Asuhan Keperawatan pada Luka Bakar

Luka bakar merupakan cedera paling berat yang mengakibatkan permasalahan yang kompleks, tidak hanya menyebabkan kerusakan kulit namun juga seluruh sistem tubuh (Nina,2008)...

Materi Intepretasi EKG Normal

Elektrokardiografi adalah ilmu yg mempelajari aktivitas listrik jantung sedangkan Elektrokardigram ( EKG ) adalah suatu grafik yg menggambarkan rekaman listrik jantung...

Liburan Murah Bersama Alam di Hutan Pinus Pandaan

Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki puluhan destinasi wisata yang menarik. Banyak para pelancong yang akhirnya melabuhkan hatinya di Pasuruan...

Mahasiswa FKp Satu-Satunya Delegasi Keperawatan pada Kompetisi Riset Dunia

Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga mengirimkan satu tim delegasi untuk mengikuti Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting-14 (HISAS-14) di Hokkaido...

Kisah Inspiratif Dua Pedagang Keren

assalamualaikum wr.wb para pembaca yang budiman. Sudah lama ane gak posting-posting lagi. Hari ini izinkan ane berbagi pengalaman kepada pembaca semua...

Apa yang Membuat Saya Rindu Kampung Halaman?

Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi...

السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØ­ْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ ...... Selamat datang di BLOG RIO CRISTIANTO. Dukung Blog ini dengan like fanspage "Rio Cristianto". Thank you, Happy Learning... ^_^

Monday, 2 January 2017

Obat Herbal Tradisional: Rosella

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

  1. Definisi Rosella
Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa) merupakan anggota famili Malvaceae (Roselle dalam Wulandari, 2010). Rosella adalah tanaman jenis semak (perdu) yang ada di seluruh wilayah tropis dunia. Asal tanaman rosella adalah dari Afrika Barat. Di Indonesia, nama rosella sudah dikenal sejak tahun 1922. Tanaman rosella tumbuh subur, terutama di musim hujan. Tanaman rosella biasanya dipakai sebagai tanaman hias dan pagar. Setelah bertahun-tahun, tanaman ini dikenal dengan banyak khasiat yang bermanfaat bagi manusia (Daryanto, 2008).
Tanaman rosella berkembang biak dengan biji, tanaman ini tumbuh di daerha yang beriklim tropis dan sub tropis. Tanaman ini dapat tumbuh di semua jenis tanah, tetapi paling cocok pada tanah yang subur dan gembur. Tumbuhan ini dapat tumbuh di daerah pantai sampai daerah ketinggian 900 m di atas permukaan laut. Rosella mulai berbunga pada umur 2-3 bulan, dan dapat dipanen setelah berumur 5-6 bulan (Daryanto, 2008).

  1. Morfologi Rosella
    1. Batang
Tanaman rosella memiliki batang berwarna merah, berbentuk bulat, dan berbulu. Batang rosella dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 3-5 meter (Tanjong, 2011).

Gambar 1. Batang tanaman rosella

  1. Akar
Akar tanaman rosella termasuk ke dalam jenis akar tunggang (Tanjong, 2011).

  1. Daun
Tanaman rosella mempunyai daun berbentuk bulat telur, bertulang menjari, ujung tumpul, tepi bergerigi, dan pangkal berlekuk. Panjang daun rosella 6-15 cm dan lebar 5-8cm. Tangkai daun bulat dan pendek dengan warna hijau dan memiliki panjang 4-7cm (Tanjong, 2011).

  Gambar 2. Daun tanaman rosella

  1. Bunga
Tanaman rosella mempunyai bunga berwarna cerah. Kelopak bunganya berwarna merah gelap dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga sepatu. Bunga tanaman rosella merupakan bunga tunggal, yang berarti pada setiap tangkai hanya terdapat satu bunga. Bunga ini mempunyai 8-11 helai kelopak yang berbulu, panjangnya 1 cm, yang pangkalnya saling berlekatan dan berwarna merah. Bagian kelopak bunga inilah yang sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman oleh masyarakat (Tanjong, 2011).

Gambar 3. Bunga tanaman rosella

  1. Biji
Tanaman rosella mempunyai biji berbentuk seperti ginjal hingga triangular dengan sudut runcing, berbulu, panjang 5 mm, dan lebar 4 mm (Tanjong, 2011).

Gambar 4. Biji tanaman rosella

  1. Klasifikasi dan Jenis Rosella
Tanaman rosella dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio    : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio             : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas         : Dilleniidae
Ordo                : Malvales
Familia              : Malvaceae (suku kapas-kapasan)
Genus              : Hibiscus
Spesies            : Hibiscus sabdariffa L (Comojime, 2008)

Terdapat dua jenis varietas Rosella yaitu sabdariffa dan altissima.Varietas sabdariffa memiliki bunga berwarna merah atau kuning pucat, dapat dimakan dan sedikit mengandung serat. Sedangkan varietas altissima webster mengandung serat yang tinggi, namun bagian bunga Rosella jenis ini tidak dapat dimakan (Maryani, 2006)

  1. Kandungan dan Komposisi Kimia Rosella
Bunga rosella mempunyai kandungan zat kimia sebagai berikut : kalori, air, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, phosphor, besi, B-karotene, asam askorbat (Daryanto-Agrina, 2006).  Kandungan kimia Rosella tersebar pada bagian-bagian tanaman ini. Dilaporkan pada ekstrak kelopak bunga Rosella mengandung flavonoid, polisakarida dan asam-asam organik yang berperan dalam memberikan efek farmakologis tertentu (Daffalah, 1996; Husaini et al.,2004). Kandungan Rosella lainnya adalah fenol, antosianin, flavonol, protocatechuic acid (PCA) (Seca et al., 2001).

Kandungan senyawa kimia dalam kelopak bunga rosela
Tabel 1.Kandungan senyawa kimia dalam kelopak bunga rosella
Nama senyawa
Jumlah
Campuran asam sitrat dan asam malat
13%
Anthocyanin yaitu gassipetin (hydroxyflavone) dan hibsicin
2%
Vitamin C
0,004-0,005%
Protein
Berat segar
Berat kering

6,7%
7,9%
Falvonol gluciside hibiscritin
-
Falvonol gossypetine
-
Hibiscetine dan sabdaretine
Delphinidin 3-monogluside
-
Cyanidin 3-monoglucoside
-
Delphinidin
-

Keterangan : Hibscin merupakan pigmen utama yang terdapat didalam kelopak bunga. Pigmen tersebut telah diidentifikasi dengan nama Daphniphylline. Sementara itu akar rosella mengandung saponin dan asam tartrat.

Kandungan penting yang terdapat dalam kelopak rosella adalah pigmen antosianin yang membentuk flaponoid yang berperan sebagai anti oksidan. Flavonoid rosella yang terdiri dari flavonols dan pigmen antosianin. Pigmen antosianin diyakini sebagai antioksidan yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit degeneratif. Unsur penting lainnya yang terkandung dalam kelopak bunga rosella adalah grossypeptin, dan gluside hibiscin.

Selain mengandung vitamin C, kelopak bunga rosella juga mengandung vitamin A dan18 jenis asam amino yang diperlukan tubuh. Salah satunya adalah arginin yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh. Di samping itu , rosela juga mengandung protein, kalsium, dan unsur-unsur lain yang berguna bagi tubuh.

Kandungan zat lainnya yang terdapat pada tanaman rosela, dapat dilihat pada tabel nilai gizi berikut ini :

Tabel 2. Nilai Gizi dalam 100 gram kelopak bunga rosella
ZAT
Kandungan gizi
Air
Protein
Lemak
Serat
Karbohidrat
Abu
Kalsium
Fosforus
Zat besi
Betakaroten
Vitamin C
Thiamine
Riboflavin
Niacin
Acid askorbik
Kalori
9,2 g
1,145 g
2,61 g
12,0 g
8,88 g
6,90 g
1,296 mg
273,2 mg
8,89 mg
0,023 mg
11,2 mg
0,117 mg
0,277 mg
3,765 mg
6,7 mg
35,2 kal

Tabel 3. Kandungan gizi rosella
ZAT
100 g buah segar
100 g daun segar
100 g kelopak segar
100 g biji
Kalori
Air
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat
Abu
Kalsium
Fosfor
Besi
Betakaroten
Vitamin C
Tiamin
Riboflavin
Niasin
Sulfida
Nitrogen
49 kal
84,5 %
1,9 g
0,1 g
12,3 g
2,3 g
1,2 g
1,72 mg
57 mg
2,9 mg
300 ig
14 mg
-
-
-
-
-
43 kal
85,6 %
3,3 g
0,3 g
9,2 g
1,6 g
1,6 g
213 mg
93 mg
4,8 mg
4123 ig
54 mg
0,17 mg
0,45 mg
1,2 mg
-
-
44 kal
86,2 %
1,6 g
0,1 g
11,1 g
2,5 g
1,0 g
160 mg
60 mg
3,8 mg
285 ig
14 mg
0,04 mg
0,6 mg
0,5 mg
-
-
-
7,6 %
24,0 %
22,3 %
-
15,3 %
7,0 %
0,3 %
0,6 %
-
-
-
-
-
-
0,4 %
23,8 %

Tabel 4. Kandungan asam lemak dalam biji rosella
Jenis asam lemak
Jumlah
Asam miristin
Asam palmanin
Asam palmitoleik
Asam stearat
Asam oleat
Asam linoleat
2,1 %
35,2 %
2 %
3,4 %
34 %
14,4 %

Tabel 5. Kandungan sterol dalam minyak biji rosella
Jenis sterol
Jumlah
B-sitosterol
Kampasterol
Kolesterol
Ergosterol
61,3 %
16,5 %
5,1 %
3,2 %

Minyak biji rosela mempunyai kandungan yang menyerupai minyak biji jarak, sehingga dapat dipakai sebagai pengganti minyak jarak kasar. Kelopak rosela, bagian yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan juga mengandung sejumlah asam amino yang terdapat dalam tanaman ini diantaranya arginine, cystine, histide, isoleucine, leucine, lysine, methionine, phenylalanine, threnine, trythopan, tyrosin, valine, aspartic acid, glutamic, acid alanine, glycine, proline, dan serine.

  1. Perkembangbiakan Tanaman Rosella
Tanaman rosella berkembang biak secara generatif yaitu dengan biji, tanaman ini tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan sub tropis. Tanaman ini dapat tumbuh di semua jenis tanah, tetapi paling cocok pada tanah yang subur dan gembur. Tumbuhan ini dapat tumbuh di daerah pantai sampai daerah dengan ketinggian 900 m di atas permukaan laut. Tanaman rosela lebih sering dikembangbiakkan dengan biji yang disebar ditahap penanaman. Bibit juga dapat diperoleh dari stek cara ini jarang digunakan karena hasil produksinya akan mempunyai kualitas yang rendah. Rosella mulai berbunga pada umur 2-3 bulan, dan dapat dipanen setelah berumur 5-6 bulan. (Anonim, 2010).
Budidaya Tanaman Rosella :
  1. Persemaian
SebeLum disemaikan, biji direndam seLama satu hari satu malam LaLu dipilih yang tenggeLam dengan bentuk butiran – butiran yang baik. Biji dapat Langsung disemaikan pada Lahan persemaian yang sudah dioLah dan diairi. SeteLah tumbuh maka bisa Langsung dipindah ke ke poLybag ataupun menunggu cukup besar untuk Langsung dipindah ke Lahan produksi..

  1. Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan pembajakan tanah secara membujur dan meLintang. Tanah dicampur pupuk dasar berupa pupuk kandang, Lahan diLarik dengan jarak antar Larik 1,5 m.

  1. Penanaman
Untuk Lahan yang Langsung dari biji makan penanaman diLakukan dengan ditugaL tiap Lubang tanam diisi 2-3 biji. Sedangkan untuk penanaman bibit yang telah disemaikan di polybag maka setiap Lubang tanam diisi dengan 1-2 bibit.

  1. Pemupukan
Pemupukan pada Lahan sebelum tanam dengan pupuk kandang, sedangkan pada umur 3 dan 7-8 minggu seteLah tanam dipupuk Urea sebanyak 30-40 gram tiap tanaman.

  1. Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang paling banyak menyerang roseLLe adaLah hama kutu daun dan penyakit Phytopthora. Penanganannya adaLah dengan penyemprotan obat anti kutu ataupun berbagai jenis pestisida yang dijuaL bebas di toko-toko pertanian.

  1. Pemeliharaan
SeLama pertumbuhan tanaman perLu diwaspadi keberadaan guLma yang akan berdampak negatif, oLeh karena itu diLakukan penyiangan dengan frekuensi sesuai kondisi Lahan.

  1. Panen
Tanaman rosella  mulai menghasiLkan bunga pada umur 120 hari dan dapat dipanen secara terus-menerus daLam jangka waktu 3 buLan sebeLum akhirnya diganti dengan bibit baru. Per batang tanaman rosella dapat menghasilkan 1,5 kg bunga basah. Pemanenan menggunakan gunting untuk memotong tangkai bunga, kemudian dilakukan pemisahan biji.

  1. Manfaat Rosella
Seiring perkembangan jaman dan perkembangan penelitian yang semakin maju, banyak sekali tanaman yang dijadikan sebagai ramuan secara alami tanpa penggunaan bahan kimia. Salah satunya tanaman rosela. Tanaman rosela bukanlah tanaman asli Indonesia, melainkan berasal dari benua Afrika. Mulanya tanaman ini muncul bunga yang cantik yang cocok dijadikan penghias halaman rumah, akan tetapi sekarang tanaman ini banyak dimanfaatkan untuk pengobatan dan menjaga kesehatan, mulai dari daun, kelopak, bunga, sampai buahnya, karena di dalam tanaman ini banyak sekali mengandung zat yang diperlukan untuk kesehatan.  Cara mendapat manfaat dari tanaman rosela bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari dibuat sari buah, teh herbal, sirup, selai, campuran salad, puding, asinan, dan aneka minuman segar (Maryani dan Kristiana, 2012).

Bunga Rosela yang memiliki nama latin Hibbicus Sabdarifa ini mempunyai banyak khasiat dan juga manfaat untuk kesehatan. Biji rosela bisa dimanfaatkan untuk mengobati kekurangan darah, kelesuan, dan penyakit kulit. Daunnya digunakan untuk merawat luka, gigitan serangga, dan penyakit kulit.

Berikut adalah manfaat rosela bagi kesehatan adalah:
  1. Mengobati Batuk
Di Sudan bunga rosella dijadikan sebagai minuman sehari – hari yang dicampur dengan garam, merica, dan sari tebu. Minuman ini berkhasiat sebagai pencegah batuk dan penghilang efek mabuk, serta bermanfaat juga untuk diet dan pencegah diabetes.

  1. Mengurangi tekanan darah
Bunga rosela memiliki kandungan vitamin A, B, C, kalium, protein, zat besi yang berfungsi menstabilkan darah sehingga tidak menimbulkan penyakit hipertensi yang jika didiamkan akan menghambat aliran darah sehingga terjadi penyakit jantung. Kalsium yang terkandung dalam rosela akan membantu mengelurkan natrium atau garam yang terlalu tinggi di dalam tubuh. Kandungan natrium yang terlalu tinggi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.

  1. Membantu proses pencernaan (memperbaiki metabolisme tubuh)
Bunga Rosela kaya akan serat yang bagus untuk kesehatan saluran pencernaan terutama bila mengalami konstipasi. Vitamin B1 dan B12 yang terdapat dalam rosela membantu menjaga keseimbangn sistem saluran pencernaan.
Sementara itu, gossy peptin anthocyanin dan glucoside hibiscin yang dikandungnya dapat memperlancar peredaran darah, mencegah tekanan darah tinggi, dan meningkatkan kinerja usus (Mangan, 2009).

  1. Meningkatkan daya tahan tubuh (sebagai antioksidan)
Bunga Rosela mengandung vitamin C dan mineral essensial yang cukup tinggi yakni tiga kali lebih banyak dari anggur hitam, sembilan kali lebih banyak dari jeruk sitrus, sepuluh kali lebih banyak dari buah belimbing, dan 2,5 kali dari jambu biji, sehingga dapat mencegah sariawan dan menangkal radikal bebas dalam tubuh (antioksidan) dengan meningkatkan kekebalan tubuh (Sudewo, 2012).

  1. Memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit degeratif
Bunga rosela diketahui memiliki kandungan senyawa fenolik yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap penyakit degeneratif, seperti jantung, diabetes, kanker, dan lain - lain.

  1. Mencegah kanker, kista, dan tumor
Rosela memiliki khasiat detoksifikasi (menetralkan racun), sehingga menghambat tumbuhnya sel kanker. Selain itu, kandungan antioksidan yang tinggi mampu menangkap radikal bebas penyebab kanker (Mangan, 2009). Selain itu juga sangat membantu pecandu rokok yang dapat mengurangi dampak negatif dari ketergantungan nikotin dan berguna untuk mengurangi obat.

  1. Mencegah pengeroposan tulang
Kandungan kalsium, kalium, dan vitamin D serta zat besi yang ada pada bunga rosella dapat mencegah terjadinya pengeroposan tulang pada usia lanjut. 

  1. Obat asam urat
Tingginya kadar asam urat, kalsium dan natrium dalam darah, akan dinormalkan oleh tubuh dengan membuang kelebihan unsur tersebut melalui ginjal. Jika kondisi demikian dibiarkan berlangsung lama akan memberatkan kerja ginjal sebagai penyaring darah dalam tubuh. Kondisi ini dapat memicu gangguan pada ginjal. Dengan mengonsumsi rosela, ditemukan penurunan kreatinin, asam uratm sitrat, tatrat, kalsium, natrium, dan fosfat dalam urin. 

  1. Membuat kulit kencang
Bunga rosela kaya akan vitamin A, C, D, B1, B2, dan asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh. Kelopak bunga rosela mengandung arginin dan lisin yang sangan berperan dalam proses peremajaan sel tubuh sehingga kulit terasa lebih sehat, cerah, dan kencang (Sudewo, 2012).

  1. Menyembuhkan Batu Ginjal
Rosela dapat dikunakan untuk mencegah peradangan saluran kemih dan ginjal.

  1. Mengobati Lesu
Rosela juga bagus untuk stamina tubuh, sebab bermanfaat untuk meremajakan sel tubuh serta melindungi tubuh dari infeksi kuman dan virus.
  1. Meredakan panas dalam dan menurunkan demam tinggi
  2. Mengobati lemah syahwat (menambah vitalitas/ aprodisiak)
  3. Antidepresi (besifat sedatif)
  4. Menurunkan absorpsi alkohol
  5. Meredakan peradangan sendi
  6. Melancarkan buang air kecil (diuretik)

  1. Teh Rosella
Tanaman Rosella (Hibiscus Sabdariffa) yang dulu hanya ditanam sebagai penghasil serat  kini kembali populer. Tanaman rosella kini banyak dimanfaatkan salah satunya diolah menjadi minuman teh. Sebagai obat tradisional rosella berkhasiat sebagai anti septik, aprodisiak, diuretik, pelarut, sedatif, dan tonik.

Alat:
  1. Panci
  2. Kompor
  3. Pengaduk
  4. Gelas
  5. Penyaring

Bahan:
  1. 15 kuntum Bunga Rosella kering
  2. Kulit kayu manis kira-kira 4 cm
  3. 10 buah bunga cengkih
  4. 10 buah biji kapulaga
  5. Gula batu/ gula aren secukupnya

Prosedur :
  1. Rebus 500 ml air bersih dengan api kecil hingga mendidih.
  2. Masukan ke dalam air tersebut  berturut-turut kulit kayumanis, bunga cengkih, dan kapulaga.
  3. Setelah matang, matikan api dan masukkan bunga rosela dan gula batu/gula aren.
  4. Aduk hingga rata dan minumlah selagi hangat.

  1. Jelly Rosella
Alat :
  1. Kompor
  2. Pendingin
  3. Cetakan jelly
  4. Panci
  5. Pengaduk
  6. Penyaring

Bahan:
  1. 20 kuntum bunga rosella
  2. 1 sachet agar- agar putih
  3. 5 g selasih
  4. Gula secukupnya

Prosedur :
  1. Masak air hingga mendidih, masukkan bunga rosella, rebus hingga berwarna merah. Angkat dan saring.
  2. Masukkan agar- agar sachet putih kedalam air saringan bunga rosella dan didihkan lagi.
  3. Masukkan gula secukupnya sesuai selera, aduh hingga merata.
  4. Masukkan 5 gram selasih dan aduk rata.
  5. Matikan api dan dinginkan selama 15 menit.
  6. Tuangkan agar- agar rosella ke dalam cetakan agar- agar sesuai selera, dinginkan atau taruh di lemari es.
  7. Agar- agar siap dihidangkan.

  1. Ice Cream Rosella
Alat :
  1. 1 buah panci
  2. 1 pengaduk kayu
  3. 1 buah penyaring
  4. 1 buah blender
  5. 1 buah mixer
  6. 2 buah wadah baskom

Bahan :
  1. 300 gram rosella
  2. 750 ml air
  3. 750 gram gula pasir
  4. 2 lembar daun pandan
  5. 150 gram whipped cream bubuk
  6. 300 ml air dingin
  7. 500 ml santan (1butir kelapa)
  8. 1 sdt garam
  9. 3 sdm tepung maizena, larutkan dengan sedikit air
  10. 100 ml susu full cream
  11. 100 ml fresh cream

Prosedur :
  1. Rebus rosella, air, daun pandan, dan gula pasir dalam panci dengan api kecil sampai mendidih.
  2. Selagi menunggu air mendidih, mixer whipped cream dengan air es sampai mengembang, sisihkan di dalam kulkas.
  3. Saring rosella dan sisihkan daun pandan.
  4. Blender sisa rosela sampai halus lalu saring dan masukkan ke dalam air rebusan.
  5. Panaskan kembali (dengan api kecil) air rebusan tersebut ditambah santan, garam, dan larutan tepung maizena sambil diaduk perlahan, lalu dinginkan.
  6. Selagi menunggu air rebusan dingin, campurkan susu full cream dan fresh cream ke dalam adonan whipped cream, lalu aduk rata.
  7. Masukkan adonan tersebut ke dalam mixer lalu tambahkan perlahan dengan air rebusan rosella sambil terus diaduk hingga lembut.
  8. Masukkan ke dalam freezer minimal 6 jam.
  9. Setelah 6 jam, keluarkan es krim rosella dan mixer kembali, lalu masukkan ke dalam freezer kembali selama 3 jam.
  10. Keluarkan es krim rosella dan mixer kembali lalu bekukan dalam freezer selama 8 jam.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2010) tabloid agribisnis: prospek rosella di indonesia. Dipetik november 10, 2014 dari inspirasi agribisnis Indonesia.
Dwi Hastuti, N. (2012). Pembuatan Minuman Fungsional Dari Madu Dan Ekstrak Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn.) . Jurnal Teknologi Pangan, 31.
Daryanto. (2008). Tabloid Agribisnis Dwimingguan Agrina: Inspirasi Agribisnis Indonesia. Dipetik November 6, 2014, dari Inspirasi Agribisnis Indonesia: http://agrina-online.com.
Hrtiati, A., & Mulyani, S. (2009). Pengaruh Preparasi Bahan Baku Rosella dan Waktu Pemasakan Terhadap Aktivitas Antioksidan Sirup Bunga Rosella. Agrotekno, 20-24.
Mangan, Yellia (2009). Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker. Jakarta: Agromedika Pustaka. Diakses dari http://books.google.co.id/books?id=TYGph70jPdQC&pg=PA56&dq=khasiat+rosela&hl=id&sa=X&ei=gZNhVN7ZAs2tuQTej4KABw&redir_esc=y#v=onepage&q=khasiat%20rosela&f=false tanggal 11-11-2014 pukul 13:55 WIB.
Mardiah, S. 2009. Manfaat Bunga Rosella. Bandung: Yudhistira.
Maryani, Herti & Kristiana, Lusi. (2009). Khasiat dan Manfaat Rosella. Jakarta: Agro Media.
Setya Budi Usman, D. (2010). Karakteristik Dan Aktivitas Antiksidan Bunga Rosella Kering (Hibiscus sabdariffa L.). Jawa Timur: Skripsi UPN.
Sudewo, Bambang (2012). Basmi Kanker dengan Herbal. Jakarta: Transmedia Pustaka. diakses dari http://books.google.co.id/books?id=pDL2AwAAQBAJ&pg=PA78&dq=khasiat+rosela&hl=id&sa=X&ei=gZNhVN7ZAs2tuQTej4KABw&redir_esc=y#v=onepage&q=khasiat%20rosela&f=false tanggal 11-11-2014 pukul 14.07 WIB.
Tanjong, A. (2011). Skripsi: Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) terhadap Koloni Candida Albicans yang terdapat pada Plat Gigi Tiruan. Makassar: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
Tips Cantik dan Sehat Alami: Tips Kecantikan dan Kesehatan Alami (2013). Subhan Media diakses dari http://books.google.co.id/books?id=djPoAgAAQBAJ&pg=PA77&dq=khasiat+rosela&hl=id&sa=X&ei=gZNhVN7ZAs2tuQTej4KABw&redir_esc=y#v=onepage&q=khasiat%20rosela&f=false tanggal 11-11-2014 pukul 13:29 WIB.
Wulandari, B. D. (2010). Skripsi: Pengaruh Pemberian Seduhan Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) Dosis Bertingkat selama 30 Hari terhadap Gambaran Histologik Ginjal Tikus Wistar. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.






Obat Herbal Tradisional: Temulawak

BAB I
URAIAN MATERI TEMULAWAK

  1. Asal-Usul Penyebarannya
Temulawak termasuk salah satu jenis temu-temuan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Asia Tenggara. Temulawak sudah dimanfaatkan oleh mereka untuk berbagai keperluan (Afifah, 2003).

Temulawak, sebagaimana nama padanannya, Curcuma javanica, dipercaya sebagai tumbuhan asli Indonesia yang kemudian menyebar ke beberapa negara seperti Malaysia, Cina bagian selatan, Thailand, Birma, India dan Filipina. Tumbuhan yang diduga kuat berasal dari Pulau Jawa ini menyebar ke beberapa wilayah Indonesia, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan dan Sulawesi (Afifah, 2003).

Disebabkan penyebarannnya yang cukup luas, tanaman ini dikenal dengan berberapa nama daerah. Di Jawa Barat dikenal dengan nama koneng gede. Di Jawa Tengah dikenal dengan temolabak. Di Sumatera dikenal dengan tetemulawak dan kunyit ketumbu (Aceh) (Afifah, 2003).

  1. Uraian Tanaman
    1. Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Sub divisi        : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledonae
Ordo                : Zingiberales
Family             : Zingiberaceae
Genus              : Curcuma
Spesies             : Curcuma xanthorrhiza  ROXB

  1. Deskripsi
Penampakan temulawak sepintas hampir serupa dengan temu putih (Curcuma zedoria [Berg] Rosc). Hanya, warna bunga dan rimpangnya berbeda. Bunga temu putih berwarna putih dengan tepi merah, sedangkan warna bunga temulawak putih kuning atau kuning muda. Rimpang bagian dalam temu putih berwarna kuning muda, sedangkan rimpang temulawak berwarna jingga kecokelatan (Afifah, 2003).

Tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1m tetapi kurang dari 2m, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2–9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 – 84cm dan lebar 10 – 18cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43–80cm. Perbungaan lateral, tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9–23cm dan lebar 4–6cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8–13mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4.5cm helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1.25–2cm dan lebar 1cm. Sebagai tanaman monokotil, temulawak tidak memiliki akar tunggang. Akar yang dipunyai adalah rimpang. Rimpang yaitu bagian batang di bawah tanah. Rimpang disebut juga umbi bakar, umbi batang atau akar tinggal. Rimpang temulawak berukuran paling besar diantara semua rimpang genus Curcuma. Oleh karena itu walaupun nama daerah temulawak bermacam-macam, tetap mengandung arti sama yaitu temu yang besar (Afifah, 2003).

  1. Kandungan dan Senyawa Kimia
Rimpang temulawak mengandung zat kuning kurkumin, minyak asiri, pati, protein, lemak (fixed oil), selulosa dan mineral. Diantara komponen tersebut yang paling banyak kegunaannya adalah pati, kurkuminoid, dan minyak asiri (Afifah, 2003).

Pati merupakan komponen kimia terbesar dari rimpang temulawak. Pati temulawak berwarna putih kekuningan karena mengandung kurkuminoid. Kadar protein pati temulawak lebih tinggi dibandingkan dengan pati tanaman lain (Afifah, 2003).

Tabel 1. Komposis Temulawak
 

Pati merupakan komponen kimia terbesar dari rimpang temulawak. Pati temulawak berwarna putih kekuningan karena mengandung kurkuminoid. Kadar protein pati temulawak lebih tinggi dibandingkan dengan pati tanaman lainnya. Kadar protein pati temulawak sebesar 1,5%, sedangkan pati jagung hanya 0,8%, pati gandum 0,6%, dan  pati kentang 0,4%.

Pati temulawak dapat digunakan sebagai bahan makanan. Pati temulawak mudah dicerna, sehingga cocok digunakan sebagai makanan bayi atau makanan orang yang baru sembuh dari sakit dan sebagai campuran bahan makanan atau sumber karbohidrat. Pati temulawak juga dapat digunakan sebagai campuran pati lain, misalnya sebagai campuran pati sereal untuk mengurangi sifat basi pada roti atau sebagai pengental pada sirup.

Sementara itu, hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa kadar minyak asiri rimpang temulawak tidak kurang dari 6%, yang diperoleh melalui proses penyulingan. Minyak asiri temulawak mempunyai khasiat sebagai kolagoga (peluruh empedu). Minyak ini digunakan sebagai campuran obat rematik. Minyak temulawak mengandung beberapa zat, yakni seskuiterpen, a-curcumene, 1-sikloisoprenmyrcene, zingiberene, xanthorrhizol, turunan lisabolen, epolisid-bisakuron, bisakuron A, bisakuron B, bisakuron C, ketonseskuiterpen, turmeron, a-turmeron, a-atlanton, germakron, monoterpen, sineol, d-borneol,d-a-phellandrene, dan d-camphene.

Kurkuminoid pada temulawak terdiri dari kurkumin dan desmetoksikurkumin. Berbeda dengan kurkuminoid pada rimpang kunyit (Curcuma domestica Vahl), yang di samping mengandung dua komponen di atas, juga mengandung bisdesmetoksikurkumin. Karena kurkuminoid rimpang temulawak tidak mengandung bisdesmetoksikurkumin, rimpang temulawak lebih efektif untuk sekresi empedu dibandingkan dengan rimpang kunyit. Hal ini disebabkan aktivitas kerja bisdesmetoksikurkumin untuk sekresi empedu berlawanan atau antagonis dengan aktivitas kerja kurkumin dan desmetoksikurkumin.

Kurkuminoid mempunyai aroma khas, tidak toksik (tidak beracun), dan berbentuk serbuk dengan rasa sedikit pahit. Dalam suasana asam, kurkuminoid berwarna kuning atau jingga dan dalam suasana basa berwarna merah. (Said, 2007)

  1. Khasiat dan Manfaat
Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang ini mengandung 48-59,64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak asiri dan dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi. Manfaat lain dari rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti kolesterol, anti inflamasi, anemia, anti oksidan, pencegah kanker, dan anti mikroba.

Temulawak dapat dimanfaatkan sebagai obat, sumber karbohidrat, bahan penyedap masakan dan minuman serta pewarna alami untuk makanan dan kosmetika. Karenanya di dalam daftar tumbuhan obat Indonesia, temulawak termasuk tanaman prospektif untuk dikembangkan. Semua bagian tanaman temulawak dapat dimanfaatkan (Afifah, 2003).
         
  1. Efek Farmakologi
Umumnya, pengujian untuk melihat aktivitas farmakologi dilakukan terhadap hewan percobaan. Hasil penelitian mengenai daya kerja farmakologinya dapat dijadikan petunjuk terhadap khasiat terapeutik (unsur atau nilai pengobatan). Secara umum efek farmakologis zat aktif yang terkandung dalam rimpang temulawak dapat dilihat dalam tabel berikut (Afifah, 2003).

Tabel 2. Efek farmakologis zat aktif yang terkandung dalam rimpang temulawak
No
Nama Zat Aktif
Efek Farmakologis
1
Germakron
Antiinflamasi (antiperadangan), dan penghambat oedema (pembengkakan)
2
p- toluilmetil karbonol dan seskuiterpen d-kamper
Meningkatkan produksi dan sekresi empedu
3
Turmeron
Antimikroba (antibiotic)

  1. Sentra Penanaman
Tanaman ini ditanam secara konvensional dalam skala kecil tanpa memanfaatkan teknik budidaya yang standard, karena itu sulit menentukan dimana sentra penanaman temulawak di Indonesia. Hampir di setiap daerah pedesaan terutama di dataran sedang dan tinggi, dapat ditemukan temulawak terutama di lahan yang teduh.

  1. Syarat Pertumbuhan
  1. Iklim
Secara alami temulawak tumbuh dengan baik di lahan-lahan yang teduh dan terlindung dari teriknya sinar matahari. Di habitat alami rumpun tanaman ini tumbuh subur di bawah naungan pohon bambu atau jati. Namun demikian temulawak juga dapat dengan mudah ditemukan di tempat yang terik seperti tanah tegalan. Secara umum tanaman ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah beriklim tropis.
  1. Suhu udara yang baik untuk budidaya tanaman ini antara 19-30 oC
  2. Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan antara 1.000-4.000 mm/tahun.

  1. Media Tanam
Perakaran temulawak dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah baik tanah berkapur, berpasir, agak berpasir maupun tanah-tanah berat yang berliat. Namun demikian untuk memproduksi rimpang yang optimal diperlukan tanah yang subur, gembur dan berdrainase baik. Dengan demikian pemupukan anorganik dan organik diperlukan untuk memberi unsur hara yang cukup dan menjaga struktur tanah agar tetap gembur. Tanah yang mengandung bahan organik diperlukan untuk menjaga agar tanah tidak mudah tergenang air.
  1. Ketinggian Tempat
Temulawak dapat tumbuh pada ketinggian tempat 5-1.000 m/dpl dengan ketinggian tempat optimum adalah 750 m/dpl. Kandungan pati tertinggi di dalam rimpang diperoleh pada tanaman yang ditanam pada ketinggian 240 m/dpl. Temulawak yang ditanam di dataran tinggi menghasilkan rimpang yang hanya mengandung sedikit minyak atsiri. Tanaman ini lebih cocok dikembangkan di dataran sedang.

  1. Prosedur Pengolahan Temulawak
Berdasarkan manfaat dan kegunaannya untuk kesehatan, temulawak dapat diolah menjadi beberapa cara seperti berikut ini :
  1. Penambah Nafsu Makan 
Kandungan minyak atsiri dalam temulawak ternyata memberikan efek karminativum, sehingga mengkonsumsi temulawak dapat berguna untuk meningkatkan nafsu makan. Inilah alasan mengapa temulawak sangat dianjurkan untuk dikonsumsi anak-anak.

Cara Pengolahan: 
  1. Siapkan 25 gram temulawak, 10 gram asam jawa, dan gula merah secukupnya.
  2. Cuci temulawak hingga bersih dan kupas kulitnya.
  3. Memarkan temulawak hingga pecah (jangan tumbuk sampai halus).
  4. Masukan temulawak yang sudah dihancurkan tadi bersama dua bahan lainnya ke dalam panci bersama 600 ml air putih.
  5. Rebus kesemua bahan tadi hingga air rebusannya tinggal tersisa sekitar setengahnya saja.
  6. Tunggu sampai dingin kemudian saring

Cara pemakaian :
Minum secara teratur sehari satu kali.

  1. Mengobati Sakit Maag 
Kandungan serbuk rimpang ternyata mempunyai khasiat untuk memperbaiki dan menetralkan produksi asam lambung. Bahkan maag akut sekalipun akan berangsur-angsur sembuh jika kita telaten meminum air sari temulawak.

Cara Pengolahan: 
  1. Siapkan satu rimpang temulawak.
  2. Cuci sampai bersih lalu kelupas kulitnya.
  3. Iris temulawak tipis-tipis.
  4. Rebus dengan 5 gelas air putih.
  5. Tunggu sampai mendidih.

Cara pemakaian :
Minum teh temulawak ini secara teratur paling tidak satu gelas per hari. Pada penyajiannya bisa juga ditambahkan madu secukupnya sesuai selera pada teh temulawak yang sudah dingin.

  1. Menjaga Kesehatan Organ Hati
Rimpang temulawak memiliki efek hepatoprotektor yaitu sebagai detoksin (anti racun) pada organ hati manusia. Katagoga dalam temulawak memiliki khasiat menjaga kesehatan fungsi hati. Katagoga memproduksi empedu dalam hati dan merangsang pengosongan kandung empedu. Dalam uji klinik yang dilakukan pada temulawak, memberikan hasil enzim yang dapat berguna untuk menurunkan kadar SGOT dan SGPT dalam dosis 15-30 mg kurkumin.

Cara Pengolahan: 
  1. Siapkan 15-20 gram temulawak.
  2. Cuci hingga bersih lalu parut sampai halus.
  3. Campurkan sedikit air dalam ampas temulawak.
  4. Peras ampas temulawak sampai keluar air sarinya.
  5. Tambahkan 400 ml air putih.
  6. Rebus air sari temulawak hingga mendidih.

Cara pemakaian :
Minum secara teratur sehari satu kali.

  1. Mengurangi Radang Sendi
Kandungan kurkumin dalam temulawak sama dengan 100 mg fenibutazon yang mengurangi radang sendi dan nyeri. Cara kerjanya yakni dengan melakukan penghambatan perpindahan sel-sel leuksit kepada daerah radang atau dangan penghambatan pembentukan serta transportasi mediator radang yaitu prostagladin. Hasil pengujian memberikan hasil perbaikan pada penderita radang sendi.

Di India, telah lama menggunakan tanaman herbal selama ribuan tahun untuk mengobati dan mencegah peradangan seperti arthritis. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2009 dalam Journal of Alternative and Complementary Medicine , pasien yang diperiksa bermasalah pada radang sendi lutut meminum ekstrak temulawak dan ibuprofen setiap hari selama enam minggu. Pada akhir penelitian, para peneliti menemukan bahwa ekstrak temulawak bekerja sama dengan baik oleh ibuprofen, untuk mengurangi rasa sakit yang disebabkan oleh arthritis tanpa mengalami efek samping yang merugikan.

Cara pengolahan :
  1. Ambil 25 gram temulawak dan 20 gram jahe merah
  2. Bersihkan kedua bahan tersebut dan iris tipis-tipis
  3. Masukkan kedua bahan tersebut ke dalam panic
  4. Rebus dengan 400 cc air sampai mendidih hingga tersisa 200 cc
  5. Saring hasil air rebusan tersebut

Cara pemakaian :
Diminum satu gelas sehari.

  1. Membantu Menurunkan Lemak Darah
Manfaat temulawak menghasilkan fraksi kurkuminoid yang merupakan ekstrak temulawak, untuk membantu menurunkan kadar kolesterol total dan memberikan peningkatan pada kadar kolesterol HDL Zat kurkumaid diduga berperan dalam menurunkan lemak darah, yang tentu saja berdampak baik pada kesehatan jantung dan berdampak baik sistem kardiovaskuler dalam tubuh.

Cara pengolahan :
  1. Iris tipis-tipis 20 gram temulawak
  2. Keringkan irisan temulawak tersebut
  3. Tumbuk temulawak yang sudah kering hingga halus
  4. Seduh dengan air panas secukupnya

Cara pemakaian :
Diminum selagi hangat satu gelas sehari.

  1. Memperbanyak Produksi ASI 
Cara pengolahan: 
  1. Siapkan 7-10 jari temulawak dan tepung sagu secukupnya.
  2. Cuci temulawak sampai bersih lalu kelupas kulitnya.
  3. Parut temulawak sampai benar-benar halus.
  4. Campur sari temulawak ini dengan tepung sagu.
  5. Tuangkan air panas secukupnya lalu aduk hingga menjadi bubur.

Cara pemakaian :
Konsumsi bubur temulawak ini secara rutin. Pada penyajiannya bisa juga ditambahkan dengan gula merah sesuai selera.

  1. Mengatasi sariawan
Cara pengolahan :
  1. Cuci bersih 2 rimpang temulawak
  2. Potong tipis-tipis temulawak yang sudah dibersihkan
  3. Masukkan irisan tersebut ke dalam panci dengan asam kawak 1 jari
  4. Tambahkan dengan 2-3 gelas air
  5. Masak hingga mendidih selama 15 menit
  6. Saring hasil air rebusan tersebut
  7. Tambahkan dengan gula aren secukupnya

Cara pemakaian :
Ramuan ini diminum 2 kali satu gelas pada pagi dan sore hari. Lakukan secara rutin hingga sembuh.

  1. Mengatasi batuk
Cara pengolahan :
  1. Cuci bersih 2 rimpang temulawak dengan air
  2. Potong tipis-tipis temulawak yang sudah dibersihkan
  3. Masukkan irisan temulawak ke dalam panci.
  4. Tambahkan dengan 2-3 gelas air
  5. Masak hingga mendidih selama 15 menit
  6. Setelah dingin, saring hasil air rebusan tersebut
  7. Tambahkan madu dan perasan jeruk nipis secukupnya
  8. Aduk hingga madu dan perasan jeruk tercampur rata

Cara pemakaian :
Ramuan ini diminum 1 gelas dua kali sehari pada pagi dan sore hari hingga sembuh.

  1. Mengatasi demam
Cara pengolahan :
  1. Cuci bersih 2 rimpang temulawak dan 10 batang meniran dengan air
  2. Masukkan temulawak yang sudah dicuci ke dalam panci dengan bunga cengkeh 6 biji dan 3 gelas air
  3. Rebus campuran semua bahan tersebut dalam keadaan tertutup
  4. Didihkan selama kurang lebih 15 menit
  5. Setelah dingin, buka penutup panci
  6. Saring hasil air rebusan tersebut.
 
Cara pemakaian :
Ramuan ini diminum sehari tiga kali sebanyak satu gelas pada pagi, siang, dan sore hari. Lakukan beberapa hari hingga gejala demam hilang.

  1. Memacu ASI yang macet
Cara pengolahan :
  1. Parut 1 ½ rimpang temulawak
  2. Masukkan dengan 1 potong gula kelapa dan 2-3 sendok makan adonan sagu ke dalam panci.
  3. Rebus dengan1 liter air tunggu hingga mendidih
  4. Saring hasil air rebusan tersebut.

Cara pemakaian :
                  Diminum 2 kali sehari secara teratur.

  1. Mengatasi batu empedu
Cara pengolahan :
  1. Iris tipis-tipis 25 gram temulawak
  2. Masukkan irisan tersebut dengan 30 gram meniran dan gula aren secukupnya ke dalam panci.
  3. Rebus dengan 500 cc air sampai mendidih hingga tersisa 200 cc
  4. Saring hasil air rebusan tersebut
  5. Tunggu hingga dingin, maka siap untuk diminum

Cara pemakaian :
Diminum satu gelas sehari secara teratur.

  • Mengobati Radang Kandung Empedu
Sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Gastroenterology dan Hepatology, para pasien yang memakai suplemen kunyit setiap hari mengalami tingkat kekambuhan yang jauh lebih rendah dibandingkan pasien yang memakai plasebo selama enam bulan.

Cara pengolahan :
  1. Iris tipis-tipis 30 gram temulawak
  2. Masukkan irisan temulawak tersebut kedalam panci.
  3. Rebus dengan 500 cc air
  4. Didihkan hingga air rebusan tersisa 200 cc
  1. Saring hasil air rebusan tersebut
  2. Tunggu hingga dingin, maka siap untuk diminum

Cara pemakaian :
Diminum satu gelas sehari secara teratur.

  1. Menghilangkan Jerawat
Cara Pengolahan: 
  1. Siapkan satu jari rimpang temulawak.
  2. Cuci temulawak sampai bersih lalu memarkan.
  3. Rebus dalam 4 gelas air putih.
  4. Tunggu hingga mendidih sampai air rebusan tinggal tersesa setengahnya.

Cara pemakaian :
Tunggu sampai dingin dan minum satu gelas setiap dua kali sehari.

  • Mengatasi Gangguan Ginjal
Cara Pengolahan: 
  1. Siapkan 2 rimpang temulawak, satu genggam daun kumis kucing yang masih segar, 1 genggam daun kacabeling (meniran) segar, dan gula merah (gula jawa) secukupnya.
  2. Cuci semua bahan kecuali gula merah sampai bersih.
  3. Kupas rimpang temulawak lalu iris tipis-tipis.
  4. Masukkan semua bahan dalam panci.
  5. Rebus semua bahan dalam 1 liter air.
  6. Tunggu hingga air mendidih sampai air yang tersisa tinggal setengahnya saja.
  7. Saring air rebusan dari ampasnya.

Cara pemakaian :
Tunggu sampai dingin dan minum satu gelas sehari.

  • Pengobatan Penyakit Hepatitis B
Cara Pengolahan: 
  1. Siapkan 10 gram rimpang temulawak, 7 gram kunyit, 10 gram daun sambiloto kering, dan 40 gram alang-alang.
  2. Cuci semua bahan tadi sampai bersih.
  3. Memarkan temulawak dan kunyit, lalu rebus dalam 1 liter air bersama daun sambiloto dan alang-alang.
  4. Tunggu sampai mendidih dan hanya menyisakan setengah bagian airnya saja.

Cara pemakaian :
Tunggu sampai kering, saring, lalu minum 2 kali sehari 1/2 gelas. Pada penyajiannya bisa ditambahkan madu atau gula merah sesuai selera untuk menghilangkan rasa pahit. Disarankan untuk menambahkan madu saat minuman sudah dingin.

  1. Mengobati Penyakit pada Limfa
Cara pengolahan:
  1. Parut 2 rimpang temulawak dan ½ rimpang lengkuas
  2. Masukkan parutan temulawak dan lengkuas serta 1 genggan daun meniran ke dalam panci
  3. Rebus dengan 1 liter air sampai mendidih
  4. Saring hasil air rebusan tersebut
  5. Tunggu hingga dingin, maka siap untuk diminum

Cara pemakaian:
Diminum satu gelas sehari.

  1. Mengobati Sakit Pinggang
Cara pengolahan :
  1. Iris tipis-tipis 1 rimpang temulawak dan 1 rimpang kunyit sebesar ibu jari
  2. Masukkan irisan tersebut dengan 1 genggam daun kumis kucing ke dalam panci
  3. Rebus dengan 1 liter air hingga mendidih
  4. Saring hasil air rebusan tersebut
  5. Tunggu hingga dingin, maka siap untuk diminum

Cara pemakaian:
Diminum satu gelas sehari.

  1. Mengobati Sakit Kepala dan Masuk Angin
Cara pengolahan :
  1. Iris tipis-tipis 10-15 rimpang temulawak.
  2. Keringkan hasil irisan temulawak tersebut
  3. Setelah kering, tumbuk halus menjadi temulawak hingga menjadi tepung.
  4. Rebus tepung temulawak tersebut dengan 4-5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 3 gelas
  5. Saring hasil air rebusan tersebut
  6. Tunggu hingga dingin, maka siap untuk diminum

Cara pemakaian :
Diminum satu gelas sehari.

  1. Mengobati Sakit Perut dan Nyeri Saat Haid
Cara pengolahan :
  1. Parut 1 rimpang temulawak
  2. Masukkan parutan tersebut dengan 3 buah mata asam, 1 potong gula kelapa, dan garam secukupnya ke dalam panci.
  3. Rebus dengan 3-4 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 2 gelas.
  4. Saring hasil air rebusan tersebut
  5. Tunggu hingga dingin, maka siap untuk diminum

Cara pemakaian:
                  Diminum 2 kali sehari 1 gelas pada pagi dan sore.

  1. Menghilangkan Bau Amis Saat Haid
Cara pengolahan :
  1. Iris tipis-tipis 1 rimpang temulawak dan keringkan dengan cara diangin-anginkan
  2. Masukkan irisan temulawak dalam waskom/ rantang/ panci dengan 5 buah mata asam, dan 1 potong gula kelapa.
  3. Tambahkan 2 gelas air panas dan ditutup rapat selama kurang lebih 15 menit.
  4. Saring hasil dari air tersebut.

Cara pemakaian :
Diminum 3 kali sehari.

  1. Mengatasi Kesulitan Buang Air Besar
Cara pengolahan :
  1. Iris tipis-tipis 1 rimpang temulawak dan keringkan dengan cara diangin-anginkan
  2. Tambahkan 3 buah mata asam dan 1 potong gula kelapa.
  3. Seduh dengan air panas secukupnya.
  4. Saring hasil dari air tersebut.

Cara pemakaian :
             Diminum biasa satu kali seduh sehari.

  1. Menyembuhkan bisul
Cara pengolahan :
  1. Ambil temulawak secukupnya
  2. Temulawak yang sudah dicuci bersih, lalu dikupas.
  3. Rebus temulawak dengan 2 gelas air dan sedikit gula aren.
  4. Rebus hingga airnya tersisa setengah lalu angkat.
  5. Tambahkan seibu jari asam jawa.
  6. Tunggu agak dingin, kemudian disaring dan diminum sekaligus.
Cara pemakaian :
Diminum satu gelas sehari.

  1. Mengobati Sembelit
Cara pengolahan :
  1. Tumbuk 1 rimpang temulawak dan biji sawi secukupnya hingga halus
  2. Kemudian seduh dengan air panas secukupnya
  3. Saring hasil dari air tersebut.

Cara pemakaian :
             Diminum biasa satu kali seduh sehari.

  1. Mengembalikan tubuh kembali bugar
Cara pengolahan:
  1. Siapkan 50 gr rimpang temulawak bersihkan lalu parut sampai halus dan tambahkan air secukupnya.
  2. Rebus hingga mendidih

Cara Pemakaian:
Minum saat dingin, sebaiknya diminum 1 gelas/ hari dan bila perlu tambahkan gula batu ataupun madu untuk menambah rasa dan khasiatnya.

  1. Menghilankan/ mengurangi bau badan
Cara Pengolahan:
  1. Siapkan temulawak secukupnya cuci bersih
  2. Parut temulawak
  3. Tambahkan 1 liter air dan rebus  hingga mendidih.

Cara Pemakaian
Biarkan dingin terlebih dahulu kemudian saring setelah itu baru diminum

3.1 Manfaat Temulawak
Temulawak dapat dimanfaatkan sebagai obat, sumber karbohidrat, bahan penyedap masakan dan minuman, serta pewarna alami untuk makanan dan kosmetika. Oleh karena itu, di dalam daftar tumbuhan obat Indonesia, temulawak termasuk tanaman yang prospektif untuk dikembangkan. Semua bagian tanaman temulawak dapat dimanfaatkan. Akan tetapi, bagian yang paling berharga dan dapat dimanfaatkan untuk beberapa macam keperluan adalah rimpangnya.

Khasiat temulawak sebagai obat telah lama dikenal, baik di dalam negeri maupun diluar negeri, terutama di Jerman dan Belanda. Dalam farmakologi Indonesia, temulawak termasuk salah satu simplisia yang harus tersedia di apotek. Khasiat temulawak telah banyak diketahui berdasarkan pengalaman (empiris) dan hasil penelitian. Penelitian-penelitian tentang manfaat temulawak telah banyak dilakukan, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Berdasarkan penelitian dan pengalaman, temulawak telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Misalnya, dapat digunakan untuk pengobatan hati (liver), baik pada hepatitis  maupun pada perlemakan hati. Sebagai obat gangguan hati, temulawak bekerja sebagai kolagoga, yakni meningkatkan produksi dan sekresi empedu, menurunkan kadar kolestrol hati, dan mengaktifkan enzim pemecah lemak di hati.  Dalam bentuk rebusan dan ekstrak, temulawak dipakai untuk pengobatan kolelitiasis, kolesistitis, dan kerusakan pada hati.

Temulawak dapat digunakan sebagai obat anti- inflamsi atau antiradang. Melalui aktivitas anti – inflamsinya, temulawak efektif untuk mengobati penyakit radang sendi, rematik, atau arthritis  rematik. Melalui aktivitas hipokolesterolemiknya, temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total dan mempunyai indikasi meningkatkan kadar lipoprotein densitas tinggi (HDL) kolesterol. Temulawak juga mempunyai sifat fungistatik atau antijamur terhadap beberapa golongan dermatophyta. Selain bersifat fungistik, temulawak juga bersifat bakteriostatik atau antibakteria pada mikroba jenis staphylococcus dan salmonella.

Jika ditelusuri lebih jauh, temulawak ternyata telah lama digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, seperti menambah nafsu makan, menyembuhkan sakit maag, batuk, asma, sariawan, panas, malaria, ambeien, sembelit, dan diare. Di samping itu, juga dapat memperbanyak air susu ibi (ASI), mengobati gangguan saat nifas dan menstruasi, eksim, kencing nanah atau sifilis, kembung dan mulas, asam urat, sakit pinggang, pegel linu, hipertensi, kencing batu, membersihkan darah, kutu air, muntah-muntah, muntaber, serta mengatasi gangguan cacing pita. Pemakaian temulawak untuk pengobatan umumnya dilakukan dalam bentuk ramuan, baik tunggal maupun campuran.

Sementara itu, dalam dunia kosmetika, temulawak, antara lain, digunakan sebagai anti jerawat. Temulawak mempunyai sifat astringen. Sifat ini menyebabkan terjadinya oedema pada muara folikel rambut atau poro-pori kulit sehingga secara tidak langsung akan mengurangi sekresi sel sebasea. Daya antiseptic ringan yang dimiliki temulawak dapat membantu membersihkan kulit dari bakteri – bakteri pathogen sehingga radang jerawat berangsur –angsur membaik, mongering, dan akhirnya sembuh. (Afifah, 2005).

  1. Temulawak Sebagai Obat Tradisional
Keberadaan obat tradisional tentu bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum obat-obat kimia berkembang dengan baik dan diolah secara modern, nenek moyang kita banyak yang menggunakan obat-obatan alami, terutama dari tumbuh-tumbuhan. Kini, obat-obatan ini biasa disebut obat tradisional dan penggunaannya semakin marak, seiring dengan gencarnya publikasi obat-obatan tersebut. Beberapa kelompok masyarakat mulai tertarik dan percaya dengan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan ini.

Jauh sebelum diolah menjadi berbagai macam produk olahan, secara tradisional temulawak telah banyak digunakan oleh masyarakat perdesaan, khususnya di Jawa. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur temulawak biasanya digunakan untuk beberapa keperluan. Misalnya, untuk merangsang nafsu makan anak-anak dengan memberikan air parutan temulawak dan untuk lalapan dengan memakan rimpang temulawak muda atau kuncup bunganya. Di samping itu, temulawak juga digunakan untuk mengatasi kencing batu, sakit kuning, ambeien, dan diare. Tidak kalah populer, temulawak juga dijadikan minuman segar. Di Jawa Barat, meskipun tidak sepopuler di Jawa Tengah dan Jawa Timur, temulawak digunakan untuk memulihkan kesehatan setelah melahirkan. Ibu-ibu yang baru melahirkan diberi air seduhan temulawak untu diminum. Temulawak juga digunakan untuk mengatasi kencing batu, sakit kuning, perut kembung, maag, lever, dan pegal-pegal.

Sebagai obat yang mempunyai banyak khasiat, temulawak banyak sekali ditemukan dalam resep-resep obat tradisional. Temulawak ditemukan dalam banyak ramuan jamu, baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan bahan jamu yang lain. Disebabkan begitu banyaknya resep yang menggunakan temulawak, wajar jika kebutuhan terhadap  temulawak terus meningkat. Peningkatan kebutuhan itu terlihat dari banyaknya pabrik jamu yang meningkatkan pembelian dan penanaman temulawak setiap tahun. Peningkatan kebutuhan ini ditunjukkkan oleh data yang menyebutkan bahwa pada tahun 1983, kebutuhan rimpang temulawak sebanyak 238.134 kg dan pada tahun 1984 sebanyak 275.288 kg. Kebutuhan rimpang dari tahun ke tahun terus meningkat, dan bahkan pada tahun 2002, pabrik-pabrik jamu membutuhkan sekitar 200 ton setiap bulannya.

Tidak hanya di Jawa, di daerah lain temulawak juga telah lama digunakan untuk berbagai keperluan. Pemakaian temulawak di beberapa daerah di Indonesia oleh beragam etnis selengkapnya dapat dilihat dalam tabel.

Tabel 3. Pemakaian temulawak oleh berbagai etnis di Indonesia
No
Nama Etnis
Jenis Penggunaan
1.
Aceh
Untuk membantu mengatasi kurang darah, penyakit malaria, dan memulihkan kesehatan setelah melahirkan.
2.
Melayu Tradisional (perbatasan antara Riau dan Jambi)
Untuk membantu memulihkan kesehatan setelah melahirkan.
3.
Sakai (provinsi Riau)
Untuk membantu mengatasi kurang nafsu makan
4.
Sunda (provinsi Jawa Barat)
Untuk membantu mengatasi kencing batu, sakit kuning, perut kembung, mag, lever, pegal-pegal, dan memulihkan kesehatan setelah melahirkan
5.
Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
Untuk membantu mengatasi kencing batu, sakit kuning, ambeien, diare, dan kurang nafsu makan.
6.
Madura
Untuk membantu mengatasi sakit keputihan
7.
Bali
Untuk membantu mengatasi sakit maag



DAFTAR PUSTAKA

Afifah, Efi. 2003. Sehat dengan Ramuan Tradisional: Khasiat dan Manfaat Temulawak. Jakarta: Agromedia Pustaka
Afifah, Efi, dr, & Tim Lentera. 2004. Khasiat & Manfaat Temulawak. Jakarta: Agromedia Pustaka
Afifah, Efi, dr. dan Tim Lentera. 2005. Khasiat dan Manfaat Temulawak: Rimpang Penyembuh Aneka Penyakit. Jakarta: Agro Media Pustaka.
Afifah, Evi. 2004. Khasiat & Manfaat Temulawak : Rimpang Penyembuh Aneka Penyakit. Jakarta: Agromedia Pustaka
Camilleri, Michael. 2006. American Gastroenterological Association: Clinical Gastroenterology and Hepatology Vol 4 . USA : Elsevier, Inc
Jobst, Kim. A. 2009. The Journal of Alternative and Complementary Medicine Vol. 15. USA: Mery Ann Liebert, Inc
Muhlisah, Fauziah. 1999. Temu- temuan dan Empon-empon: Budi Daya, Manfaat, dan Khasiatnya. Yogyakarta: Penerbit Kasinus
Said, Ahmad. 2007. Khasiat dan Manfaat Temulawak. Jakarta : Sinar Wadja Lestari