Asuhan Keperawatan pada Luka Bakar

Luka bakar merupakan cedera paling berat yang mengakibatkan permasalahan yang kompleks, tidak hanya menyebabkan kerusakan kulit namun juga seluruh sistem tubuh (Nina,2008)...

Materi Intepretasi EKG Normal

Elektrokardiografi adalah ilmu yg mempelajari aktivitas listrik jantung sedangkan Elektrokardigram ( EKG ) adalah suatu grafik yg menggambarkan rekaman listrik jantung...

Liburan Murah Bersama Alam di Hutan Pinus Pandaan

Pasuruan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki puluhan destinasi wisata yang menarik. Banyak para pelancong yang akhirnya melabuhkan hatinya di Pasuruan...

Mahasiswa FKp Satu-Satunya Delegasi Keperawatan pada Kompetisi Riset Dunia

Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga mengirimkan satu tim delegasi untuk mengikuti Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting-14 (HISAS-14) di Hokkaido...

Kisah Inspiratif Dua Pedagang Keren

assalamualaikum wr.wb para pembaca yang budiman. Sudah lama ane gak posting-posting lagi. Hari ini izinkan ane berbagi pengalaman kepada pembaca semua...

Apa yang Membuat Saya Rindu Kampung Halaman?

Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi...

السَّلاَÙ…ُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ ÙˆَرَØ­ْÙ…َØ©ُ اللهِ ÙˆَبَرَÙƒَاتُÙ‡ُ ...... Selamat datang di BLOG RIO CRISTIANTO. Dukung Blog ini dengan like fanspage "Rio Cristianto". Thank you, Happy Learning... ^_^

Saturday, 25 April 2020

Indikator Nilai Dasar Profesi ASN (ANEKA)



INDIKATOR NILAI-NILAI DASAR ANEKA


NO.
NILAI DASAR
INDIKATOR
1.
AKUNTABILITAS
( 9 )
Tanggungjawab; Jujur; Kejelasan Target; Netral; Mendahulukan kepentingan publik; Adil; Transparan; Konsisten; Partisipatif  TJT APN TKP
2
NASIONALISME
( 26 )
Ketuhanan :
  • Religius; Toleran; Etos kerja; Transparan; Tanggung jawab; Amanah; Percaya diri (7) 3TPARE
Kemanusiaan :
  • Humanis; Tenggang rasa; Persamaan derajat; Saling menghormati; Tidak diskriminatif (5) HHTPD
Persatuan :
  • Cinta tanah air; Rela berkorban; Menjaga ketertiban; Mengutamakan kepentingan publik; Gotong royong (5) CRKPG
Kerakyatan :
  • Musyawarah mufakat; Kekeluargaan; Menghargai pendapat; Bijaksana (4) MKPB
Keadilan :
  • Bersikap adil; Tidak serakah; Tolong menolong; Kerja keras; Sederhana (5) ATTKS
3.
ETIKA PUBLIK
( 10 )
Jujur; Bertanggung jawab; Integritas tinggi; Cermat; Disiplin; Hormat; Sopan; Taat pada peraturan perundang-undangan; Taat perintah; Menjaga rahasia. (JDT ICH STTR)
4.
KOMITMEN MUTU
( 4 )
Efektivitas; Efisiensi; Inovasi; Berorientasi Mutu
5.
ANTI KORUPSI
( 9 )
Jujur; Disiplin; Tanggung jawab; Kerja keras; Sederhana; Mandiri; Adil; Berani; Peduli. JDT SKM APB


Friday, 27 March 2020

Resume Materi Etika Publik

Definisi Etika
Etika dipahami sebagai refleksi atas baik atau buruk, benar atau salah yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan yang baik atau benar.

Definisi Kode Etik
Kode etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam bentuk ketentuan-ketentuan.

Definisi Etika Publik
Etika Publik merupakan refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.

Kode Etik ASN
Berdasarkan Undang-undang ASN, kode etik ASN adalah sebagai berikut:
  1. Melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi.
  2. Melaksanakan tugas dengan cermat dan disiplin
  3. Melayani dengan sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan
  4. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku
  5. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan sejauh tidak bertentangan dengan perundang-undangan
  6. Menjaga kerasahasiaan yang menyangkut kebijakan Negara
  7. Menggunakan fasilitas Negara dengan penuh tanggung jawab
  8. Menjaga untuk tidak terjadi konflik dalam melaksanakan tugas
  9. Memberikan informasi secara benar
  10. Tidak menyalahgunakan informasi intern Negara
  11. Memegang teguh nilai dasar ASN
  12. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan

Nilai-Nilai Dasar Etika Publik
  1. Jujur
  2. Bertanggung jawab
  3. Integritas
  4. Cermat
  5. Disiplin
  6. Taat perintah
  7. Hormat
  8. Sopan
  9. Taat peraturan perundangan
  10. Menjaga rahasia

Lingkup Etika Publik
  1. Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
  2. Sisi dimensi reflektif, Etika Publik berfungsi sebagai bantuan dalam menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi.
  3. Modalitas Etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan faktual.

Dimensi Etika Publik
  1. Dimensi Kualitas Pelayanan Publik
Etika publik menekankan pada aspek nilai dan norma, serta prinsip moral, sehingga etika publik membentuk integritas pelayanan publik.

  1. Dimensi modalitas
Unsur-unsur modalitas dalam etika publik yakni akuntabilitas, transparansi dan netralitas. Akuntabilitas berarti pemerintah harus mempertanggung jawabkan secara moral, hukum dan politik atas kebijakan dan tindakan-tindakannya kepada rakyat.
Pada prinsipnya ada tiga aspek dalam akuntabilitas:
  1. Tekanan akuntabilitas pada pertanggungjawaban kekuasaan melalui keterbukaan pemerintah atau adanya akses informasi bagi pihak luar organisasi pemerintah.
  2. Memahami akuntabilitas sekaligus sebagai tanggung jawab dan liabilitas sehingga tekanan lebih pada sisi hukum, ganti rugi dan organisasi.
  3. Tekanan lebih banyak pada hak warga negara untuk bisa mengoreksi dan ambil bagian dalam kebijakan publik sehingga akuntabilitas disamakan dengan transparansi

Transparansi dipahami bahwa organisasi pemerintah bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan dengan memberikan informasi yang relevan

  1. Dimensi Tindakan Integritas Publik
Integritas publik dalam arti sempit yakni tidak melakukan korupsi atau kecurangan. Adapun maknanya secara luas yakni tindakan yang sesuai dengan nilai, tujuan dan kewajibannya untuk memecahkan dilema moral yang tercermin dalam kesederhanaan hidup.

Etika Publik dan Kompetensi
Pelayanan Publik yang profesional membutuhkan tidak hanya kompetensi teknik dan leadership, namun juga kompetensi etika. Tanpa kompetensi etika, pejabat cenderung menjadi tidak peka, tidak peduli dan diskriminatif, terutama pada masyarakat kalangan bawah. Etika publik merupakan refleksi kritis yang mengarahkan bagaimana nilai-nilai (kejujuran, solidaritas, keadilan, kesetaraan, dll) dipraktikan dalam wujud keprihatinan dan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat atau kebaikan orang lain.

Sumber :
Modul Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III tahun 2015 yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia


Implementasi Pendekatan WoG dalam Penanggulangan Narkoba

Whole of Government (WoG) menurut United States Institute of Peace (USIP) merupakan sebuah pendekatan yang mengintegrasikan upaya kolaboratif dari instansi pemerintah untuk menjadi kesatuan menuju tujuan bersama. Dengan kata lain WoG merupakan pendekatan dalam menjalan sebuah pelayanan dalam pemerintahan dengan mengutamakan kerjasama, integrasi, dan kolaborasi antar lini, sektor, dan lembaga guna mencapai sebuah tujuan bersama demi kepentingan masyarakat.

berikut merupakan salah satu contoh implementasi WoG yang dapat kita temui dalam kasus penanggulanagan narkoba. penanganan narkoba harus menggunakan pendekatan WoG karena merupakan sebuah permasalahan yang kompleks dan memerlukan partisipasi dari berbagai pihak. 

Lembaga apa saja dan siapa saja yang harus terlibat/ terintegrasi dalam kasus narkoba serta perannya masing-masing, yaitu :


  1. BNN
Badan Narkotika Nasional (BNN) merupakan sebuah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) Indonesia yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap psikotropika, prekursor, dan bahan adiktif lainnya kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol.

Dalam UU No. 22 tahun 1997 dan UU No. 5 tahun 1997 pemberantasan Narkoba hanya dititikberatkan kepada Penyidik Polri dan penyidik PPNS, namun pada pasal 64 UU No. 35 tahun 2009 tercantum dibentuknya Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai upaya dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika serta precursor narkotika. Pada UU no. 35 tahun 2009 juga disebutkan bahwa kewenangan Penyidik BNN sama dengan kewenangan Penyidik Polri.

Tugas BNN dalam pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba antara lain :
  1. Menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional mengenai pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba
  2. Meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial pecandu Narkoba, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat
  3. Memberdayakan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba, yaitu dengan memantau, mengarahkan dan meningkatkan kegiatan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba
  4. Melalui kerja sama bilateral dan multiteral, baik regional maupun internasional, guna mencegah dan memberantas peredaran gelap narkoba
  5. Melaksanakan administrasi penyelidikan dan penyidikan terhadap perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba
  6. Membuat laporan tahunan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang.

  1. POLRI
Peran dan fungsi Polri dalam pencegahan narkoba tidak hanya dititik beratkan kepada penegakan hukum tetapi juga kepada pencegahan penyalahgunaan narkoba, dan pembongkaran peredaran gelap narkoba. pemberantasan penyalahgunaan narkoba dilakukan dengan langkah-langkah kebijakan non penal dan kebijakan penal. Kebijakan non penal merupakan upaya pemberantasan penyalahgunaan narkoba dengan tindakan pembinaan dan pencegahan sebelum tindak pidana kasus narkoba tersebut terjadi. Kebijakan penal yaitu upaya pemberantasan penyalahgunaan narkoba dengan cara melakukan penindakan terhadap orang yang diduga menggunakan, meyimpan, dan menjual narkoba.

Dengan demikian sangatlah jelas bahwa penegakan hukum merupakan salah satu bagian dari tugas polri. Penjelasan tersebut juga menegaskan bahwa apa yang sebenarnya menjadi tugas kepolisian, yaitu tugas preventif atau melakukan pencegahan terhadap pelanggaran dan kejahatan atau juga memelihara ketertiban (order maintenance) dan tugas represif yaitu melakukan penegakan hukum (law enforcement).

  1. KEMENTRIAN HUKUM DAN HAM
Kejahatan narkotika saat ini sudah memasuki level berbahaya, karena selain merusak fisik dan mental juga dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Peran kemenkunham yang dapat dilakukan menangani narkoba antara lain :
  1. Bersama lembaga terkait seperti BNN dan POLRI, Kemenkunham mengadakan inspeksi mendadak di setiap lapas dan rutan.
  2. Meningkatkan akuntabilitas sipir dalam menjalankan tugasnya di rutan dalam mengawasi tahanan, agar meminimalisir peredaran narkoba di lapas dan rutan.
  3. Melakukan tes urin disetiap lembaga pemerintahan, lapas, dan rutan.
  4. Membuat regulasi yang lebih kuat dalam memberantas peredaran narkoba.

  1. KEMENTRIAN SOSIAL
Peran Kementrian Sosial dalam menanggulangi narkoba, antara lain :
  1. Memberikan pelayanan rehabilitasi pengguna narkoba berupa terapi fisik, mental, psikososial, dan pasca rehabilitasi
  2. Memberikan perawatan sosial subagai upaya memberikan layanan dukungan sosial kepada korban penyalahgunaan narkoba untuk membantu mempertahankan kemandirian mereka, meningkatkan kualitas hidup dan membantu kehidupan merekan untuk berperan aktif di lingkungan sosialnya
  3. Memonitoring perkembangan korban penyalahgunaan narkoba
  4. Memberikan penyuluhan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba

  1. KEMENTERIAN KESEHATAN
Kementerian kesehatan (Kemenkes) merupakan lembaga yang memiliki andil besar dalam upaya penanggulangan Narkoba di Tanah air. Ada 3 pendekatan dalam menanggulangi narkoba yakni supply reduction, demand reduction, dan harm reduction. Kemenkes merupakan ujung tombak penanggulangan narkoba melalui pendekatan harm reduction atau pendekatan yang berfokus pada kesehatan masyarakat dan upaya mengurangi dampak buruk narkotika. Beberapa kontribusi besar dan konkret dari kemenkes yang sudah dilakukan adalah :
  1. Melakukan penetapan rumah sakit dan satelit uji coba serta pedoman pogram terapi rumatan metadon atau terapi subtitusi narkoba (Kepmenkes No. 494/Menkes/SK/VII/2006)
  2. Membuat kebijakan dan rencana strategi penanggulangan penyalahgunaan NAPZA. (Kepmenkes No. 486/Menkes/SKIV/2007)
  3. Membuat pedoman layanan terapi dan rehabililitasi komprehensif pada gangguan pengguna NAPZA berbasis Rumah Sakit. (Kepmenkes No. 420/Menkes/SK/III/2010)
  4. Membuat standar pelayanan terapi dan rehabilitasi gangguan penggunaan NAPZA untuk rumah sakit secara nasional. (Kepmenkes No. 421/Menkes/SK/III/2010)
  5. Membuat pedoman pelayananan rehabilitasi medik di Rumah Sakit, (Kepmenkes No. 378/Menkes/SK/IV/2008)
  6. Membuat pedoman pelaksanaan pengurangan dampak buruk narkotika, psikotropik dan zat adiktif (NAPZA); (Kepmenkes No. 567/Menkes/SK/VII)
  7. Membuat seminar-seminar kesehatan pada semua kelompok umur dan golongan tentang dampak buruk Narkotika

  1. BADAN POM
Badan Pengawas Obat dan Makanan juga memeliki kontribusi besar dalam upaya penanggulangan Narkoba, diantaranya adalah :
  1. Melakukan penjaminan mutu, manfaat, dan keamanan obat-obatan yang digunakan untuk merehabilitasi pengguna narkoba
  2. Memastikan pasokan obat-obatan untuk keperluan rehabilitasi mencukupi
  3. Melakukan pengawasan dan monitoring secara intensif obat-obat golongan psikotropika di tataran industry produksi obat narkotika untuk keperluan medis
  4. Melakukan pengawasan dan monitoring intensif obat-obat golongan psikotropika di tataran distribusi seperti apotek dan pelayanan farmasi lainnya misal klinik dan rumah sakit untuk mencegah penyalahgunaan.
  5. Melakukan penindakan terhadap oknum-oknum pelaku usaha farmasi yang menjual produk obat dengan tidak sesuai peraturan, misal menjual produk yang sudah ditarik di pasaran, atau menjual obat psikotropika sacara bebas.

  1. TNI
Kita tidak bisa lagi memandang remeh permasalahn narkoba yang semakin mengancam generasi penerus negeri ini. Tidak pula membebankan masalah narkoba hanya kepada BNN (Badan Narkotika Nasional). BNN juga harus bersinergi dengan TNI dalam mengatasi narkoba. Sinergitas penanganan permasalahan narkoba penting diperlukan dengan pertimbangan. Pertama, Kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki oleh TNI sebagai otoritas teritorial tentu jauh lebih mengetahu kondisi yang tengah berkembang di masyarakat sehingga langkah-langkah upaya deteksi dini yang merupakan ancaman terhadap pertahanan negara dapat segera ditangani. Kedua, secara yuridis, antar pimpinan BNN, dan Panglima TNI telah menjalin kesepakatan bersama yang dituangkan dalam nota kesepahaman Nomor : Kerma 14/V/2015 tanggal 13 Mei 2015 tentang bantuan TNI kepada BNN dalam rangka Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika setra Pelaksanaan Rehabilitasi Penyalahgunadan Pecandu Narkotika dan Prekursor Narkotika. Gerak langkah nyata sinergitas tersebut diaktualisasikan oleh BNN melalui penyelenggaraan kegiatan seminar pemberdayaan masyarakat untuk instansi pemerintah (TNI).

  1. Kementerian Komunikasi dan Informatika
Pencegahan penyalahgunaan narkoba juga bersinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika terus mengupayakan pencegahan penyalahgunaan narkoba dengan membentuk relawan Antinarkoba. Relawan Antinarkoba akan menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Sebagai langkah awal pencegahan penyalahgunaan narkoba, Kementerian Komunikasi dan Informasi melakukan urin. Relawan Antinarkoba adalh seseorang yang bersedia mengabdi secara ikhlas, tanpa pamrih, dan tanpa diberikan imbalah. Juga memiliki kemampuan dan kepedulian sebagai penggerak penyebarluasan informasi berbahaya penyalahgunaan narkoba.

  1. Direktoral Jendral Bea dan cukai
Status darurat narkoba di tanah air yang telah digaungkan oleh Presiden Joko Widodo sejak 6 Desember 2016 lalu bukan tanpa alasan, pasalnya penyalahgunaan dan peredaran narkotika tidak hanya menyasar kalangan pesohor, tetapi juga berbagai lapisan masyarakat dari beragam strata, profesi dan status sosial. Dari dari beberapa data,  Direktorat Jenderal Bea dan Cukai  telah mencatat tangkapan narkoba sebanyak 3 Ton untuk tahun 2017, namun dalam 3 bulan terakhir ini jumlah penangkapan sudah mencapai 2,5 Ton

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai Comunity Protector terus berperan aktif dalam penanganan penyelundupan narkoba. Hal ini terbukti atas penindakan 1,6 ton shabu di Batam lalu dan tidak hanya itu, sinergi djbc dan bnn juga telah mengungkap penyelundupan narkoba ke residence taman anggrek pada 16 maret lalu. Dan masih banyak lagi hasil dari kerja sama antara Lembaga Bea dan Cukai dengan BNN dalam penanganan narkoba.

Peranan Bea dan Cukai Dalam Memberantas Penyelundupan Narkoba:
Berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan Nomor 17 Tahun 2006 yang merupakan pengganti atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995, bea dan cukai mempunyai wewenang dalam memeriksa barang dalam perdagangan nasional dan internasional. Pemeriksaan barang meliputi kelengkapan surat dokumen tentang asal usul barang,pemilik asal barang dan tujuan pemilik baru atas barang. Bea dan cukai sebagai pengawas lalu lintas barang sangat erat kaitannya dengan pelaksana dalam memberantas penyelundupan baik barang yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan Nomor 17 Tahun 2006, bea dan cukai mempunyai wewenang untuk menangkap pelaku penyelundupan,menyita barang selundupan sebagai barang bukti untuk diserahkan kepada pihak yang berwajib seperti kepolisian untuk ditindaklanjuti sebagai tindak pidana. Indonesia sebagai daerah yang sering dijadikan target dari penyelundupan dari pasar internasional menjadikan tugas bea dan cukai dalam memberantas penyelundupan begitu penting agar melindungi produksi dalam negeri dan juga sebagai penghasil devisa negara dari pemungutan bea masuk dan bea keluar. Bea dan cukai sebagai garda terdepan dalam mencegah terjadinya penyelundupan barang yang masuk dan keluar Indonesia mempunyai tugas yang vital. Oleh karena itu, bea dan cukai mempunyai landasan hukum yang jelas agar dapat melaksanakan tugasnya yaitu Undang-Undang Kepabeanan Nomor 17 Tahun 2006.

  1. BIN (Badan Intelejen Negara)
Badan Intelijen Negara (BIN) akan memberi dukungan sepenuhnya kepada BNN untuk mengatasi bahaya narkoba saat ini. Jika kementerian atau lembaga lain dapat memahami paradigma baru dalam mengatasi masalah narkoba, maka penanganannya akan lebih mudah dan terukur. Demikian disampaikan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, dalam acara penandatangani Nota Kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) antara BIN dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Kepala BIN juga menyatakan bahwa penanganan masalah narkotka/narkoba harus melalui langkah yang konstruktif, tidak hanya dilakukan oleh BNN saja. Oleh karena itu, BIN terpanggil untuk memberikan dukungan kepada BNN, salah satunya berupa dukungan informasi terkait pendalaman terhadap jaring narkotika di Indonesia.

“Bahkan BIN juga bekerja sama dengan mitra dari badan intelijen negara lain untuk mengumpulkan informasi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi Kepala BNN dalam mengambil keputusan. Melihat bahwa sindikat narkotika telah menjalar ke semua lini tanpa terkecuali termasuk aparat keamanan, BIN perlu merapatkan barisan dengan BNN untuk mengatasi masalah ini”, tandas Marciano.

Marciano berharap penandatanganan kesepahamanan antara BIN-BNN dapat memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.

“Besar harapan saya bahwa nota kesepahaman ini akan berjalan sesuai komitmen, dan kesadaran untuk menindaklanjuti kegiatan bersama yang lebih optimal  terencana dan berkelanjutan”, tegas Kepala BIN.

Permasalahan narkotika/narkoba bukan hanya di Indonesia tetapi sudah menjadi masalah dunia internasional, sehingga membutuhkan kerjasama semua pihak.

Peranan BIN dalam penanganan narkoba ”BIN ikut bantu menelisik informasi yang kami dapatkan soal jaringan-jaringan narkoba. Pokoknya kami sinergi terus dengan seluruh kekuatan yang ada”.

  1. Keluarga
Seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak sehat sangat rentan terjerumus narkoba. Tumbuh tanpa kehangatan keluarga tidak saja mengacaukan cara kerja otak, tapi juga emosional. Kepedulian, perhatian, dan kasih sayang orang tua bisa menyelamatkan anak-anak dari jerat dan kehancuran narkoba.

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam proses pembentukan kepribadian anak. Kepedulian, perhatian, dan kasih sayang orang tua dapat membentuk anak-anak yang sehat secara sosial, mental, fisik, dan berkelakuan baik. Hal-hal dasar yang dibangun sejak seseorang masih balita tersebut menjadi faktor utama yang menjadi penyeimbang antara kemungkinan seorang individu akan menjadi penyalahguna atau tidak.

Tetapi yang terjadi pada kenyataan adalah orangtua tidak memberikan hal-hal dasar yang dibutuhkan anak dalam upaya bimbingan spiritualnya. Ini karena kebanyakan orangtua masih berkomunikasi satu arah. Seharusnya, dalam keluarga yang sehat terjalin komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Keduanya salah berbicara, berinteraksi, dan mendengarkan.

Dalam proses pemulihan, harus ada orang lain yang percaya dan mau merangkul dia. Orang lain itu terutama keluarga, bisa jugakerabat dekat, teman, atau yang lainnya. Bentuk perhatian yang kuat diharapkan bisa melawan stigma yang seringkali jadi masalah untuk para penyalah guna narkoba yang menjalani rehabilitasi.

  1. Lembaga pendidikan
Lembaga Pendidikan adalah suatu institusi atau tempat dimana proses pendidikan atau belajar-mengajar berlangsung, diantaranya pendidikan di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.Tujuan utama dari lembaga ini adalah untuk mengubah tingkah laku peserta didik menjadi lebih baik melalui interaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, lembaga ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat karena dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Lembaga pendidikan formal yang berhubungan dengan proses belajar anak salah satunya yaitu lembaga sekolah. Sekolah memiliki peranan penting dalam mendidik akademik maupun sikap anak. Narkoba merupakan hal yang sangat berbahaya mempengaruhi sikap siswa. Pengedaran narkoba tidak bisa dipungkiri telah menyentuh kalangan anak sekolah. Berikut peran lembaga pendidikan dalam mengatasi narkoba,
  1. Menyediakan kerangka kerja bagi perencanaan, pengimplementasian dan pengevaluasian dalam upaya pencegahan dan pengurangan penyalahgunaan drug (termasuk alkohol dan rokok)
  2. Menyediakan lingkungan fisik dan sosial bagi pengembangan kesehatan siswa berkaitan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai sesuai dengan jenjang pendidikan.
  3. Membantu siswa berperilaku (skills-based drug education) dan menciptakan kondisi yang sehat bagi siswa. Sekolah berperan dalam membentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan remaja nantinya dalam memilih dan mengambil keputusan untuk tidak menggunakan drug
  4. Berperan aktif dengan mengambil inisiatif dan mengembangkan langkah-langkah edukatif, konsultatif, dan kooperatif untuk membentengi para pelajar dari pengaruh para pengedar dan pengguna Narkoba.
  5. Menjadikan guru BK sebagai leading sector dalam mengembangkan upaya-upaya pencegahan dan penanganan masalah-masalah yang terkait dengan penyalahgunaan Narkoba  di  kalangan  pelajar.
  6. Memberikan pelatihan terhadap guru BK secara periodik dalam berbagai program penanganan masalah penyalahgunaan Narkoba. 
  7. Mengambil tindakan tegas untuk  memberikan  efek  jera,  pihak  sekolah  perlu secara  periodik  melakukan  test  urine terhadap para guru dan pelajar melalui kerjasama dengan pihak-pihak berwewenang.
  8. Melakukan pembinaan tentang bahaya Narkoba dengan mengintegrasikan dengan pendidikan agama, pendidikan karakter, pendidikan olahraga, dan pendidikan budi pekerti.

  1. Direktorat Jenderal Imigrasi
Direktorat Jenderal Imigrasi adalah sebuah struktur bagian dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia yang memiliki tugas pokok merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang imigrasi. Lembaga imigrasi memiiki peranan dalam hal pengedaran narkoba. Berikut peran lembaga imigrasi dalam hal pencegahan narkoba:
  1. Melakukan pencegahan terhadap orang untuk keluar ataupun masuk ke Indonesia yang dicurigai sebagai pengedar narkoba berdasarkan alasan Keimigrasian atau alasan lain.
  2. Melakukan kerja sama internasional di bidang Keimigrasian dengan negara lain dan/atau dengan badan atau organisasi internasional berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  3. Melakukan pengawasan terhadap lalu lintas orang asing yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia serta pengawasan terhadap keberadaan dan kegiatan Orang Asing di Wilayah Indonesia.
  4. Melakukan pengecekan standar administrasi secara rutin terhadap warga asing seperti identitas diri, pasporserta monitoring terhadap WNA.

KESIMPULAN :
Penyalahgunaan Narkoba di tanah air merupakan sebuah problematika nasional yang sangat kompleks. Untuk memutus mata rantai penyalahgunaan narkoba setidaknya memerlukan 3 pendekatan yakni supply reduction atau pengurangan suplai produk narkoba itu sendiri, demand reduction atau pengurangan permintaan terhadap narkoba, dan harm reduction atau pengurangan dampak buruk narkoba. Untuk menjalankan ketiga pendekatan ini secara optimal dibutuhkan integrasi, koordinasi, dan kerjasama lintas sektor. Sehingga antara pencegahan, penindakan, dan rehabilitasi dapat terlaksana secara efektif dan efisien.

Sunday, 15 September 2019

SAP Kejang Demam pada Anak

SATUAN ACARA PENYULUHAN
KEJANG DEMAM PADA ANAK


Topik   :  Kejang Demam
Sasaran : Orangtua dan Keluarga Klien
Tempat :  IGD RSUD Bangil
Hari/Tanggal  :          
Waktu :   1 x  20 menit

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah diberikan pendidikan kesehatan/ health education (HE) diharapkan keluarga klien mengetahui tentang pengetahuan penyakit Kejang Demam dan mengetahui penyebab, gejala, faktor yang mempengaruhi, pencegahan dan penanganan yang bisa dilakukan.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah diberikan HE diharapkan klien mampu :
  1. Memahami dan menjelaskan pengertian Kejang Demam
  2. Memahami dan menjelaskan penyebab, gejala, faktor yang mempengaruhi dan pencegahan Kejang Demam
  3. Memahami dan mampu menjelaskan pentingnya penatalaksanaan atau penanganan kejang demam

III. SASARAN
Orangtua dan Keluarga Klien

IV. MATERI
Terlampir

V. METODE
  1. Ceramah
  2. Tanya jawab

VI. KRITERIA EVALUASI
  1. Evaluasi Struktur
  • Klien ada di tempat penyuluhan.
  • Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Anggrek, RSUD Bangil.
  • Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.

  1. Evaluasi Proses
  • Mahasiswa mampu memberikan informasi dengan jelas sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
  • Klien aktif mendengarkan.
  • Klien aktif bertanya terhadap hal yang belum diketahui.
  • Tanya jawab berlangsung dengan lancar.
  • Media dapat digunakan secara efektif.

  1. Evaluasi Hasil
  • Klien menerima kedatangan mahasiswa.
  • Klien dapat menjelaskan tentang  tanda dan gejala, klasifikasi, komplikasi dan penanganan Kejang Demam.
  • Klien mengungkapkan setuju untuk melakukan upaya pengendalian dan pencegahan Kejang Demam.

VII. KEGIATAN PENYULUHAN
TAHAP/ WAKTU
KEGIATAN
PENYULUH
PESERTA
Pembukaan
3 menit
  • Mengucapkan salam
  • Memperkenalkan diri
  • Menjelaskan judul materi dan tujuan yang ingin dicapai oleh peserta.
  • Menjawab salam
  • Memperhatikan
  • Memperhatikan

Isi
(Penyampaian materi)
10 menit
  •  Menjelaskan tentang pengertian Kejang Demam
  • Menjelaskan penyebab, faktor yang mempengaruhi, tanda gejala dan pencegahan Kejang Demam
  • Menjelaskan penatalaksanaan atau penanganan penyakit Kejang Demam
  • Mendengarkan dan memperhatikan

-

Penutup
7 menit
  • Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya.
  • Memberikan kesimpulan materi yang sudah diberikan
  • Evaluasi
  • Penutup dengan mengucapkan salam
  • Bertanya
  • Mendengarkan
  • Menjawab pertanyaan yang diberikan
  • Menjawab salam.



MATERI PENYULUHAN
KEJANG DEMAM

  1. Pengertian Kejang Demam
Kejang demam merupakan kejang yang cukup sering dijumpai pada anak–anak yang berusia dibawah 5 tahun, gejala–gejala yang timbul dapat bermacam–macam tergantung dibagian otak mana yang terpengaruh, tetapi kejang demam yang terjadi pada anak adalah kejang umum (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).

Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan (Betz & Sowden,2009).


Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Jadi kejang demam adalah kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan perubahan fungsi otak akibat perubahan potensial listrik serebral yang berlebihan sehingga mengakibatkan renjatan berupa kejang (Mansjoer, A.dkk. 2000)

  1. Penyebab Kejang Demam
Menurut Mansjoer, dkk (2000) penyebab kejang demam diantaranya:
  1. Demam itu sendiri, demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi.
  2. Efek produk toksik daripada mikroorganisme
  3. Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
  4. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
  5. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan, yang tidak diketahui atau enselofati toksik sepintas.

  1. Faktor yang Mempengaruhi Kejang Demam
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:
  1. Usia < 15 bulan saat kejang demam pertama
  2. Riwayat kejang demam dalam keluarga
  3. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
  4. Riwayat demam yang sering
  5. Infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis akut, exantema  subitum, bronchitis, dan infeksi saluran kemih. Selain itu juga infeksi diluar susunan syaraf pusat seperti tonsillitis, faringitis, forunkulosis serta pasca imunisasi DPT (pertusis) dan campak (morbili) dapat menyebabkan kejang demam.
  6. Produk toksik mikroorganisme terhadap otak (shigellosis, salmonellosis)
  7. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal oleh karena infeksi.
  8. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit
  9. Gabungan dari faktor-faktor diatas

  1. Tanda Gejala Kejang Demam
  1. Gerakan tangan, kaki dan muka yang menyentak-nyentak atau kaku
  2. Bola mata berputar ke arah belakang kepala
  3. Pernafasan bermasalah
  4. Hilang kesadaran
  5. Mengompol
  6. Muntah
  7. Suhu badan meningkat - biasanya lebih dari 38.5ºC

  1. Pencegahan Kejang Demam
Kebanyakan, kejang demam terjadi dihari pertama anak sakit. Seringkali kejang demam muncul sebelum orangtua menyadari bahwa anaknya sedang sakit.

Namun, jika anda melihat akan adanya gejala kejang demam pada anak, sebaiknya berikan parasetamol begitu anak anda demam sehingga resiko kejang akan berkurang. Demam juga dapat dikurangi dengan cara memperbanyak asupan cairan dan tidak memakai pakaian yang terlalu tebal dimalam hari. Jangan memberikan aspirin yang dapat menyebabkan Reye’s Syndrome

Obat-obatan (dengan resep dokter) yang dapat mengurangi resiko kejang, yaitu Phenobarbital, valproic acid (depakene) dan divalproex sodium (depekote), rectal diazepam (valium, diastat). Tetapi obat-obatan ini memiliki kelemahan karena adanya resiko efek samping yang serius pada anak. Untuk itu, obat-obatan tersebut jarang diberikan kepeda pasien karena sebagian besar kejang demam tidak berbahaya dan banyak anak yang tetap tumbuh sehat walau mengalami kejang demam ini.

  1. Penatalaksanaan Kejang Demam
  1. Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka.
  2. Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam
  3. Lepaskan pakaian / ikatan pada tubuh supaya anak bisa bernafas dengan leluasa, Longgarkan pakaian disekitar kepala dan leher
  4. Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar darimulut
  5. Hubungi dokter anak anda
  6. Tenang, ini merupakan prisip utama dalam menangani kasus kasus kegawatan.
  7. Jangan memegang anak untuk melawan kejang


Daftar Rujukan

Arief, Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Medica Aesculpalus.
Betz, Cecily L., Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 5. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 1997. Perawatan anak sakit. Jakarta : EGC.
Sylvia A. Price dan Lorraine M. Wilson.1995. Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta: EGC



SAP Demam Berdarah Dengue (DBD)

SATUAN ACARA PENYULUHAN
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)


Topik     :   Demam Berdarah Dengue
Sasaran :    Orangtua dan Keluarga Klien
Tempat  :    IGD RSUD Bangil
Hari/Tanggal :          
Waktu   :    1 x 20 menit

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah diberikan pendidikan kesehatan/ health education (HE) diharapkan keluarga klien mengetahui tentang pengetahuan penyakit Demam Berdarah Dengue dan mengetahui penyebab, gejala, pencegahan dan penanganan yang bisa dilakukan.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah diberikan HE diharapkan klien mampu :
  1. Memahami dan menjelaskan pengertian Demam Berdarah Dengue
  2. Memahami dan menjelaskan penyebab, gejala, pencegahan  dan penanganan Demam Berdarah Dengue
  3. Memahami dan mampu menjelaskan pentingnya penatalaksanaan atau penanganan Demam Berdarah Dengue

III. SASARAN
Orangtua dan Keluarga Klien

IV. MATERI
Terlampir

V. METODE
  1. Ceramah
  2. Tanya jawab

VI. KRITERIA EVALUASI
  1. Evaluasi Struktur
  • Klien ada di tempat penyuluhan.
  • Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Anggrek, RSUD Bangil.
  • Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.

  1. Evaluasi Proses
  • Mahasiswa mampu memberikan informasi dengan jelas sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
  • Klien aktif mendengarkan.
  • Klien aktif bertanya terhadap hal yang belum diketahui.
  • Tanya jawab berlangsung dengan lancar.
  • Media dapat digunakan secara efektif.

  1. Evaluasi Hasil
  • Klien menerima kedatangan mahasiswa.
  • Klien dapat menjelaskan tentang  penyebab, tanda dan gejala,  pencegahan dan penanganan Demam Berdarah Dengue.
  • Klien mengungkapkan setuju untuk melakukan upaya pengendalian dan pencegahan Demam Berdarah Dengue.

VII. KEGIATAN PENYULUHAN
TAHAP/ WAKTU
KEGIATAN
PENYULUH
PESERTA
Pembukaan
3 menit
  • Mengucapkan salam
  • Memperkenalkan diri
  • Menjelaskan judul materi dan tujuan yang ingin dicapai oleh peserta.
  • Menjawab salam
  • Memperhatikan
  • Memperhatikan

Isi
(Penyampaian materi)
10 menit
  • Menjelaskan tentang pengertian DBD
  • Menjelaskan penyebab,, tanda gejala, penanganan dan pencegahan Demam Berdarah Dengue
  • Menjelaskan penatalaksanaan atau penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Mendengarkan dan memperhatikan



Penutup
7 menit
  • Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya.
  • Memberikan kesimpulan materi yang sudah diberikan
  • Evaluasi
  • Penutup dengan mengucapkan salam
  • Bertanya
  • Mendengarkan
  • Menjawab pertanyaan yang diberikan
  • Menjawab salam.



MATERI PENYULUHAN
DEMAM BERDARAH DENGUE

  1. Pengertian Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan nyamuk Aedes Aegypty yang dapat menyerang pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam,nyeri otot,tulang dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama dan dapat menyebabkan perdarahan,


  1. Penyebab Demam Berdarah Dengue
Penyebab Demam Berdarah Dengue adalah karena adanya virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypty. Meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes Albopictus yang biasanya hidup di kebun-kebun. DBD ini banyak di temukan di daerah tropis yang curah hujannya cukup tinggi. Sebab nyamuk akan mudah berkembang biak di daerah yang tergenang air. Umumnya sering terjadi di daerah Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang saat ini menjadi masalah utama di negeri kita ini.

  1. Ciri – ciri Nyamuk Aedes Aegypty
  • Warna hitam dengan belang-belang putih di seluruh badannya
  • Berbadan kecil
  • Biasanya menggigit pada siang hari dan sore hari
  • Hidup dan berkembang biak di dalam rumah (bak mandi, kaleng bekas, kolam ikan, ban bekas, pot tanaman air, tempat minuman burung)
  • Senang hinggap pada pakaian yang bergantung,kelambu dan ditempat yang gelap dan lembab.
  • Jentik nyamuk berperan aktif di dalam bak air
  • Posisi jentik nyamuk tegak lurus dengan permukaan air
  • Gerakan jentik nyamuk naik turun ke atas pemukaan air untuk bernafas
  • Kemampuan terbang kira-kira 100 meter

  1. Tanda Gejala Demam Berdarah Dengue
  1. Demam tinggi 2 – 7 hari disertai menggigil. kurang nafsu makan, nyeri pada persendiaan,serta sakit kepala.
  2. Pendarahan dibawah kulit berupa : Bintik-bintik merah pada kulit dan mimisan (epistaksis).
  3. Nyeri perut ( ulu hati ) tapi tidak ada  gejala kuning,ada mual dan muntah.
  4.  Terjadi syok atau pingsan pada hari ke 3-7 secara berulang-ulang. Dengan tanda syok yaitu lemah, kulit dingin , basah dan tidak sadar.

TANDA BAHAYA DBD :
  1. Perdarahan gusi
  2. Muntah darah
  3.  Penderita tidak sadar
  4.  Denyut nadi tidak teraba
Segara periksakan diri ke RS atau sarana pelayanan kesehatan terdekat.

  1. Pencegahan Kejang Demam
Kebanyakan, kejang demam terjadi dihari pertama anak sakit. Seringkali kejang demam muncul sebelum orangtua menyadari bahwa anaknya sedang sakit.

Namun, jika anda melihat akan adanya gejala kejang demam pada anak, sebaiknya berikan parasetamol begitu anak anda demam sehingga resiko kejang akan berkurang. Demam juga dapat dikurangi dengan cara memperbanyak asupan cairan dan tidak memakai pakaian yang terlalu tebal dimalam hari. Jangan memberikan aspirin yang dapat menyebabkan Reye’s Syndrome

Obat-obatan (dengan resep dokter) yang dapat mengurangi resiko kejang, yaitu Phenobarbital, valproic acid (depakene) dan divalproex sodium (depekote), rectal diazepam (valium, diastat). Tetapi obat-obatan ini memiliki kelemahan karena adanya resiko efek samping yang serius pada anak. Untuk itu, obat-obatan tersebut jarang diberikan kepeda pasien karena sebagian besar kejang demam tidak berbahaya dan banyak anak yang tetap tumbuh sehat walau mengalami kejang demam ini.

  1. Cara Penularan Demam Berdarah Dengue
  • Demam berdarah dengue hanya dapat ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypty betina,yang tersebar luas di rumah-rumah dan tempat-tempat umum (Sekolah,Pasar,Terminal,Warung dsb)
  • Nyamuk ini mendapatkan virus dengue waktu menggigit/ menghisap darah orang yang sakit DBD atau orang yang tidak sakit tetapi dalam darahnya terdapat Virus Dengue.
  • Orang yang darahnya mengandung Virus Dengue tetapi tidak sakit dapat pergi kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes Aegyptynya.
  • Virus dengue yang terhisap nyamuk Aedes Aegypty akan berkembang biak dalam tubuh nyamuk.
  • Bila nyamuk tersebut menggigit/ menghisap darah orang lain,virus tersebut akan dipindahkan bersama air liur nyamuk ke orang tersebut.
  • Orang yang digigit nyamuk Aedes Aegypty yang mengandung virus dengue gejala sakit/ demam setelah 4-7 hari (masa inkubasi)
  • Bila orang yang ditularkan tidak memiliki daya tahan tubuh yang baik, ia akan segera menderita DBD (demam berdarah dengue)

  1. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue
  • Tirah baring atau istirahat baring
  • Diet makan lunak
  • Minum banyak (2-2,5 liter / 24 jam ) dapat berupa susu, teh manis, sirop dan beri penderita oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita Demam Berdarah Dengue.
  • Pemberian cairan intravena (biasanya Ringer laktat atau NaCl)
  • Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam
  • Periksaan Hb, Ht dan trombosit setiap hari
  • Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan acetaminofen, eukinin atau dipiron (kolaborasi dengan dokter).
  • Berikan kompres dingin
  • Monitor tanda-tanda perdarahan
  • Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder
  • Monitor tanda-tanda renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk
  • Bila timbul kejang dapat diberikan diazepam (kolaborasi dengan dokter)

  1. Cara Pencegahan DBD
Untuk mencegah penyakit DBD, nyamuk penularnya (Aedes aegypti) harus diberantas sebab vaksin untuk mencegahnya belum  ada. Cara yang tepat dalam pencegahan penyakit DBD adalah dengan pengendalian vektornya, yaitu nyamuk  Aedes aegypti.

Cara yang tepat untuk memberantas nyamuk  Aedes aegypti adalah memberantas jentikjentiknya di tempat berkembang biaknya. Cara ini dikenal dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN-DBD). Oleh karena tempat-tempat berkembang biaknya terdapat di rumah-rumah dan tempat-tempat umum maka setiap keluarga harus melaksanakan PSN-DBD secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali.

PSN-DBD tersebut dapat digambarkan pada bagan berikut :
Gambar 2.1.


                                                                                         
Bagan cara pemberantasan nyamuk (PSN DBD)

Cara Pencegahan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
  1. Kimia: Dengan cara pemberian abatisasi (abate), pengasapan dan fogging.
  2. Fisika: Dalam sekurang-kurangya seminggu sekali, maka cegahlah dengan cara 3 M plus :
  • Menguras bak mandi
  • Menutup tempat penampungan air
  • Mengubur atau menyingkirkan benda- benda yang dapat digenangi air seperti ban bekas,kaleng bekas,vas bunga,penampungan air dsb.
  • Menggunakan obat nyamuk sebelum tidur dan sebelum bepergian
  • Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali.
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar / rusak.
  • Menutup lubang pada potongan bambu / pohon dengan tanah.
  • Menaburkan bubuk Larvasida.
  • Memelihara ikan pemakan jentik di kolam / bak penampung air.
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar.
  • Menggunakan kelambu.
  • Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk.

  1. Biologi: Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14) yaitu agen yang aktif mengendalikan




DAFTAR PUSTAKA

Arief, Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Medica Aesculpalus.
Betz, Cecily L., Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 5. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan anak sakit. Jakarta : EGC.
Suwarsono H. 1997. Berbagai cara pemberantasan jentik Ae. Aegypti. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran
Sylvia A. Price dan Lorraine M. Wilson.1995. Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta: EGC

Thursday, 8 August 2019

Contoh Undangan Walimatul Ursy #1

Walimatul Ursy atau disingkat walimah adalah sebuah acara yang diselenggarakan setelah akad nikah yang bertujuan untuk memanjatkan rasa syukur dengan memberikan jamuan makan kepada keluarga, sanak saudara dan tetangga, serta memohon doa agar diberikan keberkahan dalam hidup untuk sang mempelai. Bagi Anda yang akan menikah, acara ini juga penting untuk dipersiapkan dengan baik karena Anda sebagai Shohibul Hajat harus dapat melayani dan menghormati tamu undangan dengan baik termasuk mempersiapkan undangan yang baik untuk para tamu nantinya. Berikut kami berikan contoh Undangan Walimatul Ursy, semoga dapat membantu Anda dalam menyelanggarakan Walimatul Ursy di pernikahan Anda atau anak Anda. 


Contoh Undangan Walimatul Ursy. doc

Wednesday, 29 May 2019

Hipertensi Sekunder dan Tatalaksananya

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


  1. Definisi
Hipertensi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan curah jantung dan/atau kenaikan pertahanan perifer (Soemantri dan Nugroho, 2006). Menurut The Joint National Commite of Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of The Blood Pressure  (2004) dikatakan hipertensi jika tekanan darah sistolik yang lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau peningkatan tekanan darah diastolik yang lebih besar atau sama dengan 90mmHg. Umumnya tekanan darah normal seseorang adalah 120 mmHg/80 mmHg. Hasil pemeriksaan tersebut dilakukan 2 atau lebih pemeriksaan dan dirata-rata.

  1. Epidemiologi
Hipertensi telah menjadi permasalahan kesehatan yang sangat umum terjadi. Data dari National Health and Nutrition Examination (NHANES) menunjukkan bahwa 50 juta atau bahkan lebih penduduk Amerika mengalami tekanan darah tinggi. Angka kejadian hipertensi di seluruh dunia mungkin mencapai 1 milyar orang dan sekitar 7,1 juta kematian akibat hipertensi terjadi setiap tahunnya (WHO, 2003 dan Chobanian et.al, 2004).

Di Indonesia, belum ada data nasional lengkap untuk prevalensi hipertensi. Dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 8,3%. Sedangkan dari survei faktor resiko penyakit kardiovaskular (PKV) oleh proyek WHO di Jakarta, menunjukkan angka prevalensi hipertensi dengan tekanan darah 160/90 masing-masing pada pria adalah 12,1% dan pada wanita angka prevalensinya 12,2% pada tahun 2000. Secara umum, prevalensi hipertensi pada usia lebih dari 50 tahun berkisar antara 15%-20%.

Faktor resiko hipertensi, beberapa di antaranya dapat dikendalikan atau dikontrol dan tidak dapat dikontrol.
  1. Faktor genetik (tidak dapat dimodifikasi) :
    1. Usia
Hipertensi umumnya berkembang antara 35 – 55 tahun. Hal ini dikarenakan seiring bertambahnya usia, tekanan darah cenderung meningkat. Yang man penyakit hipertensi umumnya berkembang pada saat umur seseorang mencapau paruh baya yakni cenderung meningkat khususnya yang berusia lebih dari 40 tahun bahkan pada usia lebih dari 60 tahun keatas.

  1. Jenis Kelamin
Penyakit hipertensi cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dikarenakan pada perempuan meningkat seiring dengan bertambahnya usia yang mana pada perempuan  masa premenopause cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada laki-laki penyebabnya sebelum menopause, wanita relatife terlindungi dari penyakit kardiovaskuler oleh hormone estrogen yang dimana kadar estrogen menurun setelah menopause.

  1. Ras
Dalam hal ini Ras dapat menyebabkan penyakit hipertensi dilihat dari tempat tinggal. Tempat yang dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kasus hipertensi adalah merupakan wilayah yang berdominan dipesisir dari pada dipegunungan. Yang dimana penduduk yang berdomisili didaerah pesisir lebih rentan terhadap penyakit hipertensi karena tingkat mengkonsumsi garam lebih tinggi atau berlebihan dibanding daerah pegunungan yang kemungkinan lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.

  1. Keturunan
beberapa peneliti meyakini bahwa 30-60% kasus hipertensi adalah diturunkan secara genetis.

  1. Faktor lingkungan  (dapat dimodifikasi)
  1. Diet, makanan dengan kadar garam tinggi dapat meningkatkan tekanan darah seiring dengan bertambahnya usia.
  2. Obesitas/kegemukan, tekanan darah meningkat seiring dengan peningkatan berat badan.
  3. Merokok, dapat meningkatkan tekanan darah dan cenderung terkena penyakit jantung koroner.
  4. Kondisi penyakit lain, seperti diabetes melitus tipe 2 cenderung meningkatkan resiko peningkatan tekanan darah 2 kali lipat.

  1. Klasifikasi Hipertensi
Berdasarkan nilai tekanan darahnya, pada tahun 2004, The Joint National Commitee of Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of The Blood Pressure (JNC-7) mengeluarkan batasan baru untuk klasifikasi tekanan darah, <120/80 mmHg adalah batas optimal untuk resiko penyakit kardiovaskular. Didalamnya ada kelas baru dalam klasifikasi tekanan darah yaitu prehipertensi. Kelas baru pre-hipertensi tidak digolongkan sebagai penyakit tapi hanya digunakan untuk mengindikasikan bahwa seseorang yang masuk dalam kelas ini memiliki resiko tinggi untuk terkena hipertensi, penyakit jantung koroner dan stroke dengan demikian baik dokter maupun penderita dapat mengantisipasi kondisi ini lebih awal, hingga tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih parah. Individu dengan prehipertensi tidak memerlukan medikasi, tapi dianjurkan untuk melakukan modifikasi hidup sehat yang penting mencegah peningkatan tekanan darahnya. Modifikasi pola hidup sehat adalah penurunan berat badan, diet, olahraga, mengurangi asupan garam, berhenti merokok dan membatasi minum alkohol (Chobanian et.al, 2004).

Klasifkasi
Tekanan
Sistol
Diastol
Normal
<120 mmHg
<80 mmHg
Prehipertensi
120-139 mmHg
80-89 mmHg
Hipertensi :


Stadium 1
140-159 mmHg
90-99 mmHg
Stadium 2
>160 mmHg
>100 mmHg
Tabel 1.1. Klasifikasi Hipertensi menurut JNC

  1. Etiologi Hipertensi
  2. Hipertensi Primer atau Esensial
Hipertensi primer atau yang disebut juga hipertensi esensial atau idiopatik adalah hipertensi yang tidak diketahui etiologinya/penyebabnya (Shankie, 2001). Paling sedikit 90% dari semua penyakit hipertensi dinamakan hipertensi primer (Saseen dan Carter, 2005).

  1. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi sebagai akibat suatu penyakit, kondisi dan kebiasaan. Karena itu umumnya hipertensi ini sudah diketahui penyebabnya (Shankie, 2001). Terdapat 10% orang menderita apa yang dinamakan hipertensi sekunder (Saseen dan Carter, 2005).Umumnya penyebab Hipertensi sekunder dapat disembuhkan dengan pengobatan kuratif, sehingga penderita dapat terhindar dari pengobatan seumur hidup yang seringkali tidak nyaman dan membutuhkan biaya yang mahal (Kumar dan Clark, 2004).

Penderita hipertensi sekunder ini mencapai 5-10 % dan penyebab umumnya adalah penyakit ginjal. Penyebab lainnya sekitar 1-2 % disebabkan oleh kelainan hormonnal atau penggunaan obat tertentu (seperti pil KB). Penyebab hipertensi lainnya yang jarang terjadi adalah feokromositoma yakni adanya tumor pada kelenjar adrenalin yang memproduksi hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (non adrenalin).
  1. Penyakit Parenkim Ginjal
Penyakit ginjal parenkim adalah penyebab paling umum dari hipertensi sekunder, atau sebesar 2,5% menjadi 5,0% dari semua kasus. Hipertensi berhubungan dengan penyakit parenkim ginjal terjadi sebagai komplikasi dari berbagai glomerulus dan penyakit ginjal interstisial dan dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal jika tidak dikontrol.hipertensi parenkim ginjal yang paling mungkin merupakan interaksi gabungan mekanisme independent beberapa factor potensial termasuk penanganan natrium terganggu yang menyebabkan ekspansi volume, gangguan system rennin-angiotensin, perubahan dala senyawa vasodepresor endogen, dan aktivitas yang dapat meningkatkan vasoaktif.

  1. Penyakit Renovaskular
Pada hipertensi renovaskular terjadi penurunan perfusi ginjal akibat adanya proses inflamasi atau fibrosis pada pembuluh darah-pembuluh darah kecil intrarenal. Bila hipertensi renovaskular ini berlangsung lama dan menjadi bagian dari suatu sindrom hipertensi maka sifat reversibilitasnya akan hilang, karena mungkin akibat hipertensi ini telah terjadi kerusakan pada ginjal dan pembuluh darah nonrenal. Tidak semua stenosis pada pembuluh darah ginjal akan menyebabkan hipertensi renovaskular. Hipertensi yang terjadi biasanya diawali oleh adanya hipoperfusi ginjal akibat stenosis pembuluh darah ginjal, yang mungkin masih reversibel atau tidak.

  1. Adrenal
Berbagai kelainan korteks adrenal dapat menyebabkan hipertensi. Dalam aldosteronisme ada hubungan yang jelas antara retensi natrium aldosteron diinduksi dan hipertensi lain yang terkait adalah sindrom kelebihan mineralokortikoid yang jelas yang merupakan resesif autosomal gangguan yang hasil dari mutasi pada gen yang mengkode dehidrogenase 11β-hidroksisteroid, enzim yang biasanya inactivates beredar kortisol ke kurang aktif metabolit kortison. Pada konsentrasi tinggi kortisol dapat bereaksi silang dan mengaktifkan mineralokortikoid reseptor, menyebabkan aldosteron -seperti efek dalam ginjal , menyebabkan hipertensi. Efek ini juga dapat diproduksi oleh konsumsi berkepanjangan akar manis (yang dapat menjadi kekuatan ampuh dalam permen akar manis), dengan menyebabkan penghambatan dehidrogenase 11β-hidroksisteroid enzim dan juga menyebabkan sekunder mineralokortikoid jelas kelebihan sindrom. Namun gangguan lain terkait penyebab hipertensi adalah aldosteronisme glukokortikoid diperbaiki, yang merupakan dominan autosomal gangguan di mana peningkatan aldosteron yang diproduksi oleh sekresi ACTH tidak lagi sementara, menyebabkan dari hiperaldosteronisme primer, dimana gen akan bermutasi menghasilkan aldosteron sintase yang ACTH –sensitif.

Penyebab lain terkait adrenal adalah sindrom Cushing, gangguan yang disebabkan oleh tingginya tingkat kortisol . Kortisol adalah hormon yang disekresi oleh korteks dari kelenjar adrenal. Sindrom Cushing dapat disebabkan dengan mengambil glukokortikoid obat, atau tumor yang menghasilkan kortisol atau hormon adrenokortikotropik (ACTH). Lebih dari 80% pasien dengan sindrom Cushing mengembangkan hipertensi., yang disertai dengan gejalan yang berbeda dari sindrom, seperti obesitas sentral, lipodistrofi, moon face, keringat, hirsutisme, dan kecemasan..

  1. Penggunaan Obat-obat tertentu
Obat-obat tertentu, termasuk NSAID (Motrin / Ibuprofen ) dan steroid dapat menyebabkan hipertensi. Jika diberikan dalam jumlah lebih besar dari jumlah fisiologi, steroid sepertikortison dan hidrokortison yang mempunyai efek mineralokortikoid selain efek glukokortikoid, dapat menyebabkan retensi natrium dan cairan serta hilangnya kalium. Pada penderita dengan fungsi kardiovaskular dan ginjal normal, hal ini dapat menimbulkan alkalosis hipokloremik hipokalemik, dan akhirnya peningkatan tekanan darah. Pada penderita hiponatremia, penyakit ginjal, atau penyakit hati, dapat terjadi edema. Pada penderita penyakit jantung, tingkat retensi natrium yang sedikit saja dapat menyebabkan gagal jantung kongestif.

Obat lainnya termasuk extrogens (seperti yang ditemukan dalam kontrasepsi oral dengan aktivitas estrogenik tinggi), tertentu antidepresan (seperti venlafaxine), buspirone, carbamazepine, bromokriptin, clozapine , dan siklosporin. Tekanan darah tinggi yang dikaitkan dengan tiba-tiba penarikan berbagai antihipertensi obat disebut hipertensi rebound. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan tekanan darah lebih besar daripada ketika obat dimulai. Tergantung pada beratnya peningkatan tekanan darah, hipertensi rebound yang dapat mengakibatkan hipertensi darurat. Hipertensi Rebound dihindari dengan secara bertahap mengurangi dosis (juga dikenal sebagai "dosis tapering"), sehingga memberikan tubuh cukup waktu untuk menyesuaikan diri dengan pengurangan dosis. Pengobatan hipertensi umumnya terkait dengan rebound yang meliputi pusat-bertindak agen antihipertensi, seperti clonidine dan metil-dopa.

  1. Kehamilan
Sedikit wanita usia subur memiliki tekanan darah tinggi, hingga 11% mengembangkan hipertensi kehamilan . Sementara umumnya jinak, mungkin pemberita tiga komplikasi kehamilan: preeklampsia , HELLP sindrom dan eklampsia . Tindak lanjut dan mengontrol dengan obat-obatan karena itu sering diperlukan.

  1. Gangguan Tidur
Tanda lain umum yang diakui hipertensi adalah sleep apnea, yang diobati dengan tekanan udara malam hidung positif kontinu (CPAP), terapi pendekatan-pendekatan lain termasuk kemajuan mandibula belat (MAS), UPPP, tonsilektomi, adenoidectomy, septoplasty, atau penurunan berat badan. Penyebab lain adalah sangat jarang penyakit saraf yang disebut penyakit Binswanger, yang menyebabkan demensia, yang merupakan bentuk yang jarang dari multi-infark demensia, dan merupakan salah satu saraf sindrom yang terkait dengan hipertensi.

Hipertensi diduga dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Seringkali hipertensi disebut sebagai silent killer disease karena dua hal, yaitu:
  1. Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala khusus. Gejala ringan seperti pusing, gelisah, mimisan, dan sakit kepala biasanya jarang berhubungan langsung dengan hipertensi. Hipertensi dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah secara teratur.
  2. Penderita hipertensi, apabila tidak ditangani dengan baik, akan mempunyai resiko besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal.

  1. Manifestasi Klinis
Bergantung pada tingginya tekanan darah yang timbul dapat berbeda-beda. Kadang-kadang gejala didominasi penyakit dasarnya dan baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi. Pada organ target seperti ginjal, mata, otak, dan jantung gejala seperti sakit kepala (biasanya oksipital), epistaksis, pusing dan migren. Pada survey hipertensi di Indonesia, tercatat sebagai keluhan yang berhubungan dengan hipertensi seperti pusing, cepat marah, dan telinga berdenging merupakan gejala yang sering dijumpai. Gejala lain yang timbul misalnya mimisan, sukar tidur, sesak nafas, rasa berat ditekuk kepala, mata berkunang-kunang, palpitasi, dan mudah lelah. Gejala lainnya yang disebabkan oleh komplikasi hipertensi sekunder seperti gangguan penglihatan, gangguan neurologi, gagal jantung, dan gangguan fungsi ginjal tidak jarang dijumpai. Selain itu juga dapat ditemukan gejala penyakit yang mendasarinya, misalnya sakit kepala, palpitasi, dinforesis, dan pusing postural pada feokromositoma

  1. Pemeriksaan Diagnostik
  1. Riwayat
Pemeriksaan awal pasien hipertensif harus menyertakan riwayat lengkat dan pemeriksaan fisis untuk mengkonfirmasi diagnosis hipertensi, menyaring faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular lain, menyaring penyebab-penyebab sekunder hipertensi, mengidentifikasi konsekuensi kardiovaskular hipertensi dan komorbiditas lain, memeriksa gaya hidup terkait-tekanan darah, dan menentukan potensi intervensi.

Sebagian besar pasien dengan hipertensi tidak memiliki gejala spesifik yang dapat dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah mereka. Walaupun popular dianggap sebagai gejala peningkatan tekanan arterial, sakit kepala lazim terjadi hanya pada pasien dengan hipertensi berat. Suatu sakit kepala hipertensif khas terjadi pada waktu pagi dan berlokasi di regio oksipital. Gejala nonspesifik lain yang dapat berkaitan dengan peningkatan tekanan darah antara lain adalah rasa pusing, palpitasi, rasa mudah lelah, dan impotensi. Ketika gejala-gejala didapati, mereka umum berhubungan dengan penyakit kardiovaskular hipertensif atau dengan manifestasi hipertensi sekunder. Tabel berikut mendaftarkan fitur-fitur nyata yang harus diselidiki dalam perolehan riwayat dari pasien hipertensif.

Tabel Riwayat yang Relevan
Durasi hipertensi
Terapi terdahulu : Respon dan efek samping
Riwayat diet dan psikososial
Faktor-faktor resiko lain : perubahan BB, dislipidemia, kebiasaan merokok, diabetes, inaktivitas fisik
Bukti-bukti hipertensi sekunder : riwayat penyakit ginjal, perubahan penampilan, kelemahan otot,  palpitasi, tremor, banyak berkeringat, sulit tidur, perilaku mendengkur, somnolens siang hari, gejala-gejala hipo atau hipertiroidisme, penggunaan agen-agen yang dapat meningkatkan tekanan darah
Bukti-bukti kerusakan organ target : riwayat TIA, Stroke, kebutuuhan transien, angina, infark miokardium, gagal jantung kongestif, fungsi seksual
Komorditas lain

  1. Pengukuran tekanan darah
Pengukuran tekanan darah yang terpercaya tergantung pada perhatian terhadap detail mengenai teknik dan kondisi pengukuran. Karena peraturan terkini yang melarang penggunaan merkuri karena perhatian mengenai toksisitas potensialnya, sebagian besar pengukuran kantor dibuat menggunakan instrumen aneroid. Akurasi instrumen pengukur tekanan darah terotomatisasi harus dikonfirmasi. Sebelum pengukuran tekanan darah, individu harus didudukkan selama 5 menit dalam kondisi hening dan dengan privasi yang terjaga serta temperatur yang nyaman. Bagian tengah cuff harus berada sejajar jantung, dan lebar cuff harus setara dengan sekurang-kurangnya 40% lingkar lengan. Penempatan cuff, penempatan stetoskop, dan kecepatan deflasi cuff (2 mmHg/detik) penting untuk diperhatikan. Tekanan darah sistolik adalah yang pertama dari sekurang-kurangnya dua ketukan suara Korotkoff regular, dan tekanan darah diastolik adalah titik di mana suara Korotkoff regular terakhir didengar. Dalam praktik saat ini, diagnosis hipertensi umumnya dilandasi oleh pengukuran dalam kondisi duduk di tempat praktik.

Monitor ambulatorik yang tersedia sekarang adalah sepenuhnya otomatis, menggunakan tekhik osilometrik, dan umumnya diprogram untuk membuat pembacaan setiap 15-30 menit. Namun pengawasan tekanan darah ambulatorik tidaklah sering digunakan secara rutin di praktik klinis dan lazim disimpan bagi pasien yang dicurigai mengalami white coat hypertension. JNC 7 juga telah merekomendasikan pengawasan ambulatorik untuk resistensi terhadap penanganan, hipotensi simptomatik, kegagalan otonom, dan hipertensi episodik.

  1. Pemeriksaan fisik
Habitus tubuh, seperti tinggi dan berat badan, harus dicatat. Pada pemeriksaan awal, tekanan harus diukur pada kedua lengan, dan lebih baik pada posisi terlentang, duduk dan berdiri untuk mengevaluasi keberadaan hipotensi postural. Bahkan jika nadi femoral teraba normal, tekanan arterial harus diukur sekurangnya sekali pada ekstremitas inferioir pada pasien di mana hipertensi ditemui sebelum usia 30 tahun. Kecepatan detak jantung juga harus dicatat. Individu hipertensif memiliki peningkatan prevalensi untuk mengalami fibrilasi atrial. Leher harus dipalpasi untuk mencari pembesaran kelenjar tiroid, dan para pasien harus diperiksa untuk tanda-tana hipo dan hipertiroidisme. Pemeriksaan pembuluh darah dapat menyediakan petunjuk mengenai penyakit vakular yang mendasari dan harus menyertakan pemeriksaan funduskopik, auskultasi untuk bruit di arteri karotid dan femoral, dan palpasi denyut nadi femoral dan pedal (pedis). Retina adalah satu-satunya jaringan di mana arteri dan arteriol dapat diamati secara langsung. Seiring peningkatan tingkat keparahan hipertensi dan penyakit atherosklerotik, perubahan funduskopik progresif antara lain seperti peningkatan refleks cahaya arteriolar, defek perbandingan arteriovenous, hemorrhagi dan eksudat, dan, pada pasien dengan hipertensi maligna, papiledema. Pemeriksaan pada jantung dapat mengungkapkan bunyi jantung kedua yang menguat karena penutupan katup aorta dan suatu gallop S4 yang dikarenakan kontraksi artrium terhadap ventrikel kiri yang tidak seiring. Hipertropi ventrikel kiri dapat terdeteksi melalui keberadaan impuls apikal yang menguat, bertahan, dan bertempat di lateral. Suatu bruit abdominal, terutama bruit yang berlateralisasi dan terjadi selama sistole ke diastole, meningkatkan kemungkinan hipertensi renovaskular. Ginjal pasien dengan penyakit ginjal polikistik dapat dipalpasi di abdomen. Pemeriksaan fisis harus menyertakan pemeriksaan tanda-tanda CHF dan pemeriksaan neurologis.

  1. Tes laboratorium
Tabel dibawah ini mencantumkan tes-tes laboratorium yang direkomendasikan dalam evaluasi awal pasien hipertensif. Pengukuran fungsi ginjal berulang, elektrolit serum, glukosa puasa, dan lipid dapat dilakukan setelah pemberian agen antihipertensif baru dan kemudian tiap tahun, atau lebih sering bila diindikasikan secara klinis. Tes laboratorium yang lebih ekstensif dapat dilakukan bagi pasien dengan hipertensi resistan-pengobatan yang nyata atau ketika evaluasi klinis menunjukkan bentuk hipertensi sekunder.

Tabel Tes laboratorium dasar untuk evaluasi awal
Sistem
Tes

Urinalis mikroskopik, ekskresi albumin, BUN atau kreatinin serum
Endokrin
Natrium, kalium, kalsium, dan TSH serum
Metabolik
Glukosa darah puasa, kolesterol total, HDL dan LDL, trigliserida
Lain-lain
Hematokrit, elektrokardiogram,

  1. Penatalaksanaan
Pengobatan pasien dengan penyakit jantung hipertensi terbagi dalam dua kategori pengobatan dan pencegahan tekanan darah yang tinggi dan pengobatan penyakit jantung hipertensi. Tekanan darah ideal adalah kurang dari 140/90 pada pasien tanpa penyakit diabetes dan penyakit ginjal kronik dan kurang dari 130/90 pada pasien dengan penyakit diatas. Berbagai macam strategi pengobatan penyakit jantung hipertensi :

  1. Pengaturan Diet
Berbagai studi menunjukkan bahwa diet dan pola hidup sehat dan atau dengan obat-obatan yang menurunkan gejala gagal jantung dan bisa memperbaiki keadaan LVH. Beberapa diet yang dianjurkan:
  1. Rendah garam, beberapa studi menunjukan bahwa diet rendah garam dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.Dengan pengurangan komsumsi garam dapat mengurangi stimulasi system renin-angiotensin sehingga sangat berpotensi sebagai anti hipertensi.Jumlah intake sodium yang dianjurkan 50–100 mmol atau setara dengan 3-6 gram garam per hari.
  2. Diet tinggi potassium,dapat menurunkan tekanan darah tapi mekanismenya belum jelas.Pemberian Potassium secara intravena dapat menyebabkan vasodilatasi,yang dipercaya dimediasi oleh nitric oxide pada dinding vascular.
  3. Diet kaya buah dan sayur.
  4. Diet rendah kolesterol sebagai pencegah terjadinya jantung koroner.
  5. Tidak mengkomsumsi Alkohol.

  1. Olahraga Teratur
Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan dapat memperbaiki keadaan jantung. Olaharaga isotonik dapat juga bisa meningkatkan fungsi endotel, vasodilatasi perifer, dan mengurangi katekolamin plasma. Olahraga teratur selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam satu minggu sangat dinjurkan untuk menurunkan tekanan darah.

  1. Penurunan Berat Badan
Pada beberapa studi menunjukkan bahwa obesitas berhubungan dengan kejadian hipertensi dan LVH. Jadi penurunan berat badan adalah hal yang sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan (1kg/minggu) sangat dianjurkan. Penurunan berat badan dengan menggunakan obat-obatan perlu menjadi perhatian khusus karena umumnya obat penurun berat badan yang terjual bebas mengandung simpatomimetik,sehingga dapat meningkatan tekanan darah, memperburuk angina atau gejala gagal jantung dan terjainya eksaserbasi aritmia. Menghindari obat-obatan seperti NSAIDs, simpatomimetik, dan MAO yang dapat meningkatkan tekanan darah atau menggunakannya dengan obat antihipertesni.

Sekali obat antihipertensi diberikan, kebanyakan pasiennya kembali untuk follow-up dan menilai kembali obat yang diberikan dalam interval 1 bulan atau kurang sampai target tekanan darah dicapai. Kedatangan yang lebih sering diperlukan untuk pasien hipertensi derajat 2 atau adanya komplikasi. Kalium dan kreatinin serum sebaiknya dimonitor paling sedikit 1-2x/ tahun. Setelah tekanan darah tercapai dan stabil, follow-up biasanya dilakukan dalam interval 3-6 bulan. Adanya komorbiditas seperti gagal jantung yang berhubungan dengan penyakit seperti diabetes, dan perlunya pemeriksaan laboratorium mempengaruhi frekuensi kedatangan. Factor risiko kardiovaskular lainnya sebaiknya dimonitor dan diterapi. Terapi aspirin dosis rendah sebaiknya dipertimbangkan hanya pada hipertensi yang terkontrol karena risiko stroke hemoragik akan meningkat pada hipertensi yang tidak terkontrol.

Algoritma Terapi


Keterangan :
ACEI         : Angiotensin Converting Enzyme inhibitors
BB              : Beta Bloker
CCB           : Calsium channel bloker
ARB           : Angiotensin II receptor bloker
TDS            : Tekanan darah sistolik
TDD           : Tekanan darah diastolik

  1.  Farmakoterapi
Pengobatan hipertensi atau penyakit jantung hipertensi dapat menggunakan berbagai kelompok obat antihipertensi seperti thiazide, beta-blocker dan kombinasi alpha dan beta blocker, calcium channel blockers, ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker dan vasodilator seperti hydralazine. Hampir pada semua pasien memerlukan dua atau lebih obat antihipertensi untuk mencapai tekanan darah yang diinginkan.

Terapi obat direkomendasikan bagi individu dengan tekanan darah 140/90 mmHg. Derajat keuntungan yang diperoleh dari agen-agen antihipertensif berhubungan dengan besarnya reduksi tekanan darah. Penurunan tekanan darah sistolik sebesar 10-12 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 5-6 mmHg bersama-sama memberikan reduksi risiko sebesar 35-40% untuk stroke dan 12-16% untuk CHD dalam 5 tahun dari mula penatalaksanaan. Risiko gagal jantung berkurang sebesar >50%. Terdapat variasi yang nyata dalam respon individual terhadap kelas-kelas agen antihipertensif yang berbeda, dan besarnya respon terhadap agen tunggal apapun dapat dibatasi oleh aktivasi mekanisme counter-regulasi yang melawan efek hipotensif dari agen tersebut. Pemilihan agen-agen antihipertensif, dan kombinasi agen-agen, harus dilakukan secara individual, dengan pertimbangan usia, tingkat keparahan hipertensi, faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular lain, kondisi komorbid, dan pertimbangan praktis yang berkenaan dengan biaya, efek samping, dan frekuensi pemberian obat. Contoh obat hipertensi antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Diuretik
Diuretik thiazide dosis-rendah sering digunakan sebagai agen lini pertama, sendiri atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensif lain. Thiazide menghambat pompa Na+/Cl- di tubulus konvultus distal sehingga meningkatkan ekskresi natrium. Dalam jangka panjang, mereka juga dapat berfungsi sebagai vasodilator. Thiazide bersifat aman, memiliki efikasi tinggi, dan murah serta mengurangi kejadian klinis. Mereka memberikan efek penurunan-tekanan darah tambahan ketika dikombinasikan dengan beta blocker, ACE inhibitor, atau penyekat reseptor angiotensin. Sebaliknya, penambahan diuretik terhadap penyekat kanal kalsium adalah kurang efektif. Dosis biasa untuk hydrochlorothiazide berkisar dari 6.25 hingga 50 mg/hari. Karena peningkatan insidensi efek samping metabolik (hipokalemia, resistansi insulin, peningkatan kolesterol), dosis yang lebih tinggi tidaklah dianjurkan. Dua diuretik hemat kalium, amiloride dan triamterene, bekerja dengan menghambat kanal natrium epitel di nefron distal. Agen-agen ini adalah agen antihipertensif yang lemah namun dapat digunakan dalam kombinasi dengan thiazide untuk melindungi terhadap hipokalemia. Target farmakologis utama untuk diuretik loop adalah kotransporter Na+-K+-2Cl- di lengkung Henle ascenden tebal. Diuretik loop umumnya dicadangkan bagi pasien hipertensif dengan penurunan kecepatan filtrasi glomerular [kreatinin serum refleksi >220 mol/L (>2.5 mg/dL)], CHF, atau retensi natrium dan edema karena alasan-alasan lain seperti penatalaksanaan dengan vasodilator yang poten, seperti monoxidil.

  1. Penyekat sistem renin-angiotensin
ACE inhibitor mengurangi produksi angiotensin II, meningkatkan kadar bradikinin, dan mengurangi aktivitas sistem saraf simpatis. Penyekat reseptor angiotensin II menyediakan blokade reseptor AT1 secara selektif, dan efek angiotensin II pada reseptor AT2 yang tidak tersekat dapat menambah efek hipotensif. Kedua kelas agen-agen ini adalah agen antihipertensif yang efektif yang dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau dalam kombinasi dengan diuretik, antagonis kalsium, dan agen-agen penyekat alfa. Efek samping ACE inhibitor dan penyekat reseptor angiotensin antara lain adalah insufisiensi ginjal fungsional karena dilatasi arteriol eferen ginjal pada ginjal dengan lesi stenotik pada arteri renalis. Kondisi-kondisi predisposisi tambahan terhadap insufisiensi ginjal yang diinduksi oleh agen-agen ini antara lain adalah dehidrasi, CHF, dan penggunaan obat-obat antiinflamasi non steroid. Batuk kering terjadi pada ~15% pasien, dan angioedema terjadi pada <1% pasien yang mengkonsumsi ACE inhibitor. Angioedema paling sering terjadi pada individu yang berasal dari Asia dan lebih lazim terjadi pada orang Afrika Amerika dibanding orang Kaukasia. Hiperkalemia yang disebabkan hipoaldosteronisme merupakan efek samping yang kadang terjadi baik pada penggunaan ACE inhibitor maupun penyekat reseptor angiotensin.

  1. Antagonis aldosteron
Spironolakton adalah antogonis aldosteron nonselektif yang dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan diuretik thiazide. Ia adalah agen yang terutama efektif pada pasien dengan hipertensi esensial rendah-renin, hipertensi resistan, dan aldosteronisme primer. Pada pasien dengan CHF, spironolakton dosis rendah mengurangi mortalitas dan perawatan di rumah sakit karena gagal jantung ketika diberikan sebagai tambahan terhadap terapi konvensional dengan ACE inhibitor, digoxin, dan diuretik loop. Karena spironolakton berikatan dengan reseptor progesteron dan androgen, efek samping dapat berupa ginekomastia, impotensi, dan abnormalitas menstruasi. Efek-efek samping ini dihindari oleh agen yang lebih baru, eplerenone, yang merupakan antagonis aldosteron selektif. Eplerenone baru-baru ini disetujui di US untuk penatalaksanaan hipertensi

  1. Beta blocker
Penyekat reseptor adrenergik mengurangi tekanan darah melalui penurunan curah jantung, karena reduksi kecepatan detak jantung dan kontraktilitas. Mekanisme lain yang diajukan mengenai bagaimana beta blocker mengurangi tekanan darah adalah efek pada sistem saraf pusat, dan inhibisi pelepasan renin. Beta blocker terutama efektif pada pasien hipertensif dengan takikardia, dan potensi hipotensif mereka dikuatkan oleh pemberian bersama diuretik. Pada dosis yang lebih rendah, beberapa beta blocker secara selektif menghambat reseptor 1 jantung dan kurang memiliki pengaruh pada reseptor 2 pada sel-sel otot polos bronkus dan vaskular; namun tampak tidak terdapat perbedaan pada potensi antihipertensif beta blocker kardio selektif dan non kardio selektif. Beta blocker tertentu memiliki aktivitas simpatomimetik intrinsik, dan tidaklah jelas apakah aktivitas ini memberikan keuntungan atau kerugian dalam terapi jantung. Beta blocker tanpa aktivitas simpatomimetik intrinsik mengurangi tingkat kejadian kematian mendadak (sudden death), mortalitas keseluruhan, dan infark miokardium rekuren. Pada pasien dengan CHF, beta blocker telah dibuktikan mengurangi risiko perawatan di rumah sakit dan mortalitas. Carvedilol dan labetalol menyekat kedua reseptor 1 dan 2 serta reseptor adrenergik perider. Keuntungan potensial dari penyekatan kombinasi dan adrenergik dalam penatalaksanaan hipertensi masih perlu ditentukan.

  1. Penyekat adrenergik
Antagonis adrenoreseptor selektif postsinaptik mengurangi tekanan darah melalui penurunan resistansi vaskular perifer. Mereka adalah agen antihipertensif yang efektif, yang digunakan sebagai monoterapi maupun dalam kombinasi dengan agen-agen lain. Namun dalam uji klinis pada pasien hipertensif, penyekatan alfa tidak terbukti mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular ataupun menyediakan perlindungan terhadap CHF sebesar kelas-kelas agen antihipertensif lain. Agen-agen ini juga efektif dalam menangani gejala tractus urinarius bawah pada pria dengan hipertropi prostat. Antagonis adrenoreseptor nonseletif berikatan dengan reseptor postsinaptik dan presinaptik dan terutama digunakan untuk penatalaksanaan pasien dengan pheokromositoma.

  1. Agen-agen simpatolitik
Agonis simpatetik yang bekerja secara sentral mengurangi resistansi perifer dengan menghambat aliran simpatis. Mereka terutama berguna pada pasien dengan neuropati otonom yang memiliki variasi tekanan darah yang luas karena denervasi baroreseptor. Kerugian agen ini antara lain somnolens, mulut kering, dan hipertensi rebound saat penghentian. Simpatolitik perifer mengurangi resistansi perifer dan konstriksi vena melalui pengosongan cadangan norepinefrin ujung saraf. Walaupun merupakan agen antihipertensif yang potensial efektif, kegunaan mereka dibatasi oleh hipotensi orthostatik, disfungsi seksual, dan berbagai interaksi obat.

  1. Penyekat kanal kalsium
Antagonis kalsium mengurangi resistansi vaskular melalui penyekatan L-channel, yang mengurangi kalsium intraselular dan vasokonstriksi. Kelompok ini terdiri dari bermacam agen yang termasuk dalam tiga kelas berikut: phenylalkylamine (verapamil), benzothiazepine (diltiazem), dan 1,4-dihydropyridine (mirip-nifedipine). Digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan agen-agen lain (ACE inhibitor, beta blocker, 1-adrenergic blocker), antagonis kalsium secara efektif mengurangi tekanan darah; namun, apakah penambahan diuretik terhadap penyekat kalsium menghasilkan penurunan lebih lanjut pada tekanan darah adalah tidak jelas. Efek samping seperti flushing, sakit kepala, dan edema dengan penggunaan dihydropyridine berhubungan dengan potensi mereka sebagai dilator arteriol; edema disebabkan peningkatan gradien tekanan transkapiler, dan bukan karena retensi garam dan cairan.

  1. Vasodilator Langsung
Agen-agen ini mengurangi resistensi perifer, lazimnya mereka tidak dianggap sebagai agen lini pertama namun mereka paling efektif ketika ditambahkan dalam kombinasi yang menyertakan diuterik dan beta blocker. Hydralazine adalah vasodilator direk yang poten yang memiliki efek antioksidan dan penambah NO, dan minoxidil merupakan agen yang amat poten dan sering digunakan pada pasien dengan insufisiensi ginjal yang refrakter terhadap semua obat lain. Hydralazine dapat menyebabkan sindrom mirip-lupus, dan efek samping minoxidil antara lain adalah hipertrikosis dan efusi perikardial.

  1. Komplikasi
Tekanan darah yang tinggi, sangat berpengaruh buruk terhadap pembuluh jantung. Apabila terjadi terkanan darah yang tinggi secara terus-menerus pada pembuluh darah maka jantung akan terpaksa bekerja dengan keras lagi untuk mengimbanginya. Jantung harus memompa darah lebih cepat lagi dari keadaan normal. Bila hal ini terjadi dalam waktu yang lama maka jantung akan membengkak dan melemah dan tidak sanggup lagi mengirimkan darah sehingga dalam waktu yang lama akan terjadi gagal jantung yang disusul dengan sesak napas kemudian tubuh akan membengkak karena pembuluh darah tidak mampu mengalirkan cairan dengan baik ke sel tubuh (Leonard Marvyn, 1995:6-13).

Peningkatan aktivitas pusat vasomotor dan peningkatan tahan perifer total menimbulkan iskemia ginjal sehingga terjadi penurunan laju filtrasi glumerolus (Ibnu Masud. 1989:116). Komplikasi lain adalah terganggunya dinding pembuluh darah arteri. Arteri yang terkena adalah arteri otot jantung, aorta, pembuluh darah otak, pembuluh darah retina. Dinding pembuluh darah tersebut mengalami penimbunan lemak karena lemak yang seharusnya dihancurkan atau dilarutkan menjadi menetap akibat fungsi pembuluh darah yang sudah rusak, sehingga dinding pembuluh darah itu mengalami kekakuan atau tidak elastis lagi yang disebut dengan aterosklerosis. Jika hal ini dibiarkan, maka dapat terjadi pembekuan pembuluh darah yang sangat berbahaya. Bila terjadi pembekuan pembuluh darah di otak dapat mengakibatkan kelumpuhan sebagian atau seluruh tubuh bahkan kematian secara tiba-tiba. Bila terjadi pada mata, maka akan mengalami rabun atau buta. Bila terjadi pada ginjal, fungsi ginjal akan terganggu bahkan rusak (Leonard Marvyn, 1995:18-24).

Gejala akibat komplikasi hipertensi sekunder yang pernah dijumpai adalah: gangguan penglihatan, gangguan saraf, gagal jantung, gangguan fungsi ginjal, gangguan serebral (otak), yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma, sebelum bertambah parah dan terjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal, serangan jantung, stroke, lakukan pencegahan dan pengendalian hipertensi dengan merubah gaya hidup dan pola makan. beberapa kasus hipertensi erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat. seperti kurang olah raga, stress, minum-minuman, beralkohol, merokok, dan kurang istirahat. kebiasaan makan juga perlu diqwaspadai. pembatasan asupan natrium (komponen utama garam), sangat disarankan karena terbukti baik untuk kesehatan penderita hipertensi. Dalam perjalannya penyakit ini termasuk penyakit kronis yang dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi antara lain : Stroke, Gagal jantung, Gagal Ginjal, Gangguan pada Mata.

  1. Prognosis
Penyulit utama pada penyakit jantung hipertensif adalah hipertrofi ventrikel kiri yang terjadi sebagai akibat langsung dari peningkatan bertahap tahanan pembuluh darah perifer dan beban akhir ventrikel kiri. Faktor yang menentukan hipertrofi ventrikel kiri adalah derajat dan lamanya peningkatan diastole. Pengaruh beberapa faktor humoral seperti rangsangan simpato-adrenal yang meningkat dan peningkatan aktivasi system renin-angiotensin-aldosteron (RAA) belum diketahui, mungkin sebagai penunjang saja. Fungsi pompa ventrikel kiri selama hipertensi berhubungan erat dengan penyebab hipertrofi dan terjadinya aterosklerosis primer.

Pada stadium permulaan hipertensi, hipertrofi yang terjadi adalah difus (konsentrik). Rasio massa dan volume akhir diastolik ventrikel kiri meningkat tanpa perubahan yang berarti pada fungsi pompa efektif ventrikel kiri. Pada stadium selanjutnya, karena penyakir berlanjut terus, hipertrofi menjadi tak teratur, dan akhirnya eksentrik, akibat terbatasnya aliran darah koroner. Khas pada jantung dengan hipertrofi eksentrik menggambarkan berkurangnya rasio antara massa dan volume, oleh karena meningkatnya volume diastolik akhir. Hal ini diperlihatkan sebagai penurunan secara menyeluruh fungsi pompa (penurunan fraksi ejeksi), peningkatan tegangan dinding ventrikel pada saat sistol dan konsumsi oksigen otot jantung. Hal-hal yang memperburuk fungsi mekanik ventrikel kiri berhubungan erat bila disertai dengan penyakit  jantung  koroner.

Walaupun tekanan perfusi koroner meningkat, tahanan pembuluh koroner juga meningkat. Jadi cadangan aliran darah koroner berkurang. Perubahan-perubahan hemodinamik sirkulasi koroner pada hipertensi berhubungan erat dengan derajat hipertrofi otot jantung. Ada 2 faktor utama penyebab penurunan cadangan aliran darah koroner, yaitu:
  1. Penebalan arteriol koroner, yaitu bagian dari hipertrofi umum otot polos pembuluh darah resistensi arteriol (arteriolar resistance vessels) seluruh badan. Kemudian terjadi retensi garam dan air yang mengakibatkan berkurangnya compliance pembuluh-pembuluh ini dan mengakibatkan tahanan perifer.
  2. Hipertrofi yang meningkat mengakibatkan kurangnya kepadatan kepiler per unit otot jantung bila timbul hipertrofi eksentrik. Peningkatan jarak difusi antara kapiler dan serat otot yang hipertrofik menjadi factor utama pada stadium lanjut dari gambaran hemodinamik ini. Jadi, faktor koroner pada hipertensi berkembang menjadi akibat penyakit, meskipun tampak sebagai penyebab patologis yang utama dari gangguan aktifitas mekanik ventrikel kiri.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2006. Hipertensi dan Penyakit Ginjal. Ethical Digest. hal. 15-18.
Ard, Dedy, 2007. Harian Global. Hipertensi Penyebab Utama Penyakit Jantung. (online). (http://www.harian-global.com/news.php?item.19345.12, diakses pada tanggal 5 Mei 2012).
Baraas, F. 1993. Mencegah Serangan Jantung dengan Menekan Kolesterol. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Dongoes,Marlynn.E.dkk.1999.Rencana Asuhan Keperawatan,Ed-3,Jakarta:EGC
Gunawan, L. 2001. Hipertensi Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta: Kanisius.
Guyton A, Hall John E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Irawati Setiawan (penterjemah). Jakarta. EGC.
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius.
Mansjoer,arif.dkk.2001.Kapita Selekta kedokteran ,Ed-3, jilid I.Jakarta:FKUI Media Aesculapius www.emedicine.com
Masud, I. 1989. Dasar-dasar Fisiologi Kariovaskuler. Jakarta. EGC.
Rilantono,L.dkk.2002.Buku Ajar Kardiologi,Jakarta:Universitas Indonesia
Sargowo, D. 2003. Disfungsi Endotel pada Penyakit Kardiovaskuler. Malang. Bayumedia Publishing.
Sustrani, L. & Alam, S. 2004. Hipertensi. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.
Tjokronegoro, A. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Tiga. FKUI. Balai Penerbit.
Wolff P, Hanns. 2005. Hipertensi. Lily Endang J (penterjemah). 2005. Jakarta. PT Bhuana Ilmu Populer.