Asuhan Keperawatan pada Luka Bakar

Luka bakar merupakan cedera paling berat yang mengakibatkan permasalahan yang kompleks, tidak hanya menyebabkan kerusakan kulit namun juga seluruh sistem tubuh (Nina,2008)...

Materi Intepretasi EKG Normal

Elektrokardiografi adalah ilmu yg mempelajari aktivitas listrik jantung sedangkan Elektrokardigram ( EKG ) adalah suatu grafik yg menggambarkan rekaman listrik jantung...

Liburan Murah Bersama Alam di Hutan Pinus Pandaan

Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki puluhan destinasi wisata yang menarik. Banyak para pelancong yang akhirnya melabuhkan hatinya di Pasuruan...

Mahasiswa FKp Satu-Satunya Delegasi Keperawatan pada Kompetisi Riset Dunia

Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga mengirimkan satu tim delegasi untuk mengikuti Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting-14 (HISAS-14) di Hokkaido...

Kisah Inspiratif Dua Pedagang Keren

assalamualaikum wr.wb para pembaca yang budiman. Sudah lama ane gak posting-posting lagi. Hari ini izinkan ane berbagi pengalaman kepada pembaca semua...

Apa yang Membuat Saya Rindu Kampung Halaman?

Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi...

السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØ­ْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ ...... Selamat datang di BLOG RIO CRISTIANTO. Dukung Blog ini dengan like fanspage "Rio Cristianto". Thank you, Happy Learning... ^_^

Sunday, 3 January 2016

Promosi Kesehatan pada Orang Dewasa dengan Metode Brainstorming

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep dewasa
2.1.1 Definisi Dewasa
Istilah dewasa mempunyai pengertian yang banyak. Menurut Knowles (1979), orang dewasa tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, tetapi juga dari segi sosial, dan psikologis. Dari segi biologis, seseorang dikatakan telah dewasa apabila ia telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial seseorang disebut dewasa apabila ia mampu melakukan peran-peran sosial yang biasanya diperankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila ia telah memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil. Dengan demikian orang dewasa diartikan orang yang telah memiliki kematangan fungsi-fungsi biologis, sosial, dan psikologis dalam segi-segi pertimbangan, tanggung jawab, dan peran dalam kehidupan (Sungkono, 2012).

Ditinjau dari segi umur, bahwa yang disebut dewasa itu dimulai sejak menginjak usia 21 tahun (meskipun belum menikah) atau sejak seseorang menikah (meskipun belum berusia 21 tahun). Lebih lanjut Havighust membagi masa dewasa menjadi tiga fase, yaitu masa dewasa awal 18 – 30 tahun, masa dewasa pertengahan 30 – 55 tahun, dan masa dewasa akhir 55 tahun lebih (Armin, 2002).
Proses belajar pada orang dewasa dikenal dengan istilah andragogi.  Andragogi berasal dari bahasa Yunani aner artinya orang dewasa, dan agogus artinya memimpin. Istilah lain yang kerap kali dipakai sebagai perbandingan adalah pedagogi yang ditarik dari kata paid artinya anak dan agogus artinya memimpin. Sementara itu, menurut Kartono, 1997 bahwa androgogi adalah ilmu membentuk manusia; yaitu membentuk kepribadian seutuhnya, agar ia mampu mandiri di tengah lingkungan sosialnya (Armin, 2002).

2.1.2 Batasan Dewasa
  1. Batasan Dewasa
Menurut Hurlock (1968) masa dewasa dibagi menjadi 3 periode, yaitu:
  1. Masa Dewasa Awal
Masa dewasa awal atau Early Adulthood adalah seseorang yang berusia antara 18 atau 20 tahun sampai 40 tahun.

Secara biologis merupakan masa puncak perumbuhan fisik yang prima dan usia tersehat dari populasi manusia secara keseluruhan (healthiest people in population) karena didukung oleh kebiasaan-kebiasaan positif (pola hidup sehat).

Secara psikologis, cukup banyak yang kurang mampu mencapai kematangan akibat banyaknya masalah dihadapi dan tidak mampu diatasi baik sebelum maupun setelah menikah, misalnya: mencari pekerjaan, jodoh, belum siap menikah, masalah anak, keharmonisan keluarga, dll.

Tugas-tugas perkembangan (development task) pada usia ini meliputi: pengamalan ajaran agama, memasuki dunia kerja, memilih pasangan hidup, memasuki pernikahan, belajar hidup berkeluarga, merawat dan mendidik anak, mengelola rumah tanggga, memperoleh karier yang baik, berperan dalam masyarakat, mencari kelompok sosial yang menyenangkan.

  1. Masa Dewasa Madya/Setengah Baya
Masa Dewasa Madya/Setengah Baya atau Midle Age adalah seseorang yang berusia antara 40 - 60 tahun. Aspek fisik sudah mulai agak melemah, termasuk fungsi-fungsi alat indra, dan mengalami sakit dengan penyakit tertentu yang belum pernah dialami (rematik, asam urat, dll).

Tugas-tugas perkembangan meliputi: memantapkan pengamalan ajaran agama, mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga negara, membantu anak remaja belajar dewasa, menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan pada aspek fisik, mencapai dan mempertahankan prestasi karier, memantapkan peran-perannya sebagai orang dewasa.

  1. Masa Dewasa Lanjut/Masa Tua
Masa Dewasa Lanjut/Masa Tua atau Old Age adalah seseorang yang berusia 60 tahun hingga akhir kehidupannya atau sampai mati. Ditandai dengan semakin melemahnya kemampuan fisik dan psikis (pendengaran, penglihatan, daya ingat, cara berpikir dan interaksi sosial).

Tugas-tugas perkembangan meliputi : Lebih memantapkan diri dalam pengamalan ajaran-ajaran agama. Mampu menyesuaikan diri dengan: menurunnya kemampuan fisik dan kesehatan, masa pensiun, berkurangnya penghasilan dan kematian pasangan hidup. Membentuk hubungan dengan orang seusia dan memantapkan hubungan dengan anggota keluarga.

Faktor-faktor penyebab kegagalan melaksanakan tugas perkembangan, yaitu :
  1. Tidak adanya bimbingan untuk memahami dan menguasai tugas,
  2. Tidak ada motivasi menuju kedewasaan.
  3. Kesehatan yang buruk,
  4. Cacat tubuh,
  5. Tingkat kecerdasan rendah.
Perilaku menyimpang (maladjustment) akibat tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan (terutama aspek agama) adalah : berzina, konsumsi miras dan naza, menelantarkan keluarga, sering ke hiburan malam, biang keladi kerusuhan (preman / provokator), melecehkan norma dalam masyarakat.

Dari uraian diatas, salah satu tugas perkembangan masa dewasa adalah pemantapan kesadaran beragama. Terdapat asumsi bahwa semakin bertambah usia seseorang maka semakin mantap kesadaran beragamanya. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang dewasa dengan perilaku yang bertentangan dengan nilai agama. Faktor-faktor yang mempengaruhi perjalanan kehidupan beragama seseorang adalah karena keragaman-keragaman :
  1. Pendidikan agama semasa kecil (menerima, tidak menerima),
  2. Pengalaman menerapkan nilai-nilai agama (intensif, jarang, tidak pernah)
  3. Corak pergaulan dengan teman kerja (taat beragama, melecehkan)
  4. Sikap terhadap permasalahan hidup yang dihadapi (sabar, frustasi, depresi)
  5. Orientasi hidup (materialistis-hedonis, moralis-agamis).

2. Perubahan  Fisik, mental, Psikososial dan kognitif pada Dewasa
  1. Perkembangan Dewasa Awal
Terdapat beberapa perkembangan dalam diri dewasa awal (young adulthood) yang perlu diperhatikan yaitu perkembangan fisik, kognitif dan psikososial (Papalia, Olds & Feldman, 2007).
  1. Perkembangan fisik
 Kebanyakan orang dewasa awal berada di puncak kesehatan, kekuatan, energi dan daya tahan, serta di puncak fungsi sensori dan motorik. Kesehatan pada sebagian orang dipengaruhi oleh faktor perilaku, namun dapat juga dipengaruhi oleh faktor gen. Kesehatan yang dipengaruhi oleh faktor periaku seperti aktifitas fisik, perilaku merokok, penggunaan alkohol dan obat obatan terlarang, diet atau mengontrol berat badan akan berpengaruh besar terhadap kesehatan sekarang dan masa yang akan datang. Kesehatan yang dipengaruhi oleh faktor gen seperti psoriarsis, diabetes, anemia sicklecell ( sel darah merah yang berbentuk bulan sabit), dll. Pada masa dewasa awal ini terdapat pula tiga masalah penting yang berkaitan dengan masalah reproduksi, seperti:
  1. Premenstrual syndrome
Gangguan yang menyebabkan ketidaknyamanan fisik dan ketegangan emosi selama 2 minggu sebelum menstruasi, seperti lelah, sakit kepala, keram, bertambahnya berat badan, cemas, dan lain lain.
  1. Sexually transmitted disease / penyakit menular sexual
Hal ini bisa disebabkan oleh seks bebas
  1. Infertilitas
Ketidakmampuan untuk menghasilkan anak setelah 12-18 bulan berusaha melakukan hubungan seksual secara rutin. Pada pria, umumya infertelitas disebabkan oleh produksi sperma pria yang terlalu sedikit. Sedangkan pada wanita disebabkan oleh kegagalan untuk menghasilkan sel telur atau sel telu yang normal, adanya lender di leher Rahim yang menghalangi sperma untuk penetrasi atau endometriosis (penyakit dalam kandungan yang menyebabkan terhalangnya implantasi telur).

Sedangkan menurut Santrock (dalam Lim, 2011) aspek-aspek perkembangan fisik meliputi beberapa hal yaitu:
  1. Kekuatan dan Energi
Selepas dari bangku pendidikan tinggi, seorang dewasa awal berusaha menyalurkan seluruh potensinya untuk mengembangkan diri melalui jalur karier. Kehidupan karier, seringkali menyita perhatian dan energi bagi seorang individu. Hal ini karena mereka sedang rnerintis dan membangun kehidupan ekonomi agar benar-benar mandiri dari orang tua. Selain itu, mereka yang menikah harus rnemikirkan kehidupan ekonomi keluarga.
  1. Ketekunan
Untuk dapat mencapai kemapanan ekonomi (economically es­tablished), seseorang harus memiliki kemauan kerja keras yang disertai ketekunan.
  1. Motivasi
Motivasi adalah dorongan yang berasal dari kesadaran diri sendiri untuk dapat meraih keberhasilan dalam suatu pekerjaan.
  1. Perkembangan Kognitif
Pada perkembangan kognitif, meskipun Piaget (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2007) menyatakan bahwa dewasa muda berada pada tahap berpikir formal operational sebagai tahapan yang terakhir, namun beberapa ilmuwan menyatakan bahwa perkembangan kognitif terus berlanjut diluar tahapan tersebut. Beberapa teori yang menyempurnakan pandangan Piaget adalah:
  1. Reflective thinking
Merupakan jenis berfikir logis yang sering terjadi pada masa dewasa, dimana terjadi proses informasi dan keyakinan yang berkelanjutan, evaluasi aktif berdasarkan bukti dan implikasi. Hal ini pertama kali dikemukakan oleh John Dewey.
  1. Postformal thought
Merupakan tahap kognisi orang dewasa yang tertinggi, ditandai dengan kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian, tidak konsistensi, kontradiksi, ketidaksempurnaan, dan kompromi. Beberapa kriteria postformal thought adalah :
  1. Shifting gears
Mampu mengalihkan antara penalaran abstrak dan praktis.
  1. Problem definition
Mampu mendefinisikan masalah.
  1. Process product shift
Mampu menyelesaikan masalah baik melalui proses umum lewat permaslahannya yang hamper sama maupun melalui solusi kongkrit.
  1. Pragmatism
Mampu memilih yang terbaik dari antar solusi logis.
  1. Multiple solutions
Kesadaran bahwa masalah memiliki lebih dari satu penyebab.
  1. Awareness of paradox
Mengenali bahwa masalah atau solusi merupakan konflik yang tidak tuntas.
  1. Self refrential thought
Kesadaran untuk melakukan penilaian terhadap solusi mana yang logis. Dapat dikatakan orang tersebut menggunakan postformal thought.

Pada dewasa awal, perkembangan kognitif juga dapat dilihat dari perkembangan emosi mereka. Peter Salovey & John Mayer (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2007) menciptakan istilah emotional intelligence (EI), yaitu kemampuan untuk memahami dan mengatur emosi. Menurut Golemen (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2007) terdapat kompetensi EI pada dewasa awal, yaitu:
  1. Self awereness
Emotional self awereness, penilaian diri yang akurat dan percaya diri.
  1. Self management
Kontrol diri, kepercayaan, kesungguhan, adaptasi, dorongan mencapai hasil, dan inisiatif.
  1. Social awereness
Empati, orientasi pelayanan, dan kesadaran organisasi
  1. Relationship management
Membangun orang lain, menggunakan pengaruh, komunikasi, manajemen konflik, kepemimpinan, menjadi katalisator perubahan, membangun ikatan dan kerja sama, serta kolaborasi.

Sedangkan menurut santrock (dalam Lim, 2011) dengan mempunyai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang matang yang didapat selama belajar di universitas, seorang dewasa awal akan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan mampu mengembangkan daya inisiatif kreatimya sehingga ia akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru dalam dunia pekerjaan yang akan mematangkan kualitas mentalnya.

  1. Teori Perkembangan Mental Menurut Turner dan Helms
Turner dan Helms (dalam Lim 2011) mengemukakan bahwa ada dua dimensi perkembangan mental, yaitu:
  1. Dimensi perkembangan mental kualitatif (quali­tative mental dimension)
Menurut Turner dan Helms (1995), dewasa muda bukan hanya mencapai taraf operasi formal, melainkan telah memasuki penalaran postformal (post-formal reasoning). Kemampuan ini ditandai dengan pemikiran yang bersifat dialektikal (dialectical thought), yaitu kemampuan untuk me­mahami, menganalisis dan mencari titik temu dari ide-ide, gagasan-gagasan, teori-teori, pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran yang saling kontradiktif (bertentangan) sehingga individu mampu menyintesiskan dalam pemikiran yang baru dan kreatif. Senada dengan beliau, Gisela Labouvie-Vief (dalam Turner dan Helms, 1995) menyatakan operasi formal lebih tepat untuk remaja, sedangkan dewasa muda mampu memahami masalah-masalan secara logis dan mampu mencari inti sari dari hal-hal yang bersifat paradoksal sehingga diperoleh pemikiran baru.
  1. Dimensi perkembangan men­tal kuantitatif (quantitative mental dimensions)
Menurut Turner dan Helms (dalam Lim,2011) untuk mengetahui kemampuan mental secara kuantitatif diperlukan suatu pengukuran yang menggunakan skala angka secara eksak atau pasti. Dalam suatu penelitian longitudinal yang dilakukan sekitar tahun 1930 dan 1940, ditemukan bahwa taraf inteligensi cenderung menurun. Latar belakang proses penurunan ini dikarenakan perbedaan faktor pendidikan ataupun status sosial ekonomi (status of econo-sociafy. Individu yang memiliki latar belakang pendidikan ataupun status sosio-ekonomi rendah karena jarang memperoleh tantangan tugas yang mengasah kemampuan kecerdasan sehingga cenderung menurun ke­mampuan intelektualnya secara kuantitatif. Sebaliknya, individu yang memiliki taraf pendidikan ataupun status sosio-ekonomi yang mapan, berarti ketika bekerja banyak menuntut aspek pemikiran intelektual sehingga intelektualnya terasah. Dengan demikian, kemampuan kecerdasannya makin baik.Sementara itu, para ahli (seperti Baltes dan Baltes, Baltes dan Schaie, Willis dan Balte), menyimpulkan ada beberapa tipe intelektual, yaitu:
  1. Inteligensi kristal (cristalized intelligence)
Fungsi keterampilan mental yang dapat dipergunakan individu itu, dipengaruhi berbagai pengalaman yang diperoleh melalui proses belajar dalam dunia pendidikan.
  1. Fleksibilitas kognitif (cognitive flexibility]
Kemampuan individu me­masuki dan menyesuaikan diri dari pemikiran yang satu ke pemikiran yang lain.
  1. Fleksibilitas visuo-motor (visuomotor flex­ibility]
Kemampuan untuk menghadapi suatu masalah dari yang mudah ke hal yang lebih sulit, yang memerlukan aspek kemampuan visual/motorik (penglihatan,pengamatan, dan keterampilan tangan).
  1. Visualisasi (visualization)
Kemampuan individu untuk melakukan proses visual. Misalnya, bagaimana individu memahami gambar-gambar yang sederhana sampai yang lebih kompleks.

  1. Perkembangan Psikososial
Dibagi menjadi 4 pendekatan klasik :
  1. Normative – stage models
Menurut pendekatan ini, orang dewasa awal mengikuti dasar rangkaian yang sama dengan perubahan psikososial berdasarkan usia. Perubahan hal yang normative, yang umum terjadi pada semua orang. Menurut Erickson ( dalam Papalia, Olds & Feldman, 2007), dewasa awal masuk dalam tahap keenam perkembangan psikososial, yaitu intimacy vs isolation. Intimacy adalah kemampuan mengembangkan indetitas dirinya untuk siap memadukannya dengan identitas orang lain tanpa takut kehilangan identitas dirinya sendiri.

Jika orang dewasa awal tidak dapat membuat komitmen yang dalam dengan orang lain, maka ia terisolasi dan asyik dengan diri sendiri. resolusi dari tahap ini menghasilkan love, pada saat itu orang dewasa muda akan menjalin hubungan serius dengan pasangannya dan menikah, memiliki anak dan membantu anak anak mencapai perkembangan kesehatan mereka sendiri.

Levinson (dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2007) melalui wawancara mendalam dan tes kepribadian terhadap pria berusia 35 sampai 45 tahun, membentuk teori perkembangan kepribdian yang berdasar pada life structure. Life structure adalah pola kehidupan seorang pada waktu tertentu, yang dibangun diatas aspek apapun dalam hidup yang dianggap paling penting, dimana masing masiing dibagi kedalam tahap masuk dan memuncak. Setiap fase memiliki tugasnya masing masing yang pencapaiannya akan menjadi dasar untuk life structure yang akan datang. Oleh karena itu tugas perkembangan yang harus dilewati oleh dewasa muda adalah tantangan yang perlu dicapai agar dapat beradaptasi pada setiap tahap kehidupan.

Pada studi longitudinal yang dilakukan oleh Levinson (dalam Papaplia, Olds, & Feldman, 2007), ditemukan bukti dari perubahan kepribadian normative pada dewasa awal. Satu perubahan tersebut di dewasa awal adalah meningkatnya dan kemudian penurunan sifat yang terkait dengan feminitas ( simpati dan kasih saying di kombinasikan dengan rasa kerentanan, kritik diri, dan kurang percaya diri serta inisiatif). Antara umur 27 dan 43 tahun, para wanita lebih mengembangkan disiplin diri dan komitmen, kemandirian, kepercayaan diri, dan keterampilan coping.
  1. Timing of events model
Menurut pendekatan ini,perkembangan tergantung peristiwa tertentu yang dialami seseorang. Orang biasanya sadar dengan waktunya masing masing dan social clock. Social clock adalah seperangkat norma budaya atau harapan terhadap peristiwa penting tertentu yang seharusnya terjadi, misalnya: menikah, bekerja, pension dan lain lain. Bila peristiwa kehidupan muncul tepat waktu maka perkembangannya berjalan lancer. Namun jika tidak, maka orang dewasa awal akan mengalami stress. Stress dapat muncul akibat peristiwa yang tidak diharapkan seperti : dipecat, menjadi janda pada usia dewasa awal,dll.
  1. Trait model
Trait models menekankan pada stabilitas atau perubahan pada trait kepriibadian. Costa dan McCrae (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2007) mengembangkan five factor model dalam menjelaskan perubahan trait kepribadian yaitu :
  1. Neuroticism
Cemas, kasar, depresi, impulsive, keasadaran diri, mudah diserang
  1. Extraversion
Mencari kesenangan, asertif, aktif, hangat, emosi, positif, senang berkumpul.
  1. Agreeableness
Mementingkan orang lain, kerelaan, sabar, percaya, sederhana, berterus terang.
  1. Conscientiousness
Pencapaian prestasi, pertimabangan kompeten disiplin diri, perintah, memenuhi tugas
  1. Openness to Experience
Fantasi, estetika, perasaa, tindakan, ide, nilai.
  1. Typological models
Pendekatan ini melihat kepribadian sebagai suatu kesuluruhan fungsi. Block mengidentifikasikan tipe kepribadian dasar, yaitu:
  1. Ego resiliency
Mampu beradaptasi terhadap stress, dengan mengaturnya melalui: percaya diri, mandiri, mampu mengutarakan pikiran, penuh perhatian, penolong, bekerja sama, dan focus pada tugas.
  1. Ego control / kontrol diri
Kontrol diri dibedakan menjadi dua, yaitu overcontrolled dan undercontrolled. Overcontrolled merupakan orang dewasa muda yang merasa malu, kesepian, cemas, dan bisa dipercaya, sehingga mereka cenderung menjaga pikiran mereka sendiri dan menarik diri dari konflik, dan mereka merupakan subyek yang kebanyakan mengalami depresi. Sedangkan undercontrolled merupakan orang dewassa muda yang aktif, energik impulsive keras kepala dan mudah merasa bingung.

2.1.3 Masalah Kesehatan pada Dewasa
Masalah kesehatan yang muncul dan seringkali ditemui pada kelompuk usia ini meliputi kecelakaan, bunuh diri, penyalahgunaan zat, hipertensi, penyakit menular seksual (PMS), penganiayaan terhadap wanita dan keganasan tertentu.
  1. Kecelakaan
Cedera tak-disengaja (terutama tabrakan kendaraan bermotor) merupakan penyebab kematian utama pada kelompok usia 1-44 tahun. Oleh sebab itu pendidikan mengenai tindakan kewaspadaan keselamatan dan pencegahan kecelakaan merupakan peran utama perawat dalam meningkatkan kesehatan orang dewasa muda.
  1. Bunuh Diri
Bunuh diri merupakan penyebab kelima kematian pada individu dewasa muda di AS(Murray & Zentner, 2001 dalam Kozier dkk, 2011).

Secara umum, tindakan bunuh diri disebabkan oleh ketidakmampuan individu dewasa muda untuk menghadapi berbagai tekanan, tanggung jawab, dan tuntutan di masa dewasa.

Peran perawat dalam mencegah upaya bunuh diri meliputi mengidentifikasi perilaku yang mengindikasikan masalah potensial: depresi; berbagai keluhan fisik seperti penurunan berat badan, gangguan tidur, dan gangguan pencernaan; penurunan minat dalam peran sosial dan pekerjaan, serta seringnya individu mengurung diri; menyediakan informasi mengenai tanda awal bunuh diri dalam program pendidikan. Apabila terindentifikasi berisiko melkukan bunuh diri maka harus dirujuk ke profesional kesehatan jiwa atau pusat penenangan kritis.
  1. Hipertensi
Masalah ini dipengaruhi oleh faktor keturunan, merokok, obesitas, diet tinggi-natrium, dan tingkat stres yang tinggi.
  1. Penyalahgunaan Zat
Penyalahgunaan zat merupakan ancaman utama terhadap kesehatan individu dewasa muda. Alkohol, mariyuana, amfetamin, dan kokain misalnya, dapat menimbulkan perasaan bahagia pada individu yang memiliki masalah penyesuaian dan akan berakibat buruk pada masalah kesehatan di kemudian hari. Sebagai contoh, penyalahgunaan obat selama kehamilan dapat menyebabkan gangguan pada janin, penggunaan alkohol dalam waktu yang lama dapat menimbulkan penyakit berbahaya.

Strategi perawat berkaitan penyalahgunaan obat meliputi penyuluhan tentang komplikasi penggunaan obat itu, upaya pengubahan sikap individu terhadap penyalahgunaan obat, dan konseling tentang berbagai masalah yang menyebabkan penyalahgunaan obat.
  1. Penyakit Menular Seksual (PMS)
PMS, seperti AIDS, sifilis, gonore merupakan jenis infeksi yang umum terjadi pada individu dewasa muda. Fungsi perawat disini terutama sebagai pendidik.
  1. Kekerasan
Tindakan pembunuhan akibat kekerasan merupakan penyebab kedua kematian pada kaum muda yang berusia 15-24 tahun.
  1. Penganiayaan terhadap Wanita
Masalah ini terjadi pada keluarga di seluruh tingkat sosioekonomi. Kondisi stres yang memicu keluarga untuk melakukan penganiayaan meliputi masalah keuangan, perpisahan keluarga dan dukungan masyarakat, serta isolasi fisik dan sosial.

Perawat yang menangani wanita tersebut harus (a) memiliki komunikasi terbuka yang mendorong mereka mengemukakan masalahnya; (b) membantu mereka meningkatkna harga dirinya; (c) terus mendikung dan mendidik wanita agar memahamo sebab dan akibat perilaku kekerasann dan penganiayaan.
  1. Diabetes Mellitus
DM terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 2,1 persen. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur 3,3 persen. Prevalensi hipertiroid tertinggi di DI Yogyakarta dan DKI Jakarta (masing-masing 0,7%), Jawa Timur (0,6%), dan Jawa Barat (0,5%).
  1. Keganasan
Masalah keganansan yang sering muncul pada pria usia 20-34 tahun adalah kanker testis. Pemeriksaan testis harus diadakan sebulan sekali sebagai identifikasi dini terjadinya kanker skrotum (Barkauskas dkk, 2002 dalam Kozier, 2011).

Sedangkan pada wanita adalah kanker payudara yang meningkat setelah usia 30 tahun. Kanker payudara merupakan penyebab kematian utama yang terjadi pada wanita.

2.1.4 Masalah Gizi pada Dewasa
Kementrian Kesehatan RI (2012) menyebutkan ada beberapa masalah gizi/nutrisi yang sering dialami oleh orang dewasa, antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Kegemukan atau obesitas
Keadaan ini biasanya disebabkan oleh pola konsumsi yang berlebihan, banyak mengandung lemak dan jumlah kalori yang melebihi kebutuhan. Proses metabolisme yang menurun pada lanjut usia, bila tidak diimbangi dengan peningkatan aktifitas fisik atau penurunan jumlah makanan, sehingga jumlah kalori yang berlebih akan diubah menjadi lemak yang dapat mengakibatkan kegemukan. Pada kenyataannya, memiliki berat badan 10% di atas berat badan ideal dipertimbangkan sebagai faktor protektif bagi dewasa (Powers & Folk, 1992 dalam Kathleen L. et al., 2006).
  1. Kurang Energi Kronik (KEK)
Beberapa penyebab KEK pada dewasa, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
  1. Nafsu makan tidak enak karena berkurangnya fungsi alat perasa dan penciuman
  2. Gigi-geligi yang tanggal, sehingga menggangu proses mengunyah makanan
  3. Faktor stress/depresi, kesepian, penyakit kronik, efek samping obat, merokok, dll.
  1. Kurang zat gizi mikro lain
Kondisi ini biasanya menyertai dewasa dengan KEK, namun kekurangan zat gizi mikro dapat juga terjadi pada dewasa dengan status gizi baik. Kurang zat besi, vitamin A, B, C, D, dan E, serta ion-ion seperti magnesium, kalsium, seng dan kurang serat sering terjadi pada dewasa.
  1. Penyakit kronik degeneratif yang berhubungan dengan status gizi:
  1. Penyakit jantung koroner (PJK)
Penyakit ini sering terjadi akibat konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang berlebihan sehingga lemak dan kolesterol akan tertimbun pada pembuluh darah jantung.
  1. Hipertensi
Berat badan yang berlebih akan meningkatkan beban jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya tekanan darah cenderung menjadi lebih tinggi. Selain itu, pembuluh darah pada dewasa sering mengalami aterosklerosis (lebih tebal dan kaku akibat penumpukkan lemak dan kolesterol), sehingga tekanan darah akan meningkat.
  1. Diabetes Mellitus
Merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal (gula darah puasa <126 gr/dl dan atau gula darah sewaktu diatas 200 gr/dl).

2.1 Konsep Brainstorming
Brainstorming atau Curah pendapat adalah praktek teknik konfrensi dimana sebuah kelompok berupaya mencari solusi atas masalah tertentu dengan menghimpun semua ide yang disumbangkan oleh para anggotanya secara spontan (Green, 2004). Brainstorming dikenal sebagai sebuah teknik untuk mendapatkan ide-ide kreatif sebanyak-benyaknya dalam kelompok guna mencari solusi dari sebuah permasalahan. Metode ini pertama kali dipopulerkan oleh Alex Faickney Osborn di tahun 1953 pada buku yang berjudul Applied Imagination.

Metode sumbang saran (brainstorming) adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat,informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapat/brainstorming pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi.

Menurut Morgan (Suprijanto, 2009) “Brainstorming adalah salah satu bentuk berpikir kreatif sehingga pertimbangan memberikan jalan untuk berinisiatif kreatif. Peserta didorong untuk mencurahkan semua ide yang timbul dari pikirannya dalam jangka waktu tertentu berkenaan dengan beberapa masalah, dan tidak diminta untuk menilainya selama curah pendapat berlangsung. Penilaian akan dilakukan pada periode berikutnya dimana semua ide dipilih, dievaluasi dan mungkin diterapkan”.

Kang dan Song (2009) “metode Brainstorming adalah teknik diskusi kelompok dimana anggotanya menyatakan sebanyak mungkin ide-idenya atas topik tertentu tanpa hambatan dan pertimbangan aplikasi praktisnya. Spontanitas dan kreativitas merupakan bagian penting dalam curah pendapat penilaian terhadap ide-ide dilakukan pada sesi berikutnya”.

Menurut Barbara Allman dan Sara Freeman (2010) “Brainstorming adalah suatu teknik yang digunakan untuk menghasilkan suatu daftar panjang yang berisi berbagai respon berbeda tanpa membuat penilaian terhadap ide-ide individu”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode Brainstorming adalah suatu bentuk diskusi dimana peserta didorong untuk menyatakan gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman serta ide-ide mengenai suatu masalah tanpa adanya penilaian dari peserta lain.

Osborn dalam Gie (1995) mensyaratkan 4 ketentuan dalam melaksanakan teknik brainstorming yaitu:
  1. Kritik tidak diperkenankan
  2. Pengaliran ide secara bebas dianjurkan
  3. Kualitas lebih diharapkan
  4. Penggabungan dan penyampuran dicari

  1. Tujuan dan manfaat
Tujuan dari Brainstrorming adalah untuk mendapatkan gagasan dan ide-ide baru dari anggota kelompok dalam waktu relatif singkat tanpa ada sifat kritis yang ketat dan juga bisa mengabungkan ide-ide dari anggota menjadi satu ide. Sedangkan manfaat metode brainstorming pada dewasa yaitu:
  1. Dapat dijadikan sebagai evaluasi tahap awal atau biasa disebut preevaluation  tentang kemampuan atau pengetahuan yang dimiliki dewasa
  2. Sebagai salah satu cara pengembangan ide-ide atau pendapat baru mengenai satu permasalahan
  3. Meningkatkan daya ingat agar terlatih berpikir tentang sesuatu yang bersifat kuantitas, di samping permasalahan sehari-hari dan hal ini lebih baik  dibandingkan kualitas
  4. Menindak lanjuti pemecahan masalah jika dengan cara yang
    konvensional tidak terpecahkan
  5. Mengembangkan berpikir kreatif
  6. Menumbuhkan rasa percaya diri pada dewasa untuk ikut
    terlibat menyampaikan pendapatnya.
  1. Syarat – syarat metode Brainstorming
  1. Pada permulaan pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban atau tanggapan (curah pendapat).
  2. Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan tulis.
  3. Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh dikomentari oleh siapa pun.
  4. Setelah semua anggota dikeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.
  1. Metode Brainstorming
    1. Putaran Bebas (Free Wheel)
Setiap anggota diskusi kelompok bebas mengutarakan pendapatnya tanpa menunggu giliran atau aturan tertentu. Semua ide dapat mengalir lancar tanpa ada pembatasan sehingga metode ini lebih mengedepankan kebebasan individu untuk berpendapat di muka umum. Meskipun metode ini cenderung bebas, namun ada aturan main yang harus dipatuhi oleh masing-masing peserta terutama dalam hal penyampaian pendapat. Bagi peserta yang ingin mengemukakan ide-ide kreatifnya harus mengacungkan tangannya terlebih dahulu. Ketika fasilitator diskusi memberinya kesempatan berbicara, barulah ia dapat mengemukakan pendapatnya di depan panel diskusi. Selain itu, agar tidak ada salah satu peserta yang mendominasi diskusi maka tiap peserta diberikan jatah waktu sama dalam setiap topik. Jikalau ada peserta yang belum sempat menyampaikan pendapatnya maka ia akan diberikan kesempatan lagi untuk berbicara.
  1. Putaran Teratur (Round Robin)
Setiap peserta mendapat giliran untuk mengemukakan pendapatnya sesuai urutan masing-masing. Jika tiba giliran orang berikutnya namun ia belum memiliki gagasan, maka orang tersebut dapat dilewati dan langsung menuju pada giliran selanjutnya. Dalam setiap putaran diskusi, peserta hanya diperkenankan untuk menyampaikan satu ide saja. Penyampaian pendapat dilakukan secara bergiliran menurut posisi lingkaran dan dilakukan dari kanan ke kiri. Selama tahap mengkoleksi gagasan, semua peserta dilarang untuk menyampaikan pendapatnya sebelum tiba giliran masing-masing. Dalam metode ini akan diterapkan beberapa kali putaran hingga semua ide dari peserta telah habis tergali.
  1. Teknik Brainstorming
Dalam sesi brainstorming terdapat banyak teknik yang bisa digunakan seperti teknik Freewriting, Listing/Bulleting, Cubing dan lain sebagainya. Pada bagian ini akan dijelaskan uraian singkat tentang teknik-teknik tersebut. Berikut beberapa teknik brainstorming yang layak Anda terapkan :
  1. Freewriting
Alirkan gagasan-gagasan original Anda melalui tulisan dalam selembar kertas atau mengetikkannya melalui komputer. Anda tidak perlu kuatir tentang ide baik atau buruk, masalah grammar, dan lain sebagainya. Tuliskan gagasan yang muncul dari kepala Anda secara spontan sesuai dengan waktu yang telah Anda tentukan.
  1. Listing / Bulleting
Pada teknik ini, Anda diminta untuk menuliskan daftar ide-ide yang muncul berdasarkan topik-topik tertentu. Hal ini dapat membantu Anda untuk memperluas prespektif mengenai masing-masing topik.
  1. Cubing
Teknik ini memungkinkan Anda untuk mengembangkan topik dari enam arah yaitu deskripsi masalah, perbandingan, penyesuaian, analisa masalah, penerapan, serta adanya pro dan kontra yang timbul terhadap problem solving yang akan digunakan.
  1. Dictionaries, thesauruses, encyclopedias
Teknik ini menjadi favorit banyak orang karena dengan bantuan kamus atau encyclopedia Anda dapat mengembangkan pemikiran berdasarkan ribuan kata yang terdapat dalam kamus tersebut. Istilah yang Anda gunakan untuk kata kunci pemecahan masalah akan didefinisikan oleh kamus disertai dengan alternatif kata-kata lain yang bisa Anda pergunakan.  
  1. Journalistic Questions
Teknik ini menggunakan daftar pertanyaan yang sering digunakan oleh para wartawan yaitu 5W dan IH meliputi  What, Who, When, Where, Why, dan How. Tuliskan masing-masing element tersebut dalam lembar yang berlainan. Lalu masukkan gagasan-gagasan baru untuk menjawab berbagai elemen pertanyaan tersebut.
  1. Kelebihan dan Kekurangan Metode Brainstorming
  1. Kelebihannya menurut (Arifin, 2008):
  1. Dapat memperoleh pendapat yang baru
  2. Dapat merangsang setiap anggota untuk berperan secara aktif
  3. Dapat menghasilkan reaksi berantai dalam pendapat.
  4. Tidak banyak menyita waktu
  5. Kegiatan dapat digunakan dalam kelompok besar maupun kelompok kecil.
  6. Tidak memerlukan seorang pimpinan yang terlalu formal
  7. Pandangan lebih obyektif
Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus (2011) menyatakan beberapa kelebihan dari penerapan metode Brainstorming sebagai berikut:
  1. Memberikan kesempatan  untuk berpendapat
  2. Melatih daya kritis dan analisis
  3. Mendorong agar dapat menghargai pendapat orang lain
  4. Menstimulasi agar dapat berpikir secara holistik.
  1. Kekurangannya:
  1. Sangat mudah terlepas dari control
  2. Harus dilanjutkan dengan evaluasi jika kegiatan ini diharapkan menjadi efektif.
  3. Kemungkinan menjadi sulit untuk membuat peserta mengetahui bahwa segala pendapat dapat diterima
  4.  Para peserta cenderung untuk mengadakan evaluasi segera setelah suatu pendapat diajukan.
  5. Sulit menyimpulkan
  6. Kurang memperoleh padangan pemikiran yang bulat
Menurut Suprijanto (2009:125) mengungkapkan ada beberapa kelemahan dari penggunaan metode Brainstorming:
  1. Proses ini memerlukan banyak waktu, khususnya apabila kurang dari 10% ide yang akhirnya digunakan
  2. Seperti kelompok diskusi yang lain, produktivitas sesi curah pendapat tergantung pada kemampuan dan kualitas orientasi peserta.
  3. Manfaat akhirnya mungkin lebih berupa apa yang dilakukan terhadap peserta daripada produktivitas apa yang segera diperoleh dalam sesi curah pendapat, dan sulit diukur dengan tingkat keakuratan apa pun.

  1. Langkah-Langkah
    1. Pemberian informasi dan motivasi
Fasilitator menjelasakan masalah yang dihadapi beserta latarbelakangnya dan mengajak peserta untuk menyumbangkan pemikirannya.
  1. Identifikasi
Peserta diundang untuk memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran ditampung.
  1. Klasifikasi
Semua saran dan masukan peserta ditulis. Langkah selanjutnya mengklasifikasikan berdasarkan criteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bias berdasarakan struktur / faktor-faktor lain.
  1. Verifikasi
Kelompok secara bersama melihat kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan.Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahan. Apabila terdapat sumbang saran yang sama diambil salah satunya dan sumbang saran yang tidak relevan bias dicoret. Kepada pemberi sumbang saran bias diminta argumentasinya.
  1. Konklusi (Penyepakatan)
Fasilitator / pimpinan kelompok beserta peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternative pemecahan masalah yang disetujui.   Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat (dharyanti et al, 2014)


                Lanjutkan Part 2 >>

Saturday, 2 January 2016

Instrumen Penelitian : The Reported Edmonton Frail Scale (REFS)

Assalamualaikum Wr. Wb, kali ini ane akan ingin berbagi tentang sesuatu yang berbau penelitian. Maklum sudah semester tua, jadi harus banyak belajar tentang penelitian kawan, hehehe jadi curhat... Ok langsung saja, ini ane share salah satu instrumen untuk penelitian. Nah instrumen penelitian sendiri penting banget untuk mengukur suatu variabel kawan. Tidak boleh sembarangan karena instrumen yang kamu gunakan harus lulus ujia reliabilitas dan..... Kalau tidak, penelitianmu bisa kurang baik hasilnya. 

Dibawah ini merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel kerapuhan Lansia. Instrumen ini sangat cocok digunakan untuk mengetahui tingkat kerapuhan pada Lansia (di atas 65 tahun). Semoga bisa jadi referensi bagi kamu yang butuh instrumen untuk skripsi dan penelitian lainnya ya kawan. Semoga bermanfaat.

THE REPORTED EDMONTON FRAIL SCALE (REFS)

Domain Kerapuhan
Item
0 poin
1 poin
2 poin
KognitifSilahkan membayangkan bahwa gambar lingkaran ini adalah sebuah jam. Saya ingin Anda untuk menempatkan angka di posisi yang benar kemudian tempatkan tangan untuk menunjukkan waktu pukul 11 lebih 10 menit.Tidak ada kesalahanKesalahan kecilBanyak kesalahan
Status kesehatan umumPada tahun lalu, berapa kali Anda telah dirawat di rumah sakit?01 – 2≥ 2
Secara umum, bagaimana Anda akan menggambarkan kesehatan Anda?Baik/sangat baikCukupBuruk
Kemandirian fungsionalBerapa banyak dari kegiatan-kegiatan berikut yang Anda memerlukan bantuan untuk melakukannya? (mempersiapkan makanan, belanja, transportasi, telepon, menjaga rumah, laundry, mengelola uang, mengambil obat)0 – 12 – 45 – 8
Dukungan sosialKetika Anda memerlukan bantuan, dapatkah Anda menemukan seseorang yang dapat diAndalkan, bersedia dan mampu untuk membantu Anda?SelaluKadang-kadangTidak pernah
Penggunaan pengobatanApakah Anda menggunakan 5 jenis resep pengobatan atau lebih secara teratur?TidakYa
Saat ini, apakah Anda lupa untuk meminum obat?TidakYa
NutrisiApakah Anda baru saja kehilangan berat badan sehingga pakaian Anda telah menjadi longgar?TidakYa
PerasaaanApakah Anda sering merasa sedih atau depresi?TidakYa
Penahanan/kontinensiaApakah Anda memiliki masalah dengan kehilangan kontrol berkemih?TidakYa
Pekerjaan yang dilaporkan sendiriDua minggu yang lalu apakah Anda dapat:
(1) melakukan pekerjaan berat di sekitar rumah seperti mencuci jendela, dinding atau lantai tanpa bantuan?
YaTidak
(2) Berjalan naik dan turun tangga ke lantai dua tanpa bantuan?YaTidak
(3) Berjalan 1 km tanpa bantuan?YaTidak

Intepretasi The Reported Edmonton Frail Scale (REFS)
0 – 5                : Tidak rapuh
6 – 7                : Rentan
8 – 9                : Kerapuhan ringan
10 – 11            : Kerapuhan Sedang/Moderat
12 – 18            : Kerapuhan Berat    

Referensi :
Hilmer, S. N., Perera, V., Mitchell, S., Murnion, B. P., Dent, J., Bajorek, B., … Rolfson, D. B. (2009). The assessment of frailty in older people in acute care. Australasian Journal on Ageing, 28(4), 182–188. http://doi.org/10.1111/j.1741-6612.2009.00367.x
Petty, D. R., House, A., Knapp, P., Raynor, T., & Zermansky, A. (2006). Prevalence, duration and indications for prescribing of antidepressants in primary care [3]. Age and Ageing, 35(5), 523–526. http://doi.org/10.1093/ageing/afl023





Thursday, 31 December 2015

Kian Sadar 31 Desember

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah atas segala nikmat yang diberikan Allah ta’ala hingga diperkenankan sampai pada akhir tahun 2015 Masehi. Penulis mengucapkan selamat hari jum’at, karena 1 Januari 2016 Masehi besok bertepatan pada hari jum’at, setuju?

Pembaca tercinta, tidak dimungkiri pergantian tahun baru ya begitu adanya. Tercium bau khas hura-hura, bau khas pesta tiada henti, bau khas panggung hiburan malam, bau khas campur baur dusel-duselan tak terbendung, bau khas bubuk pelangi yang ditembakkan keatas, dan bau khas yang lain yang mungkin unit K-9 milik polisi tidak sampai hati mengendusnya. Sebagai seorang muslim, tentu kita patut prihatin apabila nyatanya saudara-saudari kitalah yang tidak sampai hati diendus unit K-9. Tentu kita patut prihatin bila ternyata kerabat maupun keluarga kitalah yang tidak sampai hati diendus unit tersebut. Mungkin masih ada yang belum yakin akan makna dari itu semua.

Namun tidak sedikit kok muslim di Indonesia ini yang peduli sama hal begituan, silahkan browsing makna atribut yang biasa digunakan saat tahun baru. Silahkan browsing makna terompet. Silahkan browsing makna petasan/ kembang api. Silahkan browsing makna dentuman jam tanda pergantian tahun. Silahkan browsing sejarah pergantian tahun baru di Indonesia pun di dunia. Saudara-saudari kita merelakan harta, waktu, tenaga dan perasaannya untuk mengkaji dengan detail hingga menyajikannya secara lugas hal-hal yang memang benar adanya secara sejarah. Kini masyarakat kian sadar bukan, bagaimana menyadarkan saudara-saudarinya yang mungkin terbius bau khas pergantian tahun baru? Patut kita syukuri hal itu. Mungkin dulu kita seperti itu, lalu sadar atas ijin Allah, melalui saudara-saudari kita.

Pembaca, kini masyarakat kian sadar. Masyarakat semakin sadar betapa memanfaatkan waktu pergantian tahun begitu penting. Ya, to the point, silahkan browsing betapa banyak orang yang malam ini, ya malam ini, memanfaatkan waktunya untuk menghadiri majelis ilmu, kajian, tabligh akbar di masjid. Silahkan browsing bagaimana aparat negara sekelas PolRes mengadakan tabligh akbar. Silahkan browsing bagaimana mereka memasang spanduk berisi ajakan untuk memanfaatkan malam tahun baru yang identik dengan hura-hura, bising, mengotori lingkungan, menghabiskan uang, diganti dengan muhasabah bersama sekaligus bersedekah. Silahkan browsing bagaimana seorang walikota menginstruksikan pengurus masjid di kotanya untuk mengadakan doa bersama serentak ba’da shalat isya. Silahkan browsing bagaimana ormas menggencarkan shalawat bersama, doa bersama, dzikir bersama, muhasabah akhir tahun, tidak tanggung-tanggung langsung menghadirkan sekian banyaknya juru dakwah. Kini masyarakat kian sadar bukan, bagaimana secara bertahap namun totalitas berusaha membuat iklim baru saat pergantian tahun? Patut kita syukuri. Mungkin dulu lingkungan kita seperti itu, namun atas ijin Allah, lingkungan kita menjadi lebih kondusif atas usaha saudara-saudari kita.

Pembaca yang terhormat, penulis yakin trend pergantian tahun baru berikutnya akan menjadi semakin baik. Semakin banyak yang memanfaatkan waktunya dengan tepat. Semakin gencar amar ma’ruf nahi munkar, esspecially saat pergantian tahun baru. Ketika kita sudah tersadar, lingkungan semakin mendukung, pertanyaannya hanya satu, “Sudah siapkah diri ini?”. Ya, sudah siapkah diri ini mengambil posisi strategis dalam mengawal saudara-saudari kita yang lain? Sudah siapkah diri ini menjadi bagian dari pioneer lingkungan yang semakin kondusif? Sudah siapkah saudara-saudari kita terdahulu mengambil manfaatnya manakala kita mampu meneruskan perjuangannya?. Masihkah kita berdiam diri duduk di depan laptop (penulis juga sih hehe) dan sekedar berangan-angan semata? Masihkah kita tidak mau beranjak dari diri yang jahiliyah menuju diri yang terang benderang? Bukankah seorang muslim dinanti kebermanfaatannya? Bukankah seorang muslim sudah memiliki bekal yang rahmatan lil’alamin? Alangkah baiknya seorang muslim sadar bahwa dirinya muslim. Sadar akan tanggung jawab dan konsekuensinya, tidak hanya terhadap diri pribadi, namun terhadap saudara-saudarinya. Bukankah masuk surga enaknya rame-rame?

Penulis mohon maaf bila banyak teori semata, banyak bicara saja namun less action ever, no action. Mohon maaf atas tulisan yang kemungkinan menyinggung hati Pembaca. Semoga dapat diambil manfaatnya, meski hanya 1 kalimat yang membekas di hati. Semangat tahun baru, bersama menjadi pribadi muslim yang utuh, yang kaffah. Bersama, mengingatkan akan nahi munkar. Bersama, membudayakan hal-hal yang nyatanya bermanfaat. Bersama, meluruskan hal-hal yang nyatanya banyak mudharatnya. Wassalamu’alaykum.

*Penulis : Mahardhika Widyantoko

Wednesday, 30 December 2015

Touching Words by Nobita in Stand by Me Doraemon

Haloo kawan... kalian tahu film "Stand by Me Doraemon" ? mimin yakin pasti sudah pada tahu semua. Yup Film Doraemon yang pertama kali dibuat dalam bentuk kartun 3 Dimensi ini sukses menarik hati penikmat film dunia khususnya para pecinta Doraemon. Beberapa Film Doraemon sebelumnya memang dibuat dalam bentuk kartun 2 Dimensi, sebut saja "Doraemon dan Raja Matahari", "Doraemon di Negeri Angin" dan lain-lain, sehingga kehadiran film "Stand by Me Doraemon" ini sangat dinantikan para penggemar Doraemon di seluruh Dunia. Film ini rilis pada bulan Agustus 2014 dan diputar beberapa negara di dunia, tidak hanya di Jepang. 

Film yang disutradari oleh Takashi Yamazaki dan Ryuichi Yagi ini memang sangat bagus kawan. Tidak seperti Film-film sebelumnya yang ceritanya tentang petualangan Doraemon dan kawan-kawan di sebuah negeri fantasi atau luar angkasa, Film yang ditaksir mendapatkan Keuntungan kotor mencapai 170 Juta Dollar US ini menceritakan tentang awal pertemuan Doraemon dan Nobita sekaligus menceritakan awal persahabatn abadi mereka. Ceritanya sangat menyentuh kawan, ente semua yang belum lihat segera nonton deh sebelum kehabisan (dikira Bensin yak). Ada beberapa momen yang dijamin membuat kawan sekalian mbrebes mili alias nangis. Yang paling membuat ane tersentuh adalah ketika Doraemon harus kembali ke abad 22 dan meninggalkan Nobita. Bayangkan ketika kita punya Sahabat dan dia meninggalkan kita untuk selama-lamanya (hiks hiks). 

di bawah ini adalah kata-kata yang menurut ane sangat menyentuh kawan. Saat itu Nobita yang diprediksi di masa depan akan menikah dengan Jaiko (Adik Giant) berjuang mati-matian agar masa depannya berubah dan kelak menikahi Sizuka (Perempuan yang disukai Nobita). Ditengah usahanya itu Nobita mengahdapi kegagalan demi kegagalan. Hal itu membuatnya merasa tidak punya harapan dan tidak pantas untuk Sizuka. Dan inilah yang dikatakan Nobita : 


Nobita         : Aku menyerah untuk menikahi sizuka.
Doraemon   : Kenapa? Apa kamu sudah tidak menyukainya? 
Nobita         : Aku sangat menyukainya. Dia segalanya bagiku. 
Doraemon   : Lalu kenapa? 
Nobita         :  

"Aku berpikir keras tentang ini. Jika dia menikahiku, selamanya dia tidak akan bahagia.
Hingga kini aku hanya memikirkan diriku sendiri. 
Tapi jika aku benar-benar peduli pada Shizuka,dia lebih baik tidak bersama diriku. 
Berat untuk mengucapkan peripasahan. Tapi lebih berat lagi berpikir bahwa aku akan membuatnya tak bahagia."


Tuh kan jadi BAPER! So Sweet kan si Nobita. ehmmmm.... Dalem kata-katanya kawan. Semoga postingan yang gado-gado ini bisa jadi inspirasi kawan sekalian. Sekian dulu ya...

Promkes pada Pasangan Usia Subur dengan Metode Buzz Group

BAB 2
PEMBAHASAN

 
2.1 Konsep Buzz Group
2.1.1 Definisi Buzz Group
Buzz Group merupakan metode yang digunakan untuk membagi kelompok diskusi besar menjadi kelompok-kelompok kecil. Sasaran dari kelompok kecil langsung diberi permasalahan. Dalam buzz group permasalahan yang diberikan dapat berbeda dengan kelompok lain. Setelah diberi permasalahan setiap kelompok mendiskusikan masalahnya tersebut dan selanjutnya membuat kesimpulan. Diskusi kelompok kecil (buzz group) adalah salah satu cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan melihat berbagai macam aspek permasalahan dan dilakukan dengan bertukar pikiran secara teratur dan terarah. Diskusi ini dapat diperoleh suatu kesimpulan mengenai masalah tersebut (Efendi & makhfudli, 2013).

2.1.2 Karakteristik buzz group
Menurut Sastra (2011), diskusi kelompok kecil atau Buzz Group ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Terdapat dua ketua  yaitu sebagai fasilitator dan satunya sebagai moderator sekaligus berperan sebagai pemimpin diskusi dalam kelompok kecil.
  2. Melibatkan sejumlah orang yang terbagi dalam beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 3-7 orang.
  3. Waktu terbatas, setiap kelompok kecil harus melakukan diskusi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sehingga saat waktu habis setiap kelompok telah siap dengan hasil diskusinya masing-masing.
  4. Memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai bersama, yakni ingin memecahkan suatu masalah yang sama dengan kerjasama antar kelompok.
  5. Berlangsung dalam situasi tidak terlalu formal. Artinya semua anggota kelompok atau peserta bisa saling mendengar dan beradu pandang serta berkomunikasi dengan yang lain.
  6. Pembicaraan tidak berurutan tapi dilakukan dengan spontanitas. Sehingga akan terdengar seperti dengungan-dengungan namun tetap berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis.
  7. Adanya istilah diskusi kecil dan diskusi besar atau evaluasi. Diskusi kecil merupakan diskusi antar anggota kelompok, sedangkan diskusi besar adalah suatu diskusi yang dipimpin oleh fasilitator dimana tiap juru bicara melaporkan hasil diskusinya dan terjadi sharing antar kelompok.
2.1.3 Prinsip pelaksanaan buzz group
Ada beberapa prinsip dasar Buzz Group yang harus dipenuhi menurut Sastra (2011), antara lain:
  1. Terdapat dua ketua, yaitu: ketua Buzz group yang bertugas memimpin diskusi besar dan ketua kelompok kecil (moderator) yang memimpin diskusi pada kelompok kecil.
  2. Anggota diskusi dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas masalah secara spesifik.
  3. Tiap kelompok melakukan diskusi sesuai waktu yang telah ditentukan.
  4. Penyatuan ide diperlukan untuk mendapat hasil yang maksimal.

2.1.4 Tahapan buzz group
Langkah-langkah penggunaan metode diskusi jenis Buzz Groups menurut Zaini, dkk (2007: 124) secara singkatnya adalah sebagai berikut:
  1. Langkah-langkah dan strategi ini biasanya dimulai dengan memilih orang yang akan melaporkan hasil diskusi atau juru bicara sekaligus memimpin diskusi.
  2. Kemudian meminta kepada setiap anggota kelompok untuk mengemukakan satu ide untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah yang didiskusikan.
  3. Akhirnya mereka harus menghasilkan satu ide yang disepakati bersama untuk dilaporkan ke kelas besar. Untuk strategi ini biasanya kelompok diberi batasan waktu seperti lima menit, sepuluh menit atau lebih tergantung kompleksitas masalahnya.
2.1.5 Jumlah peserta
Peserta Buzz grou tidak terlalu banyak, agar ada  rasa tanggung jawab anggota kelompok akan berkurang. Sehingga pemecahannya tidak akan ditemukan. Maka dari itu jumlah peserta dalam Buzz group adalah 3 atau 6 orang dan paling banyak 10 orang.

2.1.6 Waktu
Waktu dalam buzz group biasanya 45 menit sampai satu jam. Sebenarnya, waktu maksimal yang dapat digunakan dalam Buzz Group adalah dua jam. Hal itu juga tergantung pada kesuitan dari  masalah yang dibahas.

2.1.7 Perencanaan Kegiatan Penyuluhan
Sebelum Kegiatan Penyuluhan dilakukan maka dilakukan perencanaan dan persiapan terlebih dahulu.
Kegiatan-kegiatan persiapan tersebut adalah:
  1. Fasilitator menyusun rancangan tindakan berupa silabus, satuan layanan, dan materi diskusi buzz group.
  2. Fasilitator mempersiapkan angket dan lembar observasi untuk masing-masing pembantu pelaksana.
  3. Fasilitator menetapkan moderator diskusi kecil buzz group.
  4. Fasilitator membagi peserta ke dalam kelompok kecil.
  5. Fasilitator melakukan pembagian moderator pada masing-masing kelompok.
  6. Fasilitator memberikan pengarahan kepada setiap moderator berkaitan dengan subbab topik yang akan didiskusikan dan mekanisme pelaksanaan diskusi buzz group agar diperoleh kesamaan persepsi antara moderator dengan peserta.

2.2 Konsep Pasangan Usia Subur
2.2.1 Definisi Pasangan Usia Subur
Pasangan usia subur adalah pasangan suami istri dengan rentang usia antara 15-49 masih haid atau pasangan suami stri yang istri berumur kurang dari 15 tahun dan sudah haid atau istri sudah berumur 50 tahun, tetapi masih haid (BKKBN, 2009 : 8).
Menurut Pedoman Podes 2008, Definisi PUS adalah pasangan suami istri yang masih berpotensi untuk mempunyai keturunan atau biasanya ditandai dengn belum datangnya waktu menopause (terhenti menstruasi bagi istri).

2.2.2 Proses Belajar Orang Dewasa
Proses belajar orang dewasa tentu sangat terkait dengan karakteristik usia perkembangannya. Dewasa berdasar dimensi psikologis dapat dilihat dan dibedakan dalam tiga kategori yaitu: dewasa awal (early adults) dari usia 16 sampai dengan 20 tahun, dewasa tengah (middle adults) dari 20 sampai pada 40 tahun, dan dewasa akhir  (late adults) dari 40 hingga 60 tahun (Kamil, tth).

Orang dewasa sebagai peserta didik berbeda sekali dengan anak usia dini dan remaja. Proses pembelajaran orang dewasa sangat unik karena proses belajar akan berlangsung apabila mereka terlibat langsung, ide dapat dihargai, dan materi ajar yang benar-benar dibutuhkan atau berkaitan dengan profesi serta hal baru bagi mereka (Najamuddin, tth).

Menurut Saraka tahun 2001 dalam (Kamil, tth), pada umumnya orang dewasa mereka memiliki kemampuan membaca, menulis, menghitung,  menguasai kemampuan verbal dan kecakapan mengambil keputusan yang relevan dengan kebutuhan pribadi serta tuntutan sosialnya. Karakteristik orang dewasa beragam sekali. Oleh karena itu diperlukan juga pemahaman mengenai bagaimana orang dewasa belajar untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

Menurut Pannen dan Malati (1994), proses belajar orang dewasa mempunyai beberapa tahapan, yaitu :
  1. Kesadaran, yaitu pengenalan terhadap materi yang dipelajari
  2. Pemahaman, mulai dapat memahami konsep atau prinsip bahan yang dipelajari
  3. Keterampilan, bila di dalam proses pembelajaran diberikan kesempatan untuk praktek, peserta akan dapat mencapai tahap penguasaan keterampilan
  4. Penerapan pengetahuan dan keterampilan
  5. Sikap, setelah menerapkan pengetahuan dan mempraktekkan peserta akan mempunyai sikap tertentu
Berdasarkan tahapan tersebut, ketika memulai proses pembelajaran orang dewasa tersebut harus menyadari betul kebutuhan belajarnya dan keterkaitan materi yang dipelajari terhadap kebutuhan tersebut. Kesadaran ini akan mendorong mereka untuk memahami pengetahuan dan menguasai keterampilan yang harus dipelajari. Selanjutnya menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari. Konsekuensi dari pengalaman setelah menerapkan tersebut, akan muncul sikap, baik positif maupun negatif. Tentu saja ketika orang dewasa mendapatkan manfaat dari hal yang dipelajari akan muncul sikap positif dan sebaliknya apabila mereka tidak mendapatkan manfaat apapun, muncul sikap negatif.

Ada beberapa asumsi mengenai perilaku belajar orang dewasa menurut Lindeman (Knowles, 1990), antara lain :
  1. Orang dewasa selalu termotivasi untuk belajar sesuai dengan kebutuhan akan pengalaman dan minat bahwa belajar akan memuaskan. Oleh karena itu, hal ini merupakan salah satu cara untuk memulai mengorganisasikan aktivitas belajar orang dewasa.
  2. Orientasi belajar orang dewasa orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan. Oleh karena itu unit belajar yang tepat untuk mengorganisasikan adalah situasi nyata, bukan hal yang bersifat imaginatif.
  3. Pengalaman merupakan sumber belaar yang paling kaya dalam belajar orang dewasa. Oleh karena itu, metode pendidikan untuk orang dewasa adalah analisis pengalaman.
  4. Orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri. Dengan demikian peran instruktur/trainer adalah menghubungkan proses eksplorasi yang seimbang dengan mereka daripada hanya sekedar mentransfer pengetahuan.
  5. Perbedaan individu makin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Untuk itu, pembelajaran orang dewasa seharusnya memberikan perbedaan dalam gaya, waktu, tempat dan tahapan belajar.
Dengan adanya asumsi di atas, maka untuk menciptakan suasana pembelajaran orang dewasa yang efektif dan efisien perlu memperhatikan beberapa prinsip belajar bagi orang dewasa, yaitu :
  1. Partisipasi Aktif. Orang dewasa akan dapat belajar dengan baik apabila secara penuh mengambil bagian dalam aktivitas pembelajaran
  2. Materinya Menarik. Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila materinya menarik bagi dia dan ada dalam kehidupan sehari-hari
  3. Bermanfaat. Orang dewasa akan belajar dengan sebaik mungkin apabila apa yang dipelajari bermanfaat dan dapat diterapkan
  4. Dorongan dan Pengulangan. Dorongan semangat dan pengulangan terus-menerus akan membantu orang dewasa untuk belajar lebih baik
  5. Kesempatan Mengembangkan. Orang dewasa akan belajar sebaik mungkin apabila dia mempunyai kesempatan yang memadai untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya
  6. Pengaruh Pengalaman. Proses belajar orang dewasa dipengaruhi oleh pengalamanpengalamannya yang lalu dan daya pikirnya
  7. Saling Pengertian. Saling pengertian yang lebih baik akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran
  8. Belajar Situasi Nyata. Orang dewasa akan lebih banyak belajar dari situasi kehidupan nyata
  9. Pemusatan Perhatian. Orang dewasa tidak dapat memusatkan perhatian untuk waktu yang lama kalau hanya mendengar saja
  10. Kombinasi Audio dan Visual. Orang dewasa mencapai retensi (penyimpanan) tertinggi melalui kombinasi kata-kata dan visual

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Pembelajaran Orang Dewasa
Proses dan perilaku belajar orang dewasa sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Permasalahan-permasalahan yang terjadi ketika belajar, seringkali perlu dipahami dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Ada beberapa faktor fisik dan psikis yang mempengaruhi proses belajar pada orang dewasa. Faktor-faktor tersebut adalah :
  1. Faktor-faktor Fisik
  1. Faktor penglihatan dan pendengaran Seiring dengan bertambahnya usia, ketajaman penglihatan dan pendengaran mulai berkurang. Oleh karena itu sebaiknya peserta pembelajaran tidak terlalu banyak. Jumlah peserta diusahakan antara 15-25 orang, sehingga memungkinkan penataan kursi lebih dekat dengan sumber belajar. Media pembelajaran ditempatkan sedemikian rupa sehingga semua peserta dapat melihat dan mendengarnya dengan jelas.
  2. Faktor artikulasi Bertambahnya usia juga memungkinkan struktur alat ucap sudah mengalami perubahan, seperti gigi tanggal, perubahan organ pita suara, bibir menurun dan sebagainya yang mempengaruhi pelafalan seseorang. Pelafalan ini tentu saja mempengaruhi makna bahasa. Instruktur sebaiknya dapat memahami hal ini dan mengupayakan pelafalan dengan tepat.
  3. Faktor ketahanan tubuh dan penyakit Selain faktor-faktor fisik di atas, fungsi organ pun mulai berkurang, bahkan muncul beberapa penyakit. Hal ini tentu saja mengurangi ketahanan fisik maupun psikis. Dengan demikian, hal yang perlu dipertimbangkan adalah untuk tidak menjadwalkan proses belajar sampai larut malam, latihan fisik yang berlebihan dan pengaturan menu makan yang bergizi.
  1. Faktor-faktor Psikis
  1. Harapan masa depan Adanya harapan di masa depan dapat mempengaruhi semangat belajar. Semangat belajar akan muncul apabila materi yang dipelajari berkaitan dengan pengembangan karier di masa depan.
  2. Latar belakang sosial Lingkungan sosial peserta yang merupakan masyarakat belajar akan mempengaruhi belajar peserta. Kesempatan belajar akan dirasakan sebagai peluang berharga yang dapat meningkatkan kepercayaan diri serta statusnya di lingkungan sosialnya.
  3. Keluarga Latar belakang merupakan faktor yang dominan. Keluarga yang harmonis dan mendukung minat belajar akan memberikan dorongan besar untuk belajar. Keluarga dengan banyak anak dan dengan sedikit anak juga akan mempengaruhi sikap belajar.
  4. Daya ingat Daya ingat untuk orang yang sudah beranjak dewasa akan semakin berkurang. Orang dewasa lebih mudah memahami sesuatu tetapi mudah melupakan. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran resume dan pengulangan materi sangat membantu.

Pendekatan dan Strategi Belajar
Orang dewasa yang melakukan proses belajar merupakan orang yang sudah mengalami berbagai peristiwa dan pengalaman. Hal yang diperlukan dalam belajar adalah hal-hal yang dapat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya selama ini. Oleh karena itu, Pannen dan Malati (1994) memberikan saran untuk strategi pembelajaran orang dewasa, yaitu :
  1. Memperbanyak diskusi
  2. Menyediakan acuan atau paling tidak memberikan informasi entang acuan yang digunakan dalam pembelajaran
  3. Meningkatkan partisipasi
  4. Menentukan rambu-rambu atau kriteria untuk mendampingi kebebasan yang diberikan pada peserta
  5. Menengahi perbedaan
  6. Mengkoordinasi dan menganalisis informasi
  7. Memberi ringkasan atau rangkuman
Adapun tindakan nyata bagi instruktur dalam pembelajaran orang dewasa adalah sebagai berikut :
  1. Mendengarkan pendapat peserta
  2. Turun bersama-sama peserta untuk mengetahui masalah yang dihadapi mereka
  3. Berdiskusi secara terbuka dengan peserta tentang masalah mereka dan bukan berbicara selaku orang yang lebih tahu terhadap orang yang tidak mengetahui atau lebih tinggi kedudukannya terhadap orang yang lebih rendah
  4. Menghormati peserta dengan meng”orang”kannya, yaitu dengan mengajukan pertanyaan, menaruh perhatian, membantu mereka menemukan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri dan tidak memberikan jawaban pertanyaan secara langsung.
Menurut Unesco tahun 1988 dalam (Kamil, tth), Sistem pembelajaran pada peserta didik dewasa dapat diarahkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhannya dan kebutuhan sumber serta bahan belajar, seperti pada: kelompok diskusi, bermain peran, simulasi, pelatihan, (group discusion, team designing, role playing, simulations, skill practice sessions).

2.2.3 Epidemiologi
Undang-Undang Nomor 57 Tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga menyatakan bahwa pembangunan keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat; dan keluarga berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Data SDKI 2012 menunjukkan tren prevalensi penggunaan kontrasepsi atau Contraception Prevalence Rate (CPR) di Indonesia sejak 1991-2012 cenderung meningkat, sementara tren angka fertilitas atau Total Fertility rate (TFR) cenderung menurun. Tren ini menggambarkan bahwa meningkatnya cakupan wanita usia 15-49 tahun yang melakukan KB sejalan menurunnya angka fertilitas nasional. Bila dibandingkan dengan target RPJMN 2014, CPR telah melampaui target (60,1 %) dengan capaian 61,9%, namun TFR belum mencapai target (2,39) dengan angka tahun 2012 sebesar 2,6. Data badan kependudukan dan keluarga berencana nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa pada tahun 2013 ada 8.500.247 PUS (pasangan usia subur) yang merupakan peserta KB baru, dan hamper separuhnya (48,56%) menggunakan metode kontrasepsi suntikan.

Indonesia menghadapi berbagai persoalan kehidupan baik masalah  geografis, kependudukan, kesejahteraan, kesehatan reproduksi dan kultur masyarakat. Kami akan mengidentifikasi masalah yang terjadi pada pasangan usia subur. Masalah pada pasangan usia subur banyak berkaitan dengan masalah kependudukan dan kesehatan reproduksi.

Pada masalah kependudukan menurut Manuaba (2007) laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,7-1,9%, perkiraan persalinan 5.500.000/bulan, angka kematian maternal 390/100.000 orang/tahun atau sekitar 195.000-200.000 persalinan hidup. Pada masalah kesehatan reproduksi merupakan masalah yang kompleks terutama terjadi pada perempuan. Kesehatan reproduksi dalam bidang obstetri mencakup:
  1. Fertilitas yang tidak terkendali
    • Jumlah anak lebih banyak
    • Jarak hamil terlalu pendek
    • Hamil pada umur terlalu tua
    • Kehamilan pada remaja
  2. Pemeriksaan antenatal care yang kurang
  3. Komplikasi kehamilan, persalinan, post partum dan kala nifas serta laktasi yang memerlukan perhatian serius.
  4. Penyakit yang menyertai kehamilan
  5. Komplikasi saat persalinan
Selain itu menurut  Muniroh (2013) mengemukakan bahwa masalah kependudukan di Indonesia yaitu meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dikaitkan dengan kualitas pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Metode kontrasepsi merupakan pilihan yang dapat mensukseskan program KB. Metode kontrasepsi mantap salah satunya MOW (Medis Operatif  Wanita) masih cenderung rendah dibandingkan dengan kontrasepsi lainnya. Di wilayah Kabupaten Jember tahun 2012 ada peserta KB sebanyak 96.340 peserta dan peserta MOW sebanyak 943 peserta.

Berdasarkan data dari SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) (2012) dalam Pusat Data & Informasi (2013) menyatakan bahwa unmet need pada tahun 2012 masih tinggi yaitu 8,5%, hanya turun 0,6% dalam 5 tahun terakhir sedangkan target RPJMN 2014 sebesar 6,5%. Unmet Need merupakan proporsi wanita subur yang menikah atau hidup bersama (seksual aktif)yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kehamilan, tetapi tidak menggunakan alat atau cara kontraasepsi.

2.2.4 Masalah Kesehatan pada Pasangan Usia Subur
Masalah yang banyak terjadi pada pasangan usia subur. Pasangan usia subur termasuk pada tahap perkembangan keluarga baru menikah hingga memiliki anak terakhir. Pada tahap keluarga baru menikah memiliki tiga tugas perkembangan keluarga yaitu membentuk pernikahan yang memuaskan bagi satu sama lain, mampu berhubungan secara harmonis dengan sanak saudara dan perencanaan keluarga (keputusan untuk menjadi orang tua).

Menurut Goldenberg, 2000 & Heinrich, 1996 dalam Friedman (2003) menyatakan bahwa banyak pasangan yang mengalami masalah dalam penyesuaian seksual. Sering kali karena pengabaian dan kesalahan informasi yang menyebabkan pengharapan tidak realistik dan kekecewaan. Selain itu, banyak pasangan yang membawa kebutuhan dan hasrat mereka yang tidak terselesaikan ke dalam hubungan, hal ini akan memberi pengaruh buruk dalam hubungan seksual.

Pada tugas perkembangan kedua, pasangan yang baru menikah akan menghadapi tugas perpisahan diri mereka dari keluarga masing-masing, membentuk keluarga yang baru dan menjalani hubungan yang berbeda dari orang tua sebelumnya karena harus mampu beradaptasi dengan mertua dan saudara baru.

Sedangkan pada tugas perkembangan ketiga, pasangan yang baru menikah ingin memiliki atau tidak memiliki anak dan menetapkan waktu kehamilan merupakan keputusan yang penting.
Berdasarkan ketiga tugas perkembangan pada keluarga baru menikah di atas, yang menjadi perhatian pelayanan kesehatan adalah penyuluhan, konseling dan komunikasi mengenai penyesuaian peran seksual dan pernikahan, keluarga berencana serta kesiapan menjadi orang tua. Apabila kurang mendapat informasi maka akan timbul berbagai masalah seksual, emosional, ketakutan, perasaan bersalah, kehamilan yang tidak direncanakan, dan penyakit kelamin. 

Pada tahap keluarga kedua Childbearing yaitu keluarga pada tahap melahirkan anak pertama hingga anak tertua usia 30 bulan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini yaitu:
  1. Membentuk keluarga muda sebagai unit yang stabil yaitu menggabungkan bayi baru lahir ke dalam keluarga
  2. Memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik mengenai tugas perkembangan dan kebutuhan setiap anggota keluarga karena pada situasi ini suami, istri dan anak harus mempelajari peran barunya sementara unit keluarga inti mengalami pengembangan fungsi dan tanggung jawabnya.
  3. Mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan
  4. Memperluas hubungan dengan keluarga besar menambah peran menjadi kakek dan nenek.
Pada tahap ini pola komunikasi sangat penting karena banyak perubahan dan proses adaptasi yang harus dilalui baik dari istri, suami, anak dan anggota keluarga lain. Peran menjadi orang tua harus benar-benar dipersiapkan.

Perhatian yang diberikan oleh pelayanan kesehatan terhadap keluarga dengan tahap perkembangan ini yaitu:
  1. Persiapan istri untuk pengalaman melahirkan
  2. Transisi menjadi orang tua
  3. Perawatan bayi
  4. Perawatan bayi yang sehat
  5. Mengenali secara dini dan menangani masalah-masalah kesehatan fisik anak secara tepat
  6. Kebutuhan imunisasi anak
  7. Pertumbuhan dan perkembangan yang normal
  8. Keluarga berencana agar tidak terjadi kehamilan jarak dekat dengan kehamilan sebelumnya
  9. Interaksi keluarga
  10. Praktik kesehatan yang baik misalnya pola tidur, pola nutrisi seimbang, dan olahraga
Tahap keluarga ketiga yaitu keluarga dengan anak prasekolah dimulai usia anak pertama 2,5 tahun sampai 5 tahun. Pada tahap ini jumlah anggota keluarga bisa 3-5 orang karena sudah ada saudara baru. Kehidupan keluarga pada tahap ini menjadi sangat sibuk. Pasangan usia subur harus mampu mempertahankan pernikahan tetap hidup dengan baik. Pasangan usia subur pada tahap ini akan sibuk dengan pekerjaan, sibuk dengan tahap dan perkembangan anak. Berikut beberapa tugas perkembangan keluarga pada tahap ketiga yaitu:
  1. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga akan rumah, ruang, privasi, dan keamanan yang memadai
  2. Mensosialisasikan anak
  3. Mengintegrasikan anak kecil sebagai anggota keluarga baru, sementara tetap memenuhi kebutuhan anak lain
  4. Mempertahankan hubungan yang sehat di dalam keluarga termasuk hubungan pernikahan, hubungan orang tua dengan anak dan hubungan keluarga dengan keluarga besar serta komunitas
Perhatian pelayanan kesehatan terhadap perkembangan keluarga pada tahap ini yaitu:
  1. Akan banyak masalah penyakit menular pada anak, cedera akibat jatuh, luka bakar, keracunan dan cedera lain yang terjadi.
  2. Hubungan psikososial keluarga termasuk hubungan pernikahan
  3. Hubungan sibling
  4. Keluarga berencana
  5. Kebutuhan dalam pertumbuhan dan perkembangan
  6. Isu-isu tentang hal menjadi orang tua
  7. Informasi terkait penganiayaan dan pengabaian anak

2.2.5 Peran Perawat Komunitas dalam Promosi Kesehatan
Perawat mempunyai dua peran dalam kesehatan komunitas, yaitu sebagai pendidik dan penyuluh kesehatan serta sebagai pelaksana keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarat yang merupakan bagian dari promosi kesehatan. Diharapkan dengan peran perawat tersebut, visi promosi kesehatan dapat tercapai.

Peran perawat sebagai pendidik atau penyuluh kesehatan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  1. Mengkaji kebutuhan klien untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan dalam penyuluhan katau pendidikan kesehatan. Dari hasil pengkajian diharapkan dapat diketahui tingkat pengetahuan klien, informasi apa yang diperlukan klien, dan apa yang ingin diketahui dari klien.
  2. Meningkatkan dan memelihara kesehatan klien melalui penyuluhan atau pendidikan kesehatan.
  3. Melaksanakan penyuluhan atau pendidikan kesehatan untuk pemulihan kesehatan antara lain tentang pengobatan, higiene, perawatan, serta gejala dan tanda-tanda bahaya.
  4. Menyusun program penyuluhan atau pendidikan kesehatan baik untuk topik sehat ataupun sakit seperti nutrisi, latian, penyakit, dan pengelola penyakit.
  5. Mengajarkan kepada klien informasi tentang tahap perkembangan.
  6. Membantu klien untuk memilih sumber informasi kesehatan dari buku-buku, koran, TV, teman, dan lainnya.
            Peran perawat sebagai pelaksana konseling keperawatan antara lain:
  1. Memberikan informasi, mendengarkan secara objektif, memberikan dukungan, memberikan asuhan, dan menjaga kepercayaan yang diberikan klien
  2. Membantu klien untuk mengidentifikasi masalah serta faktor-faktor yang memengaruhi.
  3. Memberikan petunjuk kepada klien untuk mencari pendekatan pemecahan masalah dan memilih cara pemecahan masalah yang tepat.
  4. Membantu klien menentukan pemecahan masalah yang dapat dilakukan



Lampiran 2
Satuan Acara Penyuluhan
Sasaran                 :Kelompok Pasangan Usia Subur di Puskesmas X
Hari/Tanggal        : Kamis/10 Desember 2015
Tempat                  : Puskesmas X
Pelaksana              : Mahasiswa Keperawatan
Waktu                   : Pukul 08.00 – 10.00 WIB

  1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapat promosi kesehatan selama 45 menit, Kelompok Pasangan Usia Subur di Puskesmas X dapat menambah pengetahuan tentang keluarga berencana (KB).
  1. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapat promosi kesehatan,Kelompok Pasangan Usia Subur dapat :
  1. Mengetahui definisi keluarga berencana(KB)
  2. Mengetahui jenis-jeniskeluarga berencana(KB)
  3. Mengetahui cara kerjadan efektifitas dari jenis keluarga berencana(KB)
  1. Materi
  1. Konsep pemahaman keluarga berencana (KB)
  2. Konsep pilihan jenis alat kontrasepsi
  3. Konsep cara kerja dan efektifitas dari jenis alat kontrasepsi
  1. Metode
  1. Buzz Group
  1. Media
  1. LCD
  2. Microfon
  3. Leaflet
  4. Kertas
  5. Bolpoin
  1. Setting Tempat


  1. Pelaksanaan
No
Waktu
Kegiatan Promosi Kesehatan
Kegiatan Peserta
1
15 MenitPembukaan: (Fasilitator)
  1. Membuka kegiatan dengan mengucapkan salam
  2. Memperkenalkan diri
  3. Kontrak waktu
  4. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan.
  5. Menyebutkan materi promosi kesehatan yang akan diberikan

  1. Menjawab salam
  2. Mendengarkan
  3. Memperhatikan


2
20 MenitPelaksanaan : (Fasilitator)
Mengkaji pengetahuan kelompok pasangan subur dan membuka persepsi kelompok mengenai pentingnya kontrasepsi.

  1. Mendengarkan dan memperhatikan

3
30 menitDiskusi:
  1. Fasilitator membagi peserta menjadi 3 kelompok kecil
  2. Masing-masing kelompok mendapat sub bab berbeda
Kelompok 1
: jenis-jenis kontrasepsi alami, cara penggunaan, dan kelebihan&kekurangan
Kelompok 2
 : jenis-jenis kontrasepsi tidak permanen, cara penggunaan, dan kelebihan&kekurangan

  1. 2 kelompok bergabung dan mempresentasikan hasil diskusi. Masing-masing saling menanggapi, bertanya atau menambahkan.
  2. Fasilitator memberikan tambahan penjelasan kepada semua peserta peserta diskusi mengenai maksud dari materi yang dibahas dalam diskusi sehingga peserta akan dapat memahami dan memilih kontrasepsi yang baik.

  1. Berdiskusi

4
15 MenitEvaluasi :
  1. Moderator, fasilitator dan para peserta mengevaluasi proses diskusi buzz group yang telah berlangsung.
  2. Moderator, fasilitator, dan para peserta membuat kesimpulan dari pelaksanaan diskusi buzz group

  1. Evaluasi bersama moderator dan fasilitator

5
10  MenitTerminasi :(Fasilitator dibantu moderator)
  1. Memberikan leaflet kepada peserta.
  2. Mengucapkan terima kasih kepada peserta
  3. Mengucapkan salam

  1. Mendengarkan dan membalas salam


  1. Evaluasi
  1. Kriteria struktur
  1. Kontrak waktu dan tempat diberikan pada hari sebelum acara dilakukan
  2. Pembuatan SAP, leaflet,  dilakukan maksimal 1 hari sebelumnya
  3. Peserta di tempat yang telah ditentukan
  4. Pengorganisasian penyelenggaraan promosi kesehatan dilakukan sebelum dan saat promosi kesehatan dilaksanakan.
  1. Kriteria proses
  1. Peserta antusias dan aktif dalam berdiskusi
  2. Pelaksanaan kegiatan sesuai SAP
  3. Pengorganisasian berjalan sesuai dengan job description
  1. Kriteria hasil
  1. Peserta dapat mengikuti acara dari awal sampai selesai
  2. Acara dimulai tepat waktu
  3. Peserta mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan yang telah dijelaskan


MATERI PENYULUHAN
Macam-macam Metoda Kontrasepsi
  1. Kontrasepsi Sederhana
  1. Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet tipis yang dipasang pada penis sebagai tempat penampungan sperma yang dikeluarkan pria pada saat senggama sehingga tidak tercurah pada vagina. Kelebihan dari kondom ini adalah mudah untuk digunakan. Sedang kekurangannya ia mempunyai efektifitas rendah (3-21 kehamilan per 100 perempuan).
  1. Coitus Interuptus
Coitus interuptus (senggama terputus) adalah menghentikan senggama dengan mencabut penis dari vagina pada saat suami menjelang ejakulasi. Kelebihan dari cara ini adalah tidak memerlukan alat/obat sehingga relatif sehat untuk digunakan wanita dibandingkan dengan metode kontrasepsi lain, sedang kekurangannya adalah risiko kegagalan dari metode ini cukup tinggi.
  1. KB Alami
KB alami berdasarkan pada siklus masa subur dan tidak masa subur, dasar utamanya yaitu saat terjadinya ovulasi. Untuk menentukan saat ovulasi ada 3 cara, yaitu : metode kalender, suhu basal, dan metode lendir serviks. Pada metode KB alami ini kelebihannya adalah tidak memerlukan alat. Sedang kekurangannya adalah cara ini sukar dilaksanakan dan membutuhkan waktu lama untuk ‘puasa’ serta isteri harus terampil dalam menghitung siklus haidnya setiap bulan.
  1. Diafragma
Diafragma merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mencegah sperma mencapai serviks sehingga sperma tidak memperoleh akses ke saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba fallopi). Kekurangan dari metode ini adalah biasanya terdapat keluhan rasa panas pada vagina dan terlalu banyak cairan.
  1. Spermicida
Spermicida adalah suatu zat atau bahan kimia yang dapat mematikan dan menghentikan gerak atau melumpuhkan spermatozoa di dalam vagina, sehingga tidak dapat membuahi sel telur. Spermicida dapat berbentuk tablet vagina, krim dan jelly, aerosol (busa/foam), atau tisu KB. Cukup efektif apabila dipakai dengan kontrasepsi lain seperti kondom dan diafragma. Kekurangannya sama seperti diafragma yakni biasanya terdapat keluhan rasa panas pada vagina dan terlalu banyak cairan.
  1. Kontrasepsi Hormonal
  1. Pil KB
Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesteron (Pil Kombinasi) atau hanya terdiri dari hormon progesteron saja (Mini Pil). Kelebihan dari penggunaan pil ini adalah ia mempunyai efektifitas yang cukup tinggi apabila digunakan secara teratur setiap hari. Sedang kekurangannya ia mempunyai beberapa efek samping diantaranya mual, perdarahan bercak, menekan produksi ASI hingga meningkatkan tekanan darah.
  1. Suntik KB
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik KB 3 bulan (DMPA). Cara kerjanya sama dengan pil KB. Efek sampingnya dapat terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan berat badan, pemakaian jangka panjang bisa terjadi penurunan libido, dan densitas tulang. Sedang kelebihannya, metode ini mempunyai efektifitas tinggi dan hanya diberikan sekali dalam sebulan ataupun tiga bulan sekali.
  1. Implant
Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit, biasanya dilengan atas. Keuntungan dari metode implant ini antara lain tahan sampai  5 tahun, kesuburan akan kembali segera setelah pengangkatan, efektifitasnya sangat tinggi, tidak terpengaruh faktor lupa dan tidak mengganggu ASI. Sedang kelemahannya, ia mempunyai efek samping berupa spotting (menstruasi tidak teratur) atau berat badan bertambah.
  1. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / IUD
AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik (polyethyline), ada yang dililit tembaga (Cu), dililit tembaga bercampur perak (Ag) dan ada pula yang batangnya hanya berisi hormon progesteron. Keuntungan dari IUD ini antara lain: efektifitasnya tinggi, dapat efektif segera setelah pemasangan, metode jangka panjang (bertahan lama) dan tidak ada interaksi dengan obat- obatan. Sedang kelemahannya diantaranya: setelah pemasangan dapat terjadi kram dalam beberapa hari, terjadi perubahan siklus dan lama serta volume darah haid serta akan timbul nyeri saat haid.

  1. Metoda Kontrasepsi Mantap (Kontap)
  1. Tubektomi
Suatu kontrasepsi permanen untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara mengikat atau memotong pada kedua saluran tuba fallopi (pembawa sel telur ke rahim). Kelebihannya efektifitasnya mencapai 99%, akan tetapi kerugiannya klien akan tidak dapat hamil selamanya.
  1. Vasektomi
Vasektomi merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran mani (vas defferent) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat senggama, efektifitasnya 99%. Sedang kelemahannya, sterilisasinya tidak bersifat segera karena pengeluaran sperma secara total membutuhkan waktu 3 bulan atau 20 kali ejakulasi sehingga selama masa ini perlu digunakan metode kontrasepsi lain (Suratun, 2008)


DAFTAR PUSTAKA

www.BKKBN.go.id., diakses pada tanggal 30 November 2015

Effendy, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Efendi, Ferry & Makhfudli. 2013. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Friedman, M. M. (2003). Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Riset, Teori, & Praktik, Ed.5. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Kamil, M. (tth). Andragogi. Direktori File UPI

Kementerian Kesehatan RI Pusat Data dan Informasi. 2014. Situasi dan Analisis Keluarga Berencanaa.  Jakarta Selatan

Manuaba, I. B. (2007). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Muniroh, I. D. (2013). Dukungan Sosial Suami terhadap Istri untuk Menggunakan Alat Kontrasaepsi Medis Opereatif Wanita (MOW). Jember: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember.

Najamuddin. (tth). Konsep Pembelajaran Orang Dewasa. Sumatera Utara: Kementerian Agama.

Pusat Data & Informasi, K. K. (2013). Buletin: Jendela Informasi Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Rosita. 2011. Pemahaman Perilaku Dan Strategi Pembelajaran Bagi Orang Dewasa. Yogyakarta: UNY

Sastra, Senjakala. 2011. Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group). Malang. Diakses melalui http://ningilun.blogspot.in/2011/03/diskusi-kelompok-kecil-buzz-group.html?m=1 pada 08 Desember 2015

www.bps.go.id, diakses pada tanggal 2 Desember 2015.