Asuhan Keperawatan pada Luka Bakar

Luka bakar merupakan cedera paling berat yang mengakibatkan permasalahan yang kompleks, tidak hanya menyebabkan kerusakan kulit namun juga seluruh sistem tubuh (Nina,2008)...

Materi Intepretasi EKG Normal

Elektrokardiografi adalah ilmu yg mempelajari aktivitas listrik jantung sedangkan Elektrokardigram ( EKG ) adalah suatu grafik yg menggambarkan rekaman listrik jantung...

Liburan Murah Bersama Alam di Hutan Pinus Pandaan

Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki puluhan destinasi wisata yang menarik. Banyak para pelancong yang akhirnya melabuhkan hatinya di Pasuruan...

Mahasiswa FKp Satu-Satunya Delegasi Keperawatan pada Kompetisi Riset Dunia

Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga mengirimkan satu tim delegasi untuk mengikuti Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting-14 (HISAS-14) di Hokkaido...

Kisah Inspiratif Dua Pedagang Keren

assalamualaikum wr.wb para pembaca yang budiman. Sudah lama ane gak posting-posting lagi. Hari ini izinkan ane berbagi pengalaman kepada pembaca semua...

Apa yang Membuat Saya Rindu Kampung Halaman?

Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi...

السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØ­ْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ ...... Selamat datang di BLOG RIO CRISTIANTO. Dukung Blog ini dengan like fanspage "Rio Cristianto". Thank you, Happy Learning... ^_^

Wednesday, 30 December 2015

Discharge Planning dalam Keperawatan


BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pengertian Discharge planning
Discharge planning adalah suatu proses yang digunakan untuk memutuskan apa yang perlu pasien lakukan untuk dapat meningkatkan kesehatannya. Dahulu, disharge planning sebagai suatu layanan untuk membantu pasien dalam mengatur perawatan yang diperlukan setelah tinggal di rumah sakit. Ini termasuk layanan untuk perawatan di rumah, perawatan rehabilitatif, perawatan medis rawat jalan, dan bantuan lainnya. Sekarang discharge planning dianggap sebagai proses yang dimulai saat pasien masuk dan tidak berakhir sampai pasien dipulangkan. Keluar dari rumah sakit tidak berarti bahwa pasien telah sembuh total. Ini hanya berarti bahwa dokter telah menetapkan bahwa kondisi pasien cukup stabil untuk melakukan perawatan dirumah. (Ali Birjandi, 2008) 





Kozier (2004) mendefinisikan discharge planning sebagai proses mempersiapkan pasien untuk meninggalkan satu unit pelayanan kepada unit yang lain di dalam atau di luar suatu agen pelayanan kesehatan umum. Discharge planning yang efektif seharusnya mencakup pengkajian berkelanjutan untuk mendapatkan informasi yang komprehensif tentang kebutuhan pasien yang berubah-ubah, pernyataan diagnosa keperawatan, perencanaan untuk memastikan kebutuhan pasien sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pemberi pelayanan kesehatan.


Sedangkan definisi discharge planning menurut Bull (2000) merupakan suatu proses interdisiplin yang menilai perlunya sebuah perawatan tindak lanjut dan seseorang untuk mengatur perawatan tindak lanjut tersebut kepada pasien, baik perawatan diri yang diberikan oleh anggota keluarga, perawatan dari tim profesional kesehatan atau kombinasi dari keduanya untuk meningkatkan dan mempercepat kesembuhan pasien.

3.2 Tujuan Discharge planning
Tujuan dari dilakukannya discharge planning sangat baik untuk kesembuhan dan pemulihan pasien pasca pulang dari rumah sakit. Menurut Nursalam (2011) tujuan discharge planning/perencanaan pulang antara lain sebagai berikut:
  1. Menyiapkan pasien dan keluarga secara fisik, psikologis, dan sosial.
  2. Meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga.
  3. Meningkatkan keperawatan yang berkelanjutan pada pasien.
  4. Membantu rujukan pasien pada sistem pelayanan yang lain
  5. Membantu pasien dan keluarga memiliki pengetahuan dan keterampilan serta sikap dalam memperbaiki serta mempertahankan status kesehatan pasien
  6. Melaksanakan rentang keperawatan antara rumah sakit dan masyarakat.
Di dalam perencanaan pulang, terdapat pemberian edukasi atau  discharge teaching dari tim kesehatan. Menurut William & Wilkins (2009) discharge teaching harus melibatkan keluarga pasien atau perawat lainnya untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan home care yang tepat. Discharge teaching bertujuan agar pasien :
  1. Memahami mengenai penyakitnya
  2. Melakukan terapi obat secara efektif
  3. Mengikuti aturan diet secara hati-hati
  4. Mengatur level aktivitasnya
  5. Mengetahui tentang perawatan yang dilakukan
  6. Mengenali kebutuhan istirahatnya
  7. Mengetahui komplikasi yang mungkin dialami
  8. Mengetahui kapan mencari follow up care

3.3 Manfaat Discharge planning
Perencanaan pulang mempunyai manfaat antara lain sebagai berikut (Nursalam, 2011) :
  1. Memberi kesempatan kepada pasien untuk mendapat panjaran selama di rumah sakit sehingga bisa dimanfaatkan sewaktu di rumah.
  2. Tindak lanjut yang sistematis yang digunakan untuk menjamin kontinutas keperawatan pasien.
  3. Mengevaluasi pengaruh dari intervensi yang terencana pada penyembuhan pasien dan mengidentifikasi kekambuhan atau kebutuhan keperawatan baru.
  4. Membantu  kemandirian pasien dalam kesiapan melakukan keperawatan rumah.
Sedangkan menurut Doengoes, Moorhouse & Murr (2007) banyak sekali manfaat yang didapatkan dari discharge planning, diantaranya adalah:
  1. Menurunkan jumlah kekambuhan
  2. Penurunan perawatan kembali ke rumah sakit dan kunjungan ke ruangan kedaruratan yang tidak perlu kecuali untuk beberapa diagnosa
  3. Membantu pasien untuk memahami kebutuhan setelah perawatan dan biaya pengobatan
  4. Setelah pasien dipulangkan, pasien dan keluarga dapat mengetahui apa yang telah dilaksanakan, apa yang harus dan tidak boleh dilakukan dan bagaimana mereka dapat meneruskan untuk meningkatkan status kesehatan pasien
  5. Ringkasan pulang dapat disampaikan oleh perawat praktisi atau perawat  home care dan mungkin dapat dikirim ke dokter yang terlibat untuk dimasukkan dalam catatan institusi untuk meningkatkan kesinambungan perawatan dengan kerja yang kontinu ke arah tujuan dan pemantauan kebutuhan.

3.4 Prinsip Discharge planning
Tingkat keberhasilan dari discharge planning serta penyembuhan pasien harus didukung terhadap adanya prinsi-prinsip yang mendasari, yang juga merupakan tahapan dari proses yang nantinya akan mengarah terhadap hasil yang diinginkan. Menurut Department of health (2004) dalam buku karya Liz Lees (2012) disebutkan ada beberapa prinsip dalam discharge planning, diantaranya adalah:
  1. Mempunyai pengetahuan yang spesifik terhadap suatu proses penyakit dan kondisinya
  2. Dapat memperkirakan berapa lama recovery pasien, serta perbaikan kondisi yang muncul dari proses penyembuhan tersebut
  3. Melibatkan serta selalu berkomunikasi dengan pasien, keluarga atau pengasuh dalam proses discharge planning
  4. Turut serta dalam menangani masalah dan kesulitan yang mungkin akan muncul terhadap pasien
  5. Melibatkan suatu proses dalam tim multidisiplin
  6. Selalu mengkomunikasikan rencana yang akan dilakukan dengan tim multidisiplin untuk menghindari adanya kesalahan
  7. Membuat suatu arahan yang tepat dan tindak lanjut yang sesuai dengan hasil
  8. Memiliki suatu koordinasi tim untuk tindak lanjut rencana perawatan berkelanjutan dan memiliki informasi tentang nama tim kesehatan yang bertanggung jawab untuk setiap tindakan, serta dalam kasusu yang kompleks dilakukan identifikasi satu pemimpin kasus
  9. Disiplin, tegas serta selalu melaksanakan aktivitas dari discharge planning
  10. Meninjau dan selalu memperbarui rencana untuk progress yang lebih baik
  11. Selalu memberikan informasi yang akurat terhadap semua yang terlibat.
Sedangkan beberapa prinsip pada pelaksanaan discharge planning menurut Nursalam (2011), yaitu:
  1. Pasien merupakan fokus dalam perencanaan pulang. Nilai keinginan dan kebutuhan dari pasien perlu dikaji dan dievaluasi.
  2. Kebutuhan dari pasien diidentifikasi. Kebutuhan ini dikaitkan dengan masalah yang mungkin timbul pada saat pasien pulang nanti, sehingga kemungkinan masalah yang mungkin timbul di rumah dapat segera diantisipasi.
  3. Perencanaa pulang dilakukan secara kolaboratif. Perencanaan pulang merupakan pelayanan multidisiplin dan setiap tim harus saling bekerja sama.
  4. Perencanaan pulang disesuaikan dengan sumber daya dan fasilitas yang ada. Tindakan atau rencana yang akan dilakukan setelah pulang disesuaikan dengan pengetahuan dari tenaga yang tersedia atau fasilitas yang tersedia di masyarakat.
  5. Perencanaan pulang dilakukan pada setiap sistem pelayanan kesehatan. Setiap pasien masuk tatanan pelayanan maka perencanaan pulang harus dilakukan.

3.5 Jenis Discharge planning
Chesca (1982) dalam Nursalam (2011) mengklasifikasikan jenis pemulangan pasien sebagai berikut:
  1. Conditioning discharge (pulang sementara atau cuti), keadaan pulang ini dilakukan apabila kondisi pasien baik dan tidak terdapat komplikasi. Pasien untuk sementara dirawat di rumah namun harus ada pengawasan dari pihak rumah sakit atau puskesmas terdekat.
  2. Absolute discharge (pulang mutlak atau selamanya), cara ini merupakan akhir dari hubungan pasien dengan rumah sakit. Namun apabila pasien perlu dirawat kembali, maka prosedur perawatan dapat dilakukan kembali.
  3. Judicial discharge (pulang paksa), kondisi ini pasien diperbolehkan pulang walaupun kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk pulang, tetapi pasien harus dipantau dengan melakukan kerja sama dengan perawat puskesmas terdekat.

3.6 Komponen Discharge planning
Ada beberapa komponen spesifik dari discharge planning yang harus didokumentasikan menurut Kowalski (2008), meliputi:
  1. Peralatan atau barang yang diperlukan dirumah; pastikan bahwa keluarga dapat memperoleh atau mengetahuinya dimana keluarga dapat mendapatkan segala peralatan atau barang yang dibutuhkan pasien
  2. Perkenalkan cara penggunaan peralatan atau barang yang diperlukan pasien, termasuk ajarkan dan demonstrasikan cara perawatan pasien kepada keluarga
  3. Untuk diet, sarankan pada ahli nutrisi untuk mengajarkan pasien dan keluarga agar memahami makanan yang seharusnya dikonsumsi maupun tidak.
  4. Obat-obatan selalu dipastikan selalu tersedia di rumah
  5. Untuk prosedur tertentu, seperti penggantian dresssing, dapat dilakukan dirumah. Pada kondisi awal, prosedur harus didampingi oleh perawat supervisi dan klien atau keluarga dapat mengikuti untuk mempraktekkan dibawah pengawasan perawat supervisi
  6. Pada setiap kunjungan, perawat selalu mendokumentasikan apakah pasien dan keluarga mendapatkan atau menyediakan obat atau alat yang dibutuhkan pasien dirumah
  7. Membuat janji untuk kunjungan rumah selanjutnya
  8. Ajarkan mengenai aktivitas yang dianjurkan dan boleh dilakukan serta yang tidak diperbolehkan
  9. Dokumentasikan setiap edukasi yang telah diajarkan pada pasien dan keluarga
Menurut CADPACC (1995) dalam Gielen (2015) ada beberapa komponen sebelum dilakukannya discharge planning, yaitu:
  1. Identifikasi dan kaji apa yang kebutuhan pasien yang harus dibantu pada discharge planning
  2. Kolaborasikan bersama pasien, keluarga dan tim kesehatan lainnya untuk memfasilitasi dilakukannya discharge planning
  3. Mengajarkan kepada pasien dan keluarga tentang strategi pencegahan agar tidak terjadi kekambuhan atau komplikasi
  4. Rekomendasikan beberapa pelayanan rawat jalan atau rehabilitasi pada pasien dengan penyakit kronis
  5. Komunikasi dan koordinasikan dengan tim kesehatan lainnya tentang langkah atau rencana dari discharge planning yang akan dilakukan

3.7 Mekanisme Discharge planning
Discharge planning mencakup kebutuhan seluruh pasien, mulai dari fisik,  psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Proses ini tiga fase, yaitu akut, transisional, dan pelayanan berkelanjutan. Pada fase akut, diutamakan upaya medis untuk segera melaksanakan discharge planning. Pada fase transisional, ditahap ini semua cangkupan pada fase akut dilaksankan tetapi urgensinya berkurang. Dan pada fase pelayanan berkelanjutan, pasien mampu untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas perawatan berkelanjutan yang dibutuhkan setelah pemulangan. (Perry & Potter, 2005).

Perry dan Potter (2005), menyusun format discharge planning  sebagai berikut:
  1. Pengkajian
  1. Sejak pasien masuk kaji kebutuhkan discharge planning pasien, focus pada terhadap kesehatan  fisik, status fungsional, sistem pendukung sosial, finansial, nilai kesehatan, latar belakang budaya dan etnis, pendidikan, serta tintangam terhadap keperawatan.
  2. Kaji pasien dan keluarga terhadap pendidikan kesehatan berhubunga dengan kondisi yang akan diciptakan di rumah tempat tinggal pasien setelah keluar dari rumah sakit sehingga terhindar dari komplikasi
  3. Kaji cara pembelajaran yang disukai oleh pasien agar pendidikan kesehatan yang diberikan bermanfaat dan dapat ditangkap oleh pasien maupun keluarga. Tipe materi pendidikan yang berbeda- beda dapat mengefektifkan cara pembelajaran yang berbeda pada  pasien.
  4. Kaji bersama-sama dengan pasien dan keluarga terhadap setiap  faktor lingkungan di dalam rumah yang mungkin menghalangi dalam perawatan diri seperti ukuran ruangan, kebersihan jalan menuju pintu, lebar jalan, fasilitas kamar mandi, ketersediaan alat-alat yang berguna (seorang perawat perawatan di rumah dapat  dirujuk untuk membantu dalam pengkajian).
  5. Melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam mengkaji kebutuhan untuk rujukan pelayanan kesehatan rumah maupun fasilitas lain.
  6. Kaji persepsi pasien dan keluarga terhadap keberlanjutan  perawatan kesehatan di luar rumah sakit. Mencakup pengkajian  terhadap kemampuan keluarga untuk mengamati care giver dalam memberikan perawatan kepada pasien. Dalam hal ini sebelum  mengambil keputusan, mungkin perlu berbicara secara terpisah dengan pasien dan keluarga untuk mengetahui kekhawatiran yang sebenarnya atau keragu-raguan diantara keduanya.
  7. Kaji penerimaan pasien terhadap penyakit yang sedang diderita berhubungan dengan pembatasan.
  8. Konsultasikan tim pemberi layanan kesehatan yang lain tentang  kebutuhan setelah pemulangan (seperti ahli gizi, pekerja sosial, perawat klinik spesialis, perawat pemberi perawatan kesehatan di rumah). Tentukan kebutuhan rujukan pada waktu yang berbeda.
  1. Diagnosa Keperawatan
Perry dan Potter (2005) adapun diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan antara lain:
  1. Kecemasan, hal ini dapat menginterupsi proses keluarga.
  2. Tekanan terhadap care giver, hal yang menyebabkannya adalah ketakutan.
  3. Kurang pengetahuan terhadap pembatasan perawatan di rumah, pasien mengalami defisit perawatan diri
  4. Stres sindrom akibat perpindahan, hal ini berhubungan dengan upaya meningkatkan  pertahanan/pemeliharaan di rumah.
  1. Perencanaan
Perry dan Potter (2005) hasil yang diharapkan jika seluruh prosedur telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:
  1. Pasien atau keluarga sebagai caregiver mengerti akan keberlangsungan pelayanan kesehatan di rumah (atau fasilitas lain), penatalaksanaan atau pengobatan apa yang  dibutuhkan, dan .
  2. Pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan aktivitas perawatan diri. 
  3. Rintangan kepada pergerakan pasien dan ambulasi telah diubah  dalam setting rumah.
  1. Penatalaksanaan
Perry dan Potter (2005) penatalaksanaan dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu  penatalaksanaan yang dilakukan sebelum hari pemulangan, dan  penatalaksanaan yang dilakukan pada hari pemulangan.
  1. Persiapan Sebelum Hari Pemulangan Pasien
  1. Menganjurkan cara untuk merubah keadaan rumah demi memenuhi kebutuhan pasien.
  2. Mempersiapkan pasien dan keluarga dengan memberikan informasi tentang sumber-sumber pelayanan kesehatan komunitas. Rujukan dapat dilakukan sekalipun pasien masih  di rumah.
  3. Setelah menentukan segala hambatan untuk belajar serta  kemauan untuk belajar, mengadakan sesi pengajaran dengan  pasien dan keluarga secepat mungkin selama dirawat di rumah  sakit. Pamflet, buku-buku, atau rekaman video dapat diberikan kepada pasien muapun sumber yang yang dapat diakses di internet.
  4. Komunikasikan respon pasien dan keluarga terhadap  penyuluhan dan usulan perencanaan pulang kepada anggota  tim kesehatan lain yang terlibat dalam perawatan pasien.
  1. Penatalaksanaan pada Hari Pemulangan
Perry dan Potter (2005) berpendapat apabila beberapa aktivitas berikut ini dapat dilakukan sebelum  hari pemulangan, maka perencanaan yang dilakukan akan lebih efektif.  Adapun aktivitas yang dilakukan yaitu:
  1. Biarkan pasien dan keluarga bertanya dan diskusikan isu-isu yang berhubungan dengan perawatan di rumah. Kesempatan terakhir untuk mendemonstrasikan kemampuan juga  bermanfaat.
  2. Periksa instruksi pemulangan dokter, masukkan dalam terapi,  atau kebutuhan akan alat-alat medis yang khusus. (Instruksi harus dituliskan sedini mungkin). Persiapkan kebutuhan yang mungkin diperlukan pasien selama perjalanan pulang (seperti tempat tidur rumah sakit,  oksigen,  feeding pump).
  3. Pastikan pasien dan keluarga telah dipersiapkan dalam  kebutuhan transportasi menuju ke rumah.
  4. Tawarkan bantuan untuk memakaikan baju pasien dan semua barang milik pasien. Jaga privasi pasien  sesuai kebutuhan.
  5. Periksa seluruh ruangan dan laci untuk memastikan barang-barang pasien. Dapatkan daftar pertinggal barang-barang  berharga yang telah ditandatangani oleh pasien, dan  instruksikan penjaga atau administrator yang tersedia untuk  menyampaikan barang-barang berharga kepada pasien.
  6. Persiapkan pasien dengan prescription atau resep pengobatan  pasien sesuai dengan yang diinstruksikan oleh dokter.  Lakukan pemeriksaan terakhir untuk kebutuhan informasi atau  fasilitas pengobatan yang aman untuk administrasi diri.
  7. Berikan informasi tentang petunjuk untuk janji follow up ke  kantor dokter.
  8. Hubungi kantor agen bisnis untuk menentukan apakah pasien  membutuhkan daftar pengeluaran untuk kebutuhan  pembayaran. Anjurkan pasien dan keluarga mengunjungi  kantornya.
  9. Dapatkan kotak untuk memindahkan barang-barang pasien.  Kursi roda untuk pasien yang tidak mampu ke mobil  ambulans. Pasien yang pulang dengan menggunakan  ambulans diantarkan oleh usungan ambulans.
  10. Bantu pasien menuju kursi roda atau usungan dan gunakan  sikap tubuh dan teknik  pemindahan yang sopan. Dampingi pasien memasuki unit dimana transportasi yang dibutuhkan  sedang menunggu. Kunci roda dari kursi roda. Bantu pasien  pindah ke mobil pribadi atau kendaraan untuk transportasi.  Bantu keluarga menempatkan barang-barang pribadi pasien ke  dalam kendaraan.
  11. Kembali ke bagian, dan laporkan waktu pemulangan kepada departemen pendaftaran/penerimaan. Ingatkan bagian kebersihan untuk membersihkan ruangan pasien.
  1. Evaluasi
  1. Minta pasien dan anggota keluarga menjelaskan tentang penyakit,  pengobatan yang dibutuhkan, tanda-tanda fisik atau gejala yang  harus dilaporkan kepada dokter.
  2. Minta pasien atau anggota keluarga mendemonstrasikan setiap  pengobatan yang akan dilanjutkan di rumah.
  3. Perawat yang melakukan perawatan rumah memperhatikan keadaan rumah, mengidentifikasi rintangan yang dapat  membahayakan bagi pasien, dan menganjurkan perbaikan.

3.8 Alur Discharge Planning
 
Sumber : Nursalam, 2011

Keterangan :
  1.  Tugas Keperawatan Primer
  1. Membuat rencana discharge planning.
  2. Membuat leaflet.
  3. Memberikan konseling.
  4. Memberikan pendidikan kesehatan.
  5. Menyediakan format discharge planning.
  6. Mendokumentasikan discharge planning.
  1.  Tugas Keperawatan Associate 
Melaksanakan agenda discharge planning (pada saat keperawatan dan diakhiri ners).


DAFTAR PUSTAKA

Azimatunnisa & Kirnantoro. 2011. Hubungan Discharge planning dengan Tingkat Kesiapan Klien dalam Menghadapi Pemulangan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Yogyakarta

Birjandi, Ali & Lisa M. Bragg. 2008. Discharge planning Handbook  for Healthcare: Top 10 Secrets to Unlocking a New Revenue Pipeline. London: CRC Press.

Bull, M.J. 2000. Discharge planning for older people: A Review of Current Research. British Journal of Community Nursing, 5(2), pp 70

Ernita, Dewi, Rahmalia & Riri. 2015. Pengaruh Perencanaan Pasien Pulang (Discharge planning) yang dilakukan oleh Perawat terhadap Kesiapan Pasien TB Paru Menghadapi Pemulangan. JOM Vol 2 No 1, Februari 2015. Riau

Kozier, B., et al. 2004. Fundamentals of Nursing Concepts Process and Practice. 1 st volume, 6 th edition. New Jersey : Pearson/prentice Hall.

Lees, Liz. 2012. Timely Discharge from Hospital. m&k publishing: England NHS Foundation Trust, Birmingham

Nursalam. 2009. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika

Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika

Potter P.A & Perry A.G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik Volume 1. Alih bahasa: Yasmin Asih et al. Edisi 4. Jakarta: EGC.

Purnamasari, Liliana Dewi & Chandra Bagus Ropyanto. 2012. Evaluasi Pelaksanaan Perencanaan Pulang. Jurnal Nursing Studies, Volume 1, Nomor 1 Tahun 2012, Hal.213-218.

Williams, Lippincot., Wilkins. 2009. Lippincott’s Nursing Procedures 5th Edition. London: Williams & Wilkins Inc.



Contoh Form Pasien

DISCHARGE PLANNINGNo. Reg : 121 3111456
Nama : Ny.N
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal MRS : 20-11-2015
Bagian :
Tanggal KRS : 27-11-2015
Bagian :
Dipulangkan dari RSUA dengan keadaan
Sembuh
Meneruskan dengan obat jalan
Pindah ke RS lain
 Pulang paksa
 Lari
 Meninggal
  1. Kontrol :
  1. Waktu : -
  2. Tempat : -
  1. Lanjutan keperawatan di rumah (luka operasi, pemasangan gift, pengobatan, dan lain-lain
Melakukan diet teratur dan stres control sebagai pencegahan kekambuhan

  1. Aturan diet/nutrisi :
Dianjurkan makan 3x sehari, makan tepat waktu, menghindari makanan pedas, menghindari makanan setengah matang.

  1. Obat-obat yang masih diminum dan jumlahnya :
Obat Analgesik @10
Obat Mual @10

  1. Aktivitas dan istirahat :
Istirahat yang teratur, menghindari stress

Hal yang dibawa pulang (hasil laboratorium, foto, EKG, obat, lainnya) :
Hasil lab, obat analgesik dan anti mual serta leaflet tentang GEA

Lain-lain :


Surabaya, 27 November 2015
Pasien/Keluarga




(Ny.N)
Ners




(Ners Jaya)









Tuesday, 29 December 2015

Supervisi dalam Keperawatan

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian
Arti kata supervisor dalam kamus karya Prof.Drs.S.Wojowasito dan Drs.Tito Wasito W. adalah pengawas. Supervisor adalah pengawas utama, pengontrol utama, penyedia. Supervisor juga area sales manager ataupun district manager yang langsung memimpin para medical representative. Jabatan ini merupakan manajer di lapis terdepan, diatas para medical representative. Jabatan area sales manager ataupun supervisor memegang peranann penting karena seluruh tugas lapangan harus berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Apabila seluruh anggota timnya berhasil mencapai sasaran, berarti supervisor sukses mencapai sasarannya. Pemegang jabatan ini bertanggung jawab atas kualitas dan kuantitas hasil kerja suatu kelompok kerja atau pelayanan yang diberikan. Supervisor diharapkan mampu membina, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas pekerjaan yang dilakukan para medical representative. Supervisor harus mampu membentuk tim yang efektif dengan cara tukar – menukar pengalaman, meningkatkan keinginan untuk berkembang, membimbing, menekankan dan memberikan umpan balik secara terus – menerus.

 

Menurut Yura dan Helen (1981), supervisi adalah mengawasi, meneliti dan memeriksa, yang dipandang sebagai proses dinamis dengan memberikan dorongan dan berpartisipasi dalam pengembangan diri staf dan pelaksanaan keperawatan. Sedangkan menurut Kron T.(1987), supervisi adalah merencanakan, mengarahkan, membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong dan memperbaiki, mempercayai, mengevaluasi secara terus-menerus pada setiap tenaga keperawatan dengan sabar, adil serta bijaksana sehingga setiap tenaga keperawatan dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik, trampil, aman, cepat dan tepat secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang mereka miliki. Menurut Swansburg dan Swansburg (1990), supervisi adalah suatu proses kemudahan sumber-sumber yang diperlukan staf keperawatan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Supervisor harus mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang nyaman. Ini tidak hanya meliputi lingkungan fisik, tetapi juga suasana kerja diantara para tenaga keperawatan dan tenaga lainnya. Juga meliputi jumlah persediaan dan kelayakan peralatan agar memudahkan pelaksanaan tugas. Lingkungan yang sehat bila dapat memberikan rasa bebas dan keinginan untuk bekerja lebih baik. Supervisor juga mengusahakan semangat kebersamaan dengan lebih menekankan “kita” daripada “saya”.

Pada suatu saat supervisor akan memerlukan bantuan dalam mengambil keputusan melalui pengamalan dalam tugas untuk menemukan metoda yang lebih baik guna melaksankan pendelegasian tugas dalam kelompok kerja, tentu memerlukan dukungan dari anggota kelompok. Walaupun supervisor memperhatikan kondisi dan hasil kerja, tetapi perhatian utama ialah manusianya, untuk itu harus mengenal tiap individu dan mampu merangsang agar tiap pelaksana mau meningkatkan diri. Salah satu tujuan utama dari supervisi adalah orientasi, latihan dan bimbingan individu, berdasarkan kebutuhan individu dan mengarah pada pemanfaatan kemampuan dan pengembangan ketrampilan yang baru. Dalam pelaksanaan supervisi, supervisor membuat suatu keputusan tentang suatu pekerjaan yang akan dilaksanakan, kemudian siapa yang akan melaksanakan. Untuk itu supervisor perlu memberikan penjelasan dalam bentuk arahan kepada para pelaksana.

2.2 Tugas dan Wewenang Supervisi
Posisi supervisor adalah posisi yang sangat vital, karena sebagai manajer lini terdepan banyak sekali tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Semua dimaksudkan agar pekerjaan lapangan berjalan dengan sebaik-baiknya dengan hasil yang optimal. Beberapa tugas utama dari banyak tugas seorang supervisor adalah seperti yang diuraikan sebagai berikut :
  1. Mengatur kerja para staf
  2. Membuat job desk para staf
  3. Bertanggung jawab atas hasil kerja staf
  4. Memberi motivasi ke staf
  5. Membuat jadwal untuk karyawan
  6. Memberikan breafing
  7. Memecahkan masalah Tim
  8. Mengendalikan perubahan
  9. Mengevaluasi kinerja
  10. Membuat planning pekerjaan untuk kedepannya yaitu kerja harian,mingguan,bulanan,dan tahunan
  11. Membentuk Tim kerja yang solid
Untuk membentuk tim kerja yang solid diperlukan juga kepiawaian dalam bersosialisasi dengan anak buah sehingga terjalin hubungan baik. Dalam suatu tim yang solid para angotanya mempunyai karakteristik yaitu kompak saling membentu dalam kebaikan, rukun, saling menjaga kehormatan, tidak saling menggunjing, jauh dari fitnah dan saling menghargai sesama. Jika ada anggota kelompok yang kekurangan ilmu, mereka mau saling membantu untuk berbagi, melatih, dan mengajarnya. Tim yang solid akan menjadi teladan bagi tim lain.

2.3 Ciri-ciri Supervisi Efektif
Menurut R. Keith Mobley dalam artikelnya "The Keys to Effective Supervision," supervisi efektif memiliki ciri-ciri yang dijadikan panduan dalam mengembangkan keterampilan supervisi dan dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan tugas-tugas seupervisi seorang pemimpin.

Ciri-ciri yang dimaksud adalah:

a). Pendelegasian
Dapat membawa timnya ke arah target yang telah ditetapkan. Dengan keterbatasan waktu dan tenaga, akan lebih efektif jika seorang supervisor mendelegasikan tugas-tugasnya, terutama yang bersifat teknis lapangan kepada bawahannya

b). Keseimbangan
Seorang pimpinan diberikan otoritas untuk mengambil keputusan dan memberikan tugas kepada orang-orang di bawah tanggung jawabnya. Otoritas ini harus digunakan dengan tepat, artinya manajer atau supervisor harus menyeimbangkan penggunaan otoritas tersebut. Ia perlu tahu kapan harus menggunakan otoritas ini, dan kapan membiarkan bawahannya bekerja dengan mengoptimalkan kreativitas mereka. Keseimbangan mengacu pada sikap yang diambil oleh seorang pemimpin, kapan harus bersikap tegas, dan kapan harus memberi kesempatan pada bawahannya untuk menyampaikan pendapat.

c). Jembatan
Supervisor atau manajer merupakan jembatan antara staf yang mereka pimpin dan manajemen puncak. Jadi seorang supervisor harus dapat menyampaikan keinginan atau usulan karyawan kepada pihak manajemen. Sebaliknya, ia juga harus mampu menyampaikan visi dan misi yang telah ditetapkan serta keputusan-keputusan lain yang telah dibuat oleh manajemen puncak untuk diketahui oleh para karyawan yang menjadi anggota timnya.

d). Komunikasi
Ciri sukses lain yang sangat penting dalam melakukan supervisi efektif adalah kemampuan berkomunikasi. Komunikasi yang dimaksud bukan komunikasi satu arah (memberikan tugas-tugas saja), tetapi yang lebih utama adalah komunikasi multiarah, yang juga mencangkup kemampuan mendengarkan keluhan, masukan, dan pertanyaan dari karyawan. Dalam mengkomunikasikan tugas-tugas, supervisor perlu menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang yang harus melaksanakan tugas tersebut, yakni bahasa yang sejajar dengan kemampuan, dan cara berpikir bawahannya.

2.4 Alur Supervisi Keperawatan

2.5 Langkah-langkah supervisi keperawatan
Langkah-langkah pada supervisi keperawatan adalah sebagai berikut (Nursalam, 2014)
  1. Prasupervisi
  1. Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi.
  2. Supervisor menetapkan tujuan dan kompetensi yang akan dinilai.
  1. Pelaksanaan Supervisi
  1. Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau instrumen yang telah disiapkan.
  2. Supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan pembinaan
  3. Supervisor memanggil PP dan PA untuk mengadakan pembinaan dan klarifikasi permasalahan.
  1. Pascasupervisi-3F
    1. Pelaksanaan supervisi dengan inspeksi, wawancara dan memvalidasi data sekunder.
  1. Supervisor mengklarifikasi permasalahan yang ada.
  2. Supervisor melakukan tanya jawab dengan perawat.
  1. Supervisor memberikan penilaian supervisi (F-Fair).
  1. Supervisor mengklarifikasi masalah yang ada.
  2. Supervisor melakukan tanya jawab dengan perawat.
  1. Supervisor memberikan feedback dan klarifikasi (sesuai hasil laporan supervisi).
  2. Supervisor memberikan reinforcement dan follow up perbaikan.
  1. Terdapat dua reinforcement yaitu reinforcement positif atau reward diberikan pada yang melakukan perilaku positif atau diinginkan mendapatkan penghargaan  sehingga dapat meningkatkan kekuatan respon atau merangsang pengulangan perilakunya. Ke dua reinforcement negative atau hukuman adalah situasi yang terjadi ketika perilaku yang diinginkan terjadi untuk menghindari konsekuensi negative dari hukuman (Roussel et al, 2003)
  2. Ada dua follow up perbaikan yaitu short-term follo-up adalah intervensi jangka pendek melibatkan pasien setelah melalui sebuah episode dari penyakit akut dan long-term follow-up diberikan pada pasien mendapatkan intervensi jangka panjang atau tindak lanjut, rencana individual lebih formal dapat dilakukan bersama dengan orang-orang di sekitarnya untuk memperluas pemantauan dan mengulangi perilaku positif. (Cohen and Toni, 2005).
2.6 Prinsip-prinsip supervisi keperawatan
Ada beberapa prinsip supervisi yang dilakukan di bidang keperawatan (Nursalam, 2007) antara lain:
  1. Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi
  2. Supervisi menggunakan pengetahuan dasar manajemen, keterampilan hubungan antar manusia dan kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan.
  3. Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas, terorganisasi dan dinyatakan melalui petunjuk, peraturan, tugas, dan standart.
  4. Supervisi merupakan proses kerjasama yang demokratis antara supervisor dan perawat pelaksana.
  5. Supervisi merupakan visi, misi, falsafah, tujuan dan rencana yang spesifik.
  6. Supervisi menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi efektif, kreatifitas, dan motivasi.
  7. Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil dan berdayaguna dalam pelayanan keperawatan yang memberikan kepuasan klien, perawat dan manajer.
Menurut Keliat (1993) prinsip supervisi keperawatan adalah sebagai berikut:
  1. Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi rumah sakit
  2. Supervisi memerlukan pengetahuan dasar manajemen, keterampilan hubungan antar manusia, kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan.
  3. Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas dan terorganisasi dan dinyatakan melalui petunjuk, peraturan kebijakan dan uraian tugas standart
  4. Supervisi adalah proses kerjasama yang demokratis antar supervisor dan perawat pelaksana
  5. Supervisi menggunakan proses manajemen termasuk menerapkan misi, falsafah, tujuan, dan rencananya yang spesifik untuk mencapai tujuan.
  6. Spervisi menciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi efektif, merangsang kreativitas dan motivasi. 

2.7 Teknik Supervisi
Supervisi keperawatan merupakan suatu proses pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan perawat untuk menyelesaiakan tugas dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan supervisi memungkinkan seorang manajer keperawatan dapat menemukan berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan asuahan keperawatan. Melalui kegiatan supervisi seharusnya kualitas dan mutu pelayanan keperawatan menjadi fokus dan menjadi tujuan utama, bukan malah menyibukkan diri mencari kesalahan atau penyimpangan (Arwani, 2006).

Teknik supervisi dibedakan menjadi dua, supervisi langsung dan tak langsung.
  1. Teknik Supervisi secara langsung
Supervisi yang dilakukan pada saat kegiatan sedang berlangsung. Supervisor terlibat dalam kegiatan secara langsung agar proses pengarahan dan pemberian petunjuk tidak dirasakan sebagai suatu “perintah” Bittel, 1987 (dalam Wiyana, 2008). Cara memberikan supervisi efektif adalah :1) pengarahan harus lengkap dan mudah dipahami; 2) menggunakan kata-kata yang tepat; 3) berbicara dengan jelas dan lambat; 4) berikan arahan yang logis; 5) Hindari banyak memberikan arahan pada satu waktu; 7) pastikan arahan yang diberikan dapat dipahami; 8) Pastikan bahwa arahan yang diberikan dilaksanakn atau perlu tindak lanjut Supervisi lansung dilakukan pada saat perawat sedang melaksanakan pengisian formulir dokumentasi asuhan keperawatan. Supervisi dilakukan pada kinerja pendokumentasian dengan mendampingi perawat dalam pengisian setiap komponen dalam proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

Langkah-langkah yang digunakan dalam supervisi langsung (Wiyana, 2008):
  1. Informasikan kepada perawat yang akan disupervisi bahwa pendokumentasiannya akan disupervisi.
  2. Lakukan supervisi asuhan keperawatan pada saat perawat melakukan pendokumentasian. Supervisor melihat hasil pendokumentasian secara langsung dihadapan perawat yang mendokumentasikan.
  3. Supervisor menilai setiap dokumentasi sesuai standar dengan asuhan keperawatan pakai yaitu menggunakan form A. Depkes 2005
  4. Supervisor menjelaskan, mengarahkan dan membimbing perawat yang disupervisi komponen pendokumentasian mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kepada perawat yang sedang menjalankan pencacatan dokumentasi asuhan keperawatan
  5. Mencatat gasi supervise dan menyimpan dalam dokumentasi supervisi
  1. Teknik Supervisi secara tidak langsung
Supervisi tidak langsung adalah supervisi yang dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan. Kepala ruangan tidak melihat langsung apa yang terjadi di lapangan sehingga memungkinkan terjadi kesenjangan fakta. Umpan balik dapat diberikan secara tertulis (Bittel 1987 dalam Wiyana 2008).

Langkah-langkah Supervisi tak langsung.
  1. Lakukan supervisi secara tak langsung dengan melihat hasil dokumentasi pada buku rekam medik perawat.
  2. Pilih salah satu dokumen asuhan keperawatan.
  3. Periksa kelengkapan dokumentasi sesuai dengan standar dokumentasi asuhan keperawatan yang ditetapkan rumah sakit yaitu form A dari Depkes.
  4. Memberikan penilaian atas dokumentasi yang di supervisi dengan memberikan tanda bila ada yang masih kurang dan berikan cacatan tertulis pada perawat yang mendokumentasikan.
  5. Memberikan catatan pada lembar dokumentasi yang tidak lengkap atau sesuai standar
Untuk dapat melaksanakan supervisi yang baik ada dua hal yang perlu diperhatikan (Suarli & Bachtiar, 2009):
  1. Pengamatan langsung
Pengamatan langsung harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan.
  1. Sasaran pengamatan. Pengamatan langsung yang tidak jelas sasarannya dapat menimbulkan kebingungan, karena pelaksana supervisi dapat terperangkap pada sesuatu yang bersifat detail. Untuk mencegah keadaan yang seperti ini, maka pada pengamatan langsung perlu ditetapkan sasaran pengamatan, yakni hanya ditujukan pada sesuatu yang bersifat pokok dan strategis saja (selective supervision).
  2. Objektivitas pengamatan langsung yang tidak terstandardisasi dapat menggangu objektivitas. Untuk mencegah keadaan yang seperti ini, maka pengamatan langsung perlu dibantu dengan dengan suatu daftar isi yang telah dipersiapkan. Daftar tersebut dipersiapkan untuk setiap pengamatan secara lengkap dan apa adanya.
  3. Pendekatan pengamatan. Pengamatan langsung sering menimbulkan berbagai dampak dan kesan negatif, misalnya rasa takut dan tidak senang, atau kesan menggangagu kelancaran pekerjaan. Untuk mengecek keadaan ini pengamatan langsung harus dilakukan sedemikian rupa sehingga berbagai dampak atau kesan negatif tersebut tidak sampai muncul. Sangat dianjurkan pengamatan tersebut dapat dilakukan secara edukatif dan suportif, bukan menunjukkan kekuasaan atau otoritas.
  1. Kerja sama
Agar komunonikasi yang baik dan rasa memiliki ini dapat muncul, pelaksana supervisi dan yang disupervisi perlu bekerja sama dalam penyelesaian masalah, sehingga prinsip-prinsip kerja sama kelompok dapat diterapkan. Masalah, penyebab masalah serta upaya alternatif penyelesaian masalah harus dibahas secara bersama-sama. Kemudian upaya penyelesaian masalah tersebut dilaksanakan secara bersama-sama pula.

2.7 Peran dan Fungsi Supervisor
Peran dan fungsi supervisor dalam supervisi adalah mempertahankan keseimbangan pelayanan keperawatan dan manajemen sumber daya yang tersedia.
  1. Manajemen pelayanan keperawatan
Tanggung jawab supervisor adalah:
  1. Menetapkan dan mempertahankan standar praktek keperawatan
  2. Menilai kualitas asuhan keperawatan dan pelayanan yang diberikan
  3. Mengembangkan peraturan dan prosedur yang mengatur pelayanan keperawatan, kerjasama dengan tenaga kesehatan lain yang terkait.
  1. Manajemen anggaran
Manajemen keperawatan berperan aktif dalam membantu perencanaan dan pengembangan. Supervisor berperan dalam:
  1. Membantu menilai rencana keseluruhan dikaitkan dengan dan tahunan yang tersedia, mengembangkan tujuan yang dapat dicapai sesuai tujuan RS.
  2. Membantu mendapatkan informasi statistic unutk perencanaan anggaran keperawatan.
  3. Member justifikasi proyeksi anggaran unit yang dikelola.
  4. Supervisi yang berhasil guna dan berdaya guna tidak dapat terjadi begitu saja, tetapi memerlukan praktek dan evaluasi penampilan agar dapat dijalani dengan tepat. Kegagalan supervisi dapat menimbulkan kesenjangan dalam pelayanan keperawatan.

2.8 Tugas dan Fungsi Supervisor
Tugas supervisor adalah mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang nyaman dan aman, efektif dan efisien. Tugas dan fungsi supervisor menurut Suyatno (2008) adalah sebagai berikut:
  1. Mengorientasi staf dan pelaksana keperawatan terutama pegawai baru
  2. Melatuh staf dan pelaksana keperawatan
  3. Memberikan pengarahan dalam pelaksanaan tugas agar menyadari, mengerti terhadap peran, fungsi sebagai staf dan pelaksana asuhan keperawatan
  4. Memberikan pelayanan bimbingan kepada pelaksana keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan
Dalam keperawatan, fungsi supervisi adalah untuk mngatur dan mengorganisasi proses pemberian pelayanan keperawatan menyangkut pelaksanaan standart asuhan keperawatan. Seorang supervisor harus menyadari fungsinya dalam supervisi antara lain adalah:
  1. Menilai dalam memperbaiki factor-faktor yang mempengaruhi proses pemberian pelayanan asuhan keperawatan
  2. Mengkoordinasikan, menstimulasi, dan mendorong kea rah peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
  3. Membanttu (asistensing), member support (supporting), dan mengajak untuk ikut sertakan (sharing)
 2.9 Contoh Format Penilaian pada Supervisi Keperawatan



INSTRUMEN SUPERVISI INJEKSI INTRAVENA
Hari/Tanggal               :                                               Supervisor       :
Yang disupervisi         :                                               Ruangan          :

Aspek Penilaian
Parameter

Skor
DilakukanTotal SkorKet
YaTidak
Persiapan
  1. Menyiapkan alat steril
  1. Bak injeksi
  2. Spuit sesuai kebutuhan
  3. Alcohol swab

  1. Menyiapkan alat nonsteril
  1. Sarung tangan
  2. Pengalas
  3. Bengkok
  4. Alat tulis
  5. Buku injeksi

  1. Menyiapkan bahan-bahan
  1. Obat
  2. NaCl 0,9%

  1. Menyiapkan Pasien
  1. Memberi penjelasan kepada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan
  2. Mengatur posisi pasien yang nyaman

2
2
2


3
3
3
3
3


4
4


3


3

v
v
v


v
v
v
v
v


v
v


v


v




35

PelaksanaanPelaksanaan injeksi intravena:
  1. Cuci tangan kemudian menggunakan sarung tangan
  2. Oplos obat dengan NaCl 0,9% dengan memasukan obat dalam spuit
  3. Pastikan infus dalam keadaan menetes lancar tidak ada tanda-tanda febitis, kemudian klem atau pengtaur tetesan dimatikan
  4. Melakukan desinfeksi dengan alkohol 70% pada daerah yang akan diinjeksi.
  5. Sampaikan pada pasien bahwa obat akan di injeksikan
  6. Obat dimasukan
  7. Perhatikan ekspresi wajah pasien
  8. Pengtaur tetsan dibuka kembali, kemudian tetsan diatur sesuai dengan kebutuhan yang sudah ditentukan
  9. Pasien dirapikan, alat-alat dibereskan
  10. Ucapkan terimakasih kepada pasien
  11. Melepas sarung tangan dan cuci tangan
  12. Mencatat dan memberi tanda pada format pemberian injeksi dan buku injeksi

3

3


3




3


3

3
2

2




2

2

2

2

v

v


v




v


v

v
v

v




v

v

v

v
















30

SikapSikap perawat pada waktu injeksi:
  1. Komunikasi
  2. Kerjas sama
  3. Tanggung jawab
  4. Kewaspadaan

5
5
5
5

v
v
v
v

20
EvaluasiEvaluasi:
  1. mengevaluasi lokasi penyuntikan dan kelancaran tetesan
  2. mengevaluasi kenyamanan posisi
  3. mengobservasi kemungkinan flebitis


5

5
5


v

v
v

15
Total Nilai100

100Baik























































































Criteria:
Baik  : 85-100
Cukup : 70-85
Kurang  : <70         
Keterangan:
  1. Jika total nilai yang diperoleh adalah 85-100 maka hasil dinyatakan baik.
  2. Jika total nilai yang diperoleh adalah 70-85 maka hasil dinyatakan cukup.
  3. Jika total nilai yang diperoleh adalah kurang dari <70 maka hasil dinyatakan baik

2.9 Lembar Evaluasi Supervisi Keperawatan
 
Masalah
Penyabab
Solusi




                                                                                        Kota, Tanggal Bulan Tahun
    Supervisor                                                                   Perawat yang di supervisi


        TTD                                                                                 TTD
(                       )                                                           (                                   )



DAFTAR PUSTAKA
 
Nursalam. 2007. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional (Edisi2). Jakarta: Salemba Medika

Gillies.19VIII9. Manajemen Keperawatan suatu  pendekatan sistem. Edisi Terjemahan. Alih Bahasa Dika Sukmana dkk. Jakarta

Suarli dan Bahtiar. 2009. Manajemen keperawatan. Jakarta: Erlangga

Arwani & Heru Supriyatno. 2006. Manajemen Bangsal keperawatan. Jakarta: EGC

Wiyana, Muncul. 2008. Supervisi dalam Keperawatan. Diunduh http://www.akpermadiun.ac.id/index.php?link=artikeldtl.php&id=3 pada tanggal 7 Oktober 2015

Nursalam. 2014. Manajemen keperawatan: aplikasi dalam praktik keperawatan professional (edisi 4). Jakarta: salemba medika

Cohen L. Elaine, Toni G. Cesta. 2005. Nursing Case Management From Essentials to Advanced Practice Applications 4th edition. Missouri: Elsevier Mosby

Roussel, Linda A, Russel C. swansburg, Richard J. Swanburg. 2003. Management and Leadership for Nurse Administrator 4th edition. Toronto: Jones and Barlett Publishers.
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/03/pengawasan_dan_pengendalian_dlm_pelayanan_keperawatan.pdf
SudaryantoA.https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/510/4h.pdf?sequence=1. Iakespada 01September2015