Disability and Health’, Journal of Hand Therapy. Elsevier Inc, 30(3), pp. 337–347. doi: 10.1016/j.jht.2016.08.001.

Russo, R. R. et al. (2017) ‘How Does Level and Type of Experience Affect Measurement of Joint Range of Motion?’, Journal of Surgical Education. Elsevier, pp. 1–10. doi:  10.1016/j.jsurg.2017.09.009.

Tseng, C. N. et al. (2007) ‘Effects of a range-of-motion exercise programme’, Journal of Advanced Nursing, 57(2), pp. 181–191. doi: 10.1111/j.1365-2648.2006.04078.x.


ROM dan Mobilisasi Pada Pasien Post-Operasi Spinal Cord

ROM dan Mobilisasi  
Pada Pasien Post-Operasi Spinal Cord

  1. Tujuan
  1. Tujuan Umum
Setelah membaca modul berikut ini diharapkan perawat mampu menerapkan latihan ROM dan mobilisasi dengan tepat pada pasien post operative post operasi spinal cord

  1. Tujuan Khusus
 Setelah membaca modul ini diharapkan perawat mampu :
  1. Menjelaskan pengertian latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative spinal cord
  2. Menjelaskan tujuan latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative spinal cord
  3. Menjelaskan prinsip yang perlu diperhatikan sebelum latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative spinal cord
  4. Menjelaskan langkah-langkah ROM dan mobilasasi pada pasien post operative spinal cord
  5. Mensimulasikan latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative spinal cord

  1. Teori dan Prosedur Kerja
  1. Pengertian
Cedera yang serius pada tulang belakang dapat menyebabkan dislokasi, fraktur yang bisa berakibat terjadinya cedera medula spinalis (spinal cord injury) karena tekanan dari tulang belakang (Hughes,1984). Cedera medula spinalis merupakan salah satu penyebab utama disabilitas neurologis akibat trauma. Cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan tidak komplet berdasarkan ada tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi. Pembagian ini penting untuk meramalkan prognosis dan penanganan selanjutnya. Data di Amerika Serikat menunjukkan urutan frekuensi disabilitas neurologis karena cedera medula spinalis traumatika sebagai berikut : Tetraplegi inkomplet (29,5%), paraplegi komplet (27,3%), paraplegi inkomplet (21,3%), dan  tetraplegi komplet (18,5%) (Pinzon Rizaldy, 2007).


Problematik yang sering muncul pada kasus paraplegi yaitu impairment meliputi penurunan kekuatan otot-otot tungkai, nyeri daerah incise, potensial terjadinya atrofi dan kontraktur pada otot-otot tungkai bawah, gangguan sensasi, gangguan fungsi kontrol bladder dan bowel,  fungsional limitation merupakan gangguan seperti miring, duduk, dan berdiri serta gangguan aktifitas berjalan, disability yaitu pasien tidak lagi bisa bekerja sebagai buruh bangunan yang disebabkan kelumpuhan anggota gerak bawahnya. Salah satu teknologi yang digunakan dalam penanganan paraplegi adalah terapi  latihan. Terapi latihan adalah  salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang pelaksanaannya dengan menggunakan pelatihan pelatihan gerak tubuh baik secara aktif maupun secara pasif. Secara umum tujuan terapi latihan meliputi pencegahan disfungsi dengan pengembangan, peningkatan, perbaikan atau pemeliharaan dari kekuatan dan daya tahan otot, kemampuan cardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas jaringan lunak, stabilitas, rileksasi, koordinasi keseimbangan dan kemampuan fungsional (Kisner, 1996).

  1. Tujuan
Latihan ROM dan mobilisasi pada pasien post operative spinal cord bertujuan untuk :
  • Pencegahan disfungsi dengan pengembangan, peningkatan, perbaikan atau pemeliharaan dari kekuatan dan daya tahan otot, kemampuan cardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas jaringan lunak, stabilitas, rileksasi, koordinasi keseimbangan dan kemampuan fungsional

  1. Jenis-jenis latihan
  • Breathing Exercise
  • Clapping
  • Vibrasi
  • Latihan ROM pasif anggota gerak atas
  • Latihan aktif anggota gerak atas dan bawah

  1. Kriteria klien sebelum tindakan
Pastikan status klien sebelum melakukan setiap tindakan
  1. GCS                                    : 1-1-1 (Koma)
  2. Frankel                                :  C, D dan E
  3. Tingkat Nyeri                     : Skala 1-3 (Ringan) atau skala 4-10 (sedang sampai      berat) dengan pemberian analgesik.  
  4. Saturasi Oksigen                 : ≥ 90 %
  5. Kekuatan Otot                    : Skala 1 (Ketika otot ditekan masih terasa ada kontraksi atau kekenyalan yang berarti otot masih belum atrofi)
  6. Tekanan Darah                   : Tekanan sistolik 90-140 mmHg dan diastole 60-90 mmHg
  7. Kadar HB                           : ≥ 10 gr/dL
  8. RR                                      : 16 -20x/menit 
  9. Jumlah nadi                        : 60 - 80 kali permenit
  10. MAP                                   : MAP >110 mmHg atau MAP < 70 mmHg

  1. Langkah – langkah tindakan
  1. Breathing Exercise :
  • Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen
  • Posisi penderita mendatar.
  • Salah satu tangan penderita di atas perut bagian tengah, tangan yang lain di atas dada maka akan dilihat perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka.
  • Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi udara pelan - pelan melalui mulut. Sewaktu inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut. Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah.
  • Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi.

  1. Clapping :
  • Dilakukan dengan membentuk mangkok pada telapak tangan dan dengan ringan ditepukan pada dinding dada dalam gerakan yang berirama di atas segmen paru yang akan dialirkan
  • Pergelangan tangan secara bergantian flexi dan extensi sehingga dada di pukul atau di tepuk dengan cara yang tidak menimbulkan nyeri
  • Hati-hati dilakukan pada lansia karena peningkatan insiden osteophorosis dan resiko fraktur tulang costae

  1. Vibrasi :
  • Pergelangan tangan dan siku dijaga agar tetap kaku dan gerakan memvibrasi dilakukan oleh otot – otot bahu.
  • Setelah 3 – 4 kali vibrasi pasien didorong untuk batuk dengan menggunakan otot – otot abdomen apabila tidak sadar maka dilakukan suctioning untuk mengeluarkan dahak.

  1. Latihan ROM pasif anggota gerak atas
  • Gerakkan menekuk dan meluruskan sendi bahu :
  • Tangan satu penolong memegang siku, tangan lainnya memegang lengan
  • Luruskan siku, naikkan dan turunkan lengan dengan siku tetap lurus.

  • Gerakkan menekuk dan meluruskan siku :
  • Pegangan lengan atas dengan lengan satu, tangan lainnya menekuk dan meluruskan siku

  • Gerakkan memutar pergelangan tangan :
  • Pegangan lengan bawah dengan lengan satu, tangan lainnya menggenggam telapak tangan pasien.
  • Putar pergelangan tangan pasien ke arah luar (terlentang) dan ke arah dalam (telungkup).

  • Gerakkan menekuk dan meluruskan pergelangan tangan :
  • Pegang lengan bawah dengan lengan satu, tangan lainnya memegang pergelangan tangan pasien.
  • Tekuk pergelangan tangan keatas dan kebawah.

  • Gerakkan memutar ibu jari :
  • Pegang telapak tangan dan keempat jari dengan tangan satu, tangan lainnya memutar ibu jari tangan.

  • Gerakkan menekuk dan meluruskan jari-jari tangan :
  • Pegang pergelangan tangan dengan tangan satu, tangan lainnya menekuk dan meluruskan jari-jari tangan

  1. Latihan pasif anggota gerak bawah.
  • Gerakkan menekuk dan meluruskan pangkal paha :
    • Pegang lutut dengan tangan satu, tangan lainnya memegang tungkai.
    • Naikkan dan turunkan kaki dengan lutut tetap lurus.

  • Gerakkan menekuk dan meluruskan lutut :
  • Pegang lutut dengan tangan satu, tangan lainnya memegang tungkai.
  • Tekuk dan luruskan lutut.

  • Gerakkan untuk pangkal paha :
  • Gerakkan kaki pasien menjauh dan mendekati badan (kaki satunya)

  • Gerakkan memutar pergelangan kaki :
  • Pegang tungkai dengan tangan satu, tangan lainnya memutar pergelangan kaki.

  1. Latihan aktif anggota gerak atas dan bawah
  • Latihan 1
  • Angkat tangan yang lumpuh menggunakan tangan yang sehat keatas.
  • Letakkan kedua tangan diatas kedua kepala
  • Kembalikan tangan ke posisi semula

  • Latihan 2
  • Angkat tangan yang lumpuh melewati dada kearah tangan yang sehat
  • Kembali ke posisi semula

  • Latihan 3
  • Angkat tangan yang lemah menggunakan tangan yang sehat keatas
  • Kembali seperti semula

  • Latihan 4
  • Tekuk siku yang lumpuh menggunakan tangan yang sehat
  • Luruskan siku, kemudian angkat keatas
  • Letakkan kembali tangan yang lumpuh ditempat tidur

  • Latihan 5
  • Pegang pergelangan tangan yang lumpuh menggunakan tangan yang sehat, angkat keatas dada
  • Putar pergelangan tangan kearah dalam dan kearah luar


ROM dan Mobilisasi Pada Pasien Post Operasi Thoraks Kardiovascular

ROM dan Mobilisasi
Pada Pasien Post Operasi Thoraks Kardiovascular


  1. Tujuan
  1. Tujuan Umum
Setelah membaca modul berikut ini diharapkan perawat mampu menerapkan latihan ROM dan mobilisasi dengan tepat pada pasien post operative thoraks kardio vaskuler  

  1. Tujuan Khusus
 Setelah membaca modul ini diharapkan perawat mampu :
  1. Menjelaskan pengertian latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative thoraks kardio vaskuler    
  2. Menjelaskan tujuan latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative thoraks kardio vaskuler 
  3. Menjelaskan prinsip yang perlu diperhatikan sebelum latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative thoraks kardio vaskuler 
  4. Menjelaskan langkah-langkah ROM dan mobilasasi pada pasien post operative thoraks kardio vaskuler 
  5. Mensimulasikan latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative thoraks kardio vaskuler 

  1. Teori dan Prosedur Kerja
  1. Pengertian
Pasien yang telah menjalani prosedur pembedahan thoraks dengan permasalahan pada paru atau jantung membutuhkan perawatan selama satu minggu di rumah sakit. Perawatan dan pemulihan pasca operasi bedah thoraks akan memanjang apabila pasien memiliki riwayat penyakit jantung, penyakit paru atau keduanya seperti kelainan pembuluh darah dan katup jantung, tumor paru sehingga menimbulkan resiko komplikasi.


Selain itu, proses pembedahan yang memotong otot trapezius, otot intercostalis internal dan external, latisimus dorsi sehingga berakibat adanya luka post akan mempengaruhi lama perawatan dan pemulihan. Pasien sering mengeluh karena nyeri pada luka insisi tersebut, sehingga mengakibatkan terbatasnya rentang gerak bagian bahu, lengan dan kelainan posisi tubuh. Upaya pencegahan komplikasi pasca operasi thoraks kardio vaskuler dapat dilakukan dengan latihan range of motion (ROM) dan mobilisasasi sejak dini dengan latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif (Potter & Perry, 2005).

  1. Tujuan
Menurut Tseng, et al. (2007), Rhoad & Meeker (2009), Smith, N. (2009)  dan Smeltzer & Bare (2008), tujuan latihan ROM dan mobilisasi adalah sebagai berikut :
  1. Mempertahankan fleksibilitas dan mobilitas sendi
  2. Mengembalikan control motoric
  3. Meningkatkan atau mempertahankan integritas sendi dan jaringan lunak
  4. Menurukan pembentukan kontraktur
  5. Membantu sirkulasin dan nutrisi synovial
  6. Memaksimalkan fungsi ADL
  7. Mengurangi dan menghambat nyeri
  8. Mengurangi gejala depresi dan kecemasan
  9. Mencegah bertambah buruknya system neuromuscular
  10. Meningkatkan harga diri
  11. Meningkatkan citra tubuh dan memberikan kesenangan

  1. Jenis-jenis latihan
  1. Latihan pernafasan
  2. Membersihkan dahak
  3. Mempertahankan sirkulasi darah
  4. Mencegah posisi yang salah
  5. Mengembalikan toleransi aktifitas

  1. Kriteria klien sebelum tindakan
Pastikan status klien sebelum melakukan setiap tindakan
  1. GCS                                    : 1-1-1 (Koma)
  2. Skala Nyeri                         : Skala 1-3 (Ringan) atau skala 4-10 (sedang sampai      berat) dengan pemberian analgesik.  
  3. Saturasi Oksigen                 : ≥ 90 %
  4. Kekuatan Otot                 : Skala 1(Ketika otot ditekan masih terasa ada kontraksi atau kekenyalan yang berarti otot masih belum atrofi).
  5. Tekanan Darah                   : Tekanan sistolik 90-140 mmHg dan diastole 60-90 mmHg
  6. Kadar HB                           : ≥ 10 gr/dL
  7. RR                                      : 16 - 20x/menit 
  8. Jumlah nadi                        : 60 - 80 kali permenit
  9. MAP                                   : MAP > 110 mmHg atau MAP < 60 mmHg

  1. Langkah – langkah tindakan :
  1. Pertahankan status ventilasi untuk mencegah terjadinya ateletaksis dan pneumonia
  1. Segera lakukan latihan nafas dalam setelah klien sadar pasca operasi
  • Meminta pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen
  • Melatih pasien melakukan nafas perut (menarik nafas dalam melalui hidung hingga 3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup)
  • Meminta pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung)
  • Meminta pasien menahan nafas hingga 3 hitungan
  • Meminta menghembuskan nafas perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut, bibir seperti meniup)
  • Meminta pasien merasakan mengempisnya abdomen dan kontraksi dari otot

  1. Pernafasan Diafragma
  • Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen
  • Posisi penderita bisa duduk, telentang, setengah duduk, tidur miring ke kiri atau ke kanan, mendatar atau setengah duduk.
  • Penderita meletakkan salah satu tangannya di atas perut bagian tengah, tangan yang lain di atas dada. Akan dirasakan perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka. Penderita perlu disadarkan bahwa diafragma memang turun pada waktu inspirasi. Saat gerakan (ekskursi) dada minimal. Dinding dada dan otot bantu napas relaksasi.
  • Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi pelan-pelan melalui mulut (pursed lips breathing), selama inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut. Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah.
  • Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi. Beban seberat 0,5­1 kg dapat diletakkan di atas dinding perut untuk membantu aktivitas ini.

  1. Membersihkan dahak
  1. Lakukan batuk efektif apabila klien dapat sadar dan kooperatif
  • Langkah 1 :
    • Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, juga dapat berbaring terlentang dengan lutut agak ditekukkan,
    • Pegang/tahan bantal atau gulungan handuk terhadap luka operasi dengan kedua tangan,
  • Bernapaslah dengan normal

  • Langkah 2 :
    • Bernapaslah dengan pelan dan dalam melalui hidung.
    • Kemudian keluarkan napas dengan penuh melalui mulut, Ulangi untuk yang kedua kalinya.
    • Untuk ketiga kalinya, Ambil napas secara pelan dan dalam melalui hidung, Penuhi paru-paru sampai terasa sepenuh mungkin.

  • Langkah 3 :
    • Batukkan 2 – 3 kali secara berturut-turut. Usahakan untuk mengeluarkan udara dari paru-paru semaksimalkan mungkin ketika batuk.
    • Relax dan bernapas seperti biasa

  1. Lakukan postural drainase yang sudah dimodifikasi.
*Note :
  • Jika diperlukan karena adanya akumulasi secret pada beberapa hari setelah operasi.
  • Modifikasi posisi postural drainase diperlukan untuk memimalisir tekanan pada luka insisi.
  • Untuk merubah posisi pasien gunakan teknik Log-Roll.
  • Hindari tekanan dan tarikan pada pasin yang terpasang drainage.

  1. Pertahankan sirkulasi yang adekuat pada ekstremitas bawah
  • Lakukan gerakan menggerakan tumit ke arah belakang paha (Fleksi),
  • Mengembalikan tungkai kelantai (Ekstensi)
  • Memutar pergelangan kaki ke arah dalam atau ke arah luar dengan rentang 360°

  1. Lakukan ROM pada bahu
  • Menaikan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke posisi  di atas kepala (Fleksi)
  • Mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh (Ekstensi)
  • Menaikan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan telapak   tangan jauh dari kepala
  • Menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh sejauh mungkin
  • Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan menggerakan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang
  • Dengan siku fleksi, menggerakan lengan sampai ibu jari ke atas dan samping kepala

  1. Pencegahan posisi yang salah
  • Pertahankan posisi yang benar diatas bed pada hari pertama pasca pembedahan

  1. Kembalikan toleransi aktifitas
  • Maksimalkan kemampuan aktifitas pasien seoptimal mungkin
  • Segera mulai ambulasi jika drainage telah dilepas.

ROM dan Mobilisasi Pada Pasien Post-Operasi Craniotomy

ROM dan Mobilisasi
Pada Pasien Post-Operasi Craniotomy


  1. Tujuan
  1. Tujuan Umum
Setelah membaca modul berikut ini diharapkan perawat mampu menerapkan latihan ROM dan mobilisasi dengan tepat pada pasien post operative thoraks kardio vaskuler  

  1. Tujuan Khusus
 Setelah membaca modul ini diharapkan perawat mampu :
  1. Menjelaskan pengertian latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative craniotomy
  2. Menjelaskan tujuan latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative craniotomy
  3. Menjelaskan prinsip yang perlu diperhatikan sebelum latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative craniotomy
  4. Menjelaskan langkah-langkah ROM dan mobilasasi pada pasien post operative craniotomy
  5. Mensimulasikan latihan ROM dan mobilasasi pada pasien post operative craniotomy

  1. Teori dan Prosedur Kerja
  1. Pengertian
Kraniotomi adalah operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak (Brown CV, Weng J, 2005). Pembedahan tersebut bertujuan untuk membuka tengkorak sehingga dapat mengetahui dan memperbaiki kerusakan yang ada di dalam otak. Tindakan kraniotomi diindikasikan untuk mengatasi hematoma atau perdarahan otak, pengambilan sel atau jaringan intrakranial yang dapat terganggunya fungsi neorologik dan fisiologis manusia, atau dapat juga dilakukan dengan pembedahan yang dimasudkan pembenahan letak anatomi intrakranial, mengatasi peningkatan tekanan intracranial yang tidak terkontrol, mengobati hidrosefalus ( Widagdo, W., 2008).


Pasien yang mengalami operasi pasca pembukaan tempurung kepala salah satunya akan mengalami nyeri dan kelemahan fisik yang mengakibatkan klien tidak mau menggerakkan anggota tubuhnya. Upaya pencegahan komplikasi pasca operasi thoraks kardio vaskuler dapat dilakukan dengan latihan range of motion (ROM) dan mobilisasasi sejak dini dengan latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif (Potter & Perry, 2005).

  1. Tujuan
Menurut Tseng, et al. (2007), Rhoad & Meeker (2009), Smith, N. (2009)  dan Smeltzer & Bare (2008), tujuan latihan ROM dan mobilisasi adalah sebagai berikut :
  1. Mempertahankan fleksibilitas dan mobilitas sendi
  2. Mengembalikan control motoric
  3. Meningkatkan atau mempertahankan integritas sendi dan jaringan lunak
  4. Menurukan pembentukan kontraktur
  5. Membantu sirkulasin dan nutrisi synovial
  6. Memaksimalkan fungsi ADL
  7. Mengurangi dan menghambat nyeri
  8. Mengurangi gejala depresi dan kecemasan
  9. Mencegah bertambah buruknya system neuromuscular
  10. Meningkatkan harga diri
  11. Meningkatkan citra tubuh dan memberikan kesenangan

  1. Jenis-jenis latihan
a.  Breathing exercise
b.  Clapping
c.  Vibrasi
d.  ROM pasif anggota gerak atas   
e.  ROM pasif anggota gerak bawah   

  1. Kriteria Pasien
  1. GCS                                    : 1-1-1 (Koma)
  2. TIK                                     : <15 mmHg
  3. Skala Nyeri                         : Skala 1-3 (Ringan) atau skala 4-10 (sedang sampai      berat) dengan pemberian analgesik.  
  4. Saturasi Oksigen                 : ≥ 90 %
  5. Kekuatan Otot                    : Skala 1(Ketika otot ditekan masih terasa ada kontraksi atau kekenyalan yang berarti otot masih belum atrofi).
  6. Tekanan Darah                   : Tekanan sistolik 90 -140 mmHg dan diastole 60-90 mmHg
  7. Kadar HB                           : ≥ 10 gr/dL
  8. RR                                      : 16 - 20x/menit 
  9. Jumlah nadi                        : 60-80 kali permenit
  10. MAP                                   : MAP >110 mmHg atau MAP < 70 mmHg

  1. Langkah – langkah tindakan :
  1. Breathing Exercise :
  • Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen
  • Posisi penderita bias telentang,
  • Salah satu tangan penderita di atas perut bagian tengah, tangan yang lain di atas dada maka akan dilihat perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka.
  • Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi udara pelan - pelan melalui mulut. Sewaktu inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut. Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah.
  • Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi.

  1. Clapping :
  • Dilakukan dengan membentuk mangkok pada telapak tangan dan dengan ringan ditepukan pada dinding dada dalam gerakan yang berirama di atas segmen paru yang akan dialirkan
  • Pergelangan tangan secara bergantian flexi dan extensi sehingga dada di pukul atau di tepuk dengan cara yang tidak menimbulkan nyeri
  • Hati-hati dilakukan pada lansia karena peningkatan insiden osteophorosis dan resiko fraktur tulang costae

  1. Vibrasi :
  • Pergelangan tangan dan siku dijaga agar tetap kaku dan gerakan memvibrasi dilakukan oleh otot – otot bahu.
  • Setelah 3 – 4 kali vibrasi pasien didorong untuk batuk dengan menggunakan otot – otot abdomen apabila tidak sadar maka dilakukan suctioning untuk mengeluarkan dahak.

  1. Latihan pasif anggota gerak atas
  • Gerakkan menekuk dan meluruskan sendi bahu :
  • Tangan satu penolong memegang siku, tangan lainnya memegang lengan
  • Luruskan siku, naikkan dan turunkan lengan dengan siku tetap lurus.

  • Gerakkan menekuk dan meluruskan siku :
  • Pegangan lengan atas dengan lengan satu, tangan lainnya menekuk dan meluruskan siku

  • Gerakkan memutar pergelangan tangan :
  • Pegangan lengan bawah dengan lengan satu, tangan lainnya menggenggam telapak tangan pasien.
  • Putar pergelangan tangan pasien ke arah luar (terlentang) dan ke arah dalam (telungkup).

  • Gerakkan menekuk dan meluruskan pergelangan tangan :
  • Pegang lengan bawah dengan lengan satu, tangan lainnya memegang pergelangan tangan pasien.
  • Tekuk pergelangan tangan keatas dan kebawah.

  • Gerakkan memutar ibu jari :
  • Pegang telapak tangan dan keempat jari dengan tangan satu, tangan lainnya memutar ibu jari tangan.

  • Gerakkan menekuk dan meluruskan jari-jari tangan :
  • Pegang pergelangan tangan dengan tangan satu, tangan lainnya menekuk dan meluruskan jari-jari tangan

  1. Latihan pasif anggota gerak bawah.
  • Gerakkan menekuk dan meluruskan pangkal paha :
  • Pegang lutut dengan tangan satu, tangan lainnya memegang tungkai.
  • Naikkan dan turunkan kaki dengan lutut tetap lurus.

  • Gerakkan menekuk dan meluruskan lutut :
  • Pegang lutut dengan tangan satu, tangan lainnya memegang tungkai.
  • Tekuk dan luruskan lutut.

  • Gerakkan untuk pangkal paha :
  • Gerakkan kaki pasien menjauh dan mendekati badan (kaki satunya)

  • Gerakkan memutar pergelangan kaki :
  • Pegang tungkai dengan tangan satu, tangan lainnya memutar pergelangan kaki.

Thursday, 9 May 2019

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2019/1440 H

Assalamualaikum,
alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan sebuah hadiah dalam hidup seorang manusia yaitu mempertemukan dengan bulan penuh rahmat dan barokah, yaitu bulan suci Ramadhan. Bulan yang memiliki berbagai keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya, bulan dimana amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, bulan dimana terdapat lailatul qadar, dan bulan dimana pintu ampunan dibuka seluas-luasnya. Semoga kita dijadikan seorang muslim yang taat, yang dapat memanfaatkan pertemuan dengan bulan suci Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. 

Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan jadwal imsakiyah bulan Ramadhan 2019 / 1440 H. semoga jadwal ini bisa bermanfaat, sebagai pengingat dan penyemangat kita dalam beribadah mencari ridha Allah. Jadwal ini bebas di download, dan dibagikan.